Wednesday, September 13, 2006

Kisahku: Uppss… rasanya jadi ingin dipeluk…!

“Upss….RASANYA INGIN DI PELUK !”

Waktu amat cepat berlalu, jam dinding di ruang kerjaku sudah menunjukan pukul 11.50. Hampir menjelang waktu makan siang. Sejak pagi tadi aku menyelesaikan laporan perjalanan dinasku ke luar kota. Punggung, jemari dan mataku baru terasa pegal. Ku pejamkan mataku, mencoba santai sejenak. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang menyapa:

“Gak sehat non?”
Kubuka mataku dan memberi se-ulas senyum. Mba Milly, rekan seniorku berdiri menatapku cemas.
“Enggak lah, Mba. Cuma sedikit pegal”
“Buat laporan yach?”
"Makan dulu yuk, dah laper nih!” ajaknya bersahabat.

Jujur saja selera makanku lagi tidak ada. Aku kembali mengingat-ingat pertengkaranku semalam dengan suamiku. Rasa jengkel ini, masih memenuhi jiwaku. Pantang bagiku menangis di depan suami, apalagi kalau sedang bertengkar. Tapi kini aku merasa ingin menangis. Aku sangat mencintai suamiku dan aku juga sangat menghormatinya, jadi tuduhan-tuduhan kalau aku tidak menghargai suami membuatku jengkel. Aku memang bukan dari keluarga Jawa yang konsep mengasihi suami dengan mengabdi dan cenderung bertutur halus karena memang budayanya.

Aku dibesarkan di sebuah keluarga ABRI. Memang semua saudaraku perempuan tapi didikan ala militer ayahku dan ibuku yang berprofesi guru, sangat membentuk kepribadianku yang keras. Termasuk dalam intonasi berbicara. Aku berkeyakinan tidak perlu meminta izin pada suami jika aku ingin pergi atau berjalan-jalan. Aku hanya memberitahukan aku akan kemana. Karena aku berkeyakinan sekali lagi berkeyakinan kami setara. Dan aku juga tidak punya kewajiban menyediakan minum atau sarapan dipagi hari. Jika aku menyediakan minum dan sarapan dipagi hari karena aku mencintai suamiku. Sehingga yang aku lakukan karena cinta. Bukan kewajiban. Termasuk kalau aku rela, terjun ke dapur untuk masak makan malam, sepulang dari kerja. Bukan karena kewajiban, tapi semata aku ingin memberikan yang terbaik pada orang yang aku cintai.

Hingga saat ini, aku masih bingung atau heran jika ada diantara teman-temanku yang sudah menikah dan tidak bisa berkumpul lantaran tidak diizinkan suami. Sosialisasi dan aktualisasi diri menurutku, termasuk dalam hak dasar setiap orang. Seorang suami tidak berhak membatasi ruang gerak istri. Memang aku juga tidak setuju atau membenarkan perempuan-perempuan yang clubing atau hang out sampai lupa waktu, sementara di rumah ada anak dan suami. Aku masih bisa nonton dengan teman-teman kantorku atau jalan di plaza bareng teman-teman. Suamiku tidak keberatan pulang lebih dulu supaya bisa mengawasi anak-anak. Toh dilain kesempatan aku juga memberi keleluasaan buat suamiku beraktivitas. Bahkan Sabtu dan Minggu yang awalnya kita sepakati sebagai hari atau waktu untuk keluarga, kenyataannya bisa berlaku fleksibel. Kalau suamiku harus ke kantor atau perlu menemui kawan-kawannya lalu aku tinggal di rumah bersama dua balitaku, aku ok-ok saja.

Yang terkadang tidak masuk dilogikaku, adalah jika kita sudah bersusah payah bekerja kantoran setiap hari, berangkat dari rumah pukul delapan pagi dan kembali pukul tujuh malam, Senin sampai Jumat lalu Sabtu dan Minggu mengurus anak dan keluarga. Lalu tidak ada waktu untuk diri sendiri. Wanita bekerja yang juga sekaligus istri dan ibu punya hak memberi ruang dan waktu buat dirinya sendiri. Entah itu bersosialisasi dengan teman-temannya atau sesekali memanjakan diri ke salon untuk sekedar lulur atau Menicure dan Pedicure.

Dan komitmen kami berdua memang mengenai kepercayaan. Kepercayaan yang sudah diberikan janganlah disalahgunakan, apapun alasannya. Kami membangun rumah tangga dengan cinta dan tekad membawa biduk ini laju ke samudera kehidupan. Berharap akhirnya kami tiba di suatu tempat yang memang penuh cinta. Sehingga kami rela, saat ini berpayah-payah usaha untuk menuju impian itu.

Dan kami juga percaya derita dan harapanlah yang menjadi tanda kami masih hidup. Dimana ada derita di situ ada harapan dan dimana ada harapan di situ ada kehidupan. Derita membuat kita ingat siapa diri kita. Bahwa kita cuma manusia biasa yang terdiri dari darah, daging dan roh yang sifatnya sementara. Karena kekekalan bukanlah milik kita. Jadi selagi roh masih bersatu dengan raga isilah hidup ini dengan sesuatu yang bermakna, minimal bagi diri dan lingkungan terkecil, yakni keluarga.

Pertengkaran di mulai dari hal yang sepele. Kemarin hari Minggu, seperti biasa Vanessa bangun paling dulu. Lalu aku mengajaknya berjalan-jalan sekaligus berbelanja. Aku berencana menyiapkan makan siang. Belum lagi pukul sebelas, masakan sudah siap. Memang bukan aku yang memasak, tapi aku yang berbelanja dan memikirkan menu apa untuk siang ini. Betapa marahnya aku ketika ku tau suamiku memilih makan nasi dengan mie instant.

Sepele sebetulnya. Aku tidak akan marah kalau ia tidak tau aku sudah menyiapkan makan siang. Minimal kalau ia hendak makan mie instant, ketika melihat belanjaanku, ia bisa berkata: “Gak usah masak ma, santai aja. Aku makan mie instant saja!”

Kalau saja ia berkata demikian, aku bisa santai. Biar kedua pembantuku tidak perlu masak tapi cukup mengawasi anak-anakku dan aku bisa santai membaca novel. Selama ini aku selalu berorientasi pada makanan kesukaannya. Bahkan aku yang suka makan pedas, nyaris tidak pernah lagi memakai cabai untuk setiap masakan.

Sehingga teguranku yang menyesalkan ia makan mie instant, berbuntut pada tuduhan aku tidak menghargai atau menghormati. Suamiku berdalih, “Mau makan di rumah sendiri saja tidak tenang!” Kemarahanku makin memuncak, sebagai istri aku peduli pada kesehatannya. Aku tau dalam seminggu bisa dihitung berapa kali dalam makan siang ia mengkonsumsi makanan sehat. Jadi salahkah aku jika Sabtu dan Minggu berusaha memenuhi makanan sehat untuk dikonsumsinya?”

Dan satu sifat suamiku yang sampai sekarang aku benci. Jika bertengkar denganku, maka ia biasa melakukan aksi tutup mulut. Dalam sembilan tahun pernikahanku, aku banyak belajar dalam menghadapi kelakuannya. Aku tau ia juga belajar atas kelakukanku. Karena itu jika ia memilih diam, aku pun diam. Kadang aku berpikir, mungkin itu usahanya meredam emosi. Aktivitas sih tetap seperti biasa, aku menyediakan keperluannya dan biasanya jika ia menolak apa yang aku siapkan, ia tau resikonya. Misalnya, aku sudah menyiapkan baju kerja tapi tidak dipakai. Maka selanjutnya aku tidak akan menyiapkan baju kerjanya. Begitu juga mengenai masakan, karena pengalaman minggu siang itu lalu aku katakan, aku tidak akan menyiapkan makan lagi. Silahkan atur sendiri. Aku lebih senang karena berarti satu pekerjaan berkurang.

Cuma kadang kasihan pada anak-anak. Bastiaan sangat perasa, ia tau kalau kedua orang tuanya sedang tidak bicara. Biasanya yang jadi pertanyaan Bastiaan, “Mama sudah tidak sayang papa lagi?” Dan itu pun ditanyakan ke suamiku, “Papa sudah tidak sayang mama lagi?”. Biasanya jawaban kami pun sama. Papa tuh yang sudah tidak sayang mama atau mama tuh yang sudah tidak sayang papa. Dan kata orang tua ada benarnya, anak menjadi pereda kemarahan. Karena biasanya pertengkaranku juga selesai. Bagaimana bisa marah, jika Bas dan Vanessa sudah berguling-guling di tempat tidur, menaiki tubuhku dan suamiku? Akhirnya kami berempat bergulat bersama-sama sambil tertawa-tawa. Dan aku sudah membayangkan akhir pertengkaran kami nanti. Persoalannya hal itu masih beberapa jam lagi. Jadi aku masih harus bersabar untuk gencatan senjata, pulang kerja nanti.

“Nah, ya melamun lagi!” Mba Milly kembali sukses mengejutkan ku.
“Ngagetin aja!” kataku
“Ada apa sih?” Tanya Mba Milly
“Aku lagi sebel ama Frisch!” Jawabku setengah bersungut.
“Jangan dong. Mas Frisch kan orangnya baik!” kata Mba Milly
“Masa sebel gak boleh?”
“Boleh aja, tapi gak usah dipanjang-panjangin. Ntar aku telephone deh…! Goda Mba Milly
“Jangan !” protesku cepat.
“Makanya, jangan musuhan!” serunya sambil menyeruput juice tomatnya.
"Emang Mba Milly, gak pernah sebel sama si Aki?”tanyaku sambil menatapnya.
“Pernah sih, tapi gak ada untungnya. Malah bikin sakit kepala. Mana kita sebel, si Aki gak ngerti kalau kita lagi sebel ama dia. Jadikan rugi, kita kesel sendiri!”. Jawab Mba Milly. Kali ini setengah cemberut.

“Setuju! Itu juga persoalan yang aku alami. Kita masih sebel sementara pasangan kita gak merasa.!” Aku menyetujui komentar Mba Milly.
“Makanya aku mendingan cuek. Gak terlalu mau dipikirkan!” Kata Mba Milly lagi.
"Bisakah aku seperti itu? Tanyaku pada diri sendiri.
“Setiap hari selalu ada hal baru. Bertahun kita hidup dalam rumah tangga, tetap saja ada bagian yang tidak kita kenal. Bagaimana kita bersikap, sebenarnya itu yang akan menentukan, kemana hubungan ini berjalan. Jadi hadapi hidup dengan optimis saja. Kalau kesel sama pasangan kita, anggap saja kita baru mengenalnya. Jadi tidak perlu dipikirkan. Pendapat atau sikap orang yang baru kita kenal kan tidak akan mempengaruhi. Makanya Es We Ge Te El deh!” lalu diteruskan’”So What Gitu Loh!” katanya sambil terbahak.

Aku ikut tertawa. Dalam hati aku membenarkan, sekarang pasangan kita sudah kita nikahi sehingga kesal berlama-lama malah akan merugikan diri sendiri lantaran gak merasa nyaman. Hatiku sedikit plong, yach aku gak akan terlalu memikirkan. Cuek saja!. Toh hidup berlanjut terus, kekesalan sesaat anggap saja intermezzo hari ini. Toh sekesal-kesalnya aku pada suamiku, cintaku masih lebih besar. Uppss… rasanya jadi ingin dipeluk…!(Icha Koraag)

“20 April 2005. Marahannya sih minggu lalu!”