Friday, September 08, 2006

Kisah Seorang Teman: LINDA

Linda ke 3 dari kanan
.

”KATAKAN TIDAK, JIKA ANAKNYA INGIN BERJILBAB”


Temanku yang bernama Linda ini, sangat suka makan makanan yang pedas. Kadang kalau melihat dia makan, yang melihat ikut merasa kepedasan. Selera makan pedasnya tak berkurang walau kini tengah hamil lima bulan. Padahal Linda tidak berasal dari Padang. Entah dari mana turunan selera pedasnya. Linda berasal dari Wonosobo, menamatkan pendidikkan akhirnya di Bogor. Mungkin di Bogor ini kali, dia belajar makan makanan pedas.

Kehamilan Linda bisa dikatakan tidak bermasalah, walau kehamilan pertama. Cuma sesekali pernah juga aku memergoki, ia tengah muntah-muntah. Biasanya karena belum sempat sarapan. Linda anak perantau demikian jujga suaminya. Jadi pasangan muda ini kontrak rumah di Jakarta yang jauh dari sanak keluarga. Mungkin jadi tidak ada yang menyiapkan sarapan.

Setelah aku informasikan untuk selalu menyimpan biscuit di tas, Linda mengikuti saranku dan kini sudah tidak pernah muntah-muntah lagi. Soalnya dulu waktu aku hamil, setiap kali merasa lapar, perut ini langsung terasa seperti di kocok-kocok. Aku sempat membayangkan ketika merasa seperti itu, jangan-jangan si janin lagi menendang-nendang dinding rahim untuk memberi tanda, ia ingin asupan makanan.

Seperti biasa saat makan siang, kami berjalan bersama-sama ke pusat makan di Pasaraya. Kantorku di Kawasan Blok M, jadi kalau makan siang mudah asal isi dompet tebal. Linda tentu saja ikut. Biar perutnya sudah mulai tampak membuncit tapi Linda masih bisa berjalan cepat. Dan dia selalu bersyukur karena tidak mengalami problem seperti yang kebanyakan di alami ibu hamil, yaitu ngidam.

Kembali ke soal selera makan Linda, beberapa kawanku yang sudah pernah hamil dan melahirkan memberitahu Linda untuk mengurangi mengkonsumsi makanan pedas.Karena mengkhawatirkan kalau Linda mengalami diare akibat makan pedasnya.

Tapi dasar, anak kemarin sore, nasehat itu tak pernah digubrisnya. Seperti juga siang ini, Linda memesan bakso kuah, pada saat pesanan datang, Linda langsung meracik ulang. Ditambah saos sambal, sampai kami mengomentari, ”Itu sih sambal dengan bakso, bukan bakso pakai sambal!”, Linda hanya tertawa mendengar komentar kami.

Linda berjilbab, jadi wajahnya agak tersembunyi di balik kerudung tapi kali ini warna merah nampak jelas akibat pedasnya bakso. Tiba-tiba salah satu dari kami berkomentar: ”Sebetulnya Lin, kenapa kami menyarankan kamu mengurangi sambal, karena kalau kamu makan pedas terus, bisa-bisa anakmu lahir tak berambut alias gundul”.

Seperti biasa reaksinya hanya cengar-cengir tapi kali ini Linda menjawab “Biar saja, nantikan pakai Jilbab!” Spontan aku balik bertanya, ”:Loh kalau nanti anakmu laki-laki?” Kontan meledaklah tawa kami semua. Beberapa pengunjung menoleh ke arah kami. Lalu kami sama-sama mengecilkan suara tawa dengan menutup mulut.

Aku jadi teringat cerita. Sepasang suami istri yang terus-terus berkonsultasi dengan ahli agama, untuk menanyakan dampak seorang anak berjilbab. Pasangan suami istri ini, meminta anaknya untuk menunggu sampai lahir batin siap. Karena itu, anaknya disertakan dalam pondok pesantren. Setelah 3 tahun si anak menuntut ilmu di Pesantren maka ia pulang untuk meminta restu orang tuanya karena bulat sudah tekad mengenakan jilbab.

Ayah ibunya tetap melihat ketidak siapan si anak, maka pergilah di ibu berkonsultasi ke seorang Dai kondang. Jelas si Dai membenarkan prinsip pasangan suami istri itu yang menginginkan kematangan si anak. Namun si Dai juga melihat 3 tahun sudah memperlihatkan keseriusan si anak dengan niatnya. Maka Dai itu pun menganjurkan pada pasangan suami istri itu untuk merestui niat si anak.

Dengan pasrah pasangan suami istri itu menerima saran si Dai. Namun si ibu berkata ‘”Tapi kami masih punya masalah”. Si Dai mempersilahkan si ibu mengutarakan masalahnya. Lama si ibu terdiam, beberapa kali hanya bertukar pandang dengan sang suami. Ahirnya dengan menarik nafaas panjang si istri berkata “ Persoalannya anak kami laki-laki!”. Dan itulah yang terjadi pada Linda, Empat bulan kemudian Linda melahirkan bayi laki-laki tak berambut alias gundul. Cuma Linda kelihatannya tak perlu berkonsultasi seperti pasangan suami istri yang aku ceritakan. Maka kami menyarankan Linda untuk ”katakan tidak jika anaknya ingin berjilbab!” (Icha Koraag, 8 Sept)