Friday, September 01, 2006

Kisah Seorang Teman: KASIH IBU.



KASIH IBU.

Teman yang satu ini berpendidikan tinggi, terlahir dari keluarga yang bahagia. Sayang rumah tangga yng dijalaninya tidak seindah ketika ia dibesarkan kedua orang tuanya. Mulanya semua kelihatan begitu ideal. Namun di tahun ke-3 pernikahnnya, ia harus menerima kenyataan, suaminya seorang pencemburu dan ringan tangan.

Namun tak sedikitpun, ia punya keinginan untuk melepaskan diri dari situasi seperti itu. Anaknya laki-laki 3 orang. Sekuat tenaga ia mempertahankan rumah tangganya. Sampai sini, aku sepakat dengan tindakannya. Artinya bagiku konflik dalam rumah tangga tidak harus selalu diakhiri dengan kata CERAI!

Aku yakin, semua biduk rumah tangga, selalu melewati badai dan gelombang kehidupan. Karena kualitas biduk rumah tangga itu justru diuji dengan rintangan tersebut. Namun jika gelombang dan badai terus menerus menghempas biduk rumah tangga itu, maka bukan hanya kualitas biduknya yang dipertaruhkan tapi kemampuan nakhoda mengemudikan biduk tersebut juga diharapkan bisa menyelamatkan penumpangnya.

Demikian biduk rumah tangga temaku itu berlayar terseok-seok bahkan berdarah-darah karena persoalan datang terus menerus. Sampai satu ketika badai paling kencang nyaris memporakporandakan biduk rumah tangganya. Hanya beberapa bulan dari ulang tahun pernikahannya yang ke 23 tahun, datang seorang perempuan dengan bayi yang mengaku sebagai ”selingkuhan” suaminya.

Jujur, kalau aku yang mejadi dia, reaksi pertama mungkin diam. Reaksi kedua berteriak sekuat-kuatnya! Tapi temanku itu, hanya mengusir perempuan itu dan diam. Selingkuhan suaminya tak puas dengan reaksi temanku, selingkuhan itu datang ke kantor dan membuat ribut di sana. Situasi seperti ini sulit masuk dalam nalarku. Biasanya istri utama yang akan mencari dan memaki-maki selingkuhan suaminya, bukan sebaliknya!

Sudah tentu sebagai istri, ia dipanggil atasan suaminya. Dan ditanyakan bagaimana maunya dan solusinya? Dengan tenangnya, temanku hanya mengatakan ”Aku hanya ingin melakukan tindakan yang bisa meminimalkan kehancuran?” Sungguh mati, ketika aku mendengar ia berkata demikian, aku tidak mengerti apa yang dipikirkan atau di rencanakannya. Karena ucapannya aku pahami sebagai ”Aku siap memaafkan, suamiku!”

Ku pikir dengan datangnya perempuan yang mengaku selingkuhan suaminya, sudah menunjukan rumah tangganya diambang kehancuran. Dan dia tahu itu. Namun tak ada kata cerai keluar dari mulutnya.Hingga dalam satu kesempatan ketika kami hanya berdua, aku menanyakan alasannya.

Jawabnya: ”Pertama, Aku ingin mengantarkan Abang sampai mendapatkan Bintang di pundaknya. Biar bagaimanpun Abang, adalah ayah dari ke-3 anakku! Saat ini suaminya berpangkat Kombes Polisi dan menjadi orang no 3 di salah satu Polda di Indonesia Timur!

Kedua, aku tetap berdoa dan berharap ia berubah. Jika Tuhan saja bisa memaafkan mengapa kita yang hanya manusia tidak mau memaafkan sesamanya. Sebagai orang beriman, saya percaya Tuhan tidak akan diam.

Dan ketiga Dari awal niatku berumah tangga, melahirkan, merawat dan membesarkan anak-anak. Aku sudah bertekad mengorbankan kebahagianku. Beberapa tahun lagi anak-anakku menjadi sarjana dan Abang pensiun. Jika 23 tahun saja sudah aku lalui, maka menunggu beberapa waktu lagi ke depan aku pasti akan sanggup. Dan dalam masa penantianku itu, tak ada yang pernah tahu Kuasa Tuhan. Aku tetap percaya Mujizat itu ada dan aku akan pantas mendapatkan kebahagian di akhirnya walau hanya sedikit saja!”

Sungguh sulit bagiku menerima penjelasannya. Aku juga seorang ibu dengan dua anak. Bukan aku tidak mau mengorbankan hidup dan kebahagiaanku untuk anak-anakku, yang kupikirkan hanyalah terbuat dari apakah hati dan jiwanya? Rasanya berlianpun tidak bisa mejadi pembanding. Kasih sayang dan pengorbanannya adalah bentuk nyata kasih seorang ibu. Dan akupun hanya bisa berdoa, semoga Tuhan tidak tinggal diam!. (Icha Koraag 1 September 2006)

1 comment:

dhank Ari said...

cool thought... Thanks for sharing...