Tuesday, September 05, 2006

Depresi Pasca Melahirkan

Kisah Seorang Teman:


Aku tengah menunggu jahitan baju di tukang jahit langgananku yang tengah menyelesaikan celana panjang untuk Bas, anakk. Ketika seseorang menepuk pundakku. Ia ternyata salah satu rekan sesama penyiar ketika aku berkerja di sebuah radio siaran. Kamipun berpelukkan dan saling menanyakan kabar. Kini Nita, sebut saja demikian masih menjadi penyiar tapi di radio yang lain. Aku memang mengakui, suaranya sangat bagus. Bahkan suaranya juga digunakan untuk beberapa iklan radio dan televisi. Karena kami masih ingin mengobrol, kami pun sepakat meninggalkan tukang jahitku dan masuk di sebuah Warung Bakmie.

”Jadi sekarang, Bas sudah kelas satu yah?” tanya Nita ketika kami sudah duduk. Aku mengiykan dengan menganggukkan kepala.
”Itu berarti Faiz kelas tiga” Ujarku.
”Mas Frisch, bagaimana kabarnya?”
”Secara fisik baik, tapi secara ekonomi enggak tuh. Soalnya usahanya lagi mogok” Ujarku. Lalu kulanjutkan dengan cerita usaha yang tengah di rintis aku dan Frisch. Kami memang tengah merintis usaha sendiri dengan mendisign dan memproduksi sepatu hujan untuk para pengendara motor. Sayang karena musim hujan belum datang dan produksi kami bergantung pada hujan, maka penjualan belum bagus.

”Bang Surya, apa kabar?” Aku menanyakan kabar suaminya. Nita cuma tersenyum.
“Mba Icha memang belum dengar?” Nita balik bertanya.
“Ada berita baru?” tanyaku santai.
“Aku dan Bang Surya sudah berpisah”. Jawab Nita datar.
”Ups, maaf. Maksudmu bercerai? Aku tidak tahu!” Ujarku terkejut.
”Tidak apa-apa!” Ujar Nita sambil menghirup es jeruk.

Sejujurnya aku terkejut. Aku dan Frisch datang pada pernikahan Nita dan Surya. Walau aku menikah lebih dulu, ia lebih beruntung karena dua bulan setelah menikah, langsung positip hamil. Mereka berpacaran cukup lama, direstui orang tua masing-masing. Sama-sama bekerja, artinya aku tidak melihat faktor ekonomi mejadi penyebab perpisahan mereka.

Banyak kejutan yang ku dapati setelah mendengar cerita Nita. Ia berpisah dengan Surya ketika kami masih sama-sama jadi penyiar di radio yang sama. Kok aku bisa tidak mendengar gosip apa-apa waktu itu. Cuma selentingan sempat singgah ditelingaku, ketika stasiun radio mengadakan acara ke puncak dengan para pendengar, aku mendapat cerita, Nita datang bersama laki-laki yang bukan suaminya. Aku tidak ikut karena aku baru melahirkan.

Ketika aku mengkonfirmasi hal itu, Nita menjelaskan, laki-laki tersebut adalah Bang Ginting. Salah satu pemilik acara infoteinment, dimana Nita sebagai naratornya. Nita mengaku tidak ada hubungan apa-apa dengan Bang Ginting. Saat itupun Nita sesungguhnya sudah resmi bercerai. Aku dan Frisch mengenal baik dengan Bang Ginting.

Perceraian Nita dan Surya terjadi, saat putera mereka belum genap berusia satu tahun, artinya usia pernikahan itu sendiri belum dua tahun. Nita banyak menyalahkan dirinya sendiri. Pasca melahirkan Nita mengalami depresi. Dimana Nita menjadi orang yang tidak percaya diri, merasa jelek, merasa tidak berarti apa-apa dan menjadi paranoid. Takut di tinggal suami, takut suaminya pergi tak kembali, hinggal menyesalkan kehadiran bayinya. Nita merasa bayinyalah yang menjadi penyebab ia tidak bisa bekerja.. Cerita Nita amat mengejutkanku.

“Tapi ketika masa cutimu habis, kamu berkerja kembali, aku tidak melihat ada yang salah?” Ujarku bingung.
“Mendekati berakhirnya masa cuti, aku sudah bisa mengendalikan diri”. Jawabnya sambil tersenyum.
“Lalu, apa permasalahannya sampai kamu bercerai?” tanyaku semakin penasaran.
“Entahlah aku pun sampai saat ini tak paham, mengapa akhirnya bercerai. Mungkin sakit hati. Aku merasa di tolak. Kamu masih ingat Mba, waktu Bang Surya datang ke studio saat akan study ke Australia?” tanya Nita sambil memandangku.
“Yap, aku masih hamil waktu itu. Tunggu, waktu itu kamu sudah bercerai?” tanyaku?.
“ Sudah! Saat itu Bang Surya memberitahukan aku jadual keberangkatannya di tunda karena Bang Surya akan menikah.” Ujar Nita santai.
”Aku tidak mengerti!” Ujarku sambil menatapnya. Mendengar cerita Nita, telah menghilangkan selera makanku.

”Ketika aku mengalami depresi sesudah melahirkan, ibu Bang Surya menganggapku tidak normal. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar. Keluarga besar Bang Surya mendesak Bang surya untuk menceraikan ku.
”Sebentar Nit. Stop dulu cerita Bang Surya dengan istri barunya. Aku ingin tahu habis kamu melahirkan, kamu tinggal dimana?”
”Tinggal di rumah Bang Surya dengan orang tua dan satu adik perempuannya. Adik laki-laki Bang Surya bekerja di Yogja!. Mengapa?”
”Apakah keluarga kamu tahu, kalau kamu mengalami depresi pasca melahirkan?” tanyaku lagi.
”Ya, enggaklah Mba. Dan memangnya aku tahu, kalau waktu itu namanya depresi?” Nita balik bertanya.
”Maksudmu?”
”Istilah depresikan baru aku pahami beberapa waktu lalu. Ternyata kasus yang kualami, banyak juga dialami perempuan lain. Cuma bedanya perempuan lain di bantu suami dan keluarganya untuk mengupayakan penyembuhan, sedangkan aku di vonis tidak normal. Sehingga di ceraikan dianggap jalan keluar satu-satunya!” Ujar Nita.
”Bang Surya memenuhi keinginan orang tuanya untuk menceraikanmu?”
”Orang tua Bang Suryapun tidak beringinan memelihara Faiz yang tak lain cucunya sendiri. Mereka beranggapan bisa jadi anakku juga tidak normal”. Kali ini Nita mengatakan dengan wajah menerawang jauh.

Menurutku ada yang salah dalam kasus Nita dan Bang Surya tapi aku tak tahu apa. Aku tahu, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi pada wanita pasca melahirkan. Tapi kebanyakan yang ku tahu adalah gangguan fisik. Seperti pre-clamsia dan hipertensi. Atau ASI yang tidak keluar dan persoalan lain yang menyangkut kesehatan fisik ibu dan bayi. Kalau gangguan kejiwaan, seperti depresi yang dialamai Nita dan mungkin dialami banyak perempuan lain, bukankah seharusnya di tolong?

”Tapi Bang Surya sendiri bagaimana? Apakah dia sudah tidak mencintaimu lagi? Juga anaknya?” tanyaku?
“Mungkin waktu itu Bang Surya juga kehabisan rasa sabarnya dalam menghadapiku. Setiap Bang Surya akan berangkat kerja, aku menangis sejadi-jadinya. Aku takut Bang Surya tidak pulang dan kembali padaku. Walaupun kenyataannya tiap sore juga pulang. Aku punya perasaan takut, ngeri, jijik terhadap bayiku sendiri. Aku tidak mau menggendongnya karena aku takut kalau kesadaranku hilang, aku akan menjatuhkan bayiku”. Ujar Nita sambil menarik nafas. Lalu ia melanjutkan.

“Aku menjadi orang yang menakutkan. Aku tidak mempercayai siapapun. Aku merasa semua orang tidak menginginkan ku. Jika ada keluarga yang berkunjung mereka hanya melihat bayiku. Puncaknya, Bang Surya mengupah perawat untuk mengurusku dan bayi kami. Saat itulah aku semakin yakin aku akan di buang. Bayiku di pisahkan dari aku. Aku masih tidur seranjang dengan bang Surya tapi lama-kelamaan Bang Surya lebih sering tidur di kamar bayi. Dan hubungan kami menjadi tawar. Mungkin Bang Surya merasa, aku mengecewakannya dan dalam kekecewaannya, ia menemukan perempuan lain yang bisa mengobati rasa kecewanya.

”Aku tahu, aku punya andil menjadi penyebab ia berselingkuh. Karenanya aku memaafkan dan menerima talak cerainya. Kini aku kembali ke orang tuaku dan senang bersama anakku. Aku bekerja untuk eksistensi diriku dan memenuhi kebutuhan anakku. Terakhir ku dengar istri Bang Surya sudah memberinya dua anak. Sesekali Bang Surya datang melihat Faiz tapi aku tidak mengizinkannya untuk di bawa Bang Surya walau hanya jalan-jalan.

Usai puas bercerita, aku dan Nita berjanji untuk tetap ”keep contack” Dan berpisah. Ibu Will sudah menyelesikan jahitan celana Bas dan akupun pulang. Tapi cerita Nita masih mengganggu pemikiranku Barangkali memang sulit dicari penyebabnya. Namun yang diperlukan adalah perhatian dan kasih sayang. Artinya depresi ini bisa terjadi pada siapa saja, tidak ada kaitannya dengan kesehatan fisik secara umum. Tapi kematangan diri dalam mempersiapkan kehamilan juga menjadi faktor yang cukup menentukan, apakah si perempuan siap dengan bayinya. Dan bicara soal kesiapan memasuki masa kehamilan, menurutku para suami punya peran yang sangat besar.

Ketika aku hamil, perasaanku campur aduk. Gembira dan senang itu sudah pasti. Apalagi bayi ini sudah tiga tahun kami nantikan. Tapi rasa cemas juga selalu mengusik hatiku. Apakah bayi ini tumbuh sehat dan normal? Bagaimana nanti waktu akan melahirkan. Sanggupkah aku melewati proses yang kerap disebut orang sebagai ”bertaruh nyawa?” kadang dalam kekalutan berperang dengan hati dan perasaan sendiri, berdoapun (mungkin gak khusuk) tidak memberi ketenangan.

Biasanya suamiku paham kalau aku gelisah. Frisch tidak ragu-ragu mendekapku lalu mengusap lembut pinggang dan punggungku. Sesekali diusapnya perutku sambil berbicara ”Ade bobo yah, mama mau istirahat!” Itu dilakukan cukup lama sampai aku tertidur.

Yang kupelajari dari kisah Nita dan Bang Surya ada 2 hal. Pertama, ketidakterbukaan, dan kedua, ketidak tahuan persoalan yang mereka hadapi. Akibatnya berdampak pada berakhirnya pernikahan mereka. Kurang kuatnya komitmen juga mungkin menjadi penyebab. Aku menyayangi perpisahan mereka namun nasi sudah menjadi bubur. Dan mungkin kini mereka harus mulai belajar menyantap bubur itu. Semoga bubur yang mereka santap memberikan kenikmatan walau sedikit! (Icha Koraag, sedang prihatin. 6 Sept 2006)