Monday, October 09, 2006

JEDA SESAAT UNTUK DAPATKAN ENERGI BARU.

JEDA SESAAT UNTUK DAPATKAN ENERGI BARU.

Tahun 2006, pernikahan saya genap 10 tahun tepatnya, 8 Juli 2006. Saya dan pasangan sudah dikaruniakan sepasang anak yang kini berusia 6 tahun laki-laki dan 3 tahun perempuan. Saya berbahagia dengan rumah tangga yang saya bangun walau kadang-kadang diwarnai pertengkaran . Saya dan pasangan meyakini pertengkaran adalah upaya pendewasaan diri untuk lebih memahami perbedaan.
Seiring usia anak-anak yang mulai memasuki sekolah, waktu untuk kami berdua menjadi terbatas. Kami memang bisa menikmati kebersamaan sebuah keluarga. Namun kadang-kadang timbul juga kerinduan ingin memiliki pasangan sebagai milik sendiri yang tidak ingin dibagi walau itu dengan anak-anak. Biasanya bila keinginan seperti itu timbul, saya berusaha mengalihkannya dengan meyakini, anak-anak berhak memiliki kami dan kami sebagai orang tua harus mengorbankan keinginan diri sendiri demi kepentingan anak-anak.
Saya dan suami nyaris tak memiliki waktu untuk kami berdua. Senin sampai Jumat kami sudah bergelut dengan pekerjaan masing-masing. Pagi pk. 07.00 kami sudah berangkat dan baru bertemu kembali pk. 07.00 malam, ciri khas kaum urban. Setibanya di rumah, kami harus memberikan apa yang menjadi hak anak-anak atas ayah dan ibunya.
Menanyakan kegiatan mereka seharian, termasuk saat-saat di sekolah dan apa yang mereka makan sepanjang hari dan apa yang mereka mainkan dengan teman-temannya. Makan malam bersama, lalu menemani belajar dan akhirnya meninabobokan mereka.
Lalu yang tersisa buat kami berdua hanyalah sisa-sisa energi. Saat anak-anak sudah terbuai mimpi, kami menyempatkan diri untuk membicarakan aktivitas masing-masing dan rencana besok. Lalu membuat kesepakatan baru untuk menyelesaikan persoalan yang ada.
Tanpa sadar kami sudah membuat mesin rutinitas. Kami membuat kebiasaan kebiasaan yang pada akhirnya kebiasaan-kebiasaan itu yang mengatur hidup kami berdua. Dan sama dengan kebanyakan rumah tangga lain, semua dijalani bagai mesin. Setiap hari urutan aktivitasnya sama, jika sedikit menyimpang dari kebiasaan lalu menjadi terkejut dan bertanya mengapa bisa begitu?
Padahal urut-urutan aktivitas tersebut terbentuk karena dibiasakan. Namun akhirnya kebiasaan tersebut yang menetukan aktivitas keseharian kami. Bukan kami tidak menyadari situasi itu. Justru kami sangat menyadari dan berusaha untuk bersikap fleksibel dalam arti semuanya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda.
Sebagai manusia biasa, kami juga dilanda perasaan bosan dan jenuh. Namun jika perasaan tersebut datang saya dan Frisch berusaha agar perasaan itu tidak menguasai logika berpikir kami. Sehingga kami tidak terjebak pada situasi yang memancing pertengkaran yang sebetulnya tidak berdasar..
Untuk mendapatkan tambahan energi baru dalam menjalani biduk rumah tangga terus dan terus kami upayakan. Misalnya sejenak meninggalkan anak-anak dan janjian untuk suatu makan malam yang sederahana. Di warung sotopun tak apa, yang penting kami bisa bicara berdua, bebas dari interupsi Bas atau Van. Atau menonton bioskop. Ini bisa mengembalikan energi postive dan meyakini kami memang masih saling memiliki.
Kadang-kadang saya suka berkhayal. Suatu hari nanti kalau punya uang yang cukup, saat anak-anak sudah semakin besar, saya ingin melakukan bulan madu kedua. Saya pikir, kami berhak mendapatkan kesempatan itu untuk merefresh komitmen kami. Siapa sih yang tidak ingin bersayang-sayangan tanpa memikirkan susu atau ompol si kecil? Walau hanya untuk satu malam. Bermimpi adalah hak setiap orang tapi mewujudkan impian tersebutlah yang hanya bisa dimiliki sebagian orang dan saya berharap saya termasuk yang sebagian itu. Karenanya saya terus menerus berusaha dan berdoa, bukankah Tuhan dekat pada orang-orang yang selalu berharap dan berusaha? (Icha Koraag, 8 Oktober 2006.Pk. 22.30)

No comments: