Wednesday, June 14, 2006

Keprihatinan Si Nyonya


PEREMPUAN BERTANYA

Lagi-lagi aku merasa bingung. Baru saja aku mendapat berita. Seorang kawanku dihianati suaminya. Aku berusaha untuk tidak menyertakan perasaan. Aku coba menganalisa. Kira-kira apa yang menyebabkan suaminya berselingkuh?Beberapa tahun lalu ketika mereka memproklamirkan rencana pernikahan, sempat membuatku iri.

Bagaimana tidak iri, baru pacaran enam bulan sudah berani menikah.Lagi-lagi aku termangu, kok tega betul. Masih terdengar tangisnya diujung telfon. “Bayangkan mba….aku melahirkan… suamiku menunggu sambil bertelfonan dengan wil nya….sakit gak sih…?”Dan setelah menjemputku dan bayinyaLalu mengantarkan kami pulang, ia pergi lagi ke wilnya.

Pertanyaanku….Kok kamu mau…?Yach aku tidak mau…! Jawabnya dengan emosi.Kapan kamu tahu ia mulai selingkuh…?Saat si sulung enam bulan…! Jawabnya pelan. Lah sekarang anakmu tiga….? Tanyaku dengan terkejut. Kamu cinta…? Cecarku tak sabar. Bukan cinta, mbak! Berharap ada perubahan dong…! Jawabnya lesu. Dengan terus menerus bersedia ditiduri, hamil lalu melahirkan dan mengurus bayi? Cecarku lagi! Apa kamu tidak berpikir untuk meningkatkan dirimu sendiri? Atau kamu merasa secara ekonomi sudah tercukupi sehingg merasa aman di rumahmu…?

Sadarkah kamu, kalau suamimu mengkondisikan mu terus menerus hamil supaya dia bisa berjalan terus dengan wilnya…? Tanyaku emosi. Lalu apa recanamu…? Yah bertahan mbak…! Barangkali ini memang nasibku….! Apa tidak niat berusaha keluar dari masalah ini…? tanyaku mendesak.Cerai…? Maksud mbak? Bagaimana nasib anak-anak, mba? Siapa yang akan kasih makan mereka?Terus saya akan tinggal dimana? Tanyanya kebingungan. Yah…ampun..! Seruku terkejut.Suamimu lupa, atau kamu yang lupa kalau dulu dia mengenalmu sebagai penyiar radio? Kamu wanita bekerja. Kamu punya kemampuan dan kamu memang mampu…! kataku berapi-api.

Tapi di keyakinan kami, mbak. Perempuan tidak baik menggugat cerai. Dan perempuan tidak boleh menolak jika diajak berhubungan intim dengan suami. Kalau kami bisa memaafkan, sorga upahnya…! Katanya lirih. Aku tidak mempersoalkan keyakinanmu. Biar keyakinanmu berbeda dengankuTapi tidak ada atas nama apapun di muka bumi yang mengizinkan perempuan disia-siakan..Upah Sorga diinginkan semua umat manusia.Tapi kamu masih dibumi. Mengapa mau mencapai sorga lewat neraka bumi, Padahal ada jalan lain…?Tapi mungkin ini takdir, jalan hidup saya mbak…! Ujarnya pelan. Dadaku serasa panas terbakar. Kamu tidak bisa bicara takdir kalau kamu tidak mau menciptkan takdirmu sendiri.!!! Seruku setengah berteriak.

Rasanya suaraku nyaris hilang ditenggorokan karena airmata sudah mengembang dikelopak mataku. Aku marah….Aku merasa sakit..Aku kecewa…. pada diriku sendiri karena aku tidak bisa berbuat apa-apa.Jadi apa yang melegalkan selingkuh …?Suami yang tidak setia lantaran istri punya kekurangan? Atau superpower laki-laki…? Mengapa tidak ada aturan hukumnya..? Apa perempuan memang warga kelas dua? Bukankah laki-perempuan punya kedudukan sama dimata hukum…? Atau hukum punya mata yang lain untuk melihat laki dan perempuan?Lalu bagaimana dengan perempuannya sendiri? Sadarkah perempuan kalau juga punya hak yang sama? Bukan hak untuk berselingkuh tapi hak untuk tidak diperlakukan seperti itu.Biar jelek, biar gendut atau kurus atau tak terurus. Menikah bukan untuk sehari dua hari atau setahun dua tahun.

Kalau mau romantis katanya, sampai kakek-nenek…atau sampai ajal memisahkan…! Konflik pasti ada,Namanya hidup dari dua latar belakang yang berbeda. Persoalannya dalam sebuah rumah tanggaAdakah kesadaran suami dan istri setara…? Apakah pernikahan hanya untuk menyalurkan nafsu hewani…? Sebetulnya apa sih tujuan pernikahan? Apa benar untuk berkembang biak…? Lalu apa artinya kasih sayang, Perhatian, Kepercayaan, Komunikasi….dan Cinta….? Haruskah menikah lagi karena salah satu mandul…?Atau bolehkan menikah lagi karena sekarang aku mencintai orang lain? Mengapa cinta bisa berubah…?Mengapa poligami atau poliandri selalu menjadi berita?

Perempuan….siapakah engkau….? Berbentuk apakah engkau…? Terlahir untuk siapa engkau….? Ketika kau terluka..apa yang kau lakukan?Adakah airmatamu berarti…? Atau adakah jeritanmu di dengar…? Atau semua itu hilang dibawah lobi-lobi politik yang tidak menginginkan perempuan bermain diwilayah laki-laki…? Jakarta, Agustus 2004


KOMENTAR:

Nana P"
Especially to give comment on Marthanajan04's comment. (sorry to write it in English), kebetulan yang sudah kutulis di blog berbahasa Inggris. Dan belum sempet rewrite dalam Bahasa Indonesia.Recently I have been “carrying” a book entitled Quran Menurut Perempuan by Amina Wadud, the Indonesian translation of Quran and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman's Perspective in 1999. It is not a new book. I have known this book for some years. I’ve got the excerpt of it on the net. However, I “found” this book in a local bookstore last April 30, Sacred Text from a Woman’s Perspective published by Oxford University Press, New York 2006. It was just translated into Bahasa Indonesia and published in March 2006.The book has been in my work bag since I bought it. As usual, I let my concentration to read this book distracted by many other things, including reading many other books at the same time. LOL. I didn’t mean to show that book to my workmates demonstratively but of course since I often “carry” the book, and once in a while I put it on a big table in the teachers’ room of my workplace, some workmates of mine have seen this book.Yesterday a Catholic workmate of mine asked me, “What is the book about?” simply I answered, “Well, so far, Alquran has been interpreted by men so no wonder if the result is very male-dominated. And this book contains the different perspective; showing that if Alquran is interpreted by women, using women’s perspective, the result is absolutely different, even in some cases, shows contradictory interpretation.” This workmate of mine nodded, didn’t ask me further.This afternoon, another workmate of mine said to me jokingly, related to the same book, “I told you not to read books about gender much. It is not good.”I responded, “It is not good for you guys coz women realize their rights much better so that this world will not be male-dominated any longer.” LOL.It reminded me of the middle age before Bible was translated into many other languages. Common people couldn’t read it; moreover understand it. Only limited ministers whose way of thinking had been “shaped” by Church could read it. And since they all had been indoctrinated the same way, of course all of them resulted in the same interpretation; they taught the congregation about the same thing, only from one perspective.After reading the article entitled “Women In Islam Versus Women In The Judaeo-Christian Tradition: The Myth & The Reality” by Dr. Sherif Abdel Azeem at
http://www.usc.edu/dept/MSA/humanrelations/womeninislam/womeninjud_chr.html#_Toc335566653 accessed on May 18, 2003 it made me question myself. According to Sherif Abdel Azeem, the illustration about women in Judeaeo-Christian Tradition shows the very low position given to women, but why in the reality, people consider Islam as the most chauvinistic religion of all? Islam that “lets men have more than one wife” is considered to degrade women’s position much more than the other two celestial religions mentioned by Sherif Abdel Azeem?I related it to the fact that until now, Muslim people must recite Alquran, in its original language—Arabic. For me, Arabic is much more difficult to learn than English (coz I already become an English teacher? LOL) Many Muslim people recite Alquran everyday; however they don’t understand the meaning. To understand the meaning, they turn to the Tafsir (the interpretation of Alquran) produced by men. To help themselves understand Alquran and apply its teachings in their daily life, they turn to Alhadith written by men. They also turn to Fiqh which was written by men too!!! The result? You know that …Again, I want to quote what Fatima Mernissi said:“If the rights of Muslim women become problems for Muslim men, it is not because of Alquran or Islam itself; it is because these rights contradict with the wants of the elite Muslim men.
”Untuk mbak Ati GustiatiSangat setuju bahwa hukum perkawinan di Indonesia harus diubah, HARUS DIHILANGKAN PERNYATAAN BAHWA LAKI-LAKI DIBOLEHKAN BERPOLIGAMI HANYA KARENA (1) sang istri sakit sehingga tak mampu "melayani" sang suami di tempat tidur, (2) sang istri tidak dapat memberikan keturunan.Kalau mau adil, seharusnya boleh juga perempuan menikah lagi kalau (1) sang suami sakit sehingga tidak mampu memuaskan sang istri (2) sang suami yang mandul, sedangkan sang istri ingin memiliki anak dari benihnya sendiri.Hukum perkawinan yang misoginis itu dihasilkan oleh kaum laki-laki yang sebenarnya tidak mengerti dengan pasti kandungan Alquran, terutama Surat Annisa ayat 3.Kita sebagai orang tua harus mulai mengajarkan kepada anak-anak, maupun para guru/dosen, harus mulai mengajarkan bahwa perempuan harus mandiri. Kalau terlalu berat untuk "mengajari" orang-orang sebaya kita yang sudah "terdoktrin secara akut" bahwa perempuan harus selalu mengalah, yah, paling tidak kita bisa menyelamatkan generasi penerus bangsa.
Untuk mbak Elisa,I am really sorry to hear that bad news about your friend, meskipun hal ini bukan hal yang aneh di masyarakat, baik di Indonesia, maupun di mana saja di dunia ini. Namun, yah, seperti yang lain-lain juga, I am really sorry and upset mendengarkan argumen teman mbak Elisa yang tidak mampu "mengeluarkan diri dari lingkaran setan".Salam.Nana
Phttp://afeministblog.blogspot.com
http://afemaleguest.blog.co.uk


"LD-Beby" wrote:>> Perempuan...oh perempuan...,> malangnya dikau...> > Perempuan...oh perempuan...,> suamimu digaet perempuan juga.> > Perempuan...oh perempuan...,> musuhmu perempuan juga.> > LD-Beby.>

>Kang becak <kbecak@yahoo.com> wrote:Cerpen Perempuan Bertanya,Fiktif belaka.Kepintaran sang penulisMemainkan emosi pembaca,Membuatnya seolah nyata.Masalahnya menjadi rumit,Ketika pembaca terlarut dalam ceritera,Menjadikan cerpen,Sebagai pembicaraan masalah agama.Dalam kenyataan,Perceraian dalam agama Islam,Sangatlah rumit,Apalagi bila sudah memiliki keturunan.

marthajan04 <marthajan04@yahoo.com> wrote:Kang Becak, Kalau saya menyangkutkan dengan ajaran islam, karena memang si istri malang itu menyeleaikan persoalannya dengan ajaran islam yang saya pikir sangat merugikan wanita, yang selalu di-iming2i sorga kalau nurut pada suami walapun suami itu menyakitinya. Ni ya, saya copy-paste-kan lagi omongan si istri malang itu :> > Tapi di keyakinan kami, mbak. Perempuan tidak baik menggugat > > cerai. > > Dan perempuan tidak boleh menolak jika diajak berhubungan intim> > dengan suami. Kalau kami bisa memaafkan, sorga upahnya. Katanya > > lirih.Sudah jelas kan, yang ngomong ini beragama islam dan dia sedang membicarakan ketidak berdayaannya karena ajaran agamanya mengharuskan dia melakukan pengorbanan sebesar itu untuk dapat upah sorga dan dia tidak diijinkan menolak berhubungan intim dengan suami bila suami menghendaki. Sekali lagi : TIDAK BOLEH!Kalau menolak, tentu hukumannya tidak dapat surga bukan?Ini mengerikan sekali buat saya. Sebagai sesama wanita saya bisa merasakan bagaimana luar biasa menderitanya hati kita bila sedang sebal atau marah pada suami lalu harus melayaninya berhubungan sex. betul2 memuakkan! saya rasa Tuhan sangat kejam dan Tuhan tidak lagi pantas dihormati bila wanita diharuskan mau berhubungan seks dengan suaminya bila sedang marah atau tidak suka. Mengenai Sophia Latjuba, memang kisahnya agak sama tapi saya tidak tahu bagaimana perasaan mantan istri si Michael itu. Apakah dia juga tidak berdaya seperti teman Elisa itu karena ajaran agamanya? Kalau benar demikian, saya juga akan mengecam agamanya pula. Tapi setahu saya, justru si Michael dan Sophia Latjubalah yang akan diasingkan gereja. Sophia beragama katolik setahu saya. Jadi saya tahu sanksi apa yang akan dia terima dari gereja. Dia dan si Michael dianggap berdosa dan tidak diijinkan terima hosti lagi selamanya. Mereka dianggap berjinah selamanya, selama istri pertama si Michael masih hidup.Sedang dalam ajaran islam, suami dan istri keduanya itu dianggap tidak bersalah malah si istri tualah yang dianggap berdosa bila dia tidak rela. Beda kan? MJ---

In sastra-pembebasan@yahoogroups.com, Kang becak wrote:>> Kisah ini,> Persis seperti yang dialami Louisa Ellen Ibbotson.> > Demi Sophia Latjuba,> Michael Villareal menjatuhkan talak,> Ketika buah cinta baru lahir.> > Bukan agama kristen yang harus dibenci,> Villareal-Latjuba-lah yang harus dimaki.>

putri kabayan"
Saya juga ingin sekali bertanya , Siapa yang salah dalan Hal ini ?Saya sendiri sebagai wanita , sama seperti kalian atau teman** , mungkin senasib , tapi bukan seperjalanan . Kenapa wanita selalu DI LECEHKAN ?Siapa yang bisa menjawab , kalau bukan kita sendiri '' kaum wanita'' , Apa aturan AGAMA atau HUKUM ? Itu semua menurut Sy ngga' bermasalah , jika kita tidak melihat AGAMA atau HUKUM , mungkin kita jadi diri sendiri , tidak perlu menyalakan Para LAKI-LAKI salahkanlah DIRI SENDIRI , coba kita tanyakan pada diri kita , mengapa -laki-laki BERBUAT DEMIKIAN ? Jawabannya ada pada DIRI SENDIRI . Mengapa juga kita melihat negara orang lain , kalau DIRI KITA tetap demikian '' masih sama '' . Saya sangat menyesalkan sekali kalau kalian membedakan ajaran AGAMA , Agama manapun menurut Saya sama saja . Dari sinilah mengapa di Indo hancur , bukan hanya orangnya tapi juga dengan negaranya , saling membedakan dan saling menyalahkan , coba saja kita menyadari dan saling memahami , pasti negara Indo akan aman dan damai . Salam ....Putri Kabayan

ati gustiati <hatiku_rumahku@yahoo.com> wrote:Elisa....catatan yg cukup membuat para wanita marah, sedih dan kecewa, lalu siapakah yg bisa mengangkat hidup dan derajat wanita ? siapa yg bisa melindungi hak2 nya sebagai istri, ibu dan wanita yg di madu ?HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA MESTI DIRUBAH !!!! JANGAN LAGI BERDASARKAN HUKUM ISLAM, pakai system di negara2 maju seperti AS, Singapore misalnya, kalau kesalahan ada dipihak suami, istri berwenang menguasai bendahara yg mereka miliki 60% termasuk child support anak2 sampe usia dewasa, begitu juga bila kesalahan terletak pada istri hukuman sama dengan hukuman suami. Itu baru dari segi hukum perkawinan.Dari segi moral, wanita sebaiknya diberi kesempatan utk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, bila kita sudah bisa mandiri tanpa ketergantungan pihak lelaki lagi status social kita akan sejajar dengan pria sehingga tidak ada pelecehan2 status gender lagi, di Indo saya lihat wanita lebih suka tinggal dirumah jadi ibu rumah tangga, itu tidak masalah mungkin bagus, tetapi bila kita kebetulan punya suami yg tidak menghargai status ibu rumah tangga kita ini yg jadi masalah.Banyak wanita2 di dunia yang masih diperdaya lelaki terutama di negara2 ketiga seperti indonesia contohnya, di AS sendiri ada masalah perkawinan serupa hanya untungnya para istri2 yang innocent (tidak bersalah) dilindungi hukum dengan se baik2 nya, menjadi wanita yg tegar dan mandiri tidak mudah...setidaknya pelajarilah kharakter suami sebelum mengambil keputusan utk menghancurkan hidup kita lebih dalam lagi.
Salam hangat omie

marthajan04 <marthajan04@yahoo.com> wrote:cerita2 kejadian begini yang bikin aku benci sama ajaran islam.sudah gitu masih juga pada ngeyel bukan hanya lelakinya tapi juga perempuannya bahwa ajaran islam adalah yang paling baik dalam hal mengangkat derajat wanita, yang tidak ditemui atau sedikitnya lebih tinggi dari agama lainnya.bah! aku sih seharusnya tidak perlu marah atau sakit hati karena hukum agamaku dan lingkungan kehidupanku tidak akan membiarkan aku mengalami nasib seperti itu. tapi ternyata aku masih marah dan sakit hati juga mendengarnya. mungkin karena aku dan mereka masih sama dalam satu hal : sama sama wanita.MJ

1 comment:

Bunda gaul said...
This comment has been removed by a blog administrator.