Thursday, September 28, 2006

Obroanku: Kalau suamiku jadi Menperindag!


Obrolanku : KALAU SUAMIKU JADI MENPERINDAG

. Tulisan ini lahir dari hasil obrolan saya dengan suami. Kamis, 28 September 2006, Kompas menurunkan salah satu berita mengenai PT Toyota yang meluncurkan Varian Baru Mobil Toyota Avansa dengan kekuatan mesin 1500 cc. Sepengetahuan saya, Avansa dan Xenia adalah dua jenis mobil yang diproduksi dengan sasaran kaum menengah. Deperindag mempunyai andil besar dalam melobi para produsen mobil untuk mau menurunkan biaya produksi dan keuntungan dengan tidak menurunkan kualitas produksi.

Singkat cerita lahirlah Xenia dan Avansa yang awalnya ditawarkan dengan harga berkisar antara 60-70 juta rupiah. Sedangkan varian Avansa dengan mesin 1500 cc dikeluarkan dengan jenis matic dan manual. Matic seharga Rp 139 juta on the road dan manual Rp. 129. juta on the road. Ketika saya diskusikan dengan suami saya, suami saya tertawa.

“Itulah bodohnya orang kita termasuk menperindagnya. Itukan akal-akalannya pengusaha. Avansa diproduksi dengan tujuan menyediakan mobil untuk kaum menengah dengan harga terjangkau. Kalau dibuat dengan 1500 cc dan djualnya lebih mahal 80 % kan lucu, Padahal yang berubah hanya kapasitas mesinnya saja. Logikanya, harga maksimal yang bisa ditawarkan tidak lebih dari Rp. 90 juta. Itu sudah memperhitungkan kenaikan cc dan inflasi.” Ujar suamiku.

Dalam hati aku membenarkan. Yang naiknya cuma kapasitaas mesin loh kok naiknya secara keseluruhan bahkan lebih dari 80 %? Lalu suamiku melanjutkan lagi.

“Harusnya menperindag tidak mengizinkan pengusaha memproduksi avansa dengan varian mesin 1500 cc karena pengusaha paling jago kalau bikin akal-akalan. Namanya avansa dari toyota, bisa jadi yang dipasangkan mesin kijang. Artinya dari segi produksi mesin, pengusaha tidak menginvestasikan teknologi baru. Dengan sendirinya, harga jual mobil tersebut tidak boleh lebih mahal.

‘Mungkinn saja pa, tapikan namanya juga pengusaha pastinya cari untung! Ujarku.

“Buat pengusaha tidak untung sama dengan rugi. Padahal kalau tidak untung bisa saja impas. Atau jika hari ini untung Rp. 10.000 dan besok untung cuma Rp. 5.000, bagi pengusaha artinya rugi. Padahal jelas-jelas ada pemasukan lebih Rp. 5.000 setelah dipotong pengeluaran. Yang artinya ada keuntungan. Cuma karena kemarin untungnya Rp; 10.000 dan hari ini cuma Rp. 5.000 maka si pengusaha merasa rugi Rp. 5.000. Pola pemikiran semacam ini yang harus dihentikan. Saya paham setiap pengusaha ingin mencari keuntungan tapi kalau sudah menyangkut kebijakan pemerintah dan khalayak masyarakat luas, maka sipengusaha harus mereformasi pola pikirnya.”

“Saya sependapat tapi merubah mind set orang yang mentargetkan keuntungan sebesar-besarnya tidaklah mudah” kataku

“Makanya, kalau saya jadi menperindag, saya akan melarang memproduksi varian mesin avansa apalagi dengan harga jual yang tidak bisa diterima akal sehat. Menperindag harusnya bukan sekedar melindungi kepentingan pengusaha tapi masyarkat luas sebagai konsumen akhir juga harus menjadi pertimbangan. Apalagi jika tujuan awal diproduksinya mobil murah karena ingin memberikan yang terbaik buat masyarakat.”

Wah kalau suami saya jadi menperindag, saya jadi ibu- Dharma Wanita dong! Aduh gak kebayang deh! (Icha Koraag, 28 September 2006. 23.30)

Wednesday, September 20, 2006

Gosok Gigi yang Menyenangkan pada Anak


Biar ompong tetap PD bercerita di depan kelas

Van sangat gemar dengan yang namanya gula-gula. Tapi herannya gigi Bas dan Van termasuk kategori gigi tak terawat walau kenyatannya Nyonya Bawel dan suami sangat merawat.

Gigi atas Bas, ”grepes” nyaris gak ada gigi. Menurut dokter gigi yang ku temui di suatu mall saat promosi sebuah brand pasta gigi, dikatakannya ”Caries Bas sudah lama dan tidak akan bertambah lagi”. Artinya sekarang tinggal menunggu giginya tanggal karena masih termasuk gigi susu dan nanti akan tumbuh gigi permanen.

Gigi Van lain lagi, kondisinya lebih baik dari Bas. Biasalah anak kedua, sedikit banyak lebih baik perawatannya karena sudah berilmu waktu merawat anak pertama. Tapi terjadi kecelakaan yang cukup fatal ketika Van berenang dengan papanya. Saat itu umurnya 2,5 tahun. Van meluncur di seluncuran yang kelokannya tajam. Wajah Van terbentur pada tepian seluncuran yang menyebabkan gigi depan bagian atasnya tanggal.

Si Cantik, Van

Wah, Nyonya Bawel langsung membayangkan kesulitan, bagaimana makan, minum susu dan sikat gigi. Ternyata, dampak pada Vanessa tidak seburuk yang Nyonya Bawel bayangkan. Van dengan pandai menyusu botol dari sebelah kiri, karena yang patah ada di sebelah kanan. Begitu juga ketika akan menggosok gigi tidak menjadi masalah.

Nah bicara gosok gigi, adalah sebuah ritual yang mulanya selalu disertai tolak menolak. Baik Bas maupun Vanessa sangat enggan. Sementara Nyonya Bawel tidak mau tahu, walau mereka sudah mengantuk, kalau perlu Nyonya Bawel membawa ember dan sikat gigi ke kamar. Lalu menggosokkan gigi Bas dan Van yang berdiri di tempat tidur. Untuk gosok gigi Nyonya Bawel tidak kompromi.

Mempelajari pola Bas dan Van yang cenderung tidak mau meggosok gigi, membuatku selalu mencari akal. Bagaimana membuat menggosok gigi menjadi acara yang menyenangkan. Karena kalau sudah seharian bekerja lalu dilawan Bas dan Van hanya karena menolak menggosok gigi, kadang membuat Nyonya Bawel jengkel juga!. Nyonya Bawel tidak lagi menunda-nunda menggosok gigi sampai mereka mengantuk. Nyonya Bawel mengajak mereka main kereta-keretaan, dengan menyanyikan lagu naik kereta api. Sekali duakali berputar di rung tamu dan kamar lalu mampir di stasiun, stasiunnya ya kamar mandi.

Sebenarnya ini sudah Nyonya Bawel pratekkan waktu Bas usia setahun. Nyonya Bawel bernyanyi sambil menggosokkan gigi mereka. Ini manjur loh. Rasanya Nyonya Bawel sering sekali bernyanyi jika ingin menyampaikan pesan. Padahal suarNyonya Bawel jauh dari baik. Cuma Nyonya Bawel yakin buat anak-anakku, suarNyonya Bawel yang paling merdu. Bukankah suarNyonya Bawel yang selalu menyertai mereka selama 9 bulan dalam rahim? (PD yah? Harus!)

Bas, kuberikan sikat gigi dengan pasta gigi, kuminta ia melihat apa yang Nyonya Bawel lNyonya Bawelkan pada Vanessa. Mulailah Nyonya Bawel bernyanyi dengan irama lagu, 12345678 siapa rajin kesekolah cari ilmu sampai dapat, sungguh senang, amat senang, bangun pagi-pagi sungguh senang.

”1,2,3,4 wahai kuman
dalam gigi,
ayo pergi, ayo pergi,
rajin gosok gigi jadi sehat”

atau senandung dengan irama lagu kakak Mia:

”Ayo kuman...ayo kuman
Jangan kamu diam di situ
Itu yang gendut warnanya orens
warna hitam dan warna biru
Ayo pergi sekarang juga
Pergi...pergi...pergi sekarang!”


Sejak itu acara menggosok gigi mejadi kegiatan yang menyenangkan dan tidak hanya menjadi kewajibanku karena papanya juga kebagian. Cuma kalau dengan papanya, ya lagunya lain lagi. Kadang-kadang geli juga kalau sudah tiba waktunya menggosok gigi, Nyonya Bawel dan Frisch seringkali lihat-lihatan dan tertawa. Dan kini Bas, sudah bisa menggosok gigi sendiri bahkan tidak perlu ditunggui lagi. Sedangkan Van, masih harus Nyonya Bawel senandungkan. Lucunya kalau sudah ditempat tidur ganti Van yang bernyanyi ”Kamu yang gendut yang warna oren, ayo pergi sekarang juga!” (Icha Koraag, 20 September 2006)

Wednesday, September 13, 2006

Kisahku: Uppss… rasanya jadi ingin dipeluk…!

“Upss….RASANYA INGIN DI PELUK !”

Waktu amat cepat berlalu, jam dinding di ruang kerjaku sudah menunjukan pukul 11.50. Hampir menjelang waktu makan siang. Sejak pagi tadi aku menyelesaikan laporan perjalanan dinasku ke luar kota. Punggung, jemari dan mataku baru terasa pegal. Ku pejamkan mataku, mencoba santai sejenak. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang menyapa:

“Gak sehat non?”
Kubuka mataku dan memberi se-ulas senyum. Mba Milly, rekan seniorku berdiri menatapku cemas.
“Enggak lah, Mba. Cuma sedikit pegal”
“Buat laporan yach?”
"Makan dulu yuk, dah laper nih!” ajaknya bersahabat.

Jujur saja selera makanku lagi tidak ada. Aku kembali mengingat-ingat pertengkaranku semalam dengan suamiku. Rasa jengkel ini, masih memenuhi jiwaku. Pantang bagiku menangis di depan suami, apalagi kalau sedang bertengkar. Tapi kini aku merasa ingin menangis. Aku sangat mencintai suamiku dan aku juga sangat menghormatinya, jadi tuduhan-tuduhan kalau aku tidak menghargai suami membuatku jengkel. Aku memang bukan dari keluarga Jawa yang konsep mengasihi suami dengan mengabdi dan cenderung bertutur halus karena memang budayanya.

Aku dibesarkan di sebuah keluarga ABRI. Memang semua saudaraku perempuan tapi didikan ala militer ayahku dan ibuku yang berprofesi guru, sangat membentuk kepribadianku yang keras. Termasuk dalam intonasi berbicara. Aku berkeyakinan tidak perlu meminta izin pada suami jika aku ingin pergi atau berjalan-jalan. Aku hanya memberitahukan aku akan kemana. Karena aku berkeyakinan sekali lagi berkeyakinan kami setara. Dan aku juga tidak punya kewajiban menyediakan minum atau sarapan dipagi hari. Jika aku menyediakan minum dan sarapan dipagi hari karena aku mencintai suamiku. Sehingga yang aku lakukan karena cinta. Bukan kewajiban. Termasuk kalau aku rela, terjun ke dapur untuk masak makan malam, sepulang dari kerja. Bukan karena kewajiban, tapi semata aku ingin memberikan yang terbaik pada orang yang aku cintai.

Hingga saat ini, aku masih bingung atau heran jika ada diantara teman-temanku yang sudah menikah dan tidak bisa berkumpul lantaran tidak diizinkan suami. Sosialisasi dan aktualisasi diri menurutku, termasuk dalam hak dasar setiap orang. Seorang suami tidak berhak membatasi ruang gerak istri. Memang aku juga tidak setuju atau membenarkan perempuan-perempuan yang clubing atau hang out sampai lupa waktu, sementara di rumah ada anak dan suami. Aku masih bisa nonton dengan teman-teman kantorku atau jalan di plaza bareng teman-teman. Suamiku tidak keberatan pulang lebih dulu supaya bisa mengawasi anak-anak. Toh dilain kesempatan aku juga memberi keleluasaan buat suamiku beraktivitas. Bahkan Sabtu dan Minggu yang awalnya kita sepakati sebagai hari atau waktu untuk keluarga, kenyataannya bisa berlaku fleksibel. Kalau suamiku harus ke kantor atau perlu menemui kawan-kawannya lalu aku tinggal di rumah bersama dua balitaku, aku ok-ok saja.

Yang terkadang tidak masuk dilogikaku, adalah jika kita sudah bersusah payah bekerja kantoran setiap hari, berangkat dari rumah pukul delapan pagi dan kembali pukul tujuh malam, Senin sampai Jumat lalu Sabtu dan Minggu mengurus anak dan keluarga. Lalu tidak ada waktu untuk diri sendiri. Wanita bekerja yang juga sekaligus istri dan ibu punya hak memberi ruang dan waktu buat dirinya sendiri. Entah itu bersosialisasi dengan teman-temannya atau sesekali memanjakan diri ke salon untuk sekedar lulur atau Menicure dan Pedicure.

Dan komitmen kami berdua memang mengenai kepercayaan. Kepercayaan yang sudah diberikan janganlah disalahgunakan, apapun alasannya. Kami membangun rumah tangga dengan cinta dan tekad membawa biduk ini laju ke samudera kehidupan. Berharap akhirnya kami tiba di suatu tempat yang memang penuh cinta. Sehingga kami rela, saat ini berpayah-payah usaha untuk menuju impian itu.

Dan kami juga percaya derita dan harapanlah yang menjadi tanda kami masih hidup. Dimana ada derita di situ ada harapan dan dimana ada harapan di situ ada kehidupan. Derita membuat kita ingat siapa diri kita. Bahwa kita cuma manusia biasa yang terdiri dari darah, daging dan roh yang sifatnya sementara. Karena kekekalan bukanlah milik kita. Jadi selagi roh masih bersatu dengan raga isilah hidup ini dengan sesuatu yang bermakna, minimal bagi diri dan lingkungan terkecil, yakni keluarga.

Pertengkaran di mulai dari hal yang sepele. Kemarin hari Minggu, seperti biasa Vanessa bangun paling dulu. Lalu aku mengajaknya berjalan-jalan sekaligus berbelanja. Aku berencana menyiapkan makan siang. Belum lagi pukul sebelas, masakan sudah siap. Memang bukan aku yang memasak, tapi aku yang berbelanja dan memikirkan menu apa untuk siang ini. Betapa marahnya aku ketika ku tau suamiku memilih makan nasi dengan mie instant.

Sepele sebetulnya. Aku tidak akan marah kalau ia tidak tau aku sudah menyiapkan makan siang. Minimal kalau ia hendak makan mie instant, ketika melihat belanjaanku, ia bisa berkata: “Gak usah masak ma, santai aja. Aku makan mie instant saja!”

Kalau saja ia berkata demikian, aku bisa santai. Biar kedua pembantuku tidak perlu masak tapi cukup mengawasi anak-anakku dan aku bisa santai membaca novel. Selama ini aku selalu berorientasi pada makanan kesukaannya. Bahkan aku yang suka makan pedas, nyaris tidak pernah lagi memakai cabai untuk setiap masakan.

Sehingga teguranku yang menyesalkan ia makan mie instant, berbuntut pada tuduhan aku tidak menghargai atau menghormati. Suamiku berdalih, “Mau makan di rumah sendiri saja tidak tenang!” Kemarahanku makin memuncak, sebagai istri aku peduli pada kesehatannya. Aku tau dalam seminggu bisa dihitung berapa kali dalam makan siang ia mengkonsumsi makanan sehat. Jadi salahkah aku jika Sabtu dan Minggu berusaha memenuhi makanan sehat untuk dikonsumsinya?”

Dan satu sifat suamiku yang sampai sekarang aku benci. Jika bertengkar denganku, maka ia biasa melakukan aksi tutup mulut. Dalam sembilan tahun pernikahanku, aku banyak belajar dalam menghadapi kelakuannya. Aku tau ia juga belajar atas kelakukanku. Karena itu jika ia memilih diam, aku pun diam. Kadang aku berpikir, mungkin itu usahanya meredam emosi. Aktivitas sih tetap seperti biasa, aku menyediakan keperluannya dan biasanya jika ia menolak apa yang aku siapkan, ia tau resikonya. Misalnya, aku sudah menyiapkan baju kerja tapi tidak dipakai. Maka selanjutnya aku tidak akan menyiapkan baju kerjanya. Begitu juga mengenai masakan, karena pengalaman minggu siang itu lalu aku katakan, aku tidak akan menyiapkan makan lagi. Silahkan atur sendiri. Aku lebih senang karena berarti satu pekerjaan berkurang.

Cuma kadang kasihan pada anak-anak. Bastiaan sangat perasa, ia tau kalau kedua orang tuanya sedang tidak bicara. Biasanya yang jadi pertanyaan Bastiaan, “Mama sudah tidak sayang papa lagi?” Dan itu pun ditanyakan ke suamiku, “Papa sudah tidak sayang mama lagi?”. Biasanya jawaban kami pun sama. Papa tuh yang sudah tidak sayang mama atau mama tuh yang sudah tidak sayang papa. Dan kata orang tua ada benarnya, anak menjadi pereda kemarahan. Karena biasanya pertengkaranku juga selesai. Bagaimana bisa marah, jika Bas dan Vanessa sudah berguling-guling di tempat tidur, menaiki tubuhku dan suamiku? Akhirnya kami berempat bergulat bersama-sama sambil tertawa-tawa. Dan aku sudah membayangkan akhir pertengkaran kami nanti. Persoalannya hal itu masih beberapa jam lagi. Jadi aku masih harus bersabar untuk gencatan senjata, pulang kerja nanti.

“Nah, ya melamun lagi!” Mba Milly kembali sukses mengejutkan ku.
“Ngagetin aja!” kataku
“Ada apa sih?” Tanya Mba Milly
“Aku lagi sebel ama Frisch!” Jawabku setengah bersungut.
“Jangan dong. Mas Frisch kan orangnya baik!” kata Mba Milly
“Masa sebel gak boleh?”
“Boleh aja, tapi gak usah dipanjang-panjangin. Ntar aku telephone deh…! Goda Mba Milly
“Jangan !” protesku cepat.
“Makanya, jangan musuhan!” serunya sambil menyeruput juice tomatnya.
"Emang Mba Milly, gak pernah sebel sama si Aki?”tanyaku sambil menatapnya.
“Pernah sih, tapi gak ada untungnya. Malah bikin sakit kepala. Mana kita sebel, si Aki gak ngerti kalau kita lagi sebel ama dia. Jadikan rugi, kita kesel sendiri!”. Jawab Mba Milly. Kali ini setengah cemberut.

“Setuju! Itu juga persoalan yang aku alami. Kita masih sebel sementara pasangan kita gak merasa.!” Aku menyetujui komentar Mba Milly.
“Makanya aku mendingan cuek. Gak terlalu mau dipikirkan!” Kata Mba Milly lagi.
"Bisakah aku seperti itu? Tanyaku pada diri sendiri.
“Setiap hari selalu ada hal baru. Bertahun kita hidup dalam rumah tangga, tetap saja ada bagian yang tidak kita kenal. Bagaimana kita bersikap, sebenarnya itu yang akan menentukan, kemana hubungan ini berjalan. Jadi hadapi hidup dengan optimis saja. Kalau kesel sama pasangan kita, anggap saja kita baru mengenalnya. Jadi tidak perlu dipikirkan. Pendapat atau sikap orang yang baru kita kenal kan tidak akan mempengaruhi. Makanya Es We Ge Te El deh!” lalu diteruskan’”So What Gitu Loh!” katanya sambil terbahak.

Aku ikut tertawa. Dalam hati aku membenarkan, sekarang pasangan kita sudah kita nikahi sehingga kesal berlama-lama malah akan merugikan diri sendiri lantaran gak merasa nyaman. Hatiku sedikit plong, yach aku gak akan terlalu memikirkan. Cuek saja!. Toh hidup berlanjut terus, kekesalan sesaat anggap saja intermezzo hari ini. Toh sekesal-kesalnya aku pada suamiku, cintaku masih lebih besar. Uppss… rasanya jadi ingin dipeluk…!(Icha Koraag)

“20 April 2005. Marahannya sih minggu lalu!”

Tuesday, September 12, 2006

Kisahku: Sesekali cerita bapaknya dong!



SESEKALI CERITA BAPAKNYA DONG!


Selain suka menulis, aku sebenarnya orang yang juga gemar bercerita. Ketika aku mogok menulis, aku banyak bercerita. Biasanya kalau aku pulang dari luar kota, teman-teman sekantor akan menyambut: ” Aha akhirnya datang juga!, Sepi tahu mbak, gak ada mba tiga hari”. Ada juga yang berkomentar: ”Eh ala, tak kira si mami udah lupa balik kantor, kangen tahu mi”.

Biasanya aku akan tertawa dan jujur aku merasa senang. Lelah? Pasti masih terasa. Cuma laporan harus segera masuk, jadi pasti datang dari luar kota, besoknya sudah hadir di kantor. Ketika datang, mereka (Maksudku teman-teman sekantor) akan menunggu cerita-ceritaku. Kalau Bos belum datang, sedikit cerita pasti aku bagikan. Seperti perjalanan dinasku yang terakhir ke Jogya. Aku menceritakan, pengalamanku berjalan-jalan dengan tukang becak. Mulai dari Pasar beringhardjo, Keraton, Taman Sari sampai makan siang berdua di warung gudeg.

Ada juga yang bertanya, apa aku tidak riskan berjalan dengan tukang becak? Dengan santai ku jawab,” ya kalau riskan gue yang sial dong masa keliling Jogya jalan kaki. Ya, enakan sama tukang becak. Dia genjot becak, gue duduk menikmati angin dan permadangan!” Temanku menjawab ”Brengsek gue kira loe jalan-jalan berduaan sama tukang becak, sampai makan berdua juga!” Aku tersenyum lalu kukatakan: ” Otak loe yang gak beres. Iseng amat gue jalan-jalan sama tukang becak. Eh Gak salah juga sih, gue emang akhirnya makan semeja berdua. Masa gak ada terima kasihnya setelah keliling-keliling. Lagian makan siang kan gak sampai dua puluh ribu. Kapan lagi bisa makan bareng tukang becak. Biar dia punya cerita sama anak-anaknya, makan siang sama gue”.

Kegemaranku bercerita baik hal-hal yang kualami atau cerita-cerita tentang pola tingkah anak-anakku sudah dikenal baik oleh teman-teman sekantor. Jadi pernah juga kutanyakan, apakah mereka bosan dengan ceritaku tentang anak-anak? Sebagian menjawab tidak. Bahkan mereka bilang, malah jadi ingin bertemu Bas dan Van.

Tapi ada juga yang berkata: ”Bosenlah mba. Sesekali cerita bapaknya dong!” Lalu kujawab: ”Bukan gue tidak mau cerita tentang laki gue, takut yang belum menikah nanti mau buru-buru menikah dan yang sudah bersuami membandingkan dengan laki gue!” Spontan pecahlah tawa ngakak beramai-ramai. Salah seorang nyeletuk diantara gelak tawa ”Huh, GR emangnya laki loe supermen”. Lalu kujawab lagi ”Supermen banget, kalau supermen betulankan pakai celana dalamnya di luar nah kalau laki gue, bagian dalemnya yang diluar”. Gelak tawa kali ini diikuti hentakan kaki dan hentakan tangan di atas meja. ’Gilaaaaaa !!!! si mami makin gila!’ Jerit salah seorang temanku sambil menenangkan diri dari rasa gelinya.

Sesaat kemudian, semua ramai-ramai mendesakku untuk bercerita. Lalu ku katakan lagi “Cerita Frisch cuma untuk gue dan biasanya antara gue dan Frisch jarang bicara, kita langsung memperagakan!” kali ini gelak tawa gak kurang dari yang pertama. Aku senang saja membuat orang tertawa, padahal kalau aku renungkan, apa yang ditertawakan? Aku kan belum bercerita apa-apa. Kesimpulanku, mereka menertawakan apa yang ada di alam pikiran masing-masing. Terlepas dari itu, aku merasa senang jika bisa membuat orang lain tertawa. Ketika kita tak mampu memberi dalam bentuk materi, maka gak ada salahnya memberikan penghiburan. Membuat orang lain merasa senang kita juga akan merasa senang, percaya deh!
(Icha Koraag, 13 September 2006)

Monday, September 11, 2006

Renunganku!

Aku, Selma dan Van

KARENA WANITA INGIN DIMENGERTI, BENARKAH? Karena wanita ingin dimengerti, adalah judul sebuah lagu yang dibawakan kelompok Ada Band dan tengah digandrungi masyarakat, khususnya masyarakat wanita.. Namun dari judulnya, terasa cukup menggelitik. Sehingga saya jadi bertanya benarkah hanya wanita yang ingin di mengerti? Tapi terlepas dari itu, isi syairnya menurut saya tidak ada indah-indahnya bahkan terasa sedikit melecehkan.

Lekuk indah hadirkan pesona
Kemuliaan bagi yang memandang
Setiamu simbol keanggunan khas perawan
yang... kau miliki

Yang saya fahami, fisik perempuan timbulkan pesona. Dan yang memandang merasa terpesona, membuat yang memandang menjadi mulia. (Jadi yang mulia adalah yang memandang, bukan yang mencipta) Kesetiaan yang dimiliki perempuan adalah simbol keanggunan khas perawan. Jadi yang gak perawan berarti gak setia dan gak punya keanggunan.

Akulah pengagum ragamu
Tak ingin kumenyakitimu
Lindungi dari sengat dunia yang mengancam... nodai... sucinya lahirmu

Para pengagum perempuan (Saya rasa sok pahlawan) niatnya gak ingin menyakiti namun kenyatannya gak begitu. Termasuk niatnya melindungi kesucian perempuan dari sengat dunia yang bisa menodai. Kenyataannya lebih banyak perempuan yang ternodai dan tersengat!

Karena wanita ingin dimengerti
Lewat tutur lembut dan laku agung
Karena wanita ingin dimengerti
Manjakan dia... dengan kasih sayang

Benarkah wanita ingin dimengerti lewat tutur lembut dan agung? Rasanya banyak perempuan yang bisa paham dengan tutur kata yang tegas. Dan untuk dimengerti, para perempuan tidak cukup hanya dimanja dan disayang. Wanita ingin dimengerti karena itu perlu diberi ruang untuk mengekpresikan dan mengaktualisasi diri.

Ingin kuajak engkau menari
Bermandi hangat cahaya bulan
Sebagai tanda kebahagiaan
Bagi semesta cinta kita

Perempuan akan bahagia bukan sekedar menari bermandi hangatnya cahaya bulan, perempuan akan menari dengan seluruh jiwa dan raganya jika hatinya senang. Dan hatinya senang bukan karena rayuan, rayuan adalah bagian mempermainkan sisi perasaan perempuan, sejujurnya perempuan lebih berbahagia berhadapan dengan kejujuran sekalipun menyakitkan.

Ini bukan ungkapan tapi kenyataan. Cuma kebanyakan pria tidak siap menerima reaksi perempuan yang bersikap. Menerima kejujuran bukan berarti menerima diperlakukan seenaknya. Para lelaki tidak siap ketika reaksi perempuan yang menerima keterusterangan perbuatan laki-laki dengan meninggalkan para lelaki tersebut.

Para lelaki beranggapan dengan berterus terang, perempuan mau memaafkan. Saya percaya perempuan pasti mau memaafkan tapi melupakan? Nanti dulu. Bukan pendendam tapi perempuan perlu waktu yang lebih banyak untuk bisa melupakan. Jangan lupa, perempuan juga manusia, punya rasa dan punya hati.

Bintang terang itulah dirimu
Janganlah redup dan mati
Aku dibelakangmu memeluk dan menjagamu

Bintang terang itulah diri perempuan, kata si penyair. Jadi tidak boleh redup apalagi mati. Soalnya yang menjaga hanya akan memeluk dari belakang. Ini bagian puncaknya. Kalau mau menjaga yang jangan dari belakang dong! Kalau di tusuk kan perempuannya mati lebih dulu. Bagimana menjaga pelita agar jangan padam? Lindungi secara keseluruhan! Bagaimana wanita akan berbahagia sehingga bisa bersinar terus, jangan kungkung dia dalam sangkar emas. Kurungi wanita dengan cinta kasih, maka ia tidak akan pernah pergi dan keceriaannya tidak akan pernah padam. Keceriaan, kebahagiaan permpuan akan menjadi penerang rumah cinta!

Memang ini cuma lagu, mungkin aransemen musiknya bagus. Sehingga sedikit orang yang mau menelaah rangkaian kata-katanya. Mungkin saja pendapat saya berbeda tapi lebih kurang ini hasil perenungan saya. (Icha. 11 Sept 2006)

Friday, September 08, 2006

Kisah Seorang Teman: LINDA

Linda ke 3 dari kanan
.

”KATAKAN TIDAK, JIKA ANAKNYA INGIN BERJILBAB”


Temanku yang bernama Linda ini, sangat suka makan makanan yang pedas. Kadang kalau melihat dia makan, yang melihat ikut merasa kepedasan. Selera makan pedasnya tak berkurang walau kini tengah hamil lima bulan. Padahal Linda tidak berasal dari Padang. Entah dari mana turunan selera pedasnya. Linda berasal dari Wonosobo, menamatkan pendidikkan akhirnya di Bogor. Mungkin di Bogor ini kali, dia belajar makan makanan pedas.

Kehamilan Linda bisa dikatakan tidak bermasalah, walau kehamilan pertama. Cuma sesekali pernah juga aku memergoki, ia tengah muntah-muntah. Biasanya karena belum sempat sarapan. Linda anak perantau demikian jujga suaminya. Jadi pasangan muda ini kontrak rumah di Jakarta yang jauh dari sanak keluarga. Mungkin jadi tidak ada yang menyiapkan sarapan.

Setelah aku informasikan untuk selalu menyimpan biscuit di tas, Linda mengikuti saranku dan kini sudah tidak pernah muntah-muntah lagi. Soalnya dulu waktu aku hamil, setiap kali merasa lapar, perut ini langsung terasa seperti di kocok-kocok. Aku sempat membayangkan ketika merasa seperti itu, jangan-jangan si janin lagi menendang-nendang dinding rahim untuk memberi tanda, ia ingin asupan makanan.

Seperti biasa saat makan siang, kami berjalan bersama-sama ke pusat makan di Pasaraya. Kantorku di Kawasan Blok M, jadi kalau makan siang mudah asal isi dompet tebal. Linda tentu saja ikut. Biar perutnya sudah mulai tampak membuncit tapi Linda masih bisa berjalan cepat. Dan dia selalu bersyukur karena tidak mengalami problem seperti yang kebanyakan di alami ibu hamil, yaitu ngidam.

Kembali ke soal selera makan Linda, beberapa kawanku yang sudah pernah hamil dan melahirkan memberitahu Linda untuk mengurangi mengkonsumsi makanan pedas.Karena mengkhawatirkan kalau Linda mengalami diare akibat makan pedasnya.

Tapi dasar, anak kemarin sore, nasehat itu tak pernah digubrisnya. Seperti juga siang ini, Linda memesan bakso kuah, pada saat pesanan datang, Linda langsung meracik ulang. Ditambah saos sambal, sampai kami mengomentari, ”Itu sih sambal dengan bakso, bukan bakso pakai sambal!”, Linda hanya tertawa mendengar komentar kami.

Linda berjilbab, jadi wajahnya agak tersembunyi di balik kerudung tapi kali ini warna merah nampak jelas akibat pedasnya bakso. Tiba-tiba salah satu dari kami berkomentar: ”Sebetulnya Lin, kenapa kami menyarankan kamu mengurangi sambal, karena kalau kamu makan pedas terus, bisa-bisa anakmu lahir tak berambut alias gundul”.

Seperti biasa reaksinya hanya cengar-cengir tapi kali ini Linda menjawab “Biar saja, nantikan pakai Jilbab!” Spontan aku balik bertanya, ”:Loh kalau nanti anakmu laki-laki?” Kontan meledaklah tawa kami semua. Beberapa pengunjung menoleh ke arah kami. Lalu kami sama-sama mengecilkan suara tawa dengan menutup mulut.

Aku jadi teringat cerita. Sepasang suami istri yang terus-terus berkonsultasi dengan ahli agama, untuk menanyakan dampak seorang anak berjilbab. Pasangan suami istri ini, meminta anaknya untuk menunggu sampai lahir batin siap. Karena itu, anaknya disertakan dalam pondok pesantren. Setelah 3 tahun si anak menuntut ilmu di Pesantren maka ia pulang untuk meminta restu orang tuanya karena bulat sudah tekad mengenakan jilbab.

Ayah ibunya tetap melihat ketidak siapan si anak, maka pergilah di ibu berkonsultasi ke seorang Dai kondang. Jelas si Dai membenarkan prinsip pasangan suami istri itu yang menginginkan kematangan si anak. Namun si Dai juga melihat 3 tahun sudah memperlihatkan keseriusan si anak dengan niatnya. Maka Dai itu pun menganjurkan pada pasangan suami istri itu untuk merestui niat si anak.

Dengan pasrah pasangan suami istri itu menerima saran si Dai. Namun si ibu berkata ‘”Tapi kami masih punya masalah”. Si Dai mempersilahkan si ibu mengutarakan masalahnya. Lama si ibu terdiam, beberapa kali hanya bertukar pandang dengan sang suami. Ahirnya dengan menarik nafaas panjang si istri berkata “ Persoalannya anak kami laki-laki!”. Dan itulah yang terjadi pada Linda, Empat bulan kemudian Linda melahirkan bayi laki-laki tak berambut alias gundul. Cuma Linda kelihatannya tak perlu berkonsultasi seperti pasangan suami istri yang aku ceritakan. Maka kami menyarankan Linda untuk ”katakan tidak jika anaknya ingin berjilbab!” (Icha Koraag, 8 Sept)

Thursday, September 07, 2006

Kisahku: Melahirkan dengan Operasi Caesar

.
Buah Cinta kami, Bas & Van



Kedua bayi saya lahir dengan Caesar di dua rumah sakit yang berbeda. Dalam rentang waktu 3 tahun biaya yang saya keluarkan 100% kenaikannya. Jika yang pertama Rp. 5 juta maka anak kedua Rp. 10. juta. Itu sebabnya saya merasa cukup punya dua anak. Karena saya takut tak mampu membayar biaya kelahiran bayi ketiga yang barangkali bisa lebih dari Rp. 15.000.000. ( Andaikan ada yang sedang hamil dan tahu akan melahirkan dengan Caesar, ini bisa menjadii gambaran)

Caesar yang kedua adalah keputusan yang saya lakukan di bawah tekanan. Kenapa saya katakan di bawah tekanan. Kelahiran anak saya yang pertama lewat Caesar karena sejak usia kehamilan 5 bulan, hasil USG terlihat, ari-ari menutupi jalan lahir. Biarpun saya melakukan berbagi senam maupun pijat khusus tetap saja saya tidak merasa mulas. Akhirnya dengan bantuan induksi, proses pembukaan jalan lahir jadi juga.

Oh yah saya akan marah besar jika ada yang mengatakan seorang perempuan yang melahirkan dengan cara Caesar kurang sempurna. Sempurna atau tidak sempurna perempuan yang melahirkan tidak bisa ditentukan dengan akhir usaha yaitu persalinan normal atau Caesar. 12 jam saya bertarung nyawa ketika akan melahirkan anak pertama saya. Artinya walau persalinan saya lewat operasi Caesar tapi proses hamil sembilan bulan dan proses melahirkan adalah bukti kesempurnaan si perempuan.

Mulai jam 4 sore sampai jam 4 subuh saya berjuang menahan rasa sakit. Tak sedikitpun saya beranii menangis atau berteriak. Karena saya sadar sepenuhnya semua adalah pilihan saya. Saya hanya terus menerus berdoa dan mohon kekuatan dari yang di Atas. Pada pukul 11 malam, saya nyaris menyerah. Ketuban yang terus mengalir dan perut yang terasa di kocok sehingga saya muntah terus. Benar-benar menghabiskan semua energi yang saya punya. Waktu itu saya katakan pada suami, saya akan menyerah. Saya sudah tidak kuat. Dengan napas tinggal satu-satu, saya katakan dokter sudah mengatakan bayi ini tidak bisa keluar secara normal, mengapa saya dibiarkan menderita begini lama?. Suami saya terus menguatkan dan mengatakan, saya pasti bisa karena itu harus bertahan dan terus berusaha.

Sekitar pukul dua pagi dokter memanggil suami saya dan mengatakan akan dilakukan tindakan Caesar. Pukul 4, dari ruang bersalin saya diangkat ke brankar dan dibawa setengah berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Kalau anda ingat film-film horor, hening yang terdengar hanya bunyi roda brankar. Mencekam itulah perasaan saya. Menahan sakit yang luar biasa dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Memasuki ruangan operasi, rasa dingin langsung menusuk kulit tapi tetap tidak megalahkan rasa sakit. Tiba-tiba terbersit perasaan akan mati.

Kesadaran saya masih penuh. Saya mendengar seorang petugas di ruang operasi membersihkan peralatan dan mulai menghitung. Dentingan pisau dan gunting yang dijatuhkan dalam wadah steinless still menimbulkan bunyi yang mendirikan bulu kuduk. Aroma antibiotik dan bau obat-obatan menambah rasa mual. Warna hijau memenuhi ruang operasi membuat saya semakin takut. Karena kondisi saya yang tidak baik dokter dan suami memutuskan bius total.

Saya masih mendengar sesorang mengabsen para doketr. Mulai dari dokter anastesi, dokter bedah, dan dokter anak. Tiba-tiba seseorang dengan suara lembut berkata: Tenang ya bu, kami akan membantu ibu. Lalu seseorang membantu saya berbaring miring dari tidur telentang. Seseorang diatas kepala saya berkata: Badannya di lenturkan yach bu! Lalu orang lain lagi mendorong kedua kaki saya saya sehingga kedua lutut menyentuh dahi saya. Dalam keadaan normal itu tidak apa-apa tapi dengan perut gendut saya nyaris tidak napas. Saya merasakan jarum suntik menembus bagian belakang saya. Dan saya di suruh berhitung. Belum sampai lima saya sudah tidak ingat. Namun tidak lama saya merasa ada seseorang menyentuh tangan saya dan berkata : Bangun Bu! Anaknya laki-laki keluar tepat pukul 05.16. Sekarang berada sama ayahnya.

Tak putus rasa syukur saya naikkan kehadirat Dia yang maha Pengasih. Sulung saya telah lahir, Kamis 27 Juli 2000 dengan berat 2,8 kg, panjang 49 cm. Dan kami memberinya nama Frisch Bastiaan Calvarie Monoarfa. Tapi Tuhan masih menguji kami, pukul 09. 00 pagi saya terbangun dengan separuh badan masih dalam keadaan lumpuh. Saya terbangun karena sentuhan seorang suster yang sengaja membangunkan saya.
”Apa golongan darah ibu? Tanyanya.
” A”.
”Kalau bapak?” Tanyanya lagi.
”B, ada apa suster?”
Dengan enteng dan nyaris tanpa perasaan si suster menjawab; ”Kondisi anak ibu tidak baik. Kemungkinan ada masalah dengan hati karena bilurubin yang normalnya berkisar 4-6, anak ibu bilurubinnya 14. Jadi siap-siap saja kalau harus operasi.”

Bisa anda bayangkan apa yang saya rasakan? Bagaikan di timpa godam kepala ini. Saat saya menerima informasi ini tidak ada yang menunggui saya. Karena setelah operasi saya katakan pada suami, lebih baik dia pulang mengingat dia pun belum istirahat bahkan tidak mandi. Jadi waktu mendengar informasi itu saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana . Untunglah gak lama muncul ibu dan kakak-kakak saya.

Dengan kekuatan yang entah datang darimana, saya bisa bangkit duduk!. Dan sampai saat ini, jujur saya katakan saya masih trauma dengan rasa sakit yang ditimbulkan ketika saya memaksakan diri turun dari tempat tidur. Sampai saat ini bila teringat rasa sakit itu, kedua lutut saya masih bisa gemetar. Dengan menopang kedua tangan ditepian tempat tidur dan memaksakan setengah badan yang lumpuh ini untuk bergerak saya menurunkan kedua kaki. Sakit luar biasa. Rasanya semua persendian seperti habis diputus-putus. Sakitnya tidak lama, mungkin hanya sekitar 5 menit tapi itu terasa lama sekali. Akahirnya saya mampu berdiri dan berjalanke kamar bayi.

Bayi, yang langsung aku panggil Bas. :“ Bas....ini mama nak!“ Sambil saya usap dinding kaca pemisah. ”Ayo bangun, kamu pasti kuat. Mama dan papa sudah menanti lama sekali. Ia bergerak, kedua matanya ditutup kain kasa karena ia harus disinar agak bilurubin segera turun. Ia disinari dengan ultraviolet. Saya tahu ia mendengar suara saya. Suara yang menemaninya selama sembilan bulan dalam rahim saya. ”Anak pandai!” ucap saya sambil tersenyum.

Menanti kedatangan suami untuk mengabari kondisi anak kami adalah rasa lama kedua yang saya rasa setelah rasa sakit akibat turun dari tempat tidur. Siang, suami saya muncul. Begutu dikabari kondisi Bas, ia langsung jatuh terduduk lemas. Dengan menggenggam tangannya saya menguatkan, saya katakan: ”Sabar, Ia anak yang kuat, pasti ia bertahan!” kami pun luruh dalam tangis. Tiga hari pertama adalah masa penantian tanpa kepastiaan. Ketika saya sudah diizinkan pulang, dokter mengatakan Bas harus tinggal.

Ibu mana yang mau dan tega meninggalkan anak yang belum lagi semingu dilahirkan? Biarpun di RS dibawah perawatan para ahli. Saya katakan, jika bayi saya tak boleh pulang, izinkan saya menjaganya. Biarkan ia tahu ibunya ada disampingnya. Kuasa Ilahi terjadi, hasil laboratorium keluar, bilurubinnya turun tinggal 7 dan saya diperbolehkan membawa Bas pulang. Dengan catatan ia harus dijemur dibawah sinar matahari langsung diantara pul 06.00-07.00 pagi. Dan kini ia tumbuh tanpa masalah menjadi anak yang gagah dan kini 6 tahun usianya.

Caesar yang kedua berkaitan dengan Caesar yang pertama. Sebetulnya hasil pemeriksaan medis, kondisi kehamilan saya baik. Hingga bulan kesembilan sehari sebelum melahirkan dokter menginformasikan semua dalam keadaan baik. Kepala bayi sudah masuk di jalan lahir. 30 Juli tahun 2003 malam, rasa mulas sudah mulai saya rasa. Saya sudah menyiapkan semua keperluan untuk di RS dalam satu tas yang simpel. Semalaman suami saya sudah cemas. Di paksanya saya berjalan terus dengan alasan agar mudah saat persalinan. Pukul 2 pagi saya katakan saya mengantuk. Dan rasa ngantuk itu bisa mengalahkan rasa mulas. Akhirnya saya pun tidur.

Pagi-pagi suami saya bangun dan sebelum berangkat kerja, ia berpesan: Kalau kamu Masih mendengarkan saya sebaga suami, kita bertemu di RS A sekitar pukul 10.00. Maka sayapun bersiap-siap dengan diantarkan adik ke RS A. Ini RS langganan para seleb melahirkan. Entah apa istimewanya. Pilihan kami pada RS tersebut karena letaknya dibelakang tempat saya kerja, sehingga saya hanya perlu jalan kaki kalau kontrol kehamilan. Setibanya di RS, Suster dengan ramah langsung menerima tas bawaan dari tangan adik saya dan mengiring saya ke kamar bersalin. Dari pintu gerbang sampai kamar bersalin yang jaraknya tidak sampai 200 meter saya perlu waktu hampir duapuluh menit dengan beberapa kali berhenti menahan sakit.

Sampai di ruang bersalin, suster membantu saya mengenakan pakaian RS. Disinilah tekanan demi tekanan saya dapatkan. Secara bergantian suster atau bidan yang datang dan memeriksakan bertanya mengenai bekas jahitan di perut. Sambil menahan sakit saat kontraksi saya katakan penyebabnya. Mereka dengan mulut manis namun isinya menakutkan menyarankan saya untuk melahirkan dengan Operasi. Bayangkan dalam dua jam berjuang dengan rasa mulas, diselingi saran operasi dan bujukan dengan cerita-cerita menakutkan kalau saya melahirkan normal, membuat saya menginginkan operasi.

Dengan menahan tangis, yang kini saya sesali karena saya merasa cengeng banget. Saya medesak suami untuk menandatangani kesepakatan Caesar. Hanya berjarak satu jam sejak ditanda tangani, saya langsung dibawah ke ruang operasi. Kali ini saya hanya di bius secara lokal. Suster dan dokter ngobrol bahkan sambil bernyanyi Bengawan Solo waktu menangani operasi..

Prosedurnya sama dengan Caesar yang pertama. Cuma kali ini saya tetap telentang. Seseorang dari belakang mendorong duduk dan seseorang dari depan mendorong kedua kaki hingga menekuk dan lutut menyentuh kening. Lagi-lagi saya rasakan sebuah jarum menusuk bagian belakang tapi kali ini saya tidak hilang kesadaran. Saya merasa mual dan itu saya katakan:
”Dokter, saya mau muntah!”
”Seseorang diatas kepala saya menjawab ” Tenang bu, saya bantu yah, simsalabim katanya sambil menusukkan jarum kelengan. Dan rasa mualpun hilang. Namun kali ini saya merasa pusing, lalu saya katakan lagi.
”Dokter saya pusing”
Seseorang dibelakang saya kembali menjawab:
”Tenang ya bu, simsalabim, sambil menusukkan jarum lagi kelengan saya! Dan memang pusingnya hilang.

Tiba-tiba salah seorang dokter muncul dari arah bawah tempat tidur memegang kedua kaki bayi saya dan menentengnya dengan bagian kepala di bawah.”Bu ini anaknya perempuan. Besar loh! Katanya.
Permandangan yang tak akan saya lupakan seumur hidupku. Bayi itu tidak ada bagus-bagusnya. Berselaput dan berlumur darah. Matanya masih terpejam. Rambutnya banyak, pipinya gendut. Saya langsung mengucap syukur. Belum lagi kata amin meluncur dari mulut saya, terdengar lengkingan tangisnya. Dulu saya tidak mendengar karena bius Total. Tepat pukul 13.15 Kamis, 31 Juli 2003 saya melahirkan anak kedua seorang perempuan. Yang kami beri nama Vanessa Elleanoor Monoarfa. Dengan berat 3,35 Kg dan panjang 51 cm.

Dari dua kali saya melahirkan secara Caesar di dua RS dengan kelipatan harga berbeda 100%. Namun uang tidak bisa bohong. Pada kelahiran yang kedua saya tidak semenderita saat melahirkan yang pertama. Saya sendiri juga heran. Tidak sampai 24 jam, saya sudah bisa berjalan bahkan cuci rambut di kamar mandi.Sikap Dokter dan susternya juga berbeda. Pada kelahiran yang kedua, RS terasa sangat nyaman karena suster dan dokter sangat ramah. Melayani dan merawat dengan lemah lembut. Berbeda dengan yang pertama, suami saya saja diusir tidak boleh berjaga. Walau sudah dikatakan saya melahirkan dengan cara Caesar. Di RS tempat saya melahirkan yang kedua, semua ramah dan baik. Bahkan makanannya pun lebih enak.

Memang Rp. 5.juta berbeda dengan Rp. 10 juta. Jadi kalau saya dapat fasilitas lebih baik dan lebih enak karena harga yang saya bayar juga lebih mahal dari yang pertama. Namun saya tetap tidak akan lupa, tekanan yang saya dapat sehingga saya memaksakan diri melahirkan yang kedua dengan cara Cesar. (Icha Koraag)

Tuesday, September 05, 2006

Depresi Pasca Melahirkan

Kisah Seorang Teman:


Aku tengah menunggu jahitan baju di tukang jahit langgananku yang tengah menyelesaikan celana panjang untuk Bas, anakk. Ketika seseorang menepuk pundakku. Ia ternyata salah satu rekan sesama penyiar ketika aku berkerja di sebuah radio siaran. Kamipun berpelukkan dan saling menanyakan kabar. Kini Nita, sebut saja demikian masih menjadi penyiar tapi di radio yang lain. Aku memang mengakui, suaranya sangat bagus. Bahkan suaranya juga digunakan untuk beberapa iklan radio dan televisi. Karena kami masih ingin mengobrol, kami pun sepakat meninggalkan tukang jahitku dan masuk di sebuah Warung Bakmie.

”Jadi sekarang, Bas sudah kelas satu yah?” tanya Nita ketika kami sudah duduk. Aku mengiykan dengan menganggukkan kepala.
”Itu berarti Faiz kelas tiga” Ujarku.
”Mas Frisch, bagaimana kabarnya?”
”Secara fisik baik, tapi secara ekonomi enggak tuh. Soalnya usahanya lagi mogok” Ujarku. Lalu kulanjutkan dengan cerita usaha yang tengah di rintis aku dan Frisch. Kami memang tengah merintis usaha sendiri dengan mendisign dan memproduksi sepatu hujan untuk para pengendara motor. Sayang karena musim hujan belum datang dan produksi kami bergantung pada hujan, maka penjualan belum bagus.

”Bang Surya, apa kabar?” Aku menanyakan kabar suaminya. Nita cuma tersenyum.
“Mba Icha memang belum dengar?” Nita balik bertanya.
“Ada berita baru?” tanyaku santai.
“Aku dan Bang Surya sudah berpisah”. Jawab Nita datar.
”Ups, maaf. Maksudmu bercerai? Aku tidak tahu!” Ujarku terkejut.
”Tidak apa-apa!” Ujar Nita sambil menghirup es jeruk.

Sejujurnya aku terkejut. Aku dan Frisch datang pada pernikahan Nita dan Surya. Walau aku menikah lebih dulu, ia lebih beruntung karena dua bulan setelah menikah, langsung positip hamil. Mereka berpacaran cukup lama, direstui orang tua masing-masing. Sama-sama bekerja, artinya aku tidak melihat faktor ekonomi mejadi penyebab perpisahan mereka.

Banyak kejutan yang ku dapati setelah mendengar cerita Nita. Ia berpisah dengan Surya ketika kami masih sama-sama jadi penyiar di radio yang sama. Kok aku bisa tidak mendengar gosip apa-apa waktu itu. Cuma selentingan sempat singgah ditelingaku, ketika stasiun radio mengadakan acara ke puncak dengan para pendengar, aku mendapat cerita, Nita datang bersama laki-laki yang bukan suaminya. Aku tidak ikut karena aku baru melahirkan.

Ketika aku mengkonfirmasi hal itu, Nita menjelaskan, laki-laki tersebut adalah Bang Ginting. Salah satu pemilik acara infoteinment, dimana Nita sebagai naratornya. Nita mengaku tidak ada hubungan apa-apa dengan Bang Ginting. Saat itupun Nita sesungguhnya sudah resmi bercerai. Aku dan Frisch mengenal baik dengan Bang Ginting.

Perceraian Nita dan Surya terjadi, saat putera mereka belum genap berusia satu tahun, artinya usia pernikahan itu sendiri belum dua tahun. Nita banyak menyalahkan dirinya sendiri. Pasca melahirkan Nita mengalami depresi. Dimana Nita menjadi orang yang tidak percaya diri, merasa jelek, merasa tidak berarti apa-apa dan menjadi paranoid. Takut di tinggal suami, takut suaminya pergi tak kembali, hinggal menyesalkan kehadiran bayinya. Nita merasa bayinyalah yang menjadi penyebab ia tidak bisa bekerja.. Cerita Nita amat mengejutkanku.

“Tapi ketika masa cutimu habis, kamu berkerja kembali, aku tidak melihat ada yang salah?” Ujarku bingung.
“Mendekati berakhirnya masa cuti, aku sudah bisa mengendalikan diri”. Jawabnya sambil tersenyum.
“Lalu, apa permasalahannya sampai kamu bercerai?” tanyaku semakin penasaran.
“Entahlah aku pun sampai saat ini tak paham, mengapa akhirnya bercerai. Mungkin sakit hati. Aku merasa di tolak. Kamu masih ingat Mba, waktu Bang Surya datang ke studio saat akan study ke Australia?” tanya Nita sambil memandangku.
“Yap, aku masih hamil waktu itu. Tunggu, waktu itu kamu sudah bercerai?” tanyaku?.
“ Sudah! Saat itu Bang Surya memberitahukan aku jadual keberangkatannya di tunda karena Bang Surya akan menikah.” Ujar Nita santai.
”Aku tidak mengerti!” Ujarku sambil menatapnya. Mendengar cerita Nita, telah menghilangkan selera makanku.

”Ketika aku mengalami depresi sesudah melahirkan, ibu Bang Surya menganggapku tidak normal. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar. Keluarga besar Bang Surya mendesak Bang surya untuk menceraikan ku.
”Sebentar Nit. Stop dulu cerita Bang Surya dengan istri barunya. Aku ingin tahu habis kamu melahirkan, kamu tinggal dimana?”
”Tinggal di rumah Bang Surya dengan orang tua dan satu adik perempuannya. Adik laki-laki Bang Surya bekerja di Yogja!. Mengapa?”
”Apakah keluarga kamu tahu, kalau kamu mengalami depresi pasca melahirkan?” tanyaku lagi.
”Ya, enggaklah Mba. Dan memangnya aku tahu, kalau waktu itu namanya depresi?” Nita balik bertanya.
”Maksudmu?”
”Istilah depresikan baru aku pahami beberapa waktu lalu. Ternyata kasus yang kualami, banyak juga dialami perempuan lain. Cuma bedanya perempuan lain di bantu suami dan keluarganya untuk mengupayakan penyembuhan, sedangkan aku di vonis tidak normal. Sehingga di ceraikan dianggap jalan keluar satu-satunya!” Ujar Nita.
”Bang Surya memenuhi keinginan orang tuanya untuk menceraikanmu?”
”Orang tua Bang Suryapun tidak beringinan memelihara Faiz yang tak lain cucunya sendiri. Mereka beranggapan bisa jadi anakku juga tidak normal”. Kali ini Nita mengatakan dengan wajah menerawang jauh.

Menurutku ada yang salah dalam kasus Nita dan Bang Surya tapi aku tak tahu apa. Aku tahu, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi pada wanita pasca melahirkan. Tapi kebanyakan yang ku tahu adalah gangguan fisik. Seperti pre-clamsia dan hipertensi. Atau ASI yang tidak keluar dan persoalan lain yang menyangkut kesehatan fisik ibu dan bayi. Kalau gangguan kejiwaan, seperti depresi yang dialamai Nita dan mungkin dialami banyak perempuan lain, bukankah seharusnya di tolong?

”Tapi Bang Surya sendiri bagaimana? Apakah dia sudah tidak mencintaimu lagi? Juga anaknya?” tanyaku?
“Mungkin waktu itu Bang Surya juga kehabisan rasa sabarnya dalam menghadapiku. Setiap Bang Surya akan berangkat kerja, aku menangis sejadi-jadinya. Aku takut Bang Surya tidak pulang dan kembali padaku. Walaupun kenyataannya tiap sore juga pulang. Aku punya perasaan takut, ngeri, jijik terhadap bayiku sendiri. Aku tidak mau menggendongnya karena aku takut kalau kesadaranku hilang, aku akan menjatuhkan bayiku”. Ujar Nita sambil menarik nafas. Lalu ia melanjutkan.

“Aku menjadi orang yang menakutkan. Aku tidak mempercayai siapapun. Aku merasa semua orang tidak menginginkan ku. Jika ada keluarga yang berkunjung mereka hanya melihat bayiku. Puncaknya, Bang Surya mengupah perawat untuk mengurusku dan bayi kami. Saat itulah aku semakin yakin aku akan di buang. Bayiku di pisahkan dari aku. Aku masih tidur seranjang dengan bang Surya tapi lama-kelamaan Bang Surya lebih sering tidur di kamar bayi. Dan hubungan kami menjadi tawar. Mungkin Bang Surya merasa, aku mengecewakannya dan dalam kekecewaannya, ia menemukan perempuan lain yang bisa mengobati rasa kecewanya.

”Aku tahu, aku punya andil menjadi penyebab ia berselingkuh. Karenanya aku memaafkan dan menerima talak cerainya. Kini aku kembali ke orang tuaku dan senang bersama anakku. Aku bekerja untuk eksistensi diriku dan memenuhi kebutuhan anakku. Terakhir ku dengar istri Bang Surya sudah memberinya dua anak. Sesekali Bang Surya datang melihat Faiz tapi aku tidak mengizinkannya untuk di bawa Bang Surya walau hanya jalan-jalan.

Usai puas bercerita, aku dan Nita berjanji untuk tetap ”keep contack” Dan berpisah. Ibu Will sudah menyelesikan jahitan celana Bas dan akupun pulang. Tapi cerita Nita masih mengganggu pemikiranku Barangkali memang sulit dicari penyebabnya. Namun yang diperlukan adalah perhatian dan kasih sayang. Artinya depresi ini bisa terjadi pada siapa saja, tidak ada kaitannya dengan kesehatan fisik secara umum. Tapi kematangan diri dalam mempersiapkan kehamilan juga menjadi faktor yang cukup menentukan, apakah si perempuan siap dengan bayinya. Dan bicara soal kesiapan memasuki masa kehamilan, menurutku para suami punya peran yang sangat besar.

Ketika aku hamil, perasaanku campur aduk. Gembira dan senang itu sudah pasti. Apalagi bayi ini sudah tiga tahun kami nantikan. Tapi rasa cemas juga selalu mengusik hatiku. Apakah bayi ini tumbuh sehat dan normal? Bagaimana nanti waktu akan melahirkan. Sanggupkah aku melewati proses yang kerap disebut orang sebagai ”bertaruh nyawa?” kadang dalam kekalutan berperang dengan hati dan perasaan sendiri, berdoapun (mungkin gak khusuk) tidak memberi ketenangan.

Biasanya suamiku paham kalau aku gelisah. Frisch tidak ragu-ragu mendekapku lalu mengusap lembut pinggang dan punggungku. Sesekali diusapnya perutku sambil berbicara ”Ade bobo yah, mama mau istirahat!” Itu dilakukan cukup lama sampai aku tertidur.

Yang kupelajari dari kisah Nita dan Bang Surya ada 2 hal. Pertama, ketidakterbukaan, dan kedua, ketidak tahuan persoalan yang mereka hadapi. Akibatnya berdampak pada berakhirnya pernikahan mereka. Kurang kuatnya komitmen juga mungkin menjadi penyebab. Aku menyayangi perpisahan mereka namun nasi sudah menjadi bubur. Dan mungkin kini mereka harus mulai belajar menyantap bubur itu. Semoga bubur yang mereka santap memberikan kenikmatan walau sedikit! (Icha Koraag, sedang prihatin. 6 Sept 2006)

Friday, September 01, 2006

Kisah Seorang Teman: KASIH IBU.



KASIH IBU.

Teman yang satu ini berpendidikan tinggi, terlahir dari keluarga yang bahagia. Sayang rumah tangga yng dijalaninya tidak seindah ketika ia dibesarkan kedua orang tuanya. Mulanya semua kelihatan begitu ideal. Namun di tahun ke-3 pernikahnnya, ia harus menerima kenyataan, suaminya seorang pencemburu dan ringan tangan.

Namun tak sedikitpun, ia punya keinginan untuk melepaskan diri dari situasi seperti itu. Anaknya laki-laki 3 orang. Sekuat tenaga ia mempertahankan rumah tangganya. Sampai sini, aku sepakat dengan tindakannya. Artinya bagiku konflik dalam rumah tangga tidak harus selalu diakhiri dengan kata CERAI!

Aku yakin, semua biduk rumah tangga, selalu melewati badai dan gelombang kehidupan. Karena kualitas biduk rumah tangga itu justru diuji dengan rintangan tersebut. Namun jika gelombang dan badai terus menerus menghempas biduk rumah tangga itu, maka bukan hanya kualitas biduknya yang dipertaruhkan tapi kemampuan nakhoda mengemudikan biduk tersebut juga diharapkan bisa menyelamatkan penumpangnya.

Demikian biduk rumah tangga temaku itu berlayar terseok-seok bahkan berdarah-darah karena persoalan datang terus menerus. Sampai satu ketika badai paling kencang nyaris memporakporandakan biduk rumah tangganya. Hanya beberapa bulan dari ulang tahun pernikahannya yang ke 23 tahun, datang seorang perempuan dengan bayi yang mengaku sebagai ”selingkuhan” suaminya.

Jujur, kalau aku yang mejadi dia, reaksi pertama mungkin diam. Reaksi kedua berteriak sekuat-kuatnya! Tapi temanku itu, hanya mengusir perempuan itu dan diam. Selingkuhan suaminya tak puas dengan reaksi temanku, selingkuhan itu datang ke kantor dan membuat ribut di sana. Situasi seperti ini sulit masuk dalam nalarku. Biasanya istri utama yang akan mencari dan memaki-maki selingkuhan suaminya, bukan sebaliknya!

Sudah tentu sebagai istri, ia dipanggil atasan suaminya. Dan ditanyakan bagaimana maunya dan solusinya? Dengan tenangnya, temanku hanya mengatakan ”Aku hanya ingin melakukan tindakan yang bisa meminimalkan kehancuran?” Sungguh mati, ketika aku mendengar ia berkata demikian, aku tidak mengerti apa yang dipikirkan atau di rencanakannya. Karena ucapannya aku pahami sebagai ”Aku siap memaafkan, suamiku!”

Ku pikir dengan datangnya perempuan yang mengaku selingkuhan suaminya, sudah menunjukan rumah tangganya diambang kehancuran. Dan dia tahu itu. Namun tak ada kata cerai keluar dari mulutnya.Hingga dalam satu kesempatan ketika kami hanya berdua, aku menanyakan alasannya.

Jawabnya: ”Pertama, Aku ingin mengantarkan Abang sampai mendapatkan Bintang di pundaknya. Biar bagaimanpun Abang, adalah ayah dari ke-3 anakku! Saat ini suaminya berpangkat Kombes Polisi dan menjadi orang no 3 di salah satu Polda di Indonesia Timur!

Kedua, aku tetap berdoa dan berharap ia berubah. Jika Tuhan saja bisa memaafkan mengapa kita yang hanya manusia tidak mau memaafkan sesamanya. Sebagai orang beriman, saya percaya Tuhan tidak akan diam.

Dan ketiga Dari awal niatku berumah tangga, melahirkan, merawat dan membesarkan anak-anak. Aku sudah bertekad mengorbankan kebahagianku. Beberapa tahun lagi anak-anakku menjadi sarjana dan Abang pensiun. Jika 23 tahun saja sudah aku lalui, maka menunggu beberapa waktu lagi ke depan aku pasti akan sanggup. Dan dalam masa penantianku itu, tak ada yang pernah tahu Kuasa Tuhan. Aku tetap percaya Mujizat itu ada dan aku akan pantas mendapatkan kebahagian di akhirnya walau hanya sedikit saja!”

Sungguh sulit bagiku menerima penjelasannya. Aku juga seorang ibu dengan dua anak. Bukan aku tidak mau mengorbankan hidup dan kebahagiaanku untuk anak-anakku, yang kupikirkan hanyalah terbuat dari apakah hati dan jiwanya? Rasanya berlianpun tidak bisa mejadi pembanding. Kasih sayang dan pengorbanannya adalah bentuk nyata kasih seorang ibu. Dan akupun hanya bisa berdoa, semoga Tuhan tidak tinggal diam!. (Icha Koraag 1 September 2006)