Thursday, June 22, 2006

Kisah kasihku Bag.1

PANDANGAN PERTAMA

Dua minggu lagi, tepatnya 8 Juli 2006 adalah tepat 10 tahun usia pernikahanku dengan Frisch. Bagi sebagian orang 10 tahun bisa jadi di anggap baru sebentar. Tapi buat aku 10 tahun adalah waktu yang pantas untuk di syukuri. Kalau dihitung dari pertama aku dan Frisch bersama, maka tahun ini adalah tahun ke-18 dari pandangan pertama kami.

Baru saja kemarin teman sekerjaku bertanya mengenai pertama aku mengenal "ayah" dari sepasang buah hati kami. Aku tersenyum dan sejenak memejamkan mata. Moment itu tetap abadi dalam ingatanku. Tanggal persisnya aku tidak ingat tapi aku tahu hari Selasa bulan Februari 1986 mata kuliah Metodologi Penelitian Sosial.

Aku sangat menyadari secara fisik tidak secantik gadis-gadis di kampusku. Aku tomboy, kurus dan berkacamata. Karenanya aku sangat rendah diri kalau berhadapan dengan cowok-cowok. Jadi tidak sedikitpun punya niatan gandeng cowok. Syukur kalau ada yang mau tapi sih gak sampai cuci gudang.

Walau demikian aku tetap punya kriteria cowok idaman. Cuma ada apa enggak yang sesuai kriteria yah itu lain perkara. Hari itu aku datang nyaris terlambat, ruang kuliah sudah penuh. Soalnya ini mata kuliah wajib. Kursi-kursi sudah ditambah, tetap saja sudah keluar dari ruangan.

Aku tertegun melihat penuhnya mahasiswa. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah tangan yang terangkat ke atas, melambai memanggilku dan menunjukkan kursi tepat disebelahnya yang masih kosong.Mulanya aku agak ragu tapi akhirnya aku mendekat.

Sekilas aku menangkap, cowok ini, asli cakep! Bercelana blue jeans dan kemeja biru lengan panjang yang di gulung sampai lengan. Sorot matanya tajam, ada kumis yang cukup lebat di atas bibirnya yang tipis. Dalam hati aku bergumam:"Hm pasti senior yang pulang kerja!" Aku mengucapkan terimakasih.

Dia tersenyum, matanya nampak jenaka. Hanya itu yang aku ingat. Selanjutnya kami melewati hari bersama, detilnya tidak aku ingat. Karena sungguh tidak sedikitpun aku membayangkan atau merencanakan berpacaran dengannya. Kenyataannya sejak itu kami melewati hari bersama tapi hanya sebatas tembok kampus.

Aku tidak pernah menerima ajakannya untuk jalan berdua baik nonton bioskop atau nonton pameran.Sampai satu ketika aku dan Dia pergi dengan teman-teman kampus yang menjadi reporter freelance di acara pemilihan Gadis Sampul. Aku tidak tahu ada unsur kesengajaan atau tidak karena yang masuk hanya kami berdua berdasarkan dua undangan yang ada di tangan teman-teman. Sedangkan teman-teman yang lain masuk tanpa undangan hanya menunjukan kartu pers saja.Jelas aku dan dia terpisah dari teman-teman yang masuk dengan rombongan pers.

Usai acara, dia berani juga mengantarkan aku ke rumah, bertemu dengan mami, di "Omelin" karena waktu sudah menunjukan hampir pukul 24.00. Dia hanya minta maaf, tersenyum dan pamit. Besok di Kampus, dia makin menunjukan perhatian, bahkan issue mulai berkembang kami pacaran. Aku cuek aja karena tidak ada komitmen apa-apa. Aku merasa nyaman dan asyik bersamanya. Orangnya gaul, pintar, cakep, bintang lapangan dan yang naksir ada sederet.

Kami berdua kerap duduk menghadap lapangan, dimana disebelah lapangan ada jalan yang selalu di lalui mahasiswa mahasiswi yang mau kuliah. Dia memberi tanda cewek-cewek mana saja yang lagi diincar. Pokoknya cewek cakep berambut lurus dan panjang. Biasanya aku cuma tertawa. Tapi ceritanya menjadi lain ketika ada laki-laki lain yang mendekatiku. (Bersambung)

1 comment:

Henry 'Panjoleken' Pandia said...

Mbak Elisa, mana nih sambungannya.. ditunggu.