Thursday, September 28, 2006

Obroanku: Kalau suamiku jadi Menperindag!


Obrolanku : KALAU SUAMIKU JADI MENPERINDAG

. Tulisan ini lahir dari hasil obrolan saya dengan suami. Kamis, 28 September 2006, Kompas menurunkan salah satu berita mengenai PT Toyota yang meluncurkan Varian Baru Mobil Toyota Avansa dengan kekuatan mesin 1500 cc. Sepengetahuan saya, Avansa dan Xenia adalah dua jenis mobil yang diproduksi dengan sasaran kaum menengah. Deperindag mempunyai andil besar dalam melobi para produsen mobil untuk mau menurunkan biaya produksi dan keuntungan dengan tidak menurunkan kualitas produksi.

Singkat cerita lahirlah Xenia dan Avansa yang awalnya ditawarkan dengan harga berkisar antara 60-70 juta rupiah. Sedangkan varian Avansa dengan mesin 1500 cc dikeluarkan dengan jenis matic dan manual. Matic seharga Rp 139 juta on the road dan manual Rp. 129. juta on the road. Ketika saya diskusikan dengan suami saya, suami saya tertawa.

“Itulah bodohnya orang kita termasuk menperindagnya. Itukan akal-akalannya pengusaha. Avansa diproduksi dengan tujuan menyediakan mobil untuk kaum menengah dengan harga terjangkau. Kalau dibuat dengan 1500 cc dan djualnya lebih mahal 80 % kan lucu, Padahal yang berubah hanya kapasitas mesinnya saja. Logikanya, harga maksimal yang bisa ditawarkan tidak lebih dari Rp. 90 juta. Itu sudah memperhitungkan kenaikan cc dan inflasi.” Ujar suamiku.

Dalam hati aku membenarkan. Yang naiknya cuma kapasitaas mesin loh kok naiknya secara keseluruhan bahkan lebih dari 80 %? Lalu suamiku melanjutkan lagi.

“Harusnya menperindag tidak mengizinkan pengusaha memproduksi avansa dengan varian mesin 1500 cc karena pengusaha paling jago kalau bikin akal-akalan. Namanya avansa dari toyota, bisa jadi yang dipasangkan mesin kijang. Artinya dari segi produksi mesin, pengusaha tidak menginvestasikan teknologi baru. Dengan sendirinya, harga jual mobil tersebut tidak boleh lebih mahal.

‘Mungkinn saja pa, tapikan namanya juga pengusaha pastinya cari untung! Ujarku.

“Buat pengusaha tidak untung sama dengan rugi. Padahal kalau tidak untung bisa saja impas. Atau jika hari ini untung Rp. 10.000 dan besok untung cuma Rp. 5.000, bagi pengusaha artinya rugi. Padahal jelas-jelas ada pemasukan lebih Rp. 5.000 setelah dipotong pengeluaran. Yang artinya ada keuntungan. Cuma karena kemarin untungnya Rp; 10.000 dan hari ini cuma Rp. 5.000 maka si pengusaha merasa rugi Rp. 5.000. Pola pemikiran semacam ini yang harus dihentikan. Saya paham setiap pengusaha ingin mencari keuntungan tapi kalau sudah menyangkut kebijakan pemerintah dan khalayak masyarakat luas, maka sipengusaha harus mereformasi pola pikirnya.”

“Saya sependapat tapi merubah mind set orang yang mentargetkan keuntungan sebesar-besarnya tidaklah mudah” kataku

“Makanya, kalau saya jadi menperindag, saya akan melarang memproduksi varian mesin avansa apalagi dengan harga jual yang tidak bisa diterima akal sehat. Menperindag harusnya bukan sekedar melindungi kepentingan pengusaha tapi masyarkat luas sebagai konsumen akhir juga harus menjadi pertimbangan. Apalagi jika tujuan awal diproduksinya mobil murah karena ingin memberikan yang terbaik buat masyarakat.”

Wah kalau suami saya jadi menperindag, saya jadi ibu- Dharma Wanita dong! Aduh gak kebayang deh! (Icha Koraag, 28 September 2006. 23.30)

2 comments:

Lukman Nul Hakim said...

Saya doain deh biar Bapaknya jadi Memperindag, supaya Avanza 50 juta aja.. :)

Tiga Bunga Kota said...

hehehe..suka euy baca tulisan2nya mbak Icha...salam kenal ya mbak, aku Dewi Rieka, dari milis sekolah kehidupan juga..