Tuesday, September 12, 2006

Kisahku: Sesekali cerita bapaknya dong!



SESEKALI CERITA BAPAKNYA DONG!


Selain suka menulis, aku sebenarnya orang yang juga gemar bercerita. Ketika aku mogok menulis, aku banyak bercerita. Biasanya kalau aku pulang dari luar kota, teman-teman sekantor akan menyambut: ” Aha akhirnya datang juga!, Sepi tahu mbak, gak ada mba tiga hari”. Ada juga yang berkomentar: ”Eh ala, tak kira si mami udah lupa balik kantor, kangen tahu mi”.

Biasanya aku akan tertawa dan jujur aku merasa senang. Lelah? Pasti masih terasa. Cuma laporan harus segera masuk, jadi pasti datang dari luar kota, besoknya sudah hadir di kantor. Ketika datang, mereka (Maksudku teman-teman sekantor) akan menunggu cerita-ceritaku. Kalau Bos belum datang, sedikit cerita pasti aku bagikan. Seperti perjalanan dinasku yang terakhir ke Jogya. Aku menceritakan, pengalamanku berjalan-jalan dengan tukang becak. Mulai dari Pasar beringhardjo, Keraton, Taman Sari sampai makan siang berdua di warung gudeg.

Ada juga yang bertanya, apa aku tidak riskan berjalan dengan tukang becak? Dengan santai ku jawab,” ya kalau riskan gue yang sial dong masa keliling Jogya jalan kaki. Ya, enakan sama tukang becak. Dia genjot becak, gue duduk menikmati angin dan permadangan!” Temanku menjawab ”Brengsek gue kira loe jalan-jalan berduaan sama tukang becak, sampai makan berdua juga!” Aku tersenyum lalu kukatakan: ” Otak loe yang gak beres. Iseng amat gue jalan-jalan sama tukang becak. Eh Gak salah juga sih, gue emang akhirnya makan semeja berdua. Masa gak ada terima kasihnya setelah keliling-keliling. Lagian makan siang kan gak sampai dua puluh ribu. Kapan lagi bisa makan bareng tukang becak. Biar dia punya cerita sama anak-anaknya, makan siang sama gue”.

Kegemaranku bercerita baik hal-hal yang kualami atau cerita-cerita tentang pola tingkah anak-anakku sudah dikenal baik oleh teman-teman sekantor. Jadi pernah juga kutanyakan, apakah mereka bosan dengan ceritaku tentang anak-anak? Sebagian menjawab tidak. Bahkan mereka bilang, malah jadi ingin bertemu Bas dan Van.

Tapi ada juga yang berkata: ”Bosenlah mba. Sesekali cerita bapaknya dong!” Lalu kujawab: ”Bukan gue tidak mau cerita tentang laki gue, takut yang belum menikah nanti mau buru-buru menikah dan yang sudah bersuami membandingkan dengan laki gue!” Spontan pecahlah tawa ngakak beramai-ramai. Salah seorang nyeletuk diantara gelak tawa ”Huh, GR emangnya laki loe supermen”. Lalu kujawab lagi ”Supermen banget, kalau supermen betulankan pakai celana dalamnya di luar nah kalau laki gue, bagian dalemnya yang diluar”. Gelak tawa kali ini diikuti hentakan kaki dan hentakan tangan di atas meja. ’Gilaaaaaa !!!! si mami makin gila!’ Jerit salah seorang temanku sambil menenangkan diri dari rasa gelinya.

Sesaat kemudian, semua ramai-ramai mendesakku untuk bercerita. Lalu ku katakan lagi “Cerita Frisch cuma untuk gue dan biasanya antara gue dan Frisch jarang bicara, kita langsung memperagakan!” kali ini gelak tawa gak kurang dari yang pertama. Aku senang saja membuat orang tertawa, padahal kalau aku renungkan, apa yang ditertawakan? Aku kan belum bercerita apa-apa. Kesimpulanku, mereka menertawakan apa yang ada di alam pikiran masing-masing. Terlepas dari itu, aku merasa senang jika bisa membuat orang lain tertawa. Ketika kita tak mampu memberi dalam bentuk materi, maka gak ada salahnya memberikan penghiburan. Membuat orang lain merasa senang kita juga akan merasa senang, percaya deh!
(Icha Koraag, 13 September 2006)