Thursday, July 13, 2006

Topeng Kemunafikan


TOPENG KEMUNAFIKAN

Kebersamaanku dengan suami, sudah melewati masa-masa emosional. Sekarang hubungan kami jauh lebih cool. Saling pengertian sudah lebih menonjol. Sesekali memang masih ada temperamen tinggi yang keluar jika kami berdebat. Namun aku pikir semua itu masih dalam tahap yang wajar.

Suamiku pun sudah jauh lebih terbuka di banding tahun-tahun awal pernikahan kami. Di awal pernikahan kami, memang kami masih sama-sama mengenakan topeng kemunafikan. Topeng-topeng itu sangat tebal dan seakan tidak ingin kami lepaskan. Kami sama -sama tidak ingin terlihat "buruk". Namun waktu yang terus berjalan, memaksa kami melepas topeng kemunafikan.

Pelepasan topeng kemunafikan itu terasa sangat menyakitkan, karena terlampau lama mengenakan topeng hingga topeng itu nyaris menyatu dengan kulit. Memulihkan mental pasca pelepasan topeng kemuafikan sangat membutuhkan kebesaran hati dan kerelaan diri untuk menerima apa adanya.

Besarnya rasa cinta dan kasih sayang justru mematangkan diri, yang akhirnya membuat menjadi lebih baik dan lebih pengertian. Hal itu pula yang mendewasakan kami dalam mensikapi semua permasalahan. Bukan lagi siapa yang benar atau siapa yang lebih kuasa. Tapi bagaimana menyenangkan pasangan menjadi yang utama membuat kami selalu merasa dihargai.

Dan waktu pula yang menempa kami mejadi dewasa dalam bersikap dan bijaksana dalam bertindak. Rasa syukur tak pernah putus aku naikkan kepada Dia yang di atas yang memberi jodoh, Frisch sebagai suami dan ayah dari anak-anakku.

Kini aku memasuki tahap evaluasi. dimana aku mulai menilai diriku sendiri. Apakah aku sudah menjadi ibu yang baik? Istri yng baik? Apakah aku sudah melayani keluargaku dengan baik? Apakah aku sudah mensuport suamiku agar lebih maksimal dalam berprestasi? Apakah aku sudah memberi fasiitas pendidikan dan kehidupan yang baik buat anak-anakku?

Buat keluarga besarku, aku mulai menghitung dan berusaha "membayar", apa yang sudah diberikan orang tuaku dan saudara-saudara sekandung. Juga apa yang sudah dilakuan mertua dan ipar-iparku. Yang pasti aku sangat mensyukuri karena mami melahirkan aku dan memberiku 10 saudara perempuan. Sedangkan pada ibu mertua, aku bersyukur karena melahirkan laki-laki yang kini menjadi suamiku.

Tak ada nilai materi yang sepadan untuk membayar semua itu. Tapi keluarga kami yang bahagia dan saling menyayangi adalah salah satu wujud bayaranku. Karena kebahagiaan kelurga kami adalah kebahagiaan mami dan ibu mertuaku. Aku tak akan lupa bagaimana mami dan ibu mertuaku yang panik ketika aku dan Frisch bertengkar. Masa-masa itu sudah lewat dan aku tak ingin mengulangi.

Jujur aku merasa di kejar waktu. Aku tidak pernah tahu, sampai kapan ajal menjemput. Aku tidak pernah takut bertemu ajal. Yang aku takutkan belum tuntas apa yang harus aku lakuan di dunia ini. Tak seorangpun yang tahu, kapan ajal akan menjemput. Namun kalau boleh aku berharap, sebelum ajalku tiba, aku ingin berbuat sesuatu yang berarti bagi suami dan anak-anakku, juga keluarga besarku, komunitasku dan sesama manusia.

Kalau boleh berharap, Semoga Tuhan terus memampukan aku untuk melakukan sesuatu yang berarti. Paling tidak bagi suami dan kedua anakku.

Aku, istri dan ibu yang beruntung!
Menjadi istri dan ibu yang terbaik bagi suami dan anak-anakku, adalah doa tak terucap. Karena aku ingin hal itu menjadi nyata dalam realita. Sebagai perempuan, aku merasa sempurna dengan semua anugerah yang aku terima dari sang Chalik.

No comments: