Thursday, June 15, 2006

Hardy, aku, Alfir dan Teguh


KARENA CINTA

Pertemuanku dengan Teguh, Hardy dan Alfir dimulai ketika kantorku mendapat proyek untuk pengumpulan data di Sumba Barat. Teguh dan Hardy berasal dari Surabaya sedangkan aku di Jakarta.. Maka bergabunglah kami berempat di Sumba Barat. Kebersamaan kami walau hanya sesaat menimbulkan rasa sayang satu sama lain.

Mereka menganggap aku kakak dan aku yang kebetulan tidak punya saudara laki-laki, menganggap mereka adik.

Malam ini kami asyik ngobrol di tepi pantai Kuta, aku banyak bertanya tentang pemahaman mereka terhadap lembaga pernikahan, keluarga dan arti perempuan.“Kok diam saja? Kalian pemuda-pemuda yang pontensial. Kelak yang melakukan pembangunan negeri ini”. Ujarku sambil memainkan pasir. “ Tapi kami kan belum memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat”. Jawab Teguh.
“ Aku tahu. Keputusan menikah dan berkeluarga adalah salah satu bagian. Bagaimana kamu bersikap terhadap sebuah lembaga perkawinan dan bagaimana kamu menghormati komitmen yang dibuat kelak harus diturunkan pada keluargamu”.

“Maksud mba?” Tanya Hardy. “Artinya ketika kamu mempunyai pandangan tersendiri terhadap sebuah perkawinan, termasuk kebijakan administrasi pemerintahan yang mengatur pendaftaran pernikahan, dan syarat pernikahan maka nilai dan pandangan itu yang perlu kamu pahami dalam keluarga. Dan kalau mungkin diteruskan ke anak-anakmu!” Sahutku. “ Apa sikap dan pandangan kita terhadap keluarga dan perempuan juga bisa mempunyai pengaruh terhadap keseluruhan masyarakat nantinya?”. Kini Alfir yang bertanya.

“Jelas dong! Perubahan itu harus dilakukan mulai dari diri kita. Tidak bisa berharap orang lain mau berubah jika kita tidak memberi contoh langsung”. Jawabku. “Misalnya mba?” Teguh jadi penasaran.“Aku bukan orang yang mengharamkan “perceraian” Jujur saja aku lebih menghargai atau menghormati keputusan orang yang bercerai karena memang tidak memungkinkan bersama lagi dalam sebuah pernikahan. Daripada mereka yang berusaha mempertahankan pernikahan dengan alasan, anak-anak atau martabat keluarga. Ketika kita berbicara mengenai anak-anak, seharusnya berani jujur, benarkah demi anak-anak? Bukan justru demi diri sendiri? Hidup sendiri bukanlah mudah, apalagi sebelumnya sudah dilabelkan sebagai istri orang. Jangan sembunyi dibalik alasan demi anak-anak. Jujurlah pada nurani sendiri”. Itu Maksudku.

“Masalahnya kan tidak sesederhana itu, masih banyak orang yang takut untuk jujur pada diri sendiri”. Hardy mengemukakan pendapatnya “ Benar. Aku setuju. Kira-kira ada tidak yah yang berpikir, kalau anak-anak berhak mendapatkan apa yang menjadi haknya?” Anak kan berhak berada dalam sebuah keluarga yang harmonis. Ibu dan bapak yang tetap bertutur halus, bukan saling menyalahkan atau justru memperlihatkan “aksi diam” satu sama lain”. Kataku.

“ Tapi apa mungkin dilakukan oleh dua orang yang sudah memposisikan sebagai musuh?” Tanya Teguh.
“Menurutku mungkin. Karena aku meyakini setiap perbuatan ada resiko yang harus ditanggung. Ketika berkomitmen tidak akan berpisah walau perbedaan sudah selebar jurang, maka hormatilah komitmen itu. Agar anak yang dijadikan alasan, benar-benar mendapatkan haknya, bukan justru sembunyi dibalik alasan demi anak-anak”. Kataku lagi
“Yah susah, mba”. Kata Alfir lagi. “ Harus di coba. Apa setiap pertengkaran harus diakhiri dengan perceraian? Jika tidak mau berpisah, cobalah evaluasi diri dan pasangan, masih adakah sedikit cinta? Jika ada, itu awal yang bagus. Karena cinta bisa ditumbuhkan dengan perhatian. Jika cinta sudah tidak ada, masih adakah respek? Karena respek juga bisa menimbulkan cinta kembali. Karena cinta kedua yang ditimbulkan dengan sengaja akan jauh lebih berharga. Karena cinta itu ditumbuhkan oleh kebutuhan dan tanggung jawab bukan sekedar cinta anak remaja”

“Mba pernah mengalami persoalan seperti ini?” Pertanyaan Hardy mengagetkan ku. “Belum. Mudah-mudahan tidak akan pernah!” Jawabku berharap. “ Memang bukan hal mudah menimbulkan cinta kembali pada pasangan yang sudah sempat kita benci. Tapi bukan pula tidak bisa”. Tiba-tiba Teguh berkata pelan. Serentak aku, Hardy dan Alfir memandang Teguh. Dan Teguh memandang balik kami bertiga. “ Berdasarkan pengelamanku orang tua anak bisa mendekatkan orang tua yang sedang bertengkar”. Kata Teguh. Kami bertiga masih menyimak. “ Anak punya kemampuan luar biasa untuk mengeratkan cinta. Nah ini persoalannya, anak bisa menguatkan cinta bukan menimbulkan. Yang bisa menimbulkan cinta yah dua orang yang berseteru itu”. Lanjut Teguh. “Buktinya Orang tuaku tidak pernah bersatu kembali, walau selalu setiap aku tanya, apakah mereka masih saling mencintai. Jawabnya ya. Tapi kembali bersatu tidaklah mudah!” Kini Teguh menatap kosong ke arah lautan.

Aku mempercayai, setiap kehidupan dalam pernikahan pasti ada gangguan. Bagaimana kita mensikapi gangguan itu yang akan membuktikan kualitas pernikahan kita. Karena bagiku tidak ada istilah salah pilih orang. Kalau kita mengaminkan jodoh ditakdirkan oleh Tuhan, maka jalani apa yang sudah sementara ini kita jalani. Karena kalau nanti diberi umur panjang, saat rambut sudah memutih, umurpun sudah banyak, cerita lalu patut dikenang. Bolehlah kita berbangga karena mampu melewati ujian. Karena ada cinta di keluarga kita.. Aku jadi ingin cepat-cepat pulang, dimana orang-orang yang kucintai dan mencintaiku menantiku dengan cinta. (19 April 2005.)

Terkenang kebersamaan th 2004 di Bali!”

No comments: