Thursday, September 07, 2006

Kisahku: Melahirkan dengan Operasi Caesar

.
Buah Cinta kami, Bas & Van



Kedua bayi saya lahir dengan Caesar di dua rumah sakit yang berbeda. Dalam rentang waktu 3 tahun biaya yang saya keluarkan 100% kenaikannya. Jika yang pertama Rp. 5 juta maka anak kedua Rp. 10. juta. Itu sebabnya saya merasa cukup punya dua anak. Karena saya takut tak mampu membayar biaya kelahiran bayi ketiga yang barangkali bisa lebih dari Rp. 15.000.000. ( Andaikan ada yang sedang hamil dan tahu akan melahirkan dengan Caesar, ini bisa menjadii gambaran)

Caesar yang kedua adalah keputusan yang saya lakukan di bawah tekanan. Kenapa saya katakan di bawah tekanan. Kelahiran anak saya yang pertama lewat Caesar karena sejak usia kehamilan 5 bulan, hasil USG terlihat, ari-ari menutupi jalan lahir. Biarpun saya melakukan berbagi senam maupun pijat khusus tetap saja saya tidak merasa mulas. Akhirnya dengan bantuan induksi, proses pembukaan jalan lahir jadi juga.

Oh yah saya akan marah besar jika ada yang mengatakan seorang perempuan yang melahirkan dengan cara Caesar kurang sempurna. Sempurna atau tidak sempurna perempuan yang melahirkan tidak bisa ditentukan dengan akhir usaha yaitu persalinan normal atau Caesar. 12 jam saya bertarung nyawa ketika akan melahirkan anak pertama saya. Artinya walau persalinan saya lewat operasi Caesar tapi proses hamil sembilan bulan dan proses melahirkan adalah bukti kesempurnaan si perempuan.

Mulai jam 4 sore sampai jam 4 subuh saya berjuang menahan rasa sakit. Tak sedikitpun saya beranii menangis atau berteriak. Karena saya sadar sepenuhnya semua adalah pilihan saya. Saya hanya terus menerus berdoa dan mohon kekuatan dari yang di Atas. Pada pukul 11 malam, saya nyaris menyerah. Ketuban yang terus mengalir dan perut yang terasa di kocok sehingga saya muntah terus. Benar-benar menghabiskan semua energi yang saya punya. Waktu itu saya katakan pada suami, saya akan menyerah. Saya sudah tidak kuat. Dengan napas tinggal satu-satu, saya katakan dokter sudah mengatakan bayi ini tidak bisa keluar secara normal, mengapa saya dibiarkan menderita begini lama?. Suami saya terus menguatkan dan mengatakan, saya pasti bisa karena itu harus bertahan dan terus berusaha.

Sekitar pukul dua pagi dokter memanggil suami saya dan mengatakan akan dilakukan tindakan Caesar. Pukul 4, dari ruang bersalin saya diangkat ke brankar dan dibawa setengah berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Kalau anda ingat film-film horor, hening yang terdengar hanya bunyi roda brankar. Mencekam itulah perasaan saya. Menahan sakit yang luar biasa dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Memasuki ruangan operasi, rasa dingin langsung menusuk kulit tapi tetap tidak megalahkan rasa sakit. Tiba-tiba terbersit perasaan akan mati.

Kesadaran saya masih penuh. Saya mendengar seorang petugas di ruang operasi membersihkan peralatan dan mulai menghitung. Dentingan pisau dan gunting yang dijatuhkan dalam wadah steinless still menimbulkan bunyi yang mendirikan bulu kuduk. Aroma antibiotik dan bau obat-obatan menambah rasa mual. Warna hijau memenuhi ruang operasi membuat saya semakin takut. Karena kondisi saya yang tidak baik dokter dan suami memutuskan bius total.

Saya masih mendengar sesorang mengabsen para doketr. Mulai dari dokter anastesi, dokter bedah, dan dokter anak. Tiba-tiba seseorang dengan suara lembut berkata: Tenang ya bu, kami akan membantu ibu. Lalu seseorang membantu saya berbaring miring dari tidur telentang. Seseorang diatas kepala saya berkata: Badannya di lenturkan yach bu! Lalu orang lain lagi mendorong kedua kaki saya saya sehingga kedua lutut menyentuh dahi saya. Dalam keadaan normal itu tidak apa-apa tapi dengan perut gendut saya nyaris tidak napas. Saya merasakan jarum suntik menembus bagian belakang saya. Dan saya di suruh berhitung. Belum sampai lima saya sudah tidak ingat. Namun tidak lama saya merasa ada seseorang menyentuh tangan saya dan berkata : Bangun Bu! Anaknya laki-laki keluar tepat pukul 05.16. Sekarang berada sama ayahnya.

Tak putus rasa syukur saya naikkan kehadirat Dia yang maha Pengasih. Sulung saya telah lahir, Kamis 27 Juli 2000 dengan berat 2,8 kg, panjang 49 cm. Dan kami memberinya nama Frisch Bastiaan Calvarie Monoarfa. Tapi Tuhan masih menguji kami, pukul 09. 00 pagi saya terbangun dengan separuh badan masih dalam keadaan lumpuh. Saya terbangun karena sentuhan seorang suster yang sengaja membangunkan saya.
”Apa golongan darah ibu? Tanyanya.
” A”.
”Kalau bapak?” Tanyanya lagi.
”B, ada apa suster?”
Dengan enteng dan nyaris tanpa perasaan si suster menjawab; ”Kondisi anak ibu tidak baik. Kemungkinan ada masalah dengan hati karena bilurubin yang normalnya berkisar 4-6, anak ibu bilurubinnya 14. Jadi siap-siap saja kalau harus operasi.”

Bisa anda bayangkan apa yang saya rasakan? Bagaikan di timpa godam kepala ini. Saat saya menerima informasi ini tidak ada yang menunggui saya. Karena setelah operasi saya katakan pada suami, lebih baik dia pulang mengingat dia pun belum istirahat bahkan tidak mandi. Jadi waktu mendengar informasi itu saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana . Untunglah gak lama muncul ibu dan kakak-kakak saya.

Dengan kekuatan yang entah datang darimana, saya bisa bangkit duduk!. Dan sampai saat ini, jujur saya katakan saya masih trauma dengan rasa sakit yang ditimbulkan ketika saya memaksakan diri turun dari tempat tidur. Sampai saat ini bila teringat rasa sakit itu, kedua lutut saya masih bisa gemetar. Dengan menopang kedua tangan ditepian tempat tidur dan memaksakan setengah badan yang lumpuh ini untuk bergerak saya menurunkan kedua kaki. Sakit luar biasa. Rasanya semua persendian seperti habis diputus-putus. Sakitnya tidak lama, mungkin hanya sekitar 5 menit tapi itu terasa lama sekali. Akahirnya saya mampu berdiri dan berjalanke kamar bayi.

Bayi, yang langsung aku panggil Bas. :“ Bas....ini mama nak!“ Sambil saya usap dinding kaca pemisah. ”Ayo bangun, kamu pasti kuat. Mama dan papa sudah menanti lama sekali. Ia bergerak, kedua matanya ditutup kain kasa karena ia harus disinar agak bilurubin segera turun. Ia disinari dengan ultraviolet. Saya tahu ia mendengar suara saya. Suara yang menemaninya selama sembilan bulan dalam rahim saya. ”Anak pandai!” ucap saya sambil tersenyum.

Menanti kedatangan suami untuk mengabari kondisi anak kami adalah rasa lama kedua yang saya rasa setelah rasa sakit akibat turun dari tempat tidur. Siang, suami saya muncul. Begutu dikabari kondisi Bas, ia langsung jatuh terduduk lemas. Dengan menggenggam tangannya saya menguatkan, saya katakan: ”Sabar, Ia anak yang kuat, pasti ia bertahan!” kami pun luruh dalam tangis. Tiga hari pertama adalah masa penantian tanpa kepastiaan. Ketika saya sudah diizinkan pulang, dokter mengatakan Bas harus tinggal.

Ibu mana yang mau dan tega meninggalkan anak yang belum lagi semingu dilahirkan? Biarpun di RS dibawah perawatan para ahli. Saya katakan, jika bayi saya tak boleh pulang, izinkan saya menjaganya. Biarkan ia tahu ibunya ada disampingnya. Kuasa Ilahi terjadi, hasil laboratorium keluar, bilurubinnya turun tinggal 7 dan saya diperbolehkan membawa Bas pulang. Dengan catatan ia harus dijemur dibawah sinar matahari langsung diantara pul 06.00-07.00 pagi. Dan kini ia tumbuh tanpa masalah menjadi anak yang gagah dan kini 6 tahun usianya.

Caesar yang kedua berkaitan dengan Caesar yang pertama. Sebetulnya hasil pemeriksaan medis, kondisi kehamilan saya baik. Hingga bulan kesembilan sehari sebelum melahirkan dokter menginformasikan semua dalam keadaan baik. Kepala bayi sudah masuk di jalan lahir. 30 Juli tahun 2003 malam, rasa mulas sudah mulai saya rasa. Saya sudah menyiapkan semua keperluan untuk di RS dalam satu tas yang simpel. Semalaman suami saya sudah cemas. Di paksanya saya berjalan terus dengan alasan agar mudah saat persalinan. Pukul 2 pagi saya katakan saya mengantuk. Dan rasa ngantuk itu bisa mengalahkan rasa mulas. Akhirnya saya pun tidur.

Pagi-pagi suami saya bangun dan sebelum berangkat kerja, ia berpesan: Kalau kamu Masih mendengarkan saya sebaga suami, kita bertemu di RS A sekitar pukul 10.00. Maka sayapun bersiap-siap dengan diantarkan adik ke RS A. Ini RS langganan para seleb melahirkan. Entah apa istimewanya. Pilihan kami pada RS tersebut karena letaknya dibelakang tempat saya kerja, sehingga saya hanya perlu jalan kaki kalau kontrol kehamilan. Setibanya di RS, Suster dengan ramah langsung menerima tas bawaan dari tangan adik saya dan mengiring saya ke kamar bersalin. Dari pintu gerbang sampai kamar bersalin yang jaraknya tidak sampai 200 meter saya perlu waktu hampir duapuluh menit dengan beberapa kali berhenti menahan sakit.

Sampai di ruang bersalin, suster membantu saya mengenakan pakaian RS. Disinilah tekanan demi tekanan saya dapatkan. Secara bergantian suster atau bidan yang datang dan memeriksakan bertanya mengenai bekas jahitan di perut. Sambil menahan sakit saat kontraksi saya katakan penyebabnya. Mereka dengan mulut manis namun isinya menakutkan menyarankan saya untuk melahirkan dengan Operasi. Bayangkan dalam dua jam berjuang dengan rasa mulas, diselingi saran operasi dan bujukan dengan cerita-cerita menakutkan kalau saya melahirkan normal, membuat saya menginginkan operasi.

Dengan menahan tangis, yang kini saya sesali karena saya merasa cengeng banget. Saya medesak suami untuk menandatangani kesepakatan Caesar. Hanya berjarak satu jam sejak ditanda tangani, saya langsung dibawah ke ruang operasi. Kali ini saya hanya di bius secara lokal. Suster dan dokter ngobrol bahkan sambil bernyanyi Bengawan Solo waktu menangani operasi..

Prosedurnya sama dengan Caesar yang pertama. Cuma kali ini saya tetap telentang. Seseorang dari belakang mendorong duduk dan seseorang dari depan mendorong kedua kaki hingga menekuk dan lutut menyentuh kening. Lagi-lagi saya rasakan sebuah jarum menusuk bagian belakang tapi kali ini saya tidak hilang kesadaran. Saya merasa mual dan itu saya katakan:
”Dokter, saya mau muntah!”
”Seseorang diatas kepala saya menjawab ” Tenang bu, saya bantu yah, simsalabim katanya sambil menusukkan jarum kelengan. Dan rasa mualpun hilang. Namun kali ini saya merasa pusing, lalu saya katakan lagi.
”Dokter saya pusing”
Seseorang dibelakang saya kembali menjawab:
”Tenang ya bu, simsalabim, sambil menusukkan jarum lagi kelengan saya! Dan memang pusingnya hilang.

Tiba-tiba salah seorang dokter muncul dari arah bawah tempat tidur memegang kedua kaki bayi saya dan menentengnya dengan bagian kepala di bawah.”Bu ini anaknya perempuan. Besar loh! Katanya.
Permandangan yang tak akan saya lupakan seumur hidupku. Bayi itu tidak ada bagus-bagusnya. Berselaput dan berlumur darah. Matanya masih terpejam. Rambutnya banyak, pipinya gendut. Saya langsung mengucap syukur. Belum lagi kata amin meluncur dari mulut saya, terdengar lengkingan tangisnya. Dulu saya tidak mendengar karena bius Total. Tepat pukul 13.15 Kamis, 31 Juli 2003 saya melahirkan anak kedua seorang perempuan. Yang kami beri nama Vanessa Elleanoor Monoarfa. Dengan berat 3,35 Kg dan panjang 51 cm.

Dari dua kali saya melahirkan secara Caesar di dua RS dengan kelipatan harga berbeda 100%. Namun uang tidak bisa bohong. Pada kelahiran yang kedua saya tidak semenderita saat melahirkan yang pertama. Saya sendiri juga heran. Tidak sampai 24 jam, saya sudah bisa berjalan bahkan cuci rambut di kamar mandi.Sikap Dokter dan susternya juga berbeda. Pada kelahiran yang kedua, RS terasa sangat nyaman karena suster dan dokter sangat ramah. Melayani dan merawat dengan lemah lembut. Berbeda dengan yang pertama, suami saya saja diusir tidak boleh berjaga. Walau sudah dikatakan saya melahirkan dengan cara Caesar. Di RS tempat saya melahirkan yang kedua, semua ramah dan baik. Bahkan makanannya pun lebih enak.

Memang Rp. 5.juta berbeda dengan Rp. 10 juta. Jadi kalau saya dapat fasilitas lebih baik dan lebih enak karena harga yang saya bayar juga lebih mahal dari yang pertama. Namun saya tetap tidak akan lupa, tekanan yang saya dapat sehingga saya memaksakan diri melahirkan yang kedua dengan cara Cesar. (Icha Koraag)