Monday, August 28, 2006

Ungkapan Rindu Seorang Ibu


UNGKAPAN RINDU SEORANG IBU
Untuk ke sekian kali, aku kembali ke Jogja. Kali ini salah satu penginapan di Jalan Prawirotaman yang kupilih. Berasarkan rujukan dari teman-teman, selain harganya terjangkau, pelayanan dan fasilitas juga baik. Karena kedatanganku kali ini untuk bekerja, maka aku memilih sebuah kamar dengan ac tanpa pesawat tv.

Seperti biasa kalau aku bertugas keluar kota. Sejak malam sebelum aku berangkat, aku sudah memberitahukan kedua anakku, kalau aku akan pergi untuk dua malam.
Si kecil Vanessa sedang minum susu di sebelahku dengan kebiasaanya memilin-milin rabutku.

"Van, mama besok kerja dan tidak pulang" Aku diam sejenak melihat reaksinya. Ia hanya mengangkat kedua alisnya. Lalu aku melanjutkan, "Besok kalau mama pergi, papa kerja dan Kakak Bas sekolah, Van di rumah sama Mba Ni". Kali ini Van melepas botol susunya dan berkata: "Aku juga mau sekolah!"

Vanessa berusia 3 tahun dan sudah aku masukkan di kelompok bermain yang beraktivitas seminggu 3 kali. Senin, Rabu dan Jumat.
"Loh Van, besok kan hari Selasa, Van masih libur" Kataku. Vanessa melanjutkan minum susunya. Ku peluk tubuh mungilnya dan kusembunyikan wajahku di perutnya. Ku dengar ia tertawa, mungkin terasa geli.

Tiba-tiba kurasa, pelukan seseorang di belakangku. Ku tangkap sepasang tangan kecil yang memegang perutku.
"Loh ada siapa yah di belakang mama?' Tanyaku sambil mecium tangannya.
Suara tawa yang khas terdengar di telingaku " Tangan aku, Ma" Kata Bastiaan, putera sulungku.

Kadang ada perasaan geli yang menyentuh hati ini. Mungkin anak-anakku mengira, aku tidak tahu siapa mereka jika aku tidak melihat wajah mereka. Karena itu kadang ada perasaan cemas mengusik kalbuku saat berjauhan dengan anak-anakku, ingatkah mereka padaku?

Ketika ku berbalik, yang kulihat sesosok tubuh terbungkus selimut. Aku mengikuti permainan Bastiaan. "Wah, tidak ada orang rupanya. Jadi tadi siapa yang memeluk mama yah?" tanyaku seolah kebingungan. Vanessa yang kini sudah melepas botol susunya tertawa. "Mama tidak tahu yah? " Tanyanya polos. "Iya nih, mama tidak tahu, emangnya Van tahu?" Tanyaku lagi. Spontan Vanessa menyingkap selimut yang menutup tubuh kakaknya. Aku pura-pura terkejut. Vanessa dan Bastiaan tertawa tergelak-gelak. Aku langsung menyergap keduanya dalam pelukanku, mencium seluruh bau tubuh mereka.

Kebersamaan dengan mereka adalah kekuatanku untuk bekerja. Meninggalkan mereka memang terasa berat, tapi demi memberi failitas hidup dan pendidikan yang baik, aku harus relakan meninggalkan mereka sesaat.

Kadang ada bagian dalam diriku yang menyesalkan karena kerap meninggalkan mereka. Walau hanya 2 atau 3 hari. Aku selalu merasa iri pada ibu-ibu yang bisa selalu berdekatan dengan anak-anaknya. Berapapun uang yang kudapat tak pernah seimbang dengan hilangnya waktu kebersamaanku dengan anak-anakku.

Dalam keseharian, pukul 6.30 pagi sulungu sudah berangkat sekolah. Dan aku akan bertemu dengannya, saat aku pulang kerja sekitar pukul 6.30 malam. Waktu pertemuan yang hanya sesaat sungguh aku manfaatkan. Memeluk, mencium, berbicara, belajar, mendengarkan ceritanya, memberi makan, sedikit ngomel dan banyak bercanda.

Banyak pakar psikologi yang mengatakan hubungan dengan anak yang penting kualitas. Buat aku kuantitas dan kualitas sama pentingnya. Dan itu akan sangat terasa seperti sekarang, saat aku tidak bersama kedua buah hatiku. Tapi aku selalu percaya, mereka aman dan nyaman bersama papanya selama aku tidak ada.

Lewat tulisan ini, aku hanya ingin mengatakan kepada para ibu yang tidak bekerja di luar rumah.

Senantiasa bersyukurlah karena engkau selalu bersama anak-anakmu.
Banyak ibu seperti aku, merindukan waktu yang banyak bersama anak
tapi itu bukan milikku.

Ku tak ingin merasa iri, tapi aku manusia biasa.
melihat para ibu yang bercengkrama dengan anak-anaknya
adalah pemandangan yang tidak menyenangkan
namun aku tak ingin berpaling dari permandangan itu.

Menyakitkan sekaligus merindukan.
Seakan mengkristalkan bongkahan rindu dalam kalbu
Permandangan seperti itu pula
yang selalu menghangatkan relung jiwaku
dan menghidupan api harapanku
bahwa disana buah cintaku
kuyakini juga menantikanku.

Seorang ibu yang sedang berjauhan dengan anak-anaknya.
Saat sebongkah rindu menggumpal dalam dada.

Icha
Jogja, 23 Agustus 2006

Thursday, August 03, 2006

1-2 Juli 2006 di Curug Cilember



BERBAGI DENGAN SESAMA

Kata para sosiolog, manusia dilahirkan sebagai mahluk sosial. Lebih kurang artinya sebagai mahluk yang selalu berhubungan dengan mahluk lain. Nah sampai batas ini harus diperjelas lagi, mahluknya itu bukan mahluk halus alias jin atau setan Iprit. Mahluk disini manusia, hewan atau tumbuhan.

Saya sangat setuju dengan pendapat tersebut. karena kenyataannya, manusia didalam kehidupan sehari-harinya selalu berhubungan dengan mahluk lain (bukan mahluk halus loh!) Ketika terlahir sebagai bayi, manusia memerlukan dekapan kasih sayang ayah bundanya plus ASI ibunya. Ketika usianya terus bertambah, kebutuhan sosial sebagai manusia juga terus bertambah.

Begitulah yang saya alami. Saya sangat menyukai berhubungan dengan orang lain. Berhubungan dengan sesama membuat saya merasa hidup dan dibutuhkan. Mengapa merasa dibutuhkan, sejujurnya saya merasa ketika tidak ada lagi yang membutuhkan saya, lalu untuk apa lagi saya hidup?

Artinya saya ingin mengisi hidup dengan berbuat sesuatu bagi sesama. Dari segi materi jika ada, saya rela berbagi. Tapi jika dari materi tidak punya, berbagi pengalaman juga bisa. Membuat orang lain tertawa juga baik kok. Itulah mengapa saya merasa selalu perlu berada di tengah komunitas. Saya ingin keberadaan saya diakui dan dibutuhkan. Bukan Narsis. Saya juga punya kekurangan, namanya saja manusia biasa, pastinya tidak lepas dari kesalahan dan kekhilafan.

Saat kita bisa berbagi (Bukan hanya dari segi materi saja) dan orang yang kita bagi bisa meningkatkan taraf hidupnya karena nilai-nilai yang dianut, tentu kita akan turut merasa senang. Karena pada dasarnya kita patut bersyukur jika ada orang yang terselamatkan karena bantuan kita baik dari segi materi atau moril.

Itulah gunanya kita berbagi dengan sesama. Kita akan terus berusaha agar orang lain tidak mengalami kesusahan seperti kita (Jika kita pernah) dengan belajar dari pengalaman kita.Karena itu sebelum ajal menjemput mari kita berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Mari satukan cara pandang kita sebagai manusia ciptaan Tuhan. Apapun perbedaan kita, kita sama di mata Sang Pencipta. Bukankah perbedaan akan menjadi baik jika ada toleransi. Karena berbeda tidak menjadikan kita tidak berarti. Justru seharusnya dengan perbedaan kita harus lebih bisa menjadi orang yang berarti bagi orang lain