Wednesday, October 11, 2006

Mata Hatiku

Mata hati

Sinarmu terpancar penuh kasih dan kelembutan
Menjadi penunjuk langkah yang harus kutempuh
Tapi kadang cahayamu tak dapat kulihat
Sehingga aku menyimpang ke jalan yang gelap

Kalau seruanMu menyentuh gendang telingaku
Tiba-tiba saja cahaya mata hati ini menerangiku
Dapat kulihat tubuh ini yang berbalut dosa
Hingga rasa malu mampu menebus ke ujung kalbu

Masihkah pintu ampunan terbuka untukku, ya Tuhan?
Kala mata hati telah buram oleh hawa nafsu.
Telaga bening dalam jiwa ini menjadi kering.
layu lalu menjadi debu dan terbang dibawa angin

Hingga ahirnya hati menjadi tawar, tak ada lagi rasa.
Ku coba bertahan dengan kekuatanku,
Tapi Tuhan, aku cuma manusia biasa
Masihkah ada waktu bagiku untuk bertobat?

Bisikan caranya padaku, ya Tuhan.
Agar kumampu menjaga mata hati ini
Agar sinarnya tetap menjadi
Penuntu ke jalanMu.

Icha Koraag
12 Oktober 2006

Kisahku: BUKANKAH SEKS ITU, NIKMAT?

BUKANKAH SEKS ITU, NIKMAT?


Pemilihan Presiden sudah semakin dekat. Sebagai rakyat biasa, tentu saya berharap banyak pada calon pemimpin negeri ini untuk periode 2004-2009. Persoalannya, begitu banyak manuver yang dilakukan politikus, bermacam pernyataan disampaikan dan tak sedikit pernyataan yang malah makin membingungkan. Kadang kala malam hari saat hendak tidur, benak saya tidak bisa istirahat. Bahkan berpikir lebih banyak dan lebih keras dibanding siang hari.

Bermacam-macam pertanyaan timbul dalam pemikiran dan seperti sebuah resonansi gelombang yang terus mencoba mencari jawaban dari semua informasi yang saya baca, dengar atau lihat. Kenyataannya tidak ada satu pun yang bisa memberi gambaran atau jawaban yang pasti. Siapa yang akan memimpin negeri ini ? Siapa yang dapat dipercaya, siapa yang layak memimpin bangsa ini. Dan apa kriteria yang dirumuskan calon-calon pemimpin itu sudah sesuai dengan harapan rakyat? Tidak ada seorangpun yang dapat memberi jawaban yang pasti. Semua sedang menunggu. Entah apa yang ditunggu. Tapi barangkali inilah panggung politik. Dulu lawan sekarang kawan. Begitu pula sebaliknya, dulu kawan sekarang lawan.

Ternyata mahal sekali harga sebuah demokrasi. Sekian generasi harus menjadi korban dengan alasan sebagai tumbal proses menuju demokrasi. Tapi yang namanya proses tidak pernah berhenti. Berjalan terus ke arah mana ia mau berjalan. Siapa mau ikut silahkan, siapa mau membelokkan silahkan. Tinggal siapa kuat yang nantinya akan mengarahkan. Lalu dimana yang namanya rakyat? Semua mengatas namakan rakyat tapi rakyat yang mana? Apakah rakyat yang banyak ini, merasa diperjuangkan hak dan martabatnya?

Mungkinkah rakyat bisa berkumpul menjadi satu kesatuan atas nama kemanusiaan? Melepaskan semua “Baju” yang bisa membedakan satu dengan lainnya? Apakah Motto “BHINEKA TUNGGAL IKA?” Masih berlaku?Apakah benar pembelajaran melalui media, telah memberi ajaran yang benar sehingga apa yang dipahami rakyat sesuai dengan yang seharusnya? Atau pembelajaran tadi sekadar membuka kesadaran bahwa rakyat punya hak? Sekadar punya tanpa dapat menggunakan haknya?

Tanpa terasa, adzan subuh sudah berkumandang. Kokok ayam jantan telah mengantar fajar, menandai hari baru telah tiba. Tapi pemikiran dan pertanyaan yang bermain-main dalam benak saya seperti anak-anak Taman Kanak-Kanak yang asyik bermain di taman. Tidak terbebani apakah pulang sekolah nanti ibu/ayah akan menjemput. Atau apakah sesaat lagi makan siang tersedia? Yang mereka pahami dunia ini indah, meski itupun terbatas bagi anak dari golongan sosial ekonomi tertentu. Karena nun jauh di pelosok desa di salah satu sudut Indonesia Raya. Bocah-bocah kecil bertelanjang kaki, memikul jerigen, berjalan berkilo-kilo meter untuk mengangkut air. Jangan tanya kapan bocah-bocah itu bermain. Bermain bagi mereka adalah menggembalakan sapi, kerbau, babi dan kuda. Bermain bagi mereka adalah berjalan melintasi padang rumput/hutan atau gunung dan sawah untuk mencari air dan kayu bakar.

Tapi herannya, apa yang saya saksikan ketika melakukan perjalanan dinas ke sebuah desa nun jauh di salah satu pelosok Indonesia Raya, tepatnya di Waikabubak, Sumba Barat NTT. Beberapa kantor partai politik bahkan ada yang berdiri di tengah sawah atau ladang atau padang rumput. Berbentuk bangunan dan di depannya ada papan yang bertuliskan Parpol cabang ranting……Dan ketika saya berjalan di desa tersebut, cukup banyak orang (tua-muda, laki-perempuan) yang memakai kaos dari partai-partai peserta pemilu. Lagi-lagi membuat saya berpikir, apakah bangunan itu ada dan digunakan kalau tidak sedang pemilu? Jujur saja , hati saya terusik. Apakah kehadiran partai-partai politik di tempat itu memang harus ada.

Artinya karena disitu masih ada warga Indonesia yang mempunyai hak memilih dalam Pemilu, maka mereka ada. Karena suara tadi bisa mendongkrak rating partai tersebut dalam memperebutkan kursi pemerintahan? Jujur saja, saya tidak percaya para pemimpin partai itu pernah peduli pada keberadaan orang-orang yang ada di sudut-sudut Indonesia raya. Mengapa saya tidak percaya. Hati ini, coba menjawab. Indonesia merdeka sudah 59 tahun. Tapi kok masih ada warga Indonesia yang tidak bersekolah? Bukan sekolahnya yang tidak ada. Tapi muridnya yang tidak ada. Bagaimana murid bisa sampai disekolah dan belajar jika tuntutan membantu orang tua mencari nafkah lebih penting? Mengapa harus membantu orang tua? Karena kalau tidak, siapa yang akan memberi mereka makan? Jika untuk mencapai sekolah mereka harus berjalan kaki 5-6 km, kapan mereka punya waktu membantu orang tua.

Apakah calon-calon presiden yang akan bertarung memperebutkan kursi kepresidenan, punya misi mengatasi persoalan ini? Itu persoalan yang jauh di salah satu sudut Indonesia Raya. Bagaimana dengan SMPN 56 Melawai? Kalau PGRI, lembaga yang mengatasnamakan Persatuan guru justru merasa dilecehkan oleh Nurlaila yang mengklaim dirinya sebagai kepala SMPN 56. Saya jadi ingin bertanya, sebetulnya PGRI dibentuk oleh siapa dan terbentuk karena apa dan dibentuk untuk siapa?

Hari sudah semakin terang, pemikiran saya belum juga berhenti. Tapi kalau pemikiran dalam benak saya sudah berhenti berarti saya sudah mati. Pernah juga terpikir mungkin mati lebih baik daripada hidup dinegeri yang terlihat indah di luar namun chaos di dalam. Tapi siapa yang akan membesarkan anak-anak saya? Saya tidak akan rela mereka menjadi sia-sia. Karena keberadaan buah hati saya, adalah harapan hidup saya. Untuk mereka lah saya berjuang dan mencari nafkah untuk memberi sedikit bekal berjuang dimasa mendatang. Karena saya tidak pernah tahu sampai kapan saya hidup. Dan sampai kapan pemikiran-pemikiran yang bermain dalam benak saya bisa beristirahat. Soalnya, karena hidup manusia berpikir. Dan manusia harus berpikir agar tetap hidup. Saya jadi pusing karena belum tidur tapi sudah harus mandi dan berjuang melawan kemacetan Jakarta dan datang ke tempat kerja. Berkutat dengan pekerjaan dan kehidupan yang terus berjalan.

Mungkin tulisan ini saya sambung lagi, kalau saya tidak bisa tidur lagi. Tapi kalau saya minum obat untuk membantu melelapkan tidur, berarti tulisan ini sampai disini. Karena lagi-lagi saya ingin jujur, banyak yang ingin saya tulis, karena pemikiran didalam benak saya tidak pernah berhenti. Semakin banyak yang dipikir semakin membuat pusing tapi anehnya terus dipikir. Tapi inilah hidup…. “Mama….tidak tidur ?”

Kupejamkan mataku, mencerna panggilan itu. Perlahan ku buka dan kutengok ke arah sumber suara. Kulihat suamiku terbaring di ranjang kami. Sisi tempatku tidur masih rapi, karena aku memang belum tidur. Sekarang suamiku tidur beralaskan kedua tangannya yang terlipat. Sosoknya yang tinggi besar, nyata betul diranjang kami. Kedua lengannya berotot membingkai kepalanya di atas bantal.. Matanya menatapku. Seharusnya aku berada dalam pelukan kedua tangan yang berotot itu. Bukan di sini duduk di meja kerja di depan komputer.
“Aku tidak bisa tidur!” Lalu aku kembali menundukan kepalaku dan meletakannya di atas tangan di sisi Komputer.

Aku anak ke tujuh dari sebelas saudara yang semuanya perempuan dan semua hidup. Ayahku yang purnawirawan TNI AD mendidik kami dengan keras. Ia tidak segan-segan memukul kami dengan kopel rim tentaranya, jika kami mandi sore terlambat. Atau seusai pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah. Ibuku yang sempat menjadi guru, sama kerasnya. Kadang aku beranggapan bukan keras, Kedua orang tuaku galak! Tapi lama-lama kupahami arti didikan mereka, sebagai bagian menempa anak-anaknya agar menjadi orang yang tertib dan tangguh dalam semua keadaan.

Lepas kuliah, aku bergabung pada sebuah radio siaran yang mempunyai target pendengar perempuan. Aku banyak menimba ilmu di sini. Program acaranya bertujuan memintarkan perempuan. Perempuan diberikan porsi yang banyak untuk menimba dan bertukar ilmu. Aneka program yang disusun, membuat aku mengenal banyak pakar-pakar berbagai bidang dan aktivis-aktivis dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Apa yang disampaikan para pakar dan para aktivis itu, membentuk pemikiranku. Dan hal itulah yang aku sampaikan demi kemajuan bangsa. Aku berjuang untuk para perempuan dan anak-anak. Tapi tidak berarti aku memposisikan sebagai musuh kaum lelaki. Justru aku punya pemikiran, seharusnya lelaki dan perempuan setara. Karena mereka diciptakan memang setara. Bahkan beberapa pakar dan aktivis ku kenal dengan baik dan kujadikan tempat berkonsultasi.

Salah satu program yang aku bawakan Trend Wanita Aktif. Di program ini aku berdiskusi dengan seorang Psikholog. Namanya Yanti B Sugarda. Kini ia menekuni dunia penelitian sosial dan pasar. Dalam salah satu siaran bertema Pro Kontra Wanita Bekerja, aku banyak mendapat masukan. Sebagian pendengar laki-laki dan perempuan berpendapat, seharusnya perempuan bekerja di dukung karena bisa membantu. Baik membantu ekonomi keluarga maupun aset bagi perusahaan di tempat perempuan itu bekerja. Namun jangan melupakan keluarga atau kewajiban sebagai ibu dan istri. Ada juga yang berpendapat, seharusnya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk para perempuan bersaing dan membuktikan kemampuan. Karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan mempunyai kemampuan yang setara. Dan biarkan laki-laki melihat perempuan juga punya kemampuan agar jangan diremehkan.

Tapi pendapat seorang bapak, benar-benar menjadi momentum awal bagi diriku. Sejak medengar pendapat si bapak, aku bertekad berjuang untuk perempuan. Bapak itu menyampaikan pendapatnya:
“Saya sangat setuju dan mendukung penuh para perempuan yang berkarir. Asal bukan istri saya!” Aku dan Ibu Yanti mengejar dengan berbagai pertanyaan lagi untuk menjelaskan, apa maksud pendapatnya. Si penelpon dengan tenang mengatakan,:
“Kalau itu istri orang lain biar saja. Saya hanya ingin istri saya untuk kami sekeluarga?
“Bukankah istri bapak juga milik orang tua dan saudara-saudara sekandungnya?
“Tidak lagi, karena sudah saya nikahi! Ia milik saya!”
Untung saat itu operator sudah memotong pembicaraan dan mengudarakan beberapa iklan. Aku dan bu Yanti bertatapan lalu tertawa pahit. Sebagai perempuan, jawaban si penelepon bagaikan tamparan bagi kami. Adalah kenyataan hingga kini kaum kami yang tertindas. Aku sempat menanyakan, apakah dengan menikah memang para istri otomatis menjadi milik si suami? Tidak bisakah si istri memiliki hidupnya sendiri?

Jika semua laki-laki berpendapat asal bukan istri saya, lalu perempuan mana yang bisa mengaplikasikan kemampuannya? Apa hanya para perempuan yang belum menyandang status istri? Untung aku mampu menguasai emosiku. Tapi pendapat bapak tersebut, buatku tidak adil. Aku tidak mengenal siapa istrinya. Atau apakah ia sudah beristri atau belum. Tapi satu hal yang aku tahu, satu kaumku sudah tersia-siakan atau akan di sia-siakan.

Aku tidak berpendapat bahwa semua perempuan harus berkerja atau berkarir. Apalagi mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Ada anggapan di masyarakat sekarang ini, dengan terbukanya kesempatan bagi setiap orang untuk mengikuti pendidikan tinggi bagi yang mampu baik materil maupun moril, maka jika ada perempuan yang sudah bergelar sarjana tapi memilih tidak bekerja adalah sia-sia. Aku tidak sependapat. Menurutku, seorang ibu yang berpendidikan akan mempunyai potensi keberhasilan yang lebih besar dalam mendidik anak-anaknya. Yang utama, keputusan untuk bekerja atau tidak bekerja datang dari dalam dirinya sendiri. Karena perempuan yang bisa mengambil keputusan dan berpikir rasional, dia perempuan yang hebat.

Kurasakan tangan kekar suamiku, memijat punggukku, duh nikmatnya. Kucoba berkonsentrasi menikmati sentuhannya. Tangan kekar seorang kekasih hati, mampu menghilangkan rasa pegal namun menimbulkan rasa yang lain. Gairah primitive.
“Enak, Ma?”
“He eh”.Kuresapi setiap sentuhannya tidak hanya dengan perasaan di kulit tapi juga dari hati yang paling dalam. Aku tahu, ia memijatku dengan cinta. Setiap sentuhan menimbulkan getar listrik dalam diriku. Getar yang memang selalu kami hidupkan sejak awal pernikahan kami. Pertengkaran atau perbedaan pendapat dalam keseharian tidak pernah mejadikan halangan bagi kami bersatu dalam tarian cinta. Dan tangan itu terus menari. Kini tidak hanya dipunggung tapi ke bagian-bagian lain tubuhku. Entah bagaimana, akhirnya kami sudah diranjang. Berolah tubuh di pagi hari. Membelai, menyentuh, saling memberi dan menerima. Rasa kantukku hilang sudah berganti dengan gairah kesegaran baru. Seakan mendapat tambahan energi, tarian cinta kami berakhir dalam kelelahan yang nikmat.

Andaikan dalam kehidupan sehari-hari, manusia bisa menerapkan seperti ketika melakukan seks, hidup ini akan lebih nyaman. Dalam hubungan seks, laki-laki dan perempuan, saling memberi dan menerima untuk mendapatkan kenikmatan bersama. Bukankah seks itu, nikmat? Bahkan pada situasi tertentu, ego laki-laki bisa turun pada titik terendah untuk melayani perempuan. Walau sebetulnya tujuan akhirnya adalah kenikmatannya sendiri. Bukankah ada syair“Wanita dijajah pria sejak dulu. dijadikan perhiasan sangkar madu….namun ada kala pria, tekuk lutut disudut kerling wanita”.

Tapi aku juga tidak heran jika orang menggunakan kemampuan bermain cinta untuk melobi. Tidak sedikit pejabat atau politikus yang terjatuh karena bermain cinta. Herannya ketika jabatan sudah di dapat bermain cinta menjadi salah satu target. Lihat dalam pemberitaan media, berapa banyak pejabat yang begitu dapat jabatan, istrinya bertambah? Atau perempuan simpanannya bertambah.

Padahal seharusnya ketika jabatan sudah di dapat, pembuktian terhadap kepercayaan yang dipikul itu yang diperlukan. Seks dan uang memang kenikmatan duniawi yang dikejar manusia tak berahlak. Maka tak heran ada seorang istri pembesar China dalam sejarah yang mengatakan senikmat-nikmatnya seks tapi lebih nikmat kekuasaan. Persoalannya siapapun tahu, sesudah kekuasaan di dapat, maka seks menjadi pelampiasan, jadi bukankah seks itu, memang nikmat? (Icha Koraag Akhir February 2004)

Monday, October 09, 2006

JEDA SESAAT UNTUK DAPATKAN ENERGI BARU.

JEDA SESAAT UNTUK DAPATKAN ENERGI BARU.

Tahun 2006, pernikahan saya genap 10 tahun tepatnya, 8 Juli 2006. Saya dan pasangan sudah dikaruniakan sepasang anak yang kini berusia 6 tahun laki-laki dan 3 tahun perempuan. Saya berbahagia dengan rumah tangga yang saya bangun walau kadang-kadang diwarnai pertengkaran . Saya dan pasangan meyakini pertengkaran adalah upaya pendewasaan diri untuk lebih memahami perbedaan.
Seiring usia anak-anak yang mulai memasuki sekolah, waktu untuk kami berdua menjadi terbatas. Kami memang bisa menikmati kebersamaan sebuah keluarga. Namun kadang-kadang timbul juga kerinduan ingin memiliki pasangan sebagai milik sendiri yang tidak ingin dibagi walau itu dengan anak-anak. Biasanya bila keinginan seperti itu timbul, saya berusaha mengalihkannya dengan meyakini, anak-anak berhak memiliki kami dan kami sebagai orang tua harus mengorbankan keinginan diri sendiri demi kepentingan anak-anak.
Saya dan suami nyaris tak memiliki waktu untuk kami berdua. Senin sampai Jumat kami sudah bergelut dengan pekerjaan masing-masing. Pagi pk. 07.00 kami sudah berangkat dan baru bertemu kembali pk. 07.00 malam, ciri khas kaum urban. Setibanya di rumah, kami harus memberikan apa yang menjadi hak anak-anak atas ayah dan ibunya.
Menanyakan kegiatan mereka seharian, termasuk saat-saat di sekolah dan apa yang mereka makan sepanjang hari dan apa yang mereka mainkan dengan teman-temannya. Makan malam bersama, lalu menemani belajar dan akhirnya meninabobokan mereka.
Lalu yang tersisa buat kami berdua hanyalah sisa-sisa energi. Saat anak-anak sudah terbuai mimpi, kami menyempatkan diri untuk membicarakan aktivitas masing-masing dan rencana besok. Lalu membuat kesepakatan baru untuk menyelesaikan persoalan yang ada.
Tanpa sadar kami sudah membuat mesin rutinitas. Kami membuat kebiasaan kebiasaan yang pada akhirnya kebiasaan-kebiasaan itu yang mengatur hidup kami berdua. Dan sama dengan kebanyakan rumah tangga lain, semua dijalani bagai mesin. Setiap hari urutan aktivitasnya sama, jika sedikit menyimpang dari kebiasaan lalu menjadi terkejut dan bertanya mengapa bisa begitu?
Padahal urut-urutan aktivitas tersebut terbentuk karena dibiasakan. Namun akhirnya kebiasaan tersebut yang menetukan aktivitas keseharian kami. Bukan kami tidak menyadari situasi itu. Justru kami sangat menyadari dan berusaha untuk bersikap fleksibel dalam arti semuanya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda.
Sebagai manusia biasa, kami juga dilanda perasaan bosan dan jenuh. Namun jika perasaan tersebut datang saya dan Frisch berusaha agar perasaan itu tidak menguasai logika berpikir kami. Sehingga kami tidak terjebak pada situasi yang memancing pertengkaran yang sebetulnya tidak berdasar..
Untuk mendapatkan tambahan energi baru dalam menjalani biduk rumah tangga terus dan terus kami upayakan. Misalnya sejenak meninggalkan anak-anak dan janjian untuk suatu makan malam yang sederahana. Di warung sotopun tak apa, yang penting kami bisa bicara berdua, bebas dari interupsi Bas atau Van. Atau menonton bioskop. Ini bisa mengembalikan energi postive dan meyakini kami memang masih saling memiliki.
Kadang-kadang saya suka berkhayal. Suatu hari nanti kalau punya uang yang cukup, saat anak-anak sudah semakin besar, saya ingin melakukan bulan madu kedua. Saya pikir, kami berhak mendapatkan kesempatan itu untuk merefresh komitmen kami. Siapa sih yang tidak ingin bersayang-sayangan tanpa memikirkan susu atau ompol si kecil? Walau hanya untuk satu malam. Bermimpi adalah hak setiap orang tapi mewujudkan impian tersebutlah yang hanya bisa dimiliki sebagian orang dan saya berharap saya termasuk yang sebagian itu. Karenanya saya terus menerus berusaha dan berdoa, bukankah Tuhan dekat pada orang-orang yang selalu berharap dan berusaha? (Icha Koraag, 8 Oktober 2006.Pk. 22.30)