Wednesday, September 20, 2006

Gosok Gigi yang Menyenangkan pada Anak


Biar ompong tetap PD bercerita di depan kelas

Van sangat gemar dengan yang namanya gula-gula. Tapi herannya gigi Bas dan Van termasuk kategori gigi tak terawat walau kenyatannya Nyonya Bawel dan suami sangat merawat.

Gigi atas Bas, ”grepes” nyaris gak ada gigi. Menurut dokter gigi yang ku temui di suatu mall saat promosi sebuah brand pasta gigi, dikatakannya ”Caries Bas sudah lama dan tidak akan bertambah lagi”. Artinya sekarang tinggal menunggu giginya tanggal karena masih termasuk gigi susu dan nanti akan tumbuh gigi permanen.

Gigi Van lain lagi, kondisinya lebih baik dari Bas. Biasalah anak kedua, sedikit banyak lebih baik perawatannya karena sudah berilmu waktu merawat anak pertama. Tapi terjadi kecelakaan yang cukup fatal ketika Van berenang dengan papanya. Saat itu umurnya 2,5 tahun. Van meluncur di seluncuran yang kelokannya tajam. Wajah Van terbentur pada tepian seluncuran yang menyebabkan gigi depan bagian atasnya tanggal.

Si Cantik, Van

Wah, Nyonya Bawel langsung membayangkan kesulitan, bagaimana makan, minum susu dan sikat gigi. Ternyata, dampak pada Vanessa tidak seburuk yang Nyonya Bawel bayangkan. Van dengan pandai menyusu botol dari sebelah kiri, karena yang patah ada di sebelah kanan. Begitu juga ketika akan menggosok gigi tidak menjadi masalah.

Nah bicara gosok gigi, adalah sebuah ritual yang mulanya selalu disertai tolak menolak. Baik Bas maupun Vanessa sangat enggan. Sementara Nyonya Bawel tidak mau tahu, walau mereka sudah mengantuk, kalau perlu Nyonya Bawel membawa ember dan sikat gigi ke kamar. Lalu menggosokkan gigi Bas dan Van yang berdiri di tempat tidur. Untuk gosok gigi Nyonya Bawel tidak kompromi.

Mempelajari pola Bas dan Van yang cenderung tidak mau meggosok gigi, membuatku selalu mencari akal. Bagaimana membuat menggosok gigi menjadi acara yang menyenangkan. Karena kalau sudah seharian bekerja lalu dilawan Bas dan Van hanya karena menolak menggosok gigi, kadang membuat Nyonya Bawel jengkel juga!. Nyonya Bawel tidak lagi menunda-nunda menggosok gigi sampai mereka mengantuk. Nyonya Bawel mengajak mereka main kereta-keretaan, dengan menyanyikan lagu naik kereta api. Sekali duakali berputar di rung tamu dan kamar lalu mampir di stasiun, stasiunnya ya kamar mandi.

Sebenarnya ini sudah Nyonya Bawel pratekkan waktu Bas usia setahun. Nyonya Bawel bernyanyi sambil menggosokkan gigi mereka. Ini manjur loh. Rasanya Nyonya Bawel sering sekali bernyanyi jika ingin menyampaikan pesan. Padahal suarNyonya Bawel jauh dari baik. Cuma Nyonya Bawel yakin buat anak-anakku, suarNyonya Bawel yang paling merdu. Bukankah suarNyonya Bawel yang selalu menyertai mereka selama 9 bulan dalam rahim? (PD yah? Harus!)

Bas, kuberikan sikat gigi dengan pasta gigi, kuminta ia melihat apa yang Nyonya Bawel lNyonya Bawelkan pada Vanessa. Mulailah Nyonya Bawel bernyanyi dengan irama lagu, 12345678 siapa rajin kesekolah cari ilmu sampai dapat, sungguh senang, amat senang, bangun pagi-pagi sungguh senang.

”1,2,3,4 wahai kuman
dalam gigi,
ayo pergi, ayo pergi,
rajin gosok gigi jadi sehat”

atau senandung dengan irama lagu kakak Mia:

”Ayo kuman...ayo kuman
Jangan kamu diam di situ
Itu yang gendut warnanya orens
warna hitam dan warna biru
Ayo pergi sekarang juga
Pergi...pergi...pergi sekarang!”


Sejak itu acara menggosok gigi mejadi kegiatan yang menyenangkan dan tidak hanya menjadi kewajibanku karena papanya juga kebagian. Cuma kalau dengan papanya, ya lagunya lain lagi. Kadang-kadang geli juga kalau sudah tiba waktunya menggosok gigi, Nyonya Bawel dan Frisch seringkali lihat-lihatan dan tertawa. Dan kini Bas, sudah bisa menggosok gigi sendiri bahkan tidak perlu ditunggui lagi. Sedangkan Van, masih harus Nyonya Bawel senandungkan. Lucunya kalau sudah ditempat tidur ganti Van yang bernyanyi ”Kamu yang gendut yang warna oren, ayo pergi sekarang juga!” (Icha Koraag, 20 September 2006)

No comments: