Saturday, December 23, 2006

KEBAHAGIAAN DI SUATU PAGI !

Aku masih terbaring di ranjang. Selimut masih membungkus tubuhku, dan aku juga masih merasakan tangan mungil Van yang memilin-milin ujung rambutku, tiba-tiba aku tersentak oleh doa yang terucap dari bibir Van.



Tuhan Yesus yang baik,

Berkati mama, papa, Kakak Bas dan Anes.

Terima kasih Tuhan, Amin!



Bunyi doanya sederhana saja. Kata-kata yang digunakan juga terangkai dalam kalimat langsung.

Tanpa pembungkus, tanpa menggunakan kalimat pemanis.

meluncur lancar tak terbata-bata dari bibir mungil, Van.

Putri bungsuku yang baru berusia 3,5 tahun.



Sontak, rasa kantukku hilang, berganti dengan kesegaran yang diawali getaran telinga atas doa dari bibir mungil Van. Aku berbalik dan kali ini Van menyembunyikan wajahnya di leherku.



Ku cium lembut seluruh wajahnya, juga tubuhnya. Matanya terpejam tapi bibirnya membentuk senyum. Ah tak ada permandangan yang lebih indah daripada permandangan dihadapanku sekarang.



Anakku adalah anugerah yang sungguh luar biasa yang kumiliki dalam kehidupanku. Darinya aku belajar memahami arti memiliki, darinya pula aku belajar memahami arti kasih yang sesungguhnya. Kala kelelahan menerpa tubuh ini, kala sakat menyakit melingkup diri ini, Van ada dan selalu ada di dekatku.



Dengan tangan mungilnya di remas-remas kaki dan tanganku, maksudnya memijatku. Tangan mungil dan tenaga kecilnya nyaris tak memberi rasa apa-apa di kaki dan tanganku tapi menimbulkan getar-getar halus di sanubari ini. Sungguh menyenangkan mempunyai buah hati seperti Van.



Bas yang sudah duduk didepan tv sambil menikmati susu coklatnya, sesekali masuk ke kamar hanya untuk bertanya: Boleh aku mencium mama? Apa ada kebahagiaan yang melebihi hal-hal seperti itu?



Mencium Bas dan Van, saat ini masih serupa seperti mencium mereka saat masih bayi merah. Saat kami asyik berangkulan di tempat tidur, aku teringat sesuatu. Yah, Hari ini Sabtu 23 Desember 2006. Bergegas dengan tertatih (Kondisiku masih belum pulih) aku menggandeng Bas dan Van menemui papanya. Yah, hari ini papanya berulang tahun. Kamipun larut dalam pelukan. Aku memimpin doa syukur untuk suamiku, kesehatanku dan keluargaku.



Tak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan kala Tuhan menyertai kehidupan kita dimanapun dan sedang apapun. Terima kasih Tuhan untuk semua berkat yang sudah Kau anugerahkan bagiku dan bagi orang-orang ku cintai. (Icha Koraag, 23 Des 2006)

Thursday, December 21, 2006

SELAMAT HARI IBU, UNTUK DIRI SENDIRI!

Hari ibu?
Dulu waktu aku sekolah, jika memperingati Hari Ibu, aku coba memahami peran perempuan secara umum. Lalu peran perempuan dalam kehidupanku (Ibuku). Sekarang, aku mencoba memahami hari Ibu, sebagai hari aku. Ya, bukankah aku seorang perempuan, seorang istri dan ibu dari Bas & Van?

Jadi tidak salahkan kalau aku mengucapkan selamat hari ibu, bagi diriku sendiri.
"Cha, selamat hari ibu.
Semoga apa yang kamu perjuangkan untuk selalu menjadi istri dan ibu yang baik bisa terwujud!"

Sekarang aku sedang sakit!
Sejak Senin, 18 Des, seluruh permukaan tubuhku timbul bercak-bercak merah. Karena tidak merasa terganggu, aku tidak terlalu peduli. Selasa pagi, bercak itu mulai rata di seluruh tubuh dan wajah. Tapi aku tetap kerja dan menyempatkan diri datang ke Peluncuran Buku Kembang-Kembang Genjer.

Pulang dari TIM, aku singgah di Klinik 24 jam dekat rumah. Dokter jaga bilang, ah paling alergi. Padahal sampai umurku tua begini, aku belum pernah tahu alergie. Tapi aku tak banyak komentar, terima di suntik dan di bekali obat 2 macam. Serta surat istirahat 2 hari.

Hari Rabu, ada demam sedikit tapi tidak terlalu mengganggu, aku masih mengantar Bas dan Van untuk merayakan Natal di sekolah lalu menuliskan dan mempostingkan liputan Kembang-Kembang Genjer. Siang sehabis minum obat aku tidur. Seperti pesan dokter, obatnya membuat ngantuk.

Aku terbangun, kala kakiku di sentuh Bas. Bas minta makan karena lapar. Ku lihat jam menunjukan pukul 18.40. Bas dan Van suah bangun tapi membiarkan aku tetap tidur. Ku paksakan bangun, dan menyesuaikan dengan keadaan, barulah perlahan-lahan aku turun dari tempat tidur dan menyiapkan makan malam.

Sepanjang mengerjakan persiapan makan malam, pikiranku melayang pada mamiku. Mungkin dulu mamipun seperti ini. Di tengah sakit tetap harus menyediakan kebutuhan keluarga. Kalau aku merenungkan, Karena tanggung jawab sebagai ibu, rasa sakit jadi tidak kami rasakan.

Aku hanya mempunyai dua anak, sedangkan mamiku 11, apa jadinya kalau mami sakit dan tidak bisa mengasuh 11 anaknya? Sekarang aku rasakan sendiri. Sakit itu bisa tidak terasa jika ingat kewajiban merawat Bas dam Van, Mungkin seperti itulah yang dilakukan dan dirasa para ibu dimana-mana. Tidak pernah mengaku bahkan dengan tegar akan berkata "Saya sehat-sehat saja!"

Mungkin seperti inilah yang dirasakan mamiku atau ibu-ibu di seluruh dunia, demi keluarga yang dicinta, ia tidak merasakan apa yang terjadi dengan tubuhnya. Tapi, waktu itu apa yang aku lakukan? Berterima kasihkah? Bersyukurkah? atau biasa saja?

Tiba-tiba airmata mengalir , ada perasaan perih bagai diiris sembilu, menjadi ibu adalah keinginanku sendiri, Sungguh aku sangat bersyukur dan berbahagia bisa menjadi seperti yang aku inginkan. Di belantara dunia, banyak orang yang tidak bisa menjadi seperti yang diinginkan.

Dengan berbagai alasan, peran sebagai ibu berusaha dimatikan. Padahal naluri untuk merawat dan mengasihi sudah menyertai setiap perempuan yang terlahir di bumi. Tuhan memberikan siksa dan derita ketika datang bulan, hamil dan bertarung nyawa saat melahirkan buah cintanya. Tapi Tuhan juga memberikan kemuliaan yang tiada tara buat semua perempuan yang berperan sebagai ibu.

Hanya perempuan yang bisa memberikan air susunya sebagai makanan pertama, penguat tubuh anak-anaknya. Menjelang malam, aku sangat mengantuk, perutku mual. Setelah selesai memberi makan Bas dan Van, ganti Frisch yang mengurus aku. Ia menyiapkan makan malamku. Usai makan malam dan minum obat, aku tertidur.

Pagi ini, kurasakan semua sendi pergelangan tangan dan kakiku sakit. Ketika kutelepon adikku yang dokter, ia memperkirakan asam urat. Aku niat akan ke dokter dulu sebelum memberli obat yang dianjurkan adikku. Herannya bercak-bercak merah belum juga hilang. Wajahku jadi nampak kusam. Jadi semakin tak sedap di lihat.

Hari ini, hari ibu.
Aku sakit. Merenung untuk memaknai hari ibu, alih-alih membuat aku sedih. Tadi aku menelpon mami dan mama mertua ku, mengucap salam dan selamat hari ibu. Mereka berdua mengucapkan salam kembali selamat hari ibu untukku. Ya, akupun pantas mendapat ucapan selamat hari Ibu! (Icha Koraag, 22 Des 2006)

Sunday, December 03, 2006

Poligami atau Poliandry adalah pengingkaran komitmen

Ketika beberapa waktu lalu ada acara pemilihan "Poligami award" yang di motori pemilik sebuah rumah makan khas Solo, saya tidak merespon. Artinya saya tidak berkomentar mengenai peristiwa tersebut. Karena sisi keperempuanan saya tersinggung.

Perempuan dijejerkan dan dipamerkan sebagai manusia yang takluk dan menerima berbagi suami, lalau komunitas itu layak mendapat penghargaan. Buat saya itu adalah masyarakat yang sakit. Jujur, itu salah satu peristiwa yang turut memacu tekad saya untuk terus mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat mengenai hak, peran dan tanggung jawab manusia berjenis kelamin laki-laki dan berjenis kelamin perempuan.

AA Gym bukan dewa, ia hanya manusia biasa yang ditempelkan berbagai atribut peran di dunia. Kita, masyarakat yang mengenal sosok AA Gym baik secara langsung maupun lewat media harus memisahkan fakta tersebut dari emosi. Artinya jangan karena kepalang mengaggumi ucapan atau ajaran yang disebar luaskan lalu bias menganggap semua tindakan seorang AA Gym patut diteladani juga.

Sekali lagi coba telaah dengan kepala dan hati yang tenang. dari beberapa kawan perempuan yang saya tanyakan umumnya mereka menjawab "Tindakan AA Gym sudah benar tapi tidak perlu di tiru". Lalu saya mengejar dengan pertanyan lain. Bukankah sebuah tindakan yang benar harus di tiru dan tindakan yang tidak benar harus diperbaiki agar menjadi benar?"

Setelah diam sejenak, umumnya mereka menjawab "Iya, sih". Tapi ada semacam keengganan untuk menjawab lebih lanjut.

Kemudian saya tanyakan satu pertanyaan langsung: "Bagaimana rasanya kalau kamu harus berbagi suami?"

"Jujur saya tidak mau"
"Kalau mau mendapat upah sorga, ya terima"
"Di sini kan kita diuji, keikhlasan dan ketaqwaan kita"

Untuk jawaban pertama, saya tanyakan lagi mengapa tidak mau?
"Barangkali saya manusia biasa, sulit rasanya membayangkan harus berbagi suami".

Jawaban kedua dan ketiga, saya tanyakan lagi "Apakah sorga tidak menyediakan tempat bagi perempuan yang tidak rela berbagi suami?"

Jawabnya: "Yah, bukan begitu tapi di agama kita kan kita diajar untuk mengikuti suami sebagai imam."

Saya tanyakan lagi, " Apakah kamu akan terus mengikuti atau menjadikan panutan orang yang sudah menyakiti kamu?"

Tak ada jawaban.

Apakah salah, kalau kita sebagai perempuan mengakui sebagai manusia biasa sehingga tidak rela berbagi suami adalah sesuatu yang wajar? Apakah justru dengan berusaha merelakan berbagi suami agar tampak ilmu keikhlasan dan iman pada agamanya menjadi lebih baik?

Seperti apa yang disampaikan Juli alam sebuah milis, manusia dan agama adalah bagian dari kebudayaan, tapi tidak Kepercayaan/Iman! Saya setuju dengan pendapat Juli. Banyak masyarakat kita, terutama kaum perempuan tidak bisa memisahkan agama sebagai sebuah keyakinan dan agama sebagai sebuah budaya.

Lebih jauh Juli mengatakan: Poligami bukan hanya masalah Cemburu atau dinilai dari perasaan semata. Tapi merupakan bagian dari pengingkaran komitmen.

Lagi-lagi saya harus mengakui, saya sependapat. Padahal kalau mereka mau mengatakan berdasarkan apa yang mereka rasa, ini justru membantu mereka keluar dari budaya yang dibentuk untuk percaya bahwasannya perempuan tidak punya pilihan. Suka atau tidak suka, ya terima. Tidak bisa kalau suka terima, tidak suka tinggalkan.

Dan kalau ditanya mengapa? Satu buku tidak cukup menjawab.
Persoalannya bukan poligami atau poliandri, itu persoalan sepele dan terlalu sederhana. Ini persoalan lebih menyangkut substansi pengetahuan hak-hak perempuan.

Coba jujur tanyakan pada pasangan masing-masing sebelum menikah, akankah merelakan pasangannya berpoligami atau berpoliandri nanti?
4 Des 2006.

Tuesday, November 28, 2006

DOUBLE STANDARD

DOUBLE STANDARD


Minggu lalu ketika media memberitakan tewasnya seorang bocah karena ulah beberapa bocah lain yang mempraktekkan “Smack Down”. Beramai-ramai para orang tua (Suami-istri) berkomentar dan menghendaki tayangan Smack Down pada sebuat tv swasta dihentikan.

Kalau topik tersebut bukan gosip ibu-ibu arisan. Tapi kalau topik Dhani-Maia itu gosip arisan. Mengapa begitu ? karena menggunakan double standard.

Double Standrad atau standar ganda adalah pilihan yang banyak digunakan masyarakat untuk mesnikapi sebuah situasi. Atau dengan kata lain sebenarnya bisa dimaknai sebagai "tidak punya sikap" atau "hanya ikut-ikutan dan mencari aman."

Kebiasaan masyarakat baik laki-laki atau perempuan yang menggunakan standar ganda adalah kelompok masyarakat yang tidak berani berpendapat (Bukan tidak punya pendapat). Di sebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah pola asuh, dimana mengharamkan upaya menyampaikan pendapat. Orang tua hanya mendidik anak mendengar dan melaksanakan aturan yang dibuat orang tua tanpa boleh menyampaikan pendapatnya.

Saya tidak mengatakan pola asuh semacam itu salah tapi yang pasti pola asuh semacam itu menciptakan anak-anak yang tidak mampu mengeluarkan pendapat. Padahal menyampaikan pendapat adalah salah satu hak dasar manusia.

Salah satu reaksi dari tulisan saya mengenai Dhani-Maia, adalah gosip ibu-ibu arisan. Saya cuma mau meluruskan, dan mengatakan anggapan tersebut tidak benar. Saya hanya ingin menggugah sedikit rasa peduli pada sesama perempuan yang juga istri dan ibu. Tidak lebih!

Dari tulisan saya yang berjudul “SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA), saya mendapatkan reaksi sekitar 30 tanggapan. Tanggapannya bermacam-macam, ada yang malah menuduh saya menyebarkan gosip, ada yang membenarkan dan mendukung sikap Dhani dilihat dari sisi agama. Ada yang tak peduli dengan berpendapat itu urusan rumah tangga Dhani dan Maia. Ada juga yang beranggapan strategi pendongkarakan popularitas/penjualan album dan ada juga yang tidak setuju pada sikap Dhani.


Ini iklim demokrasi, siapapun boleh berpendapat, sama seperti saya yang bebas mempostingkan tulisan saya selama itu tidak melanggar SARA. Mari kita lihat dari substansi isi dan teknik penulisan. Saya melemparkan topik pembicaraan, anda mau menanggapi silahkan, tidak menanggapi ya silahkan. Karena apapun pendapat anda pastinya dipengaruhi oleh tingkat intelektual, pengalaman hidup, pemahaman ajaran agama dan pengetahuan sosial tentang hidup dan kehidupan.

Dari berbagai tanggapan saya bisa mendapat gamabaran seperti apa masing-masing orang yang berpendapat. Dan saya menghormati pendapat dan si pemberi pendapat. (Terima kasih untuk semua yang sudah bereaksi)

Pendapat yang mengatakan saya menyebarkan isyu atau gosip, itu hak anda berpendapat demikian, menurut saya kalau isyu atau gosip faktanya tidak jelas, sementara yang saya tuliskan faktanya ada. (Pernyataan Dhani adalah fakta)

Saya tidak bisa menanggapi pendapat yang mempertimbangkan agama karena saya tidak punya kapasitas untuk itu.

Pendapat yang mengatakan itu urusan RT Dhani dan Maia, saya sependapat. Tapi telah berubah menjadi urusan publik atau masyarakat yang lebih luas karena Dhani menggunakan Media massa (umum) untuk persoalan RT dengan kata lain, Dhani mengizinkan hal tersebut menjadi persoalan masyarakat. Dan disini masyarakat bebas menanggapi. Sebagai anggota masyarakat, saya peduli. Karena kepedulian saya maka saya menuliskan tulisan ini.

Dalam tulisan saya sebelumnya (“SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA)), jelas saya tuliskan, kita diajar untuk menjaga RT kita dengan saling menjaga, menyayangi, menghormati satu sama lain sebagai pasangan. Apakah pantas seseorang yang mengaku pasangan hidup kita (suami/istri) mempermalukan pasangannya dimuka umum? Jika ada ajaran yang mengajarkan untuk tidak saling menjaga. Menyayangi, menghormati satu sama lain sebagai pasangan yang menikah, tolong informasikan ke saya.

Dalam tulisan saya juga jelas saya tuliskan, persoalannya berbeda jika Dhani mengultimatum Maia langsung pada yang bersangkutan tanpa melibatkan Media massa (umum) Saya setuju pendapat yang mengatakan sajian infoteinment bagaikan makanan enak tapi tak begizi. Saya bukan orang yang gemar mencari tahu gosip selebriti tapi yang saya melihat informasi lain dibalik info tersebut.

Informasi bisa diperoleh darimana saja, ketika saya medengar infromasi ultimatum seorang Dhani pada Maia istrinya, saya tidak melihat mereka sebagai selebriti. Saya peduli pada persoalan ini, karena saya seorang perempuan yang juga istri dan seorang ibu.

Keluarga sebagai unit terkecil berperan besar dalam komunitas masyarakat yang lebih luas. Jika sebuah keluarga tidak mampu mempertahankan nilai-nilai moral dalam keluarga tersebut, maka komunitas masyarakat yang lebih besar akan menjadi ”sakit”. Ketika nilai-nilai sosial dan moral dalam sebuah keluarga tidak diperdulikan hanya berpijak pada nilai agama, semua hanya kepalsuan.

karena sesungguhnya tidak ada satu agama di dunia ini yang mengizinkan atau memberi hak salah satu pasangan yang terikat dalam sebuah pernikahan untuk mempermalukan pasangan lainnya dihadapan masyarakat luas. Sekalipun orang tersebut berpangkat, berkuasa, berpendidikan tinggi atau memiliki kekayaan melimpah.

Itu tidak menunjukan wibawa atau nilai lain selain membuka aib dan mencoreng aib di keningnya sendiri. Silahkan anda menilai sendiri tipe orang seperti itu dikaji dari sisi sosial, psikologi ataupun agama.

Saya sebagai anggota masyarakat, sebagai perempuan, sebagai ibu dan sebagai istri jelas tersinggung jika ada kaum saya diperlakukan seperti itu. Jangan dibelokkan pada pemahaman emansipasi. Saya tidak berpendapat emansipasi sebagai kebebasan perempuan untuk melakukan apa saja.

Bagi saya emansipasi adalah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kesepakatan. Artinya jika Dhani dan Maia sepakat Maia boleh bermusik hanya Sabtu dan Minggu bukan All day. Loh kok setelah kebablasan baru ditegur? Saya percaya pasangan yang baik akan selalu mengingatkan dan menjaga pasangannya agar jangan salah jalan atau salah melangkah.

Termasuk kalau Dhani seorang laki-laki yang gentle, ia bisa melaporkan Maia telah melanggar Undang-Undang No. 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), Yaitu penelantaran rumah tangga.

Sebaliknya dengan mengultimatum lewat media massa justru Dhani yang telah melanggar UU PKDRT karena melakukan kekerasan psikhis.

Hal-hal baik dari kehidupan orang lain bisa kita tiru, sebaliknya hal-hal buruk dari kehidupan orang lain, kita hindari. Bukankah kita bisa belajar darimana saja termasuk dari kisah kehidupan orang lain ? dan itu yang sedang saya pelajari. (Icha Koraag, 29 nov 2006)

SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA)

Sebelum berangkat kerja, saya sempat mendengar informasi yang ditayangkan sebuah infoteinment di tv. Achmad Dhani, pentolan grop musik DEWA yang juga suami dari salah satu personil group vokal RATU, Maia, mengultimatum sang istri untuk membubarkan group vocalnya atau pernikahan Dhani dan Maia yang buyar!

Utimatum itu keluar dari mulut Achmad Dhani dan disiarkan semua infoteinment yang ada. Sayangnya pada waktu yang bersamaan, infoteinment tidak menginformasikan bagaimana reaksi dan pendapat sang istri, Maia.

Infoteinment hanya mengatakan dengan kalimat standar “Hingga informasi ini disiarkan, Maia belum bisa dimintakan pendapat. HP yang dihubungi pun tak tersambung”. Kalimat tersebut sebetulnya hanya upaya menunjukkan bahwa infoteinment sudah melakukan berita berimbang. Sudah menghubungi Maia namun yang bersangkutan tidak bisa dihubungi.

Achmad Dhani mengatakan, ia sangat terenyuh bahkan nyaris mengeluarkan airmata karena anak-anaknya melakukan semua aktivitas hanya ditemani pembantu. Makan dengan pembantu, nonton tv dengan pembantu, siap-siap ke sekolah juga dengan pembantu. Jika menggunakan daftar absen, sebagai seorang ibu, absen Maia sudah sangat banyak

Sebagai suami, Dhani meminta Maia keluar dari RATU, menghentikan semua aktivitas bermusiknya dan kembali ke keluarga. Ultimatum tersebut tidak main-main. Ini dapat dilihat dari tindakan Dhani yang memecat Vita yang di tunjuk Dhani untuk menjadi Manajer RATU. Dhani menilai Vita sudah gagal mengatur jadwal RATU yang berdampak pada kesibukan Maia, sehingga Maia menelantarkan keluarga.

Ternyata info yang mengatakan Achmad Dhani seorang yang otoriter, bukan isapan jempol. Pernyataan yang disampaikan Achmad Dhani kepada masyarakat melalui infoteinment, membenarkan anggapan selama ini, bahwa Achmad Dhani memang seorang yang Otoriter.

Saya jadi teringat ketika Maia baru menampakkan langkah kakinya di dunia musik Indonesia, dalam sebuah wawancara yang ditayangkan sebuah tv swasta, Maia mengatakan langkahnya ini direstui dan di dukung sang suami. Sang suami melihat anak-anak sudah besar dan dapat di tinggal, sehingga sang suami mengizinkan Maia kembali menekuni apa yang dulu pernah ditekuni (Maia sempat menjadi backing vocal)

Jika sekarang Maia, dinilai sudah keterlaluan oleh sang suami, maka yang menjadi keprihatinan adalah, apakah pasangan Dhani dan Maia tidak mempunyai hubungan komunikasi? Apakah Dhani dan Maia tidak tinggal serumah?

Dalam artikel yang berjudul ”Mengikis sifat Otoriter” yang di tuliskan Arland dalam milis ”Mencintai Islam”: Orang yang otoriter memandang dirinya lebih dari orang lain dan selalu melihat sesuatu dari sisi kejelekannya saja. Salah satu yang berbahaya di antara penyakit hati adalah sifat egois, tidak mau kalah, ingin menang sendiri, ingin selalu merasa benar, atau sifat selalu merasa dirinya tidak berpeluang untuk berbuat salah.

Apa yang dutuliskan Arland semua nampak dalam diri seorang Dhani Dewa. Bahkan tanpa perasaan malu mengultimatum istri sendiri dan mengumumkannya pada masyarakat luas. Bukankah kita diajarkan bagaimana suami-istri saling mendukung dan saling menjaga bukan saling mempermalukan.

Jika salah satu dari pasangan suami istri tersebut sudah tidak menghormati pasangannya, akankah kehidupan rumah tangganya dapat berjalan dengan baik? Memang tidak menutup kemungkinan Maia akan memilih rumah tangganya dan mengorbankan karir bermusiknya.

Saya bukan penggemar group vokal RATU,. Sayapun tidak merasa dirugikan jika group vokal RATU di bubarkan. Ada apa dibalik motivasi Dhani DEWA dalam mengultimatum sang istri. Sungguhkah didorong keprihatinan atas nasib ketiga anak-anaknya.

Atau karena kepopuleran Dhani dikalahkan oleh kepopuleran Maia? Jika prihatin terhadap nasib ketiga anak-anaknya, apakah ini bukan salah satu resiko yang sudah bisa dipredeksi ketika mengizinkan sang istri terjun ke dunia entertain? Apakah tidak ada komunikasi dintara pasangan Dhani dan Maia sehingga jadual Maia bisa terlampau banyak sehingga berdampak pada tingginya frekwensi meninggalkan keluarga?

Tahukah Dhani dengan tinggnya frekwensi manggung RATU berarti tebalnya kocek Maia? Apakah sesungguhnya Dhani mulai merasa terancam melihat perolehan Maia dari segi materi? Atau hal yang paling kecil tapi cukup prinsipil, Dhani kesepian? Sehingga ini hanya alasan dari niat yang sesungguhnya untuk melakukan tindakan lain?

Semua kemungkinan bisa dan mungkin terjadi. Seharusnya jika menghormati istrinya, ulmitumlah istrinya sendiri tanpa perlu menggunakan jalur umum. Dari sikapnya yang mempbulikasikan ultimatumnya pada masyarakat umum, menunjukan Dhani DEWA tidak menghormati lembaga pernikahan sekalipun itu pernikahannya sendiri.

Ini mengingatkan masyarakat pada sikapnya yang tidak sopan pada ayah kandungnya ketika sang ayah kandung membenarkan pernikahan Dhani Dewa dan Mulan Kwok, memang terjadi. So, Dengan kata lain , jika seseorang sudah tidak menghormati rumah tangganya, keluarganya, juga orang tuanya maka pada dasarnya orang tersebut tidak menghormati dirinya sendiri. (Icha Koraag)

Monday, November 27, 2006

KAMARKU

Kamarku adalah sebuah ruangan yang bisa memuat dua tempat tidur
spring bed ukuran 160 x 200 cm , dua nakas (Lemari kecil samping tempat
tidur) dan sebuah lemari serba guna untuk menyimpan seprei dan
meletakan tv di atasnya. Di atas kepala tempat tidur, kutempelkanlukisan pernikahanku dan di kiri kanan lukisan itu, kusandingkan nama
anak-anakku yang terbingkai, hasil sulaman ibuku.

Dinding kamar sengaja di cat warna krem agak memberi efek luas dan
cerah. Untuk memperindah dan memberi kesan nyaman, seprei-sprei yang
kupasang di tempat tidur selalu berbahan katun dan bermotif lembut.
Pilihan warna selalu ku pilih yang senada dengan warna dinding.
Buatku, kamar adalah tempat yang paling menyenangkan.

Bukan hanya sebagai tempat berisitirahat atau tidur. Kamar bagiku juga berfungsi
sebagai tempat bersenda gurau dengan suami dan anak-anak. Karena hanya
kamar tidur yang berpendingin ruangan. Dan kamar tidurku adalah kamar
tidur satu-satunya di rumah ini yang berarti juga kamar tidur suami
dan anak-anakku. Bisa dibilang, kami melakukan banyak aktivitas dalam
kamar tidur.

Dalam kamar ini juga aku menemani anak-anak belajar. Bas dan Van tidak
bersedia belajar di ruang depan dengan alasan gerah. Aku tahu, rumah
kami walau memiliki ventilasi cukup tetap tidak bisa menahan panasnya
udara kota Jakarta. Lagi pula aku mempertimbangkan kemampuan
konsentrasi anak-anak. Di ruangan yang panas, mereka cepat
berkeringat, itu membuat tubuh mereka tidak nyaman dan pada akhirnya
mengganggu konsentrasi belajar.

Di kamar ini pula, kala kedua anakku dibuai mimpi, aku dan suamiku
bertukar cerita tentang aktivitas masing-masing sepanjang hari ini.
Sambil berbaring dipangkuannya, kutumpahkan semua keluh kesah atau
bahagiaku. Tangan kekarnya senantiasa mengusap lembut punggung hingga
betis kakiku. Ku tahu, ia berusaha meringankan kelelahan dan rasa
pegalku.

Namun sering juga usahanya berakhir pada penyatuan tubuh kami dalam
tarian cinta. Kamar kami jadi saksi bisu. Dan biarlah tetap begitu.
Karena jika kamar ini bisa bicara, lebih dari seribu cerita bisa ia
ungkapkan. (Icha koraag)

LEBIH BAIK SAKIT GIGI DARIPADA PATAH HATI

Kalau saya tidak salah, kalimat judul di atas adalah penggalan salah satu lagu dangdut. Saya tidak ingat siapa yang mempopulerkannya. Dulu kalau mendengar penggalan syair tersebut, saya dan teman-teman biasanya tertawa ngakak seraya membenarkan dalam hati. Soalnya sakit gigi ada dokternya dan ada obatnya tapi kalau patah hati?

Padahal bagi orang yang sudah merasakan sakit gigi, bisa dipastkan tidak setuju sekali dengan kalimat judul di atas. Sakit gigi, adalah suatu penyakit yang tidak terlalu nampak, hanya sebatas dalam rongga mulut tapi kemampuan rasa sakit yang ditebarkannya mampu, membuat orang yang merasakannya tidak bisa tenang bahkan sakit gigi walau hanya satu dua hari terasa bagaikan tiada berakhir.

Pertanyaannya, siapa lagi yang mau patah hati? Pasti semua akan menjawab tidak ada yang mau. Persoalannya dapatkah kita memilih untuk tidak patah hati? Jawabannya tidak. Karena manusia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Barangkali kita perlu menelusuri terlebih dahulu, penyebab atau kemungkin yang bisa membuat patah hati.

Patah hati bisa diartikan baru putus cinta. Jadi supaya jangan patah hati, ya jangan putus cinta dong. Bagaimana caranya supaya jangan putus? Telaah kembali hubungan tersebut. Kalau tidak cocok jangan dipaksakan, kalau putus, yah jangan merasa patah hati dong. Lebih baik putus dari sekarang daripada putus setelah menikah.

Patah hati bisa diartikan cinta tak terbalas alias bertepuk sebelah tangan. Hey.............kenapa juga harus merasa patah hati hanya karena bertepuk sebelah tangan. Apa cuma dia mahluk di dunia ini? Tak bersambut, cari lagi yang lain. Ayo tepuk tangan sendiri, toh Tuhan memberi kamu sepasang tangan, tanpa orang lain kamu bisa bertepuk tangan sendiri. Intinya, jangan hancur karena sebuah penolakan. Buktikan orang itu menyesal pernah menolak kamu.

Patah hati bisa diartikan kekecewaan yang disebabakan gagalnya sebuah hubungan. Karena menyangkut sebuah hubungan pastinya melibatkan lebih dari satu orang. Dulu teman-teman saya pernah bilang, lebih baik patah hati daripada tidak pernah merasakan jatuh cinta. Hmm...bagaimana yah? Apa rugi tidak pernah jatuh cinta? Apa sih jatuh cinta? Mengapa orang bisa jatuh cinta? Apa bedanya jatuh cinta sama jatuh dari pohon? Pastinya sih, sama-sama sakit. Cuma kalau jatuh cinta, sakitnya tidak kelihatan kalau jatuh dari pohon, jelas kelihatan. Kalau tidak jidat benjol, yah paling-paling kaki atau tangan patah.

Kalau tidak mau jatuh dari pohon, maka jangan naik pohon. Maka dijamin kamu tidak akan jatuh dari pohon. So...apakah supaya tidak jatuh cinta lebih baik jangan berurusan dengan cinta? Apa ada yang bisa menolak cinta? Ih gila banget kalau ada yang bisa menentang kuasa alam.

Cinta itu anugerah terbesar dari sang pencipta. Menolak cinta sama dengan menolak anugerah Tuhan. Apa berani? (Kalau Van yang mengucapkan kata-katanya di balik menjadi berani apa?)
Kunci sebenarnya sangat sederhana. Terimalah jatuh cinta sebagai sebuah proses alam. Bagian dari proses kehidupan. Seperti air yang mengalir, jika dihambat akan meluap. Jika dibiarkan, air akan mengalir mengikuti alurnya. Demikian juga cinta, kenapa juga di tolak? Biarkan saja dia tumbuh dan berkembang menjadi bagian dalam diri kita.

Persoalannya tidak sesederhana itu. Kalau jatuh cinta pada orang yang salah? Loh kok bisa? Maksudnya cinta kita tidak berbalas lantaran orang tersebut tidak mencintai kita. Yah, sudah. Mengapa harus dipasa? Cinta itu lahir dari rasa. Jatuh cinta tidak pakai logika. Bahkan orang bilang cinta itu buta. Gara-gara cinta, maaf-maaf tai kucing bisa terasa coklat. (Apa iya...?) Itu pendapat orang yang jatuh cinta.

Padahal tidak benar! Ikuti saja naluri. Cuma jangan lupa, manusia itu bukan binatang. Manusia itu mahluk paling mulia ciptaan Tuhan yang dilengkapi akal dan budi. Jadi kalau binatang cuma punya akal tapi tidak punya budi. Nah manusia biarpun sedang jatuh cinta tetap harus menggunakan akal dan budi dalam mengendalikan rasa tersebut agar jangan salah melangkah.

Seperti apa sih rasanya jatuh cinta? Susah dijabarkan dengan kata-kata karena ini menyangkut rasa. Dan perasaan tiap orang itu sifatnya relatif. Ada yang bawaannya gembira terus, maunya tersenyum terus. Ada juga yang mendadak ingin berpenampilan rapi terus. Tapi ada juga yang terbayang terus wajah pujaan hatinya. Jadi maunya melamun terus. Padahal, kalau mau jujur, semua itu hanya emosional.

Kematangan suatu hubungan cinta lebih mengedepankan logika bukan emosi atau perasaan. Justru kalau kita mencintai seseorang, kita ingin orang tersebut berbahagia. Dan jika orang tersebut berbahagia dengan mengakhiri hubungannya dengan kita, itulah yang harus kita laukan. Itulah yang namanya cinta. Cinta tidak harus memiliki. Cinta yang besar tidak pernah berakhir karena The greates love is never end. Cinta sejati adalah cinta yang besar. Cinta yang rela dikorbankan demi kebahgiaan dari orang yang dicintai.

Ketika sampai pada keikhlasan, maka itulah sebenarnya yang dinamakan cinta. Termasuk cinta pada pasangan suami istri.
Ketika cinta di kedepankan maka yang ada pengabdian.
Ketika cinta dikedepankan, Tidak ada perasaan siapa lebih besar atau siapa yang harus dihormati.
Ketika cinta dikedepankan maka kita selalu mendahulukan orang yang kita cintai.
Ketika cinta dikedepankan maka kita ingin senatiasa membahagiakan orang yang kita cintai.

Cinta itu lemah lembut
Dapat kita pelajari dari kelembutan seorang ibu yang merawat bayinya
Cinta itu tidak menuntut
Dapat kita pelajari dari kerelaan induk harimau yang menyusui anak-anaknya
Cinta itu pengabdian
Dapat kita pelajari dari induk burung yang mengajarkan anaknya terbang
Cinta itu penuh kasih
Dapat kita pelajari dari orang utan yang mengasuh anak-anaknya
Cinta itu penuh kedamaian.
Dapat kita pelajari dari dari dua balita yang bermain bersama
Cinta itu panjang sabar
Dapat kita pelajari dari kesabaran orang tua yang mengajarkan anaknya bersepeda
Cinta itu kerelaan
Dapat kita pelajari dari sebatang lilin yang rela hancur demi memberi sedikit penerangan

Jadi mengapa harus takut patah hati? Sakit gigi itu sakitnya luar biasa dan kalau anda belum pernah sakit gigi, jangan sesekali mengatakan lebih baik gigi dari pada patah hati. Saya jadi teringat ketika masih remaja dulu.

Pacaran saya pahami sebagai bagian darei proses interaksi dengan sesama. Bukan saya tida setia, saya cuma sulit mengatakan tidak pada orang yang menyukai saya. Tapi saya juga tidak mengatakan saya bersedia menjadi pacarnya. Pada waktu itu saya hanya berkomitmen dengan satu orang.

Singkat cerita, pacar saya mendapati saya berjalan dengan laki-laki lain. Katanya karena cinta, dia marah lalu memutuskan saya tanpa memberikan kesempatan saya menjelaskan. Saya pulang mengadu pada ibu saya sambil menangis. Ibu saya berkata: ”Sekarang kamu masuk kamarmu, tutup dan kuncilah pintu. Menangislah dua hari dua malam. Sesudah itu kamu keluar, angkat wajahmu, hapus air matamu dan songsonglah dunia. Putus cinta bukan akhir segalanya. Itu hanya secuplik dari bagian perjalanan hidupmu!”

Dan benar, putus cinta atau patah hati bukan akhir dari segalanya. Masih panjang goresan cerita yang saya bisa lakukan untuk hidup saya. Pacaran hanya sebagian kecil dari penggalan perjalanan hidup. Jadi nikmati selagi bisa dinikmati. Ketika yakin telah jatuh cinta dan meletakkan atau mempercayakan hidupmu pada seseorang maka pada waktu yang bersamaan, kita harus mempersiapkan diri untuk sakit hati.

Orang yang kita cintai tidak berarti tidak bisa atau tidak akan mengecewakan kita. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang menerima apa adanya. Sehingga ketika kenyataannya orang yang kita cintai tidak seperti yang kita harapkan, maka kompromi adalah jalan yang harus diambil. Perlu kita sadari orang yang kita cintai tidaklah sempurna, sebagaimana adanya kita. Justru dalam kekurangan kita saling melengkapi.

Ketika anda menjalani sebuah komitmen dalam pernikahan yang saya percaya awalnya karena cinta lalu dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga tersebut dihantam badai dan gelomnang, jangan sesekali anda berpikir ini saatnya mengakhiri perjalanan dalam bahtera rumah tangga tersebut.

Justru anda pelu mensikapi sebagai sebuah ujian untuk menguji kekuatan dan kualitas bahtera yang dibangun atas dasar cinta Juga perjalanan bahtera cinta itu sendiri. Cinta bisa ditumbuhkan dan harus ditumbuhkan. Cinta perlu dipelihara sebagaimana tumbuhan. Pohon cinta akan terus tumbuh dan memberi kesejukan jika anda rajin memberinya pupuk berupa kepercayaan, perhatian, komitmen, kasih sayang dan terpenting cinta itu sendiri. Percayalah pohon cinta itu akan tumbuh subur dan senantiasa menimbulkan inspirasi cinta bagi yang melihat.

Jika hari ini anda patah hati, bersyukurlah karena anda pernah merasakan jatuh cinta. Hanya orang-orang yang beruntung yang bisa merasakan jatuh cinta. Karena tidak setiap orang pernah atau bisa merasakan cinta. (Icha Koraag, 27 Nov 2006)

Tuesday, November 14, 2006

SURAT CINTA

Surat ini kusimpan sudah 25 tahun lamanya.
Aku tidak tahu dimana si pengirim surat ini berada.
(Icha)



Jakarta, 20 Des 1987

Icha yang mempesona. Apa kabar? Selalulah mempesona!

Saya suka kamu, karena ternyata kamu suka berkorespodensi. Kebetulan saya lebih bisa mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Ada banya hal yang ingin saya ceritakan, tentu tentang diri saya. Saya perlu menghilangkan, melenyapkan kegamangan.

GAMANG

Ketika lembar hari luluh
Kabut jatuh berguling
Tetapi mengapa di bukit-bukit jauh?

Ketika gerimis turun
Alam mengalun, merayap
Tetapi mengapa mentariku lenyap?

Ketika lembar hari mengadu
Dan jiwa luluh, kulihat kau berjaga
Demikian dekatku dalam bicara

Demikian dekatku
Pada tepian semesta raya
Demikian dekatku
Pada puncak absurditas
tetapi mengapa kata-kataku menerbitkan lembayung di langit?
Tetapi mengapa aku memburu keterasingan & di buru kegamangan?

Puisi itu menggambarkan perasaan saya sekarang, tentu setelah mengenal kamu. Saya berada di dalam kegamangan selalu, jika mulai mengenal dekat sesorang yang saya suka. Sebabnya sudah jelas, keyakinan pemikiran makro-cosmos saya.

Saya seolah memburu kamu, padahal kamu adalah keterasingan. Saya yakin tak akan bisa mengerti kamu, tetapi bukan karena kamu salah-tidak tetapi karena saya egois. Tak bisa lepas dari dunia saya sendiri, masuk dalam dunia orang lain. Semakin saya dekat kamu. Semakin saya terasing dalam pemikiran saya.

Aku suka kamu!

Sementara itu, saya suka kamu ada di dekat saya. Maka kegamanganlah yang mencekal
Ini terjadi sejak beribu-ribu tahun yang lalu, Icha. Aku selalu dengan duniaku, meski kamu atau teman-teman cewek lain (dulu) milik rongga dadaku, keniscayaan kehidupan menjadi rival beratmu, bukan manusia.

Saya adalah anak kehidupan yang nakal Icha.
Yang ketika bermain lupa pada induknya. Yang kemudian pula berteriak menyapa langit. Cha tulisan ini memang tulisan orang yang kesepian. Lihatlah, rasakan, bagaimana dia meronta-ronta.

Icha, saya tak tahu, akankah kamu sama seperti orang lain (teman-teman cewek) yang setelah tahu siapa saya lalu memutuskan untu ”just for fun” tahukah kamu betapa menyakitkannya itu? Dan betapa menyakitkan ketika kemudian orang-orang mengatakan saya Don Juan. Terlalu mahal memang harga yang harus saya bayar untuk sebuah pemikiran. Berbahayakah saya, jika saya anti-theis, tak bertuhan?

Bagai awan saya terbang kesana kemari terbawa angin. Padahal hanya satu yang ingin saya dapatkan dari teman-teman cewek, melihat saya sebagai manusia, laki-laki bukan setan atau monster.

Itulah sebabnya Cha, hari pertama saya mengenal kamu, saya langsung memberitahu kamu bahwa saya atheis. Saya tidak ingin seperti yang lain, kamu melakukan hal yang sama, mundur setelah tahu ke-atheis-an saya. Saya mau hari itu juga kamu mengindar dari saya daripada suatu hari nanti, kala saya meletakan harapan di tempat yang amat layak-kamu melihat saya sebagai racun. Namun di luar dugaan saya, kamu ktakan; kedengarannya menarik. Lalu saya jawab, terasa lebih menghinda daripada memuji.

”Ada yang mencekat
Ada yang berkutat
Ada yang meradang
Ada yang hilang
Kalau kamu tak ada”

Icha sungguh mati saya tak percaya sikap kamu itu. Pulang dari punck, saya pastikan (mencari kepastian) dugaan-dugaan saya di rumah kamu. Nampaknya kamu memng tertarik dengan penyimpangan saya itu (gr deh gue!) namun saya tahu, kamu punya niat baik, mengembalikan saya ke jalan yang benar! Yang penting kamu adalah a motivation to still a live.

Karena tangisan-tangisan kecil belum reda. Menangis bukan karena rasa absurditas hidup menjadi atheis tapi karena kesendirian. Kesendirian menanggung absurditas hidup. Cha, memang amat mengherankn pengaruh kamu. Memang telah lama aku memutuskan untuk tidak radikal lagi dalam tindakan yang berlandaskan ke-atheis-an saya. Nmun di gereja itu, saya sama sekali ”ogah” bertengkar meski saya tahu banyak tentang ”Trinitas, keTuhanan Yesus atau Rasul Paulus”, misalnya. Minat saya terhadap agama-agama kan sudah sejak dulu. Galau sekali rasanya, karena tiba-tiba harus kompromis dengan penghotbah itu!

”Biarkan saya berkata:
Saya suka kamu
Dan biarkan saya mendengar kamu berkata
Saya tahu itu
Lalu biarkan saya berharap
Bukan hanya kata itu”

Sungguh amat menenangkan, tiba-tiba kamu duduk diantara saya dan penghotbah itu. Ingin rasanya saya katakan pada kamu” Icha kalau bukan karena sedang ada rasa sayang saya pada kamu tentu sudah saya sikat habis ini orang. Tapi hebat orang itu, tak bisa saya pungkiri dia dapat melihta api pemberontakkan hanya dari mata saya. Padahal itu hanya beberapa kali saja ketika dia membacakan doa.

Pertama kali dalam hidup saya, begitulah saya berkata dalam hati setelah kita pulang. Ada orang yang memancing dalam kolam pemikirn saya, namun saya sama sekali tak mengamuk. Ya, mudah-mudahan ini pertanda baik, seperti yang kamu katakan: baik bukan bukan berarti saya mengubah pikiran saya tetapi syaa mulai mendapat kepastian bahwa ada cara menghilangkan pengaruh buruk dari ke-atheis-an saya.

Pengaruh buruk, ya memang ada menyelimuti hidup saya yaitu keresahan. Sering saya berkata: Hormat saya kepada filsuf-filsuf yang bunuh diri. Mereka adalah orang-orang yang jujur pada dirinya sendiri, itu saja alasannya.

Cuma saya tak akan mengikuti jejaknya. Telah saya putuskan hidup ini indah, maka aku ingin tetap hidup. Apalagi setelah ada kamu Cha. Hidup tidak hanya indah tapi juga mengalun. Ok Cha saya harus ngeposin surat ini. Hari ini sudah tanggal 22 Desember, jadi dua hari saya tulis surat ini setiap malam.

Cha ini masih ada satu puisi lagi untuk kamu. Sebenarnya banyak puisi yang saya dapat buat setelah ketemu kamu. Saya gak tahu bagus tidaknya puisi-puisi ini tapi yang pasti keluar dari tempat yang terdalam di benak. Puisi terakhir (di surat ini) adalah saduran dari Shakespeare, Cuma udah dimodifikasi.

Percayakan Icha

Kamu boleh tidak percaya
Bahwa matahari pernah bersinar dan akan selalu bersinar
Kamu boleh tidak percaya
Bahwa bintang pernah berkelip dan akan selalu berkelip
Kamu boleh tidak percaya
Bahwa bumi pernah berputar dan akan sellu berputar
Bahkan kamu boleh tidak percaya
Pada apa yang saya katakan
Namun jangan kamu tidak percaya
Bahwa kamu mempesonaku


22 Des 1987
Some one

Wednesday, November 08, 2006

Kisahku: SUNGGUHKAH PRIVASIKU DILANGGAR?”

Kisahku: SUNGGUHKAH PRIVASIKU DILANGGAR?”

Semalam ketika aku tiba di rumah, aku sangat terkejut melihat tumpukkan buku dan surat-surat yang berantakan di kamar. Tiba-tiba kelelahan menjadi bertambah. “Ada apa sih?” tanyaku dalam hati. Yang rapih hanya surat-surat penting seperti surat nikah, akte kelahiran, ijazah dan beberapa lembar surat penghargaan karena semua ada dalam satu document keeper. Beberapa foto bertaburan di tempat tidur.

Suamiku tanpa dosa dan ringan saja mengatakan,” Rak buku kamu saya rapihkan. Kelihatannya ada beberapa kertas yang tidak perlu dan bisa dibuang. Jujur aku agak marah padanya. Karena aku menemukan rak bukuku sudah “di acak-acak!” Semua buku di rak di turunkan lalu di tumpuk entah berdasarkan apa. Juga negative foto dan foto-foto dokumentasi anak-anak serta dokumentasi perjalananku di tumpuk jadi satu dalam sebuah kardus.

Barangkali anda akan menuduhku tidak tahu diri, di bantu kok malah kesal. Aku bukan tidak mau di bantu. Kalau suamiku mau membantu silahkan saja tapi bersama-samaku, jangan saat aku tidak ada. karena aku jadi merasa asing dengan rak buku itu. Aku pasti memerlukan waktu lebih lama jika akan mencari buku yang kuperlukan atau yang ingin kubaca.

Frisch mencoba menghiburku dengan memperlihatkan foto-foto anak sewaktu bayi dan berkomentar, “Lucu sekali yah. Tapi kok aku tidak tahu kapan foto ini diambil?’ Aku tidak mau menjawab dan meninggalkan Frisch. Aku milih langsngung kekamar mandi. Membasahkan tubuh mulai dari ujung rambut berharap kepala ini bisa menjadi lebih dingin dan terus ke hati, sehingga aku bisa lebih tenang.

Sambil mandi, benakku tak berhenti berpikir. ”Apa sih tujuan Frisch merapihkan rak buku ?” pikirku dalam hati. Sebenarnya tidak ada yang aku takutkan atau khawatirkan. Toh antara aku dan Frisch tidak ada rahasia apa-apa. Cuma rasanya tidak rela, ini sedikit menyangkut masalah privasi! Ujarku salam hati.

Dalam kamar mandi kudengar gelak tawa Frisch bersma Bas & Van. Pasti mereka tengah melihat foto. Aku jadi tersenyum. Melihat dokumentasi yang merekam gambar perjalanan hidup anak-anak memang menyenangkan. Tapi tidak berarti aku menjadi tidak kesal. Karena kesalku tetap ada!

Aku tidak mau melihat rak buku, di kamar aku langsung naik dan rebahan ditempat tidur. Bas dan Van masuk, ikut naik di sampingku. Keduanya memeluk dan mencium. Sesaat rasanya amat bahagia.

”Mama lelah yah?” tanya Bas sambil tidak melepaskan pelukannya dari tubuhku. Seperti biasa Van mengulang pertanyan yang sama.
”Mama lelah yah?” tanya Van.
”Iya” jawbku. Tiba-tiba Frisch masuk ke kamar dan berseru:
”Papa ikut yah! Papa kan juga mau dekat-dekat mama!” kata Frisch sambil duduk diujung tempat tidur. Kubisiki telinga Van untuk mengatakan tidak! Kontan Van berteriak ” Tidak boleh! Ini mama aku tahu!’ ujar Van.
”Yeah..... ini mama aku juga” kata Bastiaan.
”Punya papa juga dong!” ujar Frisch

Ketiganya berteriak dan beradu mulut karena Frisch sudah menggelitik Bas dan Van, sehingga aku yang berada ditengah, terjepit. Aku menari nafas panjang dan berdoa ’Tuhan beri aku kesabaran seluas samudra!” Ini adalah sepotong doa yang selalu aku ucapkan kala rasa kesal sudah sampai diubun-ubun.

Aku tidak bereaksi hanya menghindar saja dari gerakan kaki dan tangan anak-anak. Pelan-pelan keluar dari ”ajang smack down”. Ku tinggalkan kamar dan nongkrong depan tv di ruang tamu. Silih berganti chanel kutekan, tak ada satupun yang masuk dalam pemikiranku. Benakku masih penuh tanda tanya dengan rak buku yang berantakan.

Aku mencoba berpikir dari sisi yang lain, mencoba mengetahui mengapa aku harus marah! Ini rumah kami bersama dan di rak itu pun semua milik bersama. Sesungguhnya tidak ada alasan untuk aku marah.

Privasi? Ya, aku merasa privasiku terganggu. Atau hanya perasaan tidak nyaman karena selama ini, rak buku aku yang menyusun. Sehingga tersusun atau teratur berdasarkan standar ukuranku? Mungkin saja. Memang buku-buku itu lebih banyak koleksiku karena sebagian besar adalah buku-buku yang aku miliki sebelum menikah. Ketika aku pindah dari rumah mami, semua barang pribadi termasu buku-buku aku bawa serta. Sedangkan Frisch seingatku memang tidk membawa apa-apa karena itu sebagian barang pribadinya masih berada di Bogor.

Aku menghembuskan nafas panjang mencoba kompromi dengan perasaanku sendiri. Aku tidak ingin berkonfrontasi dengan Frisch. Toh dia tidak punya salah apa-apa dan mungkin bermaksud baik. Aku berdiri dan berjalan menuju rak buku. Aku terdiam hanya memandang rak yang rapih dan bersih. Perlahan kuambil sebuah amplop surat dari tumpukan kertas di kardus. Sebuah surat lama yang ditujukan untukku..

Ku buka dan kubaca. Aku tersenyum, sebuah surat cinta yang berisi puja dan puji untukku. Tertanggal 20 Desember 1987. Tiba-tiba Frisch sudah muncul di depanku sambil memegang kardus berisi foto-foto.

”Ini harus di atur, supaya jangan rusak!” Ujarnya. Aku tak menjawab hanya memandangnya.
”Surat cinta yah?” tanya Frisch datar.
”Yang pasti bukan dari kamu!” Jawabku
’Tidak penting, sekarang kamu istriku!” Jawab Frisch santai. Ia meletakan kardus di samping kaki, lalu memelukku. Aku menyembunyikan wajahku di perutnya.
”Kamu kesal, aku mengobrak-abrik hartamu?” bisiknya pelan di telingaku. Aku diam. Bathinku masih berperang. Frisch melanjutkan lagi. Aku menemukan banyak naskah cerpenmu. Aku tahu itu hartamu. Aku tersentak.

”Cerpen apa?” tanyaku
”Naskah-naskah cerpen yang kamu tulis belasan tahun lalu” Ujarnya tanpa melepaskan pelukan. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang teratur, tiba-tiba detakan itu terasa indah ditelingaku.
”Aku minta maaf, kalau kamu kesal. Aku tadi mencari buku kwitansi yang seingatku ada di rak itu. Karena tidak terlihat, aku terus mencari, tahu-tahu aku menemukan banya hartamu dan ketika tersadar semua sudah berantakan!’ Aku Frisch.

Aha....Frisch baru saja melakukan pengakuan dosa. Jadi tujuan utmanya bukan merapihkan buku-bukuku. Ia hendak mencari buku kwitansi. Sekarang semua mejadi jelas. Ku dengar Frisch berkata:

”Aku tidak membaca surat-surat dan buku harianmu

”Ha, Buku harian apa?” potongku terkejut. Karena seingatku aku sudah membakar semua buku harianku. Frisch mengangsurkan satu buku kecil bergambar snoopy sedang memegang balon berbentuk hati. Aku langsung mengambil dan membacanya.

Ku buka halaman pertama, November 1987 Aku terus membaca, entah mengap air mataku mengalir. Ketika lembar berikutnya kubalik, ada nama Frisch di sana. Aku mengangkat wajah dan menatapnya lalu bertanya: “Jujur pa, kamu baca atau tidak buku ini?” tanyaku

Air mukanya biasa saja dan Frisch menjawab ringan. ”Kamu tahu, aku tidak suka campur dengan urusan orang!’

“Aku tanya, papa baca atau tidak buku ini?” desakku. Sebenarnya tidak ada kejutan apa-apa, Cuma aku ingin tahu, apakah Frisch tertarik ingin mengetahui yang aku tulis 19 tahun lalu.

“Sudahlah, aku lapar nih!” Kata Frisch sambil meninggalkan aku. Sebelum tubuhnya hilang di balik pintu, Frisch berbalik dan tersenyum lalu berkata, ”Apa kabar Alvin dan Karel yah? Tanyanya. Aku hanya bisa tertawa ngakak ”Awas ya pa!” seruku. Dua nama itu adalah dua nama yang juga ku tulis dalam diary ini.

Kekesalanku sudah berkurang dan kami makan malam bersama sambil membicarakan kejadian hari ini serta tingkah pola Bas dan Van. Sebelum pukul sembilan, aku sudah menggiring Bas dan Van ke kamar mandi untuk cuci kaki dan gosok gigi. Frisch masih menonton tv saat aku di tempat tidur bersama kedua anakku. Sambil berbaring disamping Van yang asyik memilin-milin rambutku, aku berpikir masih perlukah aku kesal? Atau sungguhkah privasiku telah dilanggar? (Icha Koraag. Jakarta, 9 Nov 2006)

Friday, November 03, 2006

SERBA-SERBI PACARAN

Pacaran adalah istilah untuk dua orang yang sedang menjalin hubungan karena rasa suka. Dulu saya takut dan malu untk menjalin suatu hubungan khusus dengan teman pria. Ketika saya SMA dan pelatih basket saya mulai sering-sering datang dan mengajak saya nonton bioskop kalau malam Minggu, saya suka jengkel. Saya selalu mencari 1001 alasan untuk menghindar. Jadi saat malam Minggu, saya suka pesan pada kakak atau adik untuk mengatakan saya tidak ada kalau ada orang mencari saya.

Dan benar saja, belum pukul tujuh sudah terdengar suara motor. Saya tahu itu teman pria saya karena pacar kakak saya rumahnya tidak jauh sehingga cuma berjalan kaki. Dari jendela kamar saya mengintip dan terdengar kakak saya mengatakan saya menginap di rumah tante. Tahu-tahu turun hujan, teman pria saya tidak jadi pulang malah bergabung ngobrol dengan kakak saya dan pacarnya.

Saya tidak ambil pusing. Cuma saya harus hati-hati kalau keluar dari kamar. Dari teras bisa melihat ke arah ruang tamu dan ruang keluarga. Biasanya mereka nongkrong di teras. Untung kamar mandi letaknya persis depan kamar tidur jadi biar saya bolak-balik kamar mandi tidak akan terlihat. Kan lucu kalau malah saya yang terjajah dan mejadi tawanan di dalam rumah sendiri. Brengseknya, adik-adik saya kalau diajak sepakat untuk tidak mengatakan saya ada, bersedia kalau saya berjanji memberikan sebatang coklat.

Saya tidak tahu, hujan reda jam berapa dan kawan saya serta pacar kakak saya pulang jam berapa. Yang pasti pagi-pagi saya bangun tidur dengan perasaan senang. Minggu pagi kami terbiasa pergi ke gereja bersama-sama. Karena tidak ada pembantu maka kami setrika baju sendiri. Saat saya akan setrika baju, kakak saya memberikan bajunya untuk saya strika sebagai upah berdustanya tadi malam. Mangkel tapi tak bisa menolak!

Singkat cerita karena cape di peras adik dan kakak saya, saya memberanikan diri menerima teman pria saya itu. Ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Kita bisa asyik ngobrol mengenai teman-teman dan beberapa pertandingan basket. Dan saya makin menyayangi papi saya karena begitu teng jam 9, papi saya batuk-batuk di ruang tamu, ketika saya masuk untuk melihatnya, papi hanya menunjukkan jam di dinding. Saya langsung paham, itu artinya kawan saya harus pulang. Saya senang, terbebas dari kawan pria saya juga dari pemerasan adik dan kakak.

Berbeda dengan saya yang merasa senang kalau mendengar papi saya batuk, maka kakak saya akan bersungut-sungut. Jadi kalau saya segera menyampaikan bahwa kawan saya harus pulang, kakak saya malah minta tambah 30 menit lagi waktunya. Kalau- mengingat-ingat hal itu rasanya lucu juga.

Kalau kawan pria yang datang cuma satu, artinya kawan saya satu, pacar kakak saya satu dan pacar kakak saya yang lain juga satu, maka cuma akan ada 3 pria muda yang datang. Kebayang gak kalau yang naksir saya atau kakak-kakak saya lebih satu.

Pernah satu masa, yang datang ke rumah jumlah lebih dari biasanya. Berhubung saya tidak punya komitmen dengan siapa-siapa jadi saya tenang-tenang saja. Berbeda dengan kakak saya yang persis di atas saya. Dia pasti kebingungan dan senjatanya selalu minta papi saya keluar untuk ikutan ngobrol. Pastinya teman-teman pria pada gerah dan satu persatu pamit pulang.

Kata orang-orang dia memang ”macan” (manis dan cantik) jadi teman prianya juga banyak. Cuma kalau pacarnya di mana-mana, saya juga suka kesal. Karena wajahnya yang ”macan” itu, lulus SMA dia langsung bekerja sebagai SPG air mineral yang menjadi pelopor air mineral di Indonesia.

Akibatnya, dia punya pacar di rumah (teman kompleks) dia punya pacar eks teman sekolah dan di tempat kerja. Repotnya, kini gantian saya yang harus berdusta untuknya. Kalau buat saya satu malam minggu saja sudah terlampau banyak, maka kakak saya perlu waktu lagi. Jadi dia pacaran tidak cuma malam minggu. Bisa jadi malam Senin dengan ex teman sekolah atau malam Kamis dengan teman rumah dengan alasan ikut organisasi karang taruna.

Kejadian banyaknya teman pria yang datang ke rumah kami tidak terjadi satu dua kali tapi sering. Mengakibatkan antrian mobil, motor dan sepeda sangat panjang di depan rumah kami. Pernah satu kali malam minggu, sejak sore papi saya sudah mandi dan mondar-madir di teras. Jelas kami heran, kalau saya tenang-tenang saja tidak demikian dengan kakak saya. Berulang-ulang melihat ke teras dan akhirnya bertanya ke mami, si papi sedang apa sih?

Si mami, sebagai ibu yang baik, bertanyalah pada si papi. Dan jawaban papi sungguh menggelikan. Entah serius atau bercanda si papi bilang mau jadi tukang parkir. Karena mobil, motor dan sepeda sudah terlalu banyak yang parkir di muka rumah kalau malam minggu. Saya tertawa ngakak sementara kakak-kakak saya pada mencak-mencak.

Tapi punya teman pria atau pacar banyak ternyata lumayan juga. Ketika menjelang natal, rumah akan direnovasi terutama di warnai ulang. Tenaga sukarela sangat banyak. Tak perlu ada tukang, cukup remaja-remaja SMA yang di koordinir si papi dan modal makan siang masakan mami. Tidak sampai seminggu, rumah dengan luas 400 meter, rapih di cat ulang.
Si papi yang mantan tentara ini, ternyata sangat pandai bergaul dengan anak-anak SMA, ujung-ujungnya si papi rela mengeluarkan radio tape-nya untuk menghibur anak-anak yang sedang mengecat.

Kalau saya ingat-ingat masa pacaran, mami dan papi saya ternyata cukup punya perhatian. Memang jadul banget dengan batuk-batuk sebagai tanda habis waktu berkunjung, cuma lumayan kreatif. Dan mengenang masa-masa itu mampu membuat saya tersenyum. Papi saya memang berkesan galak, apalagi soal disiplin ketepatan waktu. Bukan hanya waktu berkunjung saat pacaran tapi soal ketepatan waktu berangkat dan pulang sekolah juga sangat ketat, Jangan pernah coba-coba terlambat tanpa alasan, karena akan berhadapan dengan si papi yang akan panjang lebar menjelaskan mengenai dampak ketidak disiplinan pada situasi perang. Jangankan terlambat setengah jam, beberapa menit saja bisa berati ratusan nyawa melayang.

Jadi saya tidak pernah minta perpanjangan waktu saat pacaran karena selain alasan di atas, saat saya pacaran dengan papanya Bas dan Van, si papi sudah almarhum. Sebagai penghormatan terhadap papi saya yang kisahnya dia dengar dari saya, mantan pacar saya itu mengabadikan nama almarhum papi saya pada putra sulung kami, Bastiaan! (Icha Koraag, 3 November 2006)

Wednesday, October 11, 2006

Mata Hatiku

Mata hati

Sinarmu terpancar penuh kasih dan kelembutan
Menjadi penunjuk langkah yang harus kutempuh
Tapi kadang cahayamu tak dapat kulihat
Sehingga aku menyimpang ke jalan yang gelap

Kalau seruanMu menyentuh gendang telingaku
Tiba-tiba saja cahaya mata hati ini menerangiku
Dapat kulihat tubuh ini yang berbalut dosa
Hingga rasa malu mampu menebus ke ujung kalbu

Masihkah pintu ampunan terbuka untukku, ya Tuhan?
Kala mata hati telah buram oleh hawa nafsu.
Telaga bening dalam jiwa ini menjadi kering.
layu lalu menjadi debu dan terbang dibawa angin

Hingga ahirnya hati menjadi tawar, tak ada lagi rasa.
Ku coba bertahan dengan kekuatanku,
Tapi Tuhan, aku cuma manusia biasa
Masihkah ada waktu bagiku untuk bertobat?

Bisikan caranya padaku, ya Tuhan.
Agar kumampu menjaga mata hati ini
Agar sinarnya tetap menjadi
Penuntu ke jalanMu.

Icha Koraag
12 Oktober 2006

Kisahku: BUKANKAH SEKS ITU, NIKMAT?

BUKANKAH SEKS ITU, NIKMAT?


Pemilihan Presiden sudah semakin dekat. Sebagai rakyat biasa, tentu saya berharap banyak pada calon pemimpin negeri ini untuk periode 2004-2009. Persoalannya, begitu banyak manuver yang dilakukan politikus, bermacam pernyataan disampaikan dan tak sedikit pernyataan yang malah makin membingungkan. Kadang kala malam hari saat hendak tidur, benak saya tidak bisa istirahat. Bahkan berpikir lebih banyak dan lebih keras dibanding siang hari.

Bermacam-macam pertanyaan timbul dalam pemikiran dan seperti sebuah resonansi gelombang yang terus mencoba mencari jawaban dari semua informasi yang saya baca, dengar atau lihat. Kenyataannya tidak ada satu pun yang bisa memberi gambaran atau jawaban yang pasti. Siapa yang akan memimpin negeri ini ? Siapa yang dapat dipercaya, siapa yang layak memimpin bangsa ini. Dan apa kriteria yang dirumuskan calon-calon pemimpin itu sudah sesuai dengan harapan rakyat? Tidak ada seorangpun yang dapat memberi jawaban yang pasti. Semua sedang menunggu. Entah apa yang ditunggu. Tapi barangkali inilah panggung politik. Dulu lawan sekarang kawan. Begitu pula sebaliknya, dulu kawan sekarang lawan.

Ternyata mahal sekali harga sebuah demokrasi. Sekian generasi harus menjadi korban dengan alasan sebagai tumbal proses menuju demokrasi. Tapi yang namanya proses tidak pernah berhenti. Berjalan terus ke arah mana ia mau berjalan. Siapa mau ikut silahkan, siapa mau membelokkan silahkan. Tinggal siapa kuat yang nantinya akan mengarahkan. Lalu dimana yang namanya rakyat? Semua mengatas namakan rakyat tapi rakyat yang mana? Apakah rakyat yang banyak ini, merasa diperjuangkan hak dan martabatnya?

Mungkinkah rakyat bisa berkumpul menjadi satu kesatuan atas nama kemanusiaan? Melepaskan semua “Baju” yang bisa membedakan satu dengan lainnya? Apakah Motto “BHINEKA TUNGGAL IKA?” Masih berlaku?Apakah benar pembelajaran melalui media, telah memberi ajaran yang benar sehingga apa yang dipahami rakyat sesuai dengan yang seharusnya? Atau pembelajaran tadi sekadar membuka kesadaran bahwa rakyat punya hak? Sekadar punya tanpa dapat menggunakan haknya?

Tanpa terasa, adzan subuh sudah berkumandang. Kokok ayam jantan telah mengantar fajar, menandai hari baru telah tiba. Tapi pemikiran dan pertanyaan yang bermain-main dalam benak saya seperti anak-anak Taman Kanak-Kanak yang asyik bermain di taman. Tidak terbebani apakah pulang sekolah nanti ibu/ayah akan menjemput. Atau apakah sesaat lagi makan siang tersedia? Yang mereka pahami dunia ini indah, meski itupun terbatas bagi anak dari golongan sosial ekonomi tertentu. Karena nun jauh di pelosok desa di salah satu sudut Indonesia Raya. Bocah-bocah kecil bertelanjang kaki, memikul jerigen, berjalan berkilo-kilo meter untuk mengangkut air. Jangan tanya kapan bocah-bocah itu bermain. Bermain bagi mereka adalah menggembalakan sapi, kerbau, babi dan kuda. Bermain bagi mereka adalah berjalan melintasi padang rumput/hutan atau gunung dan sawah untuk mencari air dan kayu bakar.

Tapi herannya, apa yang saya saksikan ketika melakukan perjalanan dinas ke sebuah desa nun jauh di salah satu pelosok Indonesia Raya, tepatnya di Waikabubak, Sumba Barat NTT. Beberapa kantor partai politik bahkan ada yang berdiri di tengah sawah atau ladang atau padang rumput. Berbentuk bangunan dan di depannya ada papan yang bertuliskan Parpol cabang ranting……Dan ketika saya berjalan di desa tersebut, cukup banyak orang (tua-muda, laki-perempuan) yang memakai kaos dari partai-partai peserta pemilu. Lagi-lagi membuat saya berpikir, apakah bangunan itu ada dan digunakan kalau tidak sedang pemilu? Jujur saja , hati saya terusik. Apakah kehadiran partai-partai politik di tempat itu memang harus ada.

Artinya karena disitu masih ada warga Indonesia yang mempunyai hak memilih dalam Pemilu, maka mereka ada. Karena suara tadi bisa mendongkrak rating partai tersebut dalam memperebutkan kursi pemerintahan? Jujur saja, saya tidak percaya para pemimpin partai itu pernah peduli pada keberadaan orang-orang yang ada di sudut-sudut Indonesia raya. Mengapa saya tidak percaya. Hati ini, coba menjawab. Indonesia merdeka sudah 59 tahun. Tapi kok masih ada warga Indonesia yang tidak bersekolah? Bukan sekolahnya yang tidak ada. Tapi muridnya yang tidak ada. Bagaimana murid bisa sampai disekolah dan belajar jika tuntutan membantu orang tua mencari nafkah lebih penting? Mengapa harus membantu orang tua? Karena kalau tidak, siapa yang akan memberi mereka makan? Jika untuk mencapai sekolah mereka harus berjalan kaki 5-6 km, kapan mereka punya waktu membantu orang tua.

Apakah calon-calon presiden yang akan bertarung memperebutkan kursi kepresidenan, punya misi mengatasi persoalan ini? Itu persoalan yang jauh di salah satu sudut Indonesia Raya. Bagaimana dengan SMPN 56 Melawai? Kalau PGRI, lembaga yang mengatasnamakan Persatuan guru justru merasa dilecehkan oleh Nurlaila yang mengklaim dirinya sebagai kepala SMPN 56. Saya jadi ingin bertanya, sebetulnya PGRI dibentuk oleh siapa dan terbentuk karena apa dan dibentuk untuk siapa?

Hari sudah semakin terang, pemikiran saya belum juga berhenti. Tapi kalau pemikiran dalam benak saya sudah berhenti berarti saya sudah mati. Pernah juga terpikir mungkin mati lebih baik daripada hidup dinegeri yang terlihat indah di luar namun chaos di dalam. Tapi siapa yang akan membesarkan anak-anak saya? Saya tidak akan rela mereka menjadi sia-sia. Karena keberadaan buah hati saya, adalah harapan hidup saya. Untuk mereka lah saya berjuang dan mencari nafkah untuk memberi sedikit bekal berjuang dimasa mendatang. Karena saya tidak pernah tahu sampai kapan saya hidup. Dan sampai kapan pemikiran-pemikiran yang bermain dalam benak saya bisa beristirahat. Soalnya, karena hidup manusia berpikir. Dan manusia harus berpikir agar tetap hidup. Saya jadi pusing karena belum tidur tapi sudah harus mandi dan berjuang melawan kemacetan Jakarta dan datang ke tempat kerja. Berkutat dengan pekerjaan dan kehidupan yang terus berjalan.

Mungkin tulisan ini saya sambung lagi, kalau saya tidak bisa tidur lagi. Tapi kalau saya minum obat untuk membantu melelapkan tidur, berarti tulisan ini sampai disini. Karena lagi-lagi saya ingin jujur, banyak yang ingin saya tulis, karena pemikiran didalam benak saya tidak pernah berhenti. Semakin banyak yang dipikir semakin membuat pusing tapi anehnya terus dipikir. Tapi inilah hidup…. “Mama….tidak tidur ?”

Kupejamkan mataku, mencerna panggilan itu. Perlahan ku buka dan kutengok ke arah sumber suara. Kulihat suamiku terbaring di ranjang kami. Sisi tempatku tidur masih rapi, karena aku memang belum tidur. Sekarang suamiku tidur beralaskan kedua tangannya yang terlipat. Sosoknya yang tinggi besar, nyata betul diranjang kami. Kedua lengannya berotot membingkai kepalanya di atas bantal.. Matanya menatapku. Seharusnya aku berada dalam pelukan kedua tangan yang berotot itu. Bukan di sini duduk di meja kerja di depan komputer.
“Aku tidak bisa tidur!” Lalu aku kembali menundukan kepalaku dan meletakannya di atas tangan di sisi Komputer.

Aku anak ke tujuh dari sebelas saudara yang semuanya perempuan dan semua hidup. Ayahku yang purnawirawan TNI AD mendidik kami dengan keras. Ia tidak segan-segan memukul kami dengan kopel rim tentaranya, jika kami mandi sore terlambat. Atau seusai pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah. Ibuku yang sempat menjadi guru, sama kerasnya. Kadang aku beranggapan bukan keras, Kedua orang tuaku galak! Tapi lama-lama kupahami arti didikan mereka, sebagai bagian menempa anak-anaknya agar menjadi orang yang tertib dan tangguh dalam semua keadaan.

Lepas kuliah, aku bergabung pada sebuah radio siaran yang mempunyai target pendengar perempuan. Aku banyak menimba ilmu di sini. Program acaranya bertujuan memintarkan perempuan. Perempuan diberikan porsi yang banyak untuk menimba dan bertukar ilmu. Aneka program yang disusun, membuat aku mengenal banyak pakar-pakar berbagai bidang dan aktivis-aktivis dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Apa yang disampaikan para pakar dan para aktivis itu, membentuk pemikiranku. Dan hal itulah yang aku sampaikan demi kemajuan bangsa. Aku berjuang untuk para perempuan dan anak-anak. Tapi tidak berarti aku memposisikan sebagai musuh kaum lelaki. Justru aku punya pemikiran, seharusnya lelaki dan perempuan setara. Karena mereka diciptakan memang setara. Bahkan beberapa pakar dan aktivis ku kenal dengan baik dan kujadikan tempat berkonsultasi.

Salah satu program yang aku bawakan Trend Wanita Aktif. Di program ini aku berdiskusi dengan seorang Psikholog. Namanya Yanti B Sugarda. Kini ia menekuni dunia penelitian sosial dan pasar. Dalam salah satu siaran bertema Pro Kontra Wanita Bekerja, aku banyak mendapat masukan. Sebagian pendengar laki-laki dan perempuan berpendapat, seharusnya perempuan bekerja di dukung karena bisa membantu. Baik membantu ekonomi keluarga maupun aset bagi perusahaan di tempat perempuan itu bekerja. Namun jangan melupakan keluarga atau kewajiban sebagai ibu dan istri. Ada juga yang berpendapat, seharusnya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk para perempuan bersaing dan membuktikan kemampuan. Karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan mempunyai kemampuan yang setara. Dan biarkan laki-laki melihat perempuan juga punya kemampuan agar jangan diremehkan.

Tapi pendapat seorang bapak, benar-benar menjadi momentum awal bagi diriku. Sejak medengar pendapat si bapak, aku bertekad berjuang untuk perempuan. Bapak itu menyampaikan pendapatnya:
“Saya sangat setuju dan mendukung penuh para perempuan yang berkarir. Asal bukan istri saya!” Aku dan Ibu Yanti mengejar dengan berbagai pertanyaan lagi untuk menjelaskan, apa maksud pendapatnya. Si penelpon dengan tenang mengatakan,:
“Kalau itu istri orang lain biar saja. Saya hanya ingin istri saya untuk kami sekeluarga?
“Bukankah istri bapak juga milik orang tua dan saudara-saudara sekandungnya?
“Tidak lagi, karena sudah saya nikahi! Ia milik saya!”
Untung saat itu operator sudah memotong pembicaraan dan mengudarakan beberapa iklan. Aku dan bu Yanti bertatapan lalu tertawa pahit. Sebagai perempuan, jawaban si penelepon bagaikan tamparan bagi kami. Adalah kenyataan hingga kini kaum kami yang tertindas. Aku sempat menanyakan, apakah dengan menikah memang para istri otomatis menjadi milik si suami? Tidak bisakah si istri memiliki hidupnya sendiri?

Jika semua laki-laki berpendapat asal bukan istri saya, lalu perempuan mana yang bisa mengaplikasikan kemampuannya? Apa hanya para perempuan yang belum menyandang status istri? Untung aku mampu menguasai emosiku. Tapi pendapat bapak tersebut, buatku tidak adil. Aku tidak mengenal siapa istrinya. Atau apakah ia sudah beristri atau belum. Tapi satu hal yang aku tahu, satu kaumku sudah tersia-siakan atau akan di sia-siakan.

Aku tidak berpendapat bahwa semua perempuan harus berkerja atau berkarir. Apalagi mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Ada anggapan di masyarakat sekarang ini, dengan terbukanya kesempatan bagi setiap orang untuk mengikuti pendidikan tinggi bagi yang mampu baik materil maupun moril, maka jika ada perempuan yang sudah bergelar sarjana tapi memilih tidak bekerja adalah sia-sia. Aku tidak sependapat. Menurutku, seorang ibu yang berpendidikan akan mempunyai potensi keberhasilan yang lebih besar dalam mendidik anak-anaknya. Yang utama, keputusan untuk bekerja atau tidak bekerja datang dari dalam dirinya sendiri. Karena perempuan yang bisa mengambil keputusan dan berpikir rasional, dia perempuan yang hebat.

Kurasakan tangan kekar suamiku, memijat punggukku, duh nikmatnya. Kucoba berkonsentrasi menikmati sentuhannya. Tangan kekar seorang kekasih hati, mampu menghilangkan rasa pegal namun menimbulkan rasa yang lain. Gairah primitive.
“Enak, Ma?”
“He eh”.Kuresapi setiap sentuhannya tidak hanya dengan perasaan di kulit tapi juga dari hati yang paling dalam. Aku tahu, ia memijatku dengan cinta. Setiap sentuhan menimbulkan getar listrik dalam diriku. Getar yang memang selalu kami hidupkan sejak awal pernikahan kami. Pertengkaran atau perbedaan pendapat dalam keseharian tidak pernah mejadikan halangan bagi kami bersatu dalam tarian cinta. Dan tangan itu terus menari. Kini tidak hanya dipunggung tapi ke bagian-bagian lain tubuhku. Entah bagaimana, akhirnya kami sudah diranjang. Berolah tubuh di pagi hari. Membelai, menyentuh, saling memberi dan menerima. Rasa kantukku hilang sudah berganti dengan gairah kesegaran baru. Seakan mendapat tambahan energi, tarian cinta kami berakhir dalam kelelahan yang nikmat.

Andaikan dalam kehidupan sehari-hari, manusia bisa menerapkan seperti ketika melakukan seks, hidup ini akan lebih nyaman. Dalam hubungan seks, laki-laki dan perempuan, saling memberi dan menerima untuk mendapatkan kenikmatan bersama. Bukankah seks itu, nikmat? Bahkan pada situasi tertentu, ego laki-laki bisa turun pada titik terendah untuk melayani perempuan. Walau sebetulnya tujuan akhirnya adalah kenikmatannya sendiri. Bukankah ada syair“Wanita dijajah pria sejak dulu. dijadikan perhiasan sangkar madu….namun ada kala pria, tekuk lutut disudut kerling wanita”.

Tapi aku juga tidak heran jika orang menggunakan kemampuan bermain cinta untuk melobi. Tidak sedikit pejabat atau politikus yang terjatuh karena bermain cinta. Herannya ketika jabatan sudah di dapat bermain cinta menjadi salah satu target. Lihat dalam pemberitaan media, berapa banyak pejabat yang begitu dapat jabatan, istrinya bertambah? Atau perempuan simpanannya bertambah.

Padahal seharusnya ketika jabatan sudah di dapat, pembuktian terhadap kepercayaan yang dipikul itu yang diperlukan. Seks dan uang memang kenikmatan duniawi yang dikejar manusia tak berahlak. Maka tak heran ada seorang istri pembesar China dalam sejarah yang mengatakan senikmat-nikmatnya seks tapi lebih nikmat kekuasaan. Persoalannya siapapun tahu, sesudah kekuasaan di dapat, maka seks menjadi pelampiasan, jadi bukankah seks itu, memang nikmat? (Icha Koraag Akhir February 2004)

Monday, October 09, 2006

JEDA SESAAT UNTUK DAPATKAN ENERGI BARU.

JEDA SESAAT UNTUK DAPATKAN ENERGI BARU.

Tahun 2006, pernikahan saya genap 10 tahun tepatnya, 8 Juli 2006. Saya dan pasangan sudah dikaruniakan sepasang anak yang kini berusia 6 tahun laki-laki dan 3 tahun perempuan. Saya berbahagia dengan rumah tangga yang saya bangun walau kadang-kadang diwarnai pertengkaran . Saya dan pasangan meyakini pertengkaran adalah upaya pendewasaan diri untuk lebih memahami perbedaan.
Seiring usia anak-anak yang mulai memasuki sekolah, waktu untuk kami berdua menjadi terbatas. Kami memang bisa menikmati kebersamaan sebuah keluarga. Namun kadang-kadang timbul juga kerinduan ingin memiliki pasangan sebagai milik sendiri yang tidak ingin dibagi walau itu dengan anak-anak. Biasanya bila keinginan seperti itu timbul, saya berusaha mengalihkannya dengan meyakini, anak-anak berhak memiliki kami dan kami sebagai orang tua harus mengorbankan keinginan diri sendiri demi kepentingan anak-anak.
Saya dan suami nyaris tak memiliki waktu untuk kami berdua. Senin sampai Jumat kami sudah bergelut dengan pekerjaan masing-masing. Pagi pk. 07.00 kami sudah berangkat dan baru bertemu kembali pk. 07.00 malam, ciri khas kaum urban. Setibanya di rumah, kami harus memberikan apa yang menjadi hak anak-anak atas ayah dan ibunya.
Menanyakan kegiatan mereka seharian, termasuk saat-saat di sekolah dan apa yang mereka makan sepanjang hari dan apa yang mereka mainkan dengan teman-temannya. Makan malam bersama, lalu menemani belajar dan akhirnya meninabobokan mereka.
Lalu yang tersisa buat kami berdua hanyalah sisa-sisa energi. Saat anak-anak sudah terbuai mimpi, kami menyempatkan diri untuk membicarakan aktivitas masing-masing dan rencana besok. Lalu membuat kesepakatan baru untuk menyelesaikan persoalan yang ada.
Tanpa sadar kami sudah membuat mesin rutinitas. Kami membuat kebiasaan kebiasaan yang pada akhirnya kebiasaan-kebiasaan itu yang mengatur hidup kami berdua. Dan sama dengan kebanyakan rumah tangga lain, semua dijalani bagai mesin. Setiap hari urutan aktivitasnya sama, jika sedikit menyimpang dari kebiasaan lalu menjadi terkejut dan bertanya mengapa bisa begitu?
Padahal urut-urutan aktivitas tersebut terbentuk karena dibiasakan. Namun akhirnya kebiasaan tersebut yang menetukan aktivitas keseharian kami. Bukan kami tidak menyadari situasi itu. Justru kami sangat menyadari dan berusaha untuk bersikap fleksibel dalam arti semuanya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda.
Sebagai manusia biasa, kami juga dilanda perasaan bosan dan jenuh. Namun jika perasaan tersebut datang saya dan Frisch berusaha agar perasaan itu tidak menguasai logika berpikir kami. Sehingga kami tidak terjebak pada situasi yang memancing pertengkaran yang sebetulnya tidak berdasar..
Untuk mendapatkan tambahan energi baru dalam menjalani biduk rumah tangga terus dan terus kami upayakan. Misalnya sejenak meninggalkan anak-anak dan janjian untuk suatu makan malam yang sederahana. Di warung sotopun tak apa, yang penting kami bisa bicara berdua, bebas dari interupsi Bas atau Van. Atau menonton bioskop. Ini bisa mengembalikan energi postive dan meyakini kami memang masih saling memiliki.
Kadang-kadang saya suka berkhayal. Suatu hari nanti kalau punya uang yang cukup, saat anak-anak sudah semakin besar, saya ingin melakukan bulan madu kedua. Saya pikir, kami berhak mendapatkan kesempatan itu untuk merefresh komitmen kami. Siapa sih yang tidak ingin bersayang-sayangan tanpa memikirkan susu atau ompol si kecil? Walau hanya untuk satu malam. Bermimpi adalah hak setiap orang tapi mewujudkan impian tersebutlah yang hanya bisa dimiliki sebagian orang dan saya berharap saya termasuk yang sebagian itu. Karenanya saya terus menerus berusaha dan berdoa, bukankah Tuhan dekat pada orang-orang yang selalu berharap dan berusaha? (Icha Koraag, 8 Oktober 2006.Pk. 22.30)

Thursday, September 28, 2006

Obroanku: Kalau suamiku jadi Menperindag!


Obrolanku : KALAU SUAMIKU JADI MENPERINDAG

. Tulisan ini lahir dari hasil obrolan saya dengan suami. Kamis, 28 September 2006, Kompas menurunkan salah satu berita mengenai PT Toyota yang meluncurkan Varian Baru Mobil Toyota Avansa dengan kekuatan mesin 1500 cc. Sepengetahuan saya, Avansa dan Xenia adalah dua jenis mobil yang diproduksi dengan sasaran kaum menengah. Deperindag mempunyai andil besar dalam melobi para produsen mobil untuk mau menurunkan biaya produksi dan keuntungan dengan tidak menurunkan kualitas produksi.

Singkat cerita lahirlah Xenia dan Avansa yang awalnya ditawarkan dengan harga berkisar antara 60-70 juta rupiah. Sedangkan varian Avansa dengan mesin 1500 cc dikeluarkan dengan jenis matic dan manual. Matic seharga Rp 139 juta on the road dan manual Rp. 129. juta on the road. Ketika saya diskusikan dengan suami saya, suami saya tertawa.

“Itulah bodohnya orang kita termasuk menperindagnya. Itukan akal-akalannya pengusaha. Avansa diproduksi dengan tujuan menyediakan mobil untuk kaum menengah dengan harga terjangkau. Kalau dibuat dengan 1500 cc dan djualnya lebih mahal 80 % kan lucu, Padahal yang berubah hanya kapasitas mesinnya saja. Logikanya, harga maksimal yang bisa ditawarkan tidak lebih dari Rp. 90 juta. Itu sudah memperhitungkan kenaikan cc dan inflasi.” Ujar suamiku.

Dalam hati aku membenarkan. Yang naiknya cuma kapasitaas mesin loh kok naiknya secara keseluruhan bahkan lebih dari 80 %? Lalu suamiku melanjutkan lagi.

“Harusnya menperindag tidak mengizinkan pengusaha memproduksi avansa dengan varian mesin 1500 cc karena pengusaha paling jago kalau bikin akal-akalan. Namanya avansa dari toyota, bisa jadi yang dipasangkan mesin kijang. Artinya dari segi produksi mesin, pengusaha tidak menginvestasikan teknologi baru. Dengan sendirinya, harga jual mobil tersebut tidak boleh lebih mahal.

‘Mungkinn saja pa, tapikan namanya juga pengusaha pastinya cari untung! Ujarku.

“Buat pengusaha tidak untung sama dengan rugi. Padahal kalau tidak untung bisa saja impas. Atau jika hari ini untung Rp. 10.000 dan besok untung cuma Rp. 5.000, bagi pengusaha artinya rugi. Padahal jelas-jelas ada pemasukan lebih Rp. 5.000 setelah dipotong pengeluaran. Yang artinya ada keuntungan. Cuma karena kemarin untungnya Rp; 10.000 dan hari ini cuma Rp. 5.000 maka si pengusaha merasa rugi Rp. 5.000. Pola pemikiran semacam ini yang harus dihentikan. Saya paham setiap pengusaha ingin mencari keuntungan tapi kalau sudah menyangkut kebijakan pemerintah dan khalayak masyarakat luas, maka sipengusaha harus mereformasi pola pikirnya.”

“Saya sependapat tapi merubah mind set orang yang mentargetkan keuntungan sebesar-besarnya tidaklah mudah” kataku

“Makanya, kalau saya jadi menperindag, saya akan melarang memproduksi varian mesin avansa apalagi dengan harga jual yang tidak bisa diterima akal sehat. Menperindag harusnya bukan sekedar melindungi kepentingan pengusaha tapi masyarkat luas sebagai konsumen akhir juga harus menjadi pertimbangan. Apalagi jika tujuan awal diproduksinya mobil murah karena ingin memberikan yang terbaik buat masyarakat.”

Wah kalau suami saya jadi menperindag, saya jadi ibu- Dharma Wanita dong! Aduh gak kebayang deh! (Icha Koraag, 28 September 2006. 23.30)

Wednesday, September 20, 2006

Gosok Gigi yang Menyenangkan pada Anak


Biar ompong tetap PD bercerita di depan kelas

Van sangat gemar dengan yang namanya gula-gula. Tapi herannya gigi Bas dan Van termasuk kategori gigi tak terawat walau kenyatannya Nyonya Bawel dan suami sangat merawat.

Gigi atas Bas, ”grepes” nyaris gak ada gigi. Menurut dokter gigi yang ku temui di suatu mall saat promosi sebuah brand pasta gigi, dikatakannya ”Caries Bas sudah lama dan tidak akan bertambah lagi”. Artinya sekarang tinggal menunggu giginya tanggal karena masih termasuk gigi susu dan nanti akan tumbuh gigi permanen.

Gigi Van lain lagi, kondisinya lebih baik dari Bas. Biasalah anak kedua, sedikit banyak lebih baik perawatannya karena sudah berilmu waktu merawat anak pertama. Tapi terjadi kecelakaan yang cukup fatal ketika Van berenang dengan papanya. Saat itu umurnya 2,5 tahun. Van meluncur di seluncuran yang kelokannya tajam. Wajah Van terbentur pada tepian seluncuran yang menyebabkan gigi depan bagian atasnya tanggal.

Si Cantik, Van

Wah, Nyonya Bawel langsung membayangkan kesulitan, bagaimana makan, minum susu dan sikat gigi. Ternyata, dampak pada Vanessa tidak seburuk yang Nyonya Bawel bayangkan. Van dengan pandai menyusu botol dari sebelah kiri, karena yang patah ada di sebelah kanan. Begitu juga ketika akan menggosok gigi tidak menjadi masalah.

Nah bicara gosok gigi, adalah sebuah ritual yang mulanya selalu disertai tolak menolak. Baik Bas maupun Vanessa sangat enggan. Sementara Nyonya Bawel tidak mau tahu, walau mereka sudah mengantuk, kalau perlu Nyonya Bawel membawa ember dan sikat gigi ke kamar. Lalu menggosokkan gigi Bas dan Van yang berdiri di tempat tidur. Untuk gosok gigi Nyonya Bawel tidak kompromi.

Mempelajari pola Bas dan Van yang cenderung tidak mau meggosok gigi, membuatku selalu mencari akal. Bagaimana membuat menggosok gigi menjadi acara yang menyenangkan. Karena kalau sudah seharian bekerja lalu dilawan Bas dan Van hanya karena menolak menggosok gigi, kadang membuat Nyonya Bawel jengkel juga!. Nyonya Bawel tidak lagi menunda-nunda menggosok gigi sampai mereka mengantuk. Nyonya Bawel mengajak mereka main kereta-keretaan, dengan menyanyikan lagu naik kereta api. Sekali duakali berputar di rung tamu dan kamar lalu mampir di stasiun, stasiunnya ya kamar mandi.

Sebenarnya ini sudah Nyonya Bawel pratekkan waktu Bas usia setahun. Nyonya Bawel bernyanyi sambil menggosokkan gigi mereka. Ini manjur loh. Rasanya Nyonya Bawel sering sekali bernyanyi jika ingin menyampaikan pesan. Padahal suarNyonya Bawel jauh dari baik. Cuma Nyonya Bawel yakin buat anak-anakku, suarNyonya Bawel yang paling merdu. Bukankah suarNyonya Bawel yang selalu menyertai mereka selama 9 bulan dalam rahim? (PD yah? Harus!)

Bas, kuberikan sikat gigi dengan pasta gigi, kuminta ia melihat apa yang Nyonya Bawel lNyonya Bawelkan pada Vanessa. Mulailah Nyonya Bawel bernyanyi dengan irama lagu, 12345678 siapa rajin kesekolah cari ilmu sampai dapat, sungguh senang, amat senang, bangun pagi-pagi sungguh senang.

”1,2,3,4 wahai kuman
dalam gigi,
ayo pergi, ayo pergi,
rajin gosok gigi jadi sehat”

atau senandung dengan irama lagu kakak Mia:

”Ayo kuman...ayo kuman
Jangan kamu diam di situ
Itu yang gendut warnanya orens
warna hitam dan warna biru
Ayo pergi sekarang juga
Pergi...pergi...pergi sekarang!”


Sejak itu acara menggosok gigi mejadi kegiatan yang menyenangkan dan tidak hanya menjadi kewajibanku karena papanya juga kebagian. Cuma kalau dengan papanya, ya lagunya lain lagi. Kadang-kadang geli juga kalau sudah tiba waktunya menggosok gigi, Nyonya Bawel dan Frisch seringkali lihat-lihatan dan tertawa. Dan kini Bas, sudah bisa menggosok gigi sendiri bahkan tidak perlu ditunggui lagi. Sedangkan Van, masih harus Nyonya Bawel senandungkan. Lucunya kalau sudah ditempat tidur ganti Van yang bernyanyi ”Kamu yang gendut yang warna oren, ayo pergi sekarang juga!” (Icha Koraag, 20 September 2006)

Wednesday, September 13, 2006

Kisahku: Uppss… rasanya jadi ingin dipeluk…!

“Upss….RASANYA INGIN DI PELUK !”

Waktu amat cepat berlalu, jam dinding di ruang kerjaku sudah menunjukan pukul 11.50. Hampir menjelang waktu makan siang. Sejak pagi tadi aku menyelesaikan laporan perjalanan dinasku ke luar kota. Punggung, jemari dan mataku baru terasa pegal. Ku pejamkan mataku, mencoba santai sejenak. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang menyapa:

“Gak sehat non?”
Kubuka mataku dan memberi se-ulas senyum. Mba Milly, rekan seniorku berdiri menatapku cemas.
“Enggak lah, Mba. Cuma sedikit pegal”
“Buat laporan yach?”
"Makan dulu yuk, dah laper nih!” ajaknya bersahabat.

Jujur saja selera makanku lagi tidak ada. Aku kembali mengingat-ingat pertengkaranku semalam dengan suamiku. Rasa jengkel ini, masih memenuhi jiwaku. Pantang bagiku menangis di depan suami, apalagi kalau sedang bertengkar. Tapi kini aku merasa ingin menangis. Aku sangat mencintai suamiku dan aku juga sangat menghormatinya, jadi tuduhan-tuduhan kalau aku tidak menghargai suami membuatku jengkel. Aku memang bukan dari keluarga Jawa yang konsep mengasihi suami dengan mengabdi dan cenderung bertutur halus karena memang budayanya.

Aku dibesarkan di sebuah keluarga ABRI. Memang semua saudaraku perempuan tapi didikan ala militer ayahku dan ibuku yang berprofesi guru, sangat membentuk kepribadianku yang keras. Termasuk dalam intonasi berbicara. Aku berkeyakinan tidak perlu meminta izin pada suami jika aku ingin pergi atau berjalan-jalan. Aku hanya memberitahukan aku akan kemana. Karena aku berkeyakinan sekali lagi berkeyakinan kami setara. Dan aku juga tidak punya kewajiban menyediakan minum atau sarapan dipagi hari. Jika aku menyediakan minum dan sarapan dipagi hari karena aku mencintai suamiku. Sehingga yang aku lakukan karena cinta. Bukan kewajiban. Termasuk kalau aku rela, terjun ke dapur untuk masak makan malam, sepulang dari kerja. Bukan karena kewajiban, tapi semata aku ingin memberikan yang terbaik pada orang yang aku cintai.

Hingga saat ini, aku masih bingung atau heran jika ada diantara teman-temanku yang sudah menikah dan tidak bisa berkumpul lantaran tidak diizinkan suami. Sosialisasi dan aktualisasi diri menurutku, termasuk dalam hak dasar setiap orang. Seorang suami tidak berhak membatasi ruang gerak istri. Memang aku juga tidak setuju atau membenarkan perempuan-perempuan yang clubing atau hang out sampai lupa waktu, sementara di rumah ada anak dan suami. Aku masih bisa nonton dengan teman-teman kantorku atau jalan di plaza bareng teman-teman. Suamiku tidak keberatan pulang lebih dulu supaya bisa mengawasi anak-anak. Toh dilain kesempatan aku juga memberi keleluasaan buat suamiku beraktivitas. Bahkan Sabtu dan Minggu yang awalnya kita sepakati sebagai hari atau waktu untuk keluarga, kenyataannya bisa berlaku fleksibel. Kalau suamiku harus ke kantor atau perlu menemui kawan-kawannya lalu aku tinggal di rumah bersama dua balitaku, aku ok-ok saja.

Yang terkadang tidak masuk dilogikaku, adalah jika kita sudah bersusah payah bekerja kantoran setiap hari, berangkat dari rumah pukul delapan pagi dan kembali pukul tujuh malam, Senin sampai Jumat lalu Sabtu dan Minggu mengurus anak dan keluarga. Lalu tidak ada waktu untuk diri sendiri. Wanita bekerja yang juga sekaligus istri dan ibu punya hak memberi ruang dan waktu buat dirinya sendiri. Entah itu bersosialisasi dengan teman-temannya atau sesekali memanjakan diri ke salon untuk sekedar lulur atau Menicure dan Pedicure.

Dan komitmen kami berdua memang mengenai kepercayaan. Kepercayaan yang sudah diberikan janganlah disalahgunakan, apapun alasannya. Kami membangun rumah tangga dengan cinta dan tekad membawa biduk ini laju ke samudera kehidupan. Berharap akhirnya kami tiba di suatu tempat yang memang penuh cinta. Sehingga kami rela, saat ini berpayah-payah usaha untuk menuju impian itu.

Dan kami juga percaya derita dan harapanlah yang menjadi tanda kami masih hidup. Dimana ada derita di situ ada harapan dan dimana ada harapan di situ ada kehidupan. Derita membuat kita ingat siapa diri kita. Bahwa kita cuma manusia biasa yang terdiri dari darah, daging dan roh yang sifatnya sementara. Karena kekekalan bukanlah milik kita. Jadi selagi roh masih bersatu dengan raga isilah hidup ini dengan sesuatu yang bermakna, minimal bagi diri dan lingkungan terkecil, yakni keluarga.

Pertengkaran di mulai dari hal yang sepele. Kemarin hari Minggu, seperti biasa Vanessa bangun paling dulu. Lalu aku mengajaknya berjalan-jalan sekaligus berbelanja. Aku berencana menyiapkan makan siang. Belum lagi pukul sebelas, masakan sudah siap. Memang bukan aku yang memasak, tapi aku yang berbelanja dan memikirkan menu apa untuk siang ini. Betapa marahnya aku ketika ku tau suamiku memilih makan nasi dengan mie instant.

Sepele sebetulnya. Aku tidak akan marah kalau ia tidak tau aku sudah menyiapkan makan siang. Minimal kalau ia hendak makan mie instant, ketika melihat belanjaanku, ia bisa berkata: “Gak usah masak ma, santai aja. Aku makan mie instant saja!”

Kalau saja ia berkata demikian, aku bisa santai. Biar kedua pembantuku tidak perlu masak tapi cukup mengawasi anak-anakku dan aku bisa santai membaca novel. Selama ini aku selalu berorientasi pada makanan kesukaannya. Bahkan aku yang suka makan pedas, nyaris tidak pernah lagi memakai cabai untuk setiap masakan.

Sehingga teguranku yang menyesalkan ia makan mie instant, berbuntut pada tuduhan aku tidak menghargai atau menghormati. Suamiku berdalih, “Mau makan di rumah sendiri saja tidak tenang!” Kemarahanku makin memuncak, sebagai istri aku peduli pada kesehatannya. Aku tau dalam seminggu bisa dihitung berapa kali dalam makan siang ia mengkonsumsi makanan sehat. Jadi salahkah aku jika Sabtu dan Minggu berusaha memenuhi makanan sehat untuk dikonsumsinya?”

Dan satu sifat suamiku yang sampai sekarang aku benci. Jika bertengkar denganku, maka ia biasa melakukan aksi tutup mulut. Dalam sembilan tahun pernikahanku, aku banyak belajar dalam menghadapi kelakuannya. Aku tau ia juga belajar atas kelakukanku. Karena itu jika ia memilih diam, aku pun diam. Kadang aku berpikir, mungkin itu usahanya meredam emosi. Aktivitas sih tetap seperti biasa, aku menyediakan keperluannya dan biasanya jika ia menolak apa yang aku siapkan, ia tau resikonya. Misalnya, aku sudah menyiapkan baju kerja tapi tidak dipakai. Maka selanjutnya aku tidak akan menyiapkan baju kerjanya. Begitu juga mengenai masakan, karena pengalaman minggu siang itu lalu aku katakan, aku tidak akan menyiapkan makan lagi. Silahkan atur sendiri. Aku lebih senang karena berarti satu pekerjaan berkurang.

Cuma kadang kasihan pada anak-anak. Bastiaan sangat perasa, ia tau kalau kedua orang tuanya sedang tidak bicara. Biasanya yang jadi pertanyaan Bastiaan, “Mama sudah tidak sayang papa lagi?” Dan itu pun ditanyakan ke suamiku, “Papa sudah tidak sayang mama lagi?”. Biasanya jawaban kami pun sama. Papa tuh yang sudah tidak sayang mama atau mama tuh yang sudah tidak sayang papa. Dan kata orang tua ada benarnya, anak menjadi pereda kemarahan. Karena biasanya pertengkaranku juga selesai. Bagaimana bisa marah, jika Bas dan Vanessa sudah berguling-guling di tempat tidur, menaiki tubuhku dan suamiku? Akhirnya kami berempat bergulat bersama-sama sambil tertawa-tawa. Dan aku sudah membayangkan akhir pertengkaran kami nanti. Persoalannya hal itu masih beberapa jam lagi. Jadi aku masih harus bersabar untuk gencatan senjata, pulang kerja nanti.

“Nah, ya melamun lagi!” Mba Milly kembali sukses mengejutkan ku.
“Ngagetin aja!” kataku
“Ada apa sih?” Tanya Mba Milly
“Aku lagi sebel ama Frisch!” Jawabku setengah bersungut.
“Jangan dong. Mas Frisch kan orangnya baik!” kata Mba Milly
“Masa sebel gak boleh?”
“Boleh aja, tapi gak usah dipanjang-panjangin. Ntar aku telephone deh…! Goda Mba Milly
“Jangan !” protesku cepat.
“Makanya, jangan musuhan!” serunya sambil menyeruput juice tomatnya.
"Emang Mba Milly, gak pernah sebel sama si Aki?”tanyaku sambil menatapnya.
“Pernah sih, tapi gak ada untungnya. Malah bikin sakit kepala. Mana kita sebel, si Aki gak ngerti kalau kita lagi sebel ama dia. Jadikan rugi, kita kesel sendiri!”. Jawab Mba Milly. Kali ini setengah cemberut.

“Setuju! Itu juga persoalan yang aku alami. Kita masih sebel sementara pasangan kita gak merasa.!” Aku menyetujui komentar Mba Milly.
“Makanya aku mendingan cuek. Gak terlalu mau dipikirkan!” Kata Mba Milly lagi.
"Bisakah aku seperti itu? Tanyaku pada diri sendiri.
“Setiap hari selalu ada hal baru. Bertahun kita hidup dalam rumah tangga, tetap saja ada bagian yang tidak kita kenal. Bagaimana kita bersikap, sebenarnya itu yang akan menentukan, kemana hubungan ini berjalan. Jadi hadapi hidup dengan optimis saja. Kalau kesel sama pasangan kita, anggap saja kita baru mengenalnya. Jadi tidak perlu dipikirkan. Pendapat atau sikap orang yang baru kita kenal kan tidak akan mempengaruhi. Makanya Es We Ge Te El deh!” lalu diteruskan’”So What Gitu Loh!” katanya sambil terbahak.

Aku ikut tertawa. Dalam hati aku membenarkan, sekarang pasangan kita sudah kita nikahi sehingga kesal berlama-lama malah akan merugikan diri sendiri lantaran gak merasa nyaman. Hatiku sedikit plong, yach aku gak akan terlalu memikirkan. Cuek saja!. Toh hidup berlanjut terus, kekesalan sesaat anggap saja intermezzo hari ini. Toh sekesal-kesalnya aku pada suamiku, cintaku masih lebih besar. Uppss… rasanya jadi ingin dipeluk…!(Icha Koraag)

“20 April 2005. Marahannya sih minggu lalu!”

Tuesday, September 12, 2006

Kisahku: Sesekali cerita bapaknya dong!



SESEKALI CERITA BAPAKNYA DONG!


Selain suka menulis, aku sebenarnya orang yang juga gemar bercerita. Ketika aku mogok menulis, aku banyak bercerita. Biasanya kalau aku pulang dari luar kota, teman-teman sekantor akan menyambut: ” Aha akhirnya datang juga!, Sepi tahu mbak, gak ada mba tiga hari”. Ada juga yang berkomentar: ”Eh ala, tak kira si mami udah lupa balik kantor, kangen tahu mi”.

Biasanya aku akan tertawa dan jujur aku merasa senang. Lelah? Pasti masih terasa. Cuma laporan harus segera masuk, jadi pasti datang dari luar kota, besoknya sudah hadir di kantor. Ketika datang, mereka (Maksudku teman-teman sekantor) akan menunggu cerita-ceritaku. Kalau Bos belum datang, sedikit cerita pasti aku bagikan. Seperti perjalanan dinasku yang terakhir ke Jogya. Aku menceritakan, pengalamanku berjalan-jalan dengan tukang becak. Mulai dari Pasar beringhardjo, Keraton, Taman Sari sampai makan siang berdua di warung gudeg.

Ada juga yang bertanya, apa aku tidak riskan berjalan dengan tukang becak? Dengan santai ku jawab,” ya kalau riskan gue yang sial dong masa keliling Jogya jalan kaki. Ya, enakan sama tukang becak. Dia genjot becak, gue duduk menikmati angin dan permadangan!” Temanku menjawab ”Brengsek gue kira loe jalan-jalan berduaan sama tukang becak, sampai makan berdua juga!” Aku tersenyum lalu kukatakan: ” Otak loe yang gak beres. Iseng amat gue jalan-jalan sama tukang becak. Eh Gak salah juga sih, gue emang akhirnya makan semeja berdua. Masa gak ada terima kasihnya setelah keliling-keliling. Lagian makan siang kan gak sampai dua puluh ribu. Kapan lagi bisa makan bareng tukang becak. Biar dia punya cerita sama anak-anaknya, makan siang sama gue”.

Kegemaranku bercerita baik hal-hal yang kualami atau cerita-cerita tentang pola tingkah anak-anakku sudah dikenal baik oleh teman-teman sekantor. Jadi pernah juga kutanyakan, apakah mereka bosan dengan ceritaku tentang anak-anak? Sebagian menjawab tidak. Bahkan mereka bilang, malah jadi ingin bertemu Bas dan Van.

Tapi ada juga yang berkata: ”Bosenlah mba. Sesekali cerita bapaknya dong!” Lalu kujawab: ”Bukan gue tidak mau cerita tentang laki gue, takut yang belum menikah nanti mau buru-buru menikah dan yang sudah bersuami membandingkan dengan laki gue!” Spontan pecahlah tawa ngakak beramai-ramai. Salah seorang nyeletuk diantara gelak tawa ”Huh, GR emangnya laki loe supermen”. Lalu kujawab lagi ”Supermen banget, kalau supermen betulankan pakai celana dalamnya di luar nah kalau laki gue, bagian dalemnya yang diluar”. Gelak tawa kali ini diikuti hentakan kaki dan hentakan tangan di atas meja. ’Gilaaaaaa !!!! si mami makin gila!’ Jerit salah seorang temanku sambil menenangkan diri dari rasa gelinya.

Sesaat kemudian, semua ramai-ramai mendesakku untuk bercerita. Lalu ku katakan lagi “Cerita Frisch cuma untuk gue dan biasanya antara gue dan Frisch jarang bicara, kita langsung memperagakan!” kali ini gelak tawa gak kurang dari yang pertama. Aku senang saja membuat orang tertawa, padahal kalau aku renungkan, apa yang ditertawakan? Aku kan belum bercerita apa-apa. Kesimpulanku, mereka menertawakan apa yang ada di alam pikiran masing-masing. Terlepas dari itu, aku merasa senang jika bisa membuat orang lain tertawa. Ketika kita tak mampu memberi dalam bentuk materi, maka gak ada salahnya memberikan penghiburan. Membuat orang lain merasa senang kita juga akan merasa senang, percaya deh!
(Icha Koraag, 13 September 2006)