Monday, July 17, 2006

Rasanya Baru Kemarin


10 tahun pernikahanku
Tepatnya 8 Juli 2006.


SEPOTONG DOA

Rasanya baru kemarin
ketika bertukar pandang di bangku kuliah
Rasanya baru kemarin
ketika aku terpesona melihatmu berlari di lapangan basket

Rasanya baru kemarin
ketika kau marah lantaran aku tak memberi kabar
Rasanya baru kemarin
ketika kita sepakat menjalin kasih

Rasanya baru kemarin
ketika kita bertengkar karena cemburu
Rasanya baru kemarin
ketika kita bingung memilih, menikah atau terus pacaran.

Rasanya baru kemarin
ketika kita sibuk mengurus gedung, catering dan undangan
Rasanya baru kemarin
ketika kita jadi raja dan ratu sehari.

Rasanya baru kemarin
ketika kita meneguk manisnya bulan madu
Rasanya baru kemarin
ketika kita merayakan setahun pernikahan ini

Tapi ternyata 10 tahun telah berlalu
kita sukses mengarungi 10 tahun dalam sebuah bahtera pernikahan

10 tahun dalam kebersamaan
masih banyak hal baru yang kutemui dalam dirimu
10 tahun dalam kebersamaan
engkau masih mampu membuatku cemburu

10 tahun dalam keberamaan
kita masih merajut tali kasih
10 tahun dalam kebersamaan
ada Bas dan Van yang menghangatkah kita

10 tahun dalam kebersamaan
Masih banyak rencana yang kita susun
10 tahun dalam kebersamaan
Masih banyak yang ingin kita wujudkan

10 tahun dalam kebersamaan
Aku makin mencintaimu
10 tahun dalam kebersamaan
Semakin ku bersyukur karena kita saling memiliki

10 tahun dalam kebersamaan
api cinta kita tetap berkobar
10 tahun dalam kebersamaan
dapur hati kita masih selalu hangat

10 tahun dalam kebersamaan
kita tetap terus belajar saling mencintai
10 tahun dalam kebersamaan
kita tetap sejalan dan setujuan

10 tahun dalam kebersamaan
kita masih tetap berpasrah kepada Yang di Atas
10 tahun dalam kebersamaan
kita berdoa agar tetap berjodoh

10 tahun dalam kebersamaan
berharap menjadi 20 tahun dan seterusnya
10 tahun dalam kebersamaan
berharap hanya kematian yang memisahkan.

12 Juli 2006

Thursday, July 13, 2006

Topeng Kemunafikan


TOPENG KEMUNAFIKAN

Kebersamaanku dengan suami, sudah melewati masa-masa emosional. Sekarang hubungan kami jauh lebih cool. Saling pengertian sudah lebih menonjol. Sesekali memang masih ada temperamen tinggi yang keluar jika kami berdebat. Namun aku pikir semua itu masih dalam tahap yang wajar.

Suamiku pun sudah jauh lebih terbuka di banding tahun-tahun awal pernikahan kami. Di awal pernikahan kami, memang kami masih sama-sama mengenakan topeng kemunafikan. Topeng-topeng itu sangat tebal dan seakan tidak ingin kami lepaskan. Kami sama -sama tidak ingin terlihat "buruk". Namun waktu yang terus berjalan, memaksa kami melepas topeng kemunafikan.

Pelepasan topeng kemunafikan itu terasa sangat menyakitkan, karena terlampau lama mengenakan topeng hingga topeng itu nyaris menyatu dengan kulit. Memulihkan mental pasca pelepasan topeng kemuafikan sangat membutuhkan kebesaran hati dan kerelaan diri untuk menerima apa adanya.

Besarnya rasa cinta dan kasih sayang justru mematangkan diri, yang akhirnya membuat menjadi lebih baik dan lebih pengertian. Hal itu pula yang mendewasakan kami dalam mensikapi semua permasalahan. Bukan lagi siapa yang benar atau siapa yang lebih kuasa. Tapi bagaimana menyenangkan pasangan menjadi yang utama membuat kami selalu merasa dihargai.

Dan waktu pula yang menempa kami mejadi dewasa dalam bersikap dan bijaksana dalam bertindak. Rasa syukur tak pernah putus aku naikkan kepada Dia yang di atas yang memberi jodoh, Frisch sebagai suami dan ayah dari anak-anakku.

Kini aku memasuki tahap evaluasi. dimana aku mulai menilai diriku sendiri. Apakah aku sudah menjadi ibu yang baik? Istri yng baik? Apakah aku sudah melayani keluargaku dengan baik? Apakah aku sudah mensuport suamiku agar lebih maksimal dalam berprestasi? Apakah aku sudah memberi fasiitas pendidikan dan kehidupan yang baik buat anak-anakku?

Buat keluarga besarku, aku mulai menghitung dan berusaha "membayar", apa yang sudah diberikan orang tuaku dan saudara-saudara sekandung. Juga apa yang sudah dilakuan mertua dan ipar-iparku. Yang pasti aku sangat mensyukuri karena mami melahirkan aku dan memberiku 10 saudara perempuan. Sedangkan pada ibu mertua, aku bersyukur karena melahirkan laki-laki yang kini menjadi suamiku.

Tak ada nilai materi yang sepadan untuk membayar semua itu. Tapi keluarga kami yang bahagia dan saling menyayangi adalah salah satu wujud bayaranku. Karena kebahagiaan kelurga kami adalah kebahagiaan mami dan ibu mertuaku. Aku tak akan lupa bagaimana mami dan ibu mertuaku yang panik ketika aku dan Frisch bertengkar. Masa-masa itu sudah lewat dan aku tak ingin mengulangi.

Jujur aku merasa di kejar waktu. Aku tidak pernah tahu, sampai kapan ajal menjemput. Aku tidak pernah takut bertemu ajal. Yang aku takutkan belum tuntas apa yang harus aku lakuan di dunia ini. Tak seorangpun yang tahu, kapan ajal akan menjemput. Namun kalau boleh aku berharap, sebelum ajalku tiba, aku ingin berbuat sesuatu yang berarti bagi suami dan anak-anakku, juga keluarga besarku, komunitasku dan sesama manusia.

Kalau boleh berharap, Semoga Tuhan terus memampukan aku untuk melakukan sesuatu yang berarti. Paling tidak bagi suami dan kedua anakku.

Aku, istri dan ibu yang beruntung!
Menjadi istri dan ibu yang terbaik bagi suami dan anak-anakku, adalah doa tak terucap. Karena aku ingin hal itu menjadi nyata dalam realita. Sebagai perempuan, aku merasa sempurna dengan semua anugerah yang aku terima dari sang Chalik.

Perasaan Bersalah.



PERASAAN BERSALAH

Selalu ada perasaan bersalah yang menyelinap dikalbuku jika aku harus bertugas Keluar kota. Kadang aku berpikir apakah para bapak/suami juga punya perasaan yng sama jika harus meninggalkan istri dan anak-anaknya?

Minggu depan aku harus bertugas ke Jogja untuk suatu penelitian kualitatif mengenai Komunikasi pasca bencana gempa. Seperti yang lalu-lalu, Frisch ok-ok saja. Semakin dia ok-ok saja, hati ini rasa seperti diiris sembilu. Kok yah aku harus meninggalkan keluarga terus. Soalnya jadual ke depan aku sudah tahu, bulan Agustus aku masih harus ke ke Bali dan ke Jogja lagi

Mamiku pernah beromentar "Sadar, kamu itu istri dan ibu!" Aku tahu kemana arah mami mengatakan hal itu. Ini yang kadang-kadang aku rasakan tidak adil. Selain sebagai istri dan ibu, aku juga punya tanggung jawab sebagai karyawan dan tanggung jawab sosial terhadap komunitasku.

Aku kan tidak bisa menggunakan alasan anak untuk menghindari tugas. Aku jadi ingat tahun-tahun yang lalu, ketika frekwensi keluar kota Frisch sangat padat dan lama. Untuk sekali perjalanan tugas bisa sampai 3 minggu. Th 2003 sekitar bulan Mei. Frisch harus melakukan perjalanan, Bukit Tinggi, Padang, Medan, Padang Sidempuan, Pematang siantar dan Banda Aceh.

Waktu itu aku melepas dengan setengah hati. Soalnya aku dalam kondisi hamil hampir 7 bulan dan harus bed rest karena pendarahan. Di tinggal bersama Bas yang baru berusia mau 3 tahun. Tapi kulihat Frisch, semangat saja pergi bertugas. Kecemasanku semakin bertambah karena 18 Mei Frisch tiba di Aceh, 19 Mei di tetapkan sebagai Darurat Militer. Praktis komunikasi terputus.

Kecemasanku seakan sempurna, karena tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Bas bertanya papanya kemana? Rasanya seminggu ke depan terasa sebagai waktu penantian terlama. Karena setelah seinggu Frisch kembali ke Medan, barulah komuikasi bisa terhubung.

Tekanan-tekanan yang aku rasakan bukan hanya dari keluarga tapi juga dari para tetangga yang barangkali waktu berkomentar memang tidak bertujuan apa-apa. Tapi tetap saja, kurasakan seperti kerikil di sepatu. "Wah kelur kota lagi yah? Anak-anak sama siapa?" Padahal mereka tahu jawabannya.

Frisch tidak mau, selagi aku keluar kota, anak-anak di titip di omanya (mami saya) Frisch dengan segala keyakinannya berkata" "Kamu percayakan saya sanggup mengurus anak-anak!" Dulu ada adik saya tapi kini sudah ada pembantu yang turut mengurus anak-anak. Jadi saat Frisch tidak ada, anak-anak bersama "Mbaknya".

Sebenarnya aku sendiri heran, kenapa sih orang merbutkan rumah tangga kami. Pernah suatu kali Frisch belanja ke sebuah Hypermat hnya bersama anak-anak. Mulai dari SP sapai kasir semua mempertanyakan kemana ibunya. Sampai Frisch bilang: "Memangnya kenapa? Ibunya di rumah sedang istirahat!"

Ingin ku buang beban perasaan seperti ini. tapi aku harus realistis. Aku hidup didunia nyata, dimana tidak semua orang bisa menerima kesetaraan. Memang waktu masih dibutuhkan untuk membuka lebar pemahaman sesama wanita mengenai apa makna kesetaraan.