Thursday, July 13, 2006

Perasaan Bersalah.



PERASAAN BERSALAH

Selalu ada perasaan bersalah yang menyelinap dikalbuku jika aku harus bertugas Keluar kota. Kadang aku berpikir apakah para bapak/suami juga punya perasaan yng sama jika harus meninggalkan istri dan anak-anaknya?

Minggu depan aku harus bertugas ke Jogja untuk suatu penelitian kualitatif mengenai Komunikasi pasca bencana gempa. Seperti yang lalu-lalu, Frisch ok-ok saja. Semakin dia ok-ok saja, hati ini rasa seperti diiris sembilu. Kok yah aku harus meninggalkan keluarga terus. Soalnya jadual ke depan aku sudah tahu, bulan Agustus aku masih harus ke ke Bali dan ke Jogja lagi

Mamiku pernah beromentar "Sadar, kamu itu istri dan ibu!" Aku tahu kemana arah mami mengatakan hal itu. Ini yang kadang-kadang aku rasakan tidak adil. Selain sebagai istri dan ibu, aku juga punya tanggung jawab sebagai karyawan dan tanggung jawab sosial terhadap komunitasku.

Aku kan tidak bisa menggunakan alasan anak untuk menghindari tugas. Aku jadi ingat tahun-tahun yang lalu, ketika frekwensi keluar kota Frisch sangat padat dan lama. Untuk sekali perjalanan tugas bisa sampai 3 minggu. Th 2003 sekitar bulan Mei. Frisch harus melakukan perjalanan, Bukit Tinggi, Padang, Medan, Padang Sidempuan, Pematang siantar dan Banda Aceh.

Waktu itu aku melepas dengan setengah hati. Soalnya aku dalam kondisi hamil hampir 7 bulan dan harus bed rest karena pendarahan. Di tinggal bersama Bas yang baru berusia mau 3 tahun. Tapi kulihat Frisch, semangat saja pergi bertugas. Kecemasanku semakin bertambah karena 18 Mei Frisch tiba di Aceh, 19 Mei di tetapkan sebagai Darurat Militer. Praktis komunikasi terputus.

Kecemasanku seakan sempurna, karena tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Bas bertanya papanya kemana? Rasanya seminggu ke depan terasa sebagai waktu penantian terlama. Karena setelah seinggu Frisch kembali ke Medan, barulah komuikasi bisa terhubung.

Tekanan-tekanan yang aku rasakan bukan hanya dari keluarga tapi juga dari para tetangga yang barangkali waktu berkomentar memang tidak bertujuan apa-apa. Tapi tetap saja, kurasakan seperti kerikil di sepatu. "Wah kelur kota lagi yah? Anak-anak sama siapa?" Padahal mereka tahu jawabannya.

Frisch tidak mau, selagi aku keluar kota, anak-anak di titip di omanya (mami saya) Frisch dengan segala keyakinannya berkata" "Kamu percayakan saya sanggup mengurus anak-anak!" Dulu ada adik saya tapi kini sudah ada pembantu yang turut mengurus anak-anak. Jadi saat Frisch tidak ada, anak-anak bersama "Mbaknya".

Sebenarnya aku sendiri heran, kenapa sih orang merbutkan rumah tangga kami. Pernah suatu kali Frisch belanja ke sebuah Hypermat hnya bersama anak-anak. Mulai dari SP sapai kasir semua mempertanyakan kemana ibunya. Sampai Frisch bilang: "Memangnya kenapa? Ibunya di rumah sedang istirahat!"

Ingin ku buang beban perasaan seperti ini. tapi aku harus realistis. Aku hidup didunia nyata, dimana tidak semua orang bisa menerima kesetaraan. Memang waktu masih dibutuhkan untuk membuka lebar pemahaman sesama wanita mengenai apa makna kesetaraan.

2 comments:

Anonymous said...

hai..mrs.frisch
tulisan-tulisan anda bagus-bagus.

oh ya saya mau tanya mrs.frisch punya info forum-forum keluarga besar Monoarfa ga??
saya cucunya opa badickton yang dari pinolosian.
saya juga tertarik untuk mencari tau silsilah keluarga Monoarfa,mohon bantuan informasinya yah.
terima kasih.
> meidi1304@yahoo.co.id
> Cakra Gilang Monoarfa

Anonymous said...

В этом что-то есть. Понятно, благодарю следовать информацию. [url=http://profvesti.ru/o-stroitelstve-svoimi-rukami/76-stroitelstvo-doma-svoimi-rukami.html]ремонт квартир видео[/url]