Tuesday, November 28, 2006

DOUBLE STANDARD

DOUBLE STANDARD


Minggu lalu ketika media memberitakan tewasnya seorang bocah karena ulah beberapa bocah lain yang mempraktekkan “Smack Down”. Beramai-ramai para orang tua (Suami-istri) berkomentar dan menghendaki tayangan Smack Down pada sebuat tv swasta dihentikan.

Kalau topik tersebut bukan gosip ibu-ibu arisan. Tapi kalau topik Dhani-Maia itu gosip arisan. Mengapa begitu ? karena menggunakan double standard.

Double Standrad atau standar ganda adalah pilihan yang banyak digunakan masyarakat untuk mesnikapi sebuah situasi. Atau dengan kata lain sebenarnya bisa dimaknai sebagai "tidak punya sikap" atau "hanya ikut-ikutan dan mencari aman."

Kebiasaan masyarakat baik laki-laki atau perempuan yang menggunakan standar ganda adalah kelompok masyarakat yang tidak berani berpendapat (Bukan tidak punya pendapat). Di sebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah pola asuh, dimana mengharamkan upaya menyampaikan pendapat. Orang tua hanya mendidik anak mendengar dan melaksanakan aturan yang dibuat orang tua tanpa boleh menyampaikan pendapatnya.

Saya tidak mengatakan pola asuh semacam itu salah tapi yang pasti pola asuh semacam itu menciptakan anak-anak yang tidak mampu mengeluarkan pendapat. Padahal menyampaikan pendapat adalah salah satu hak dasar manusia.

Salah satu reaksi dari tulisan saya mengenai Dhani-Maia, adalah gosip ibu-ibu arisan. Saya cuma mau meluruskan, dan mengatakan anggapan tersebut tidak benar. Saya hanya ingin menggugah sedikit rasa peduli pada sesama perempuan yang juga istri dan ibu. Tidak lebih!

Dari tulisan saya yang berjudul “SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA), saya mendapatkan reaksi sekitar 30 tanggapan. Tanggapannya bermacam-macam, ada yang malah menuduh saya menyebarkan gosip, ada yang membenarkan dan mendukung sikap Dhani dilihat dari sisi agama. Ada yang tak peduli dengan berpendapat itu urusan rumah tangga Dhani dan Maia. Ada juga yang beranggapan strategi pendongkarakan popularitas/penjualan album dan ada juga yang tidak setuju pada sikap Dhani.


Ini iklim demokrasi, siapapun boleh berpendapat, sama seperti saya yang bebas mempostingkan tulisan saya selama itu tidak melanggar SARA. Mari kita lihat dari substansi isi dan teknik penulisan. Saya melemparkan topik pembicaraan, anda mau menanggapi silahkan, tidak menanggapi ya silahkan. Karena apapun pendapat anda pastinya dipengaruhi oleh tingkat intelektual, pengalaman hidup, pemahaman ajaran agama dan pengetahuan sosial tentang hidup dan kehidupan.

Dari berbagai tanggapan saya bisa mendapat gamabaran seperti apa masing-masing orang yang berpendapat. Dan saya menghormati pendapat dan si pemberi pendapat. (Terima kasih untuk semua yang sudah bereaksi)

Pendapat yang mengatakan saya menyebarkan isyu atau gosip, itu hak anda berpendapat demikian, menurut saya kalau isyu atau gosip faktanya tidak jelas, sementara yang saya tuliskan faktanya ada. (Pernyataan Dhani adalah fakta)

Saya tidak bisa menanggapi pendapat yang mempertimbangkan agama karena saya tidak punya kapasitas untuk itu.

Pendapat yang mengatakan itu urusan RT Dhani dan Maia, saya sependapat. Tapi telah berubah menjadi urusan publik atau masyarakat yang lebih luas karena Dhani menggunakan Media massa (umum) untuk persoalan RT dengan kata lain, Dhani mengizinkan hal tersebut menjadi persoalan masyarakat. Dan disini masyarakat bebas menanggapi. Sebagai anggota masyarakat, saya peduli. Karena kepedulian saya maka saya menuliskan tulisan ini.

Dalam tulisan saya sebelumnya (“SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA)), jelas saya tuliskan, kita diajar untuk menjaga RT kita dengan saling menjaga, menyayangi, menghormati satu sama lain sebagai pasangan. Apakah pantas seseorang yang mengaku pasangan hidup kita (suami/istri) mempermalukan pasangannya dimuka umum? Jika ada ajaran yang mengajarkan untuk tidak saling menjaga. Menyayangi, menghormati satu sama lain sebagai pasangan yang menikah, tolong informasikan ke saya.

Dalam tulisan saya juga jelas saya tuliskan, persoalannya berbeda jika Dhani mengultimatum Maia langsung pada yang bersangkutan tanpa melibatkan Media massa (umum) Saya setuju pendapat yang mengatakan sajian infoteinment bagaikan makanan enak tapi tak begizi. Saya bukan orang yang gemar mencari tahu gosip selebriti tapi yang saya melihat informasi lain dibalik info tersebut.

Informasi bisa diperoleh darimana saja, ketika saya medengar infromasi ultimatum seorang Dhani pada Maia istrinya, saya tidak melihat mereka sebagai selebriti. Saya peduli pada persoalan ini, karena saya seorang perempuan yang juga istri dan seorang ibu.

Keluarga sebagai unit terkecil berperan besar dalam komunitas masyarakat yang lebih luas. Jika sebuah keluarga tidak mampu mempertahankan nilai-nilai moral dalam keluarga tersebut, maka komunitas masyarakat yang lebih besar akan menjadi ”sakit”. Ketika nilai-nilai sosial dan moral dalam sebuah keluarga tidak diperdulikan hanya berpijak pada nilai agama, semua hanya kepalsuan.

karena sesungguhnya tidak ada satu agama di dunia ini yang mengizinkan atau memberi hak salah satu pasangan yang terikat dalam sebuah pernikahan untuk mempermalukan pasangan lainnya dihadapan masyarakat luas. Sekalipun orang tersebut berpangkat, berkuasa, berpendidikan tinggi atau memiliki kekayaan melimpah.

Itu tidak menunjukan wibawa atau nilai lain selain membuka aib dan mencoreng aib di keningnya sendiri. Silahkan anda menilai sendiri tipe orang seperti itu dikaji dari sisi sosial, psikologi ataupun agama.

Saya sebagai anggota masyarakat, sebagai perempuan, sebagai ibu dan sebagai istri jelas tersinggung jika ada kaum saya diperlakukan seperti itu. Jangan dibelokkan pada pemahaman emansipasi. Saya tidak berpendapat emansipasi sebagai kebebasan perempuan untuk melakukan apa saja.

Bagi saya emansipasi adalah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kesepakatan. Artinya jika Dhani dan Maia sepakat Maia boleh bermusik hanya Sabtu dan Minggu bukan All day. Loh kok setelah kebablasan baru ditegur? Saya percaya pasangan yang baik akan selalu mengingatkan dan menjaga pasangannya agar jangan salah jalan atau salah melangkah.

Termasuk kalau Dhani seorang laki-laki yang gentle, ia bisa melaporkan Maia telah melanggar Undang-Undang No. 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), Yaitu penelantaran rumah tangga.

Sebaliknya dengan mengultimatum lewat media massa justru Dhani yang telah melanggar UU PKDRT karena melakukan kekerasan psikhis.

Hal-hal baik dari kehidupan orang lain bisa kita tiru, sebaliknya hal-hal buruk dari kehidupan orang lain, kita hindari. Bukankah kita bisa belajar darimana saja termasuk dari kisah kehidupan orang lain ? dan itu yang sedang saya pelajari. (Icha Koraag, 29 nov 2006)

SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA)

Sebelum berangkat kerja, saya sempat mendengar informasi yang ditayangkan sebuah infoteinment di tv. Achmad Dhani, pentolan grop musik DEWA yang juga suami dari salah satu personil group vokal RATU, Maia, mengultimatum sang istri untuk membubarkan group vocalnya atau pernikahan Dhani dan Maia yang buyar!

Utimatum itu keluar dari mulut Achmad Dhani dan disiarkan semua infoteinment yang ada. Sayangnya pada waktu yang bersamaan, infoteinment tidak menginformasikan bagaimana reaksi dan pendapat sang istri, Maia.

Infoteinment hanya mengatakan dengan kalimat standar “Hingga informasi ini disiarkan, Maia belum bisa dimintakan pendapat. HP yang dihubungi pun tak tersambung”. Kalimat tersebut sebetulnya hanya upaya menunjukkan bahwa infoteinment sudah melakukan berita berimbang. Sudah menghubungi Maia namun yang bersangkutan tidak bisa dihubungi.

Achmad Dhani mengatakan, ia sangat terenyuh bahkan nyaris mengeluarkan airmata karena anak-anaknya melakukan semua aktivitas hanya ditemani pembantu. Makan dengan pembantu, nonton tv dengan pembantu, siap-siap ke sekolah juga dengan pembantu. Jika menggunakan daftar absen, sebagai seorang ibu, absen Maia sudah sangat banyak

Sebagai suami, Dhani meminta Maia keluar dari RATU, menghentikan semua aktivitas bermusiknya dan kembali ke keluarga. Ultimatum tersebut tidak main-main. Ini dapat dilihat dari tindakan Dhani yang memecat Vita yang di tunjuk Dhani untuk menjadi Manajer RATU. Dhani menilai Vita sudah gagal mengatur jadwal RATU yang berdampak pada kesibukan Maia, sehingga Maia menelantarkan keluarga.

Ternyata info yang mengatakan Achmad Dhani seorang yang otoriter, bukan isapan jempol. Pernyataan yang disampaikan Achmad Dhani kepada masyarakat melalui infoteinment, membenarkan anggapan selama ini, bahwa Achmad Dhani memang seorang yang Otoriter.

Saya jadi teringat ketika Maia baru menampakkan langkah kakinya di dunia musik Indonesia, dalam sebuah wawancara yang ditayangkan sebuah tv swasta, Maia mengatakan langkahnya ini direstui dan di dukung sang suami. Sang suami melihat anak-anak sudah besar dan dapat di tinggal, sehingga sang suami mengizinkan Maia kembali menekuni apa yang dulu pernah ditekuni (Maia sempat menjadi backing vocal)

Jika sekarang Maia, dinilai sudah keterlaluan oleh sang suami, maka yang menjadi keprihatinan adalah, apakah pasangan Dhani dan Maia tidak mempunyai hubungan komunikasi? Apakah Dhani dan Maia tidak tinggal serumah?

Dalam artikel yang berjudul ”Mengikis sifat Otoriter” yang di tuliskan Arland dalam milis ”Mencintai Islam”: Orang yang otoriter memandang dirinya lebih dari orang lain dan selalu melihat sesuatu dari sisi kejelekannya saja. Salah satu yang berbahaya di antara penyakit hati adalah sifat egois, tidak mau kalah, ingin menang sendiri, ingin selalu merasa benar, atau sifat selalu merasa dirinya tidak berpeluang untuk berbuat salah.

Apa yang dutuliskan Arland semua nampak dalam diri seorang Dhani Dewa. Bahkan tanpa perasaan malu mengultimatum istri sendiri dan mengumumkannya pada masyarakat luas. Bukankah kita diajarkan bagaimana suami-istri saling mendukung dan saling menjaga bukan saling mempermalukan.

Jika salah satu dari pasangan suami istri tersebut sudah tidak menghormati pasangannya, akankah kehidupan rumah tangganya dapat berjalan dengan baik? Memang tidak menutup kemungkinan Maia akan memilih rumah tangganya dan mengorbankan karir bermusiknya.

Saya bukan penggemar group vokal RATU,. Sayapun tidak merasa dirugikan jika group vokal RATU di bubarkan. Ada apa dibalik motivasi Dhani DEWA dalam mengultimatum sang istri. Sungguhkah didorong keprihatinan atas nasib ketiga anak-anaknya.

Atau karena kepopuleran Dhani dikalahkan oleh kepopuleran Maia? Jika prihatin terhadap nasib ketiga anak-anaknya, apakah ini bukan salah satu resiko yang sudah bisa dipredeksi ketika mengizinkan sang istri terjun ke dunia entertain? Apakah tidak ada komunikasi dintara pasangan Dhani dan Maia sehingga jadual Maia bisa terlampau banyak sehingga berdampak pada tingginya frekwensi meninggalkan keluarga?

Tahukah Dhani dengan tinggnya frekwensi manggung RATU berarti tebalnya kocek Maia? Apakah sesungguhnya Dhani mulai merasa terancam melihat perolehan Maia dari segi materi? Atau hal yang paling kecil tapi cukup prinsipil, Dhani kesepian? Sehingga ini hanya alasan dari niat yang sesungguhnya untuk melakukan tindakan lain?

Semua kemungkinan bisa dan mungkin terjadi. Seharusnya jika menghormati istrinya, ulmitumlah istrinya sendiri tanpa perlu menggunakan jalur umum. Dari sikapnya yang mempbulikasikan ultimatumnya pada masyarakat umum, menunjukan Dhani DEWA tidak menghormati lembaga pernikahan sekalipun itu pernikahannya sendiri.

Ini mengingatkan masyarakat pada sikapnya yang tidak sopan pada ayah kandungnya ketika sang ayah kandung membenarkan pernikahan Dhani Dewa dan Mulan Kwok, memang terjadi. So, Dengan kata lain , jika seseorang sudah tidak menghormati rumah tangganya, keluarganya, juga orang tuanya maka pada dasarnya orang tersebut tidak menghormati dirinya sendiri. (Icha Koraag)

Monday, November 27, 2006

KAMARKU

Kamarku adalah sebuah ruangan yang bisa memuat dua tempat tidur
spring bed ukuran 160 x 200 cm , dua nakas (Lemari kecil samping tempat
tidur) dan sebuah lemari serba guna untuk menyimpan seprei dan
meletakan tv di atasnya. Di atas kepala tempat tidur, kutempelkanlukisan pernikahanku dan di kiri kanan lukisan itu, kusandingkan nama
anak-anakku yang terbingkai, hasil sulaman ibuku.

Dinding kamar sengaja di cat warna krem agak memberi efek luas dan
cerah. Untuk memperindah dan memberi kesan nyaman, seprei-sprei yang
kupasang di tempat tidur selalu berbahan katun dan bermotif lembut.
Pilihan warna selalu ku pilih yang senada dengan warna dinding.
Buatku, kamar adalah tempat yang paling menyenangkan.

Bukan hanya sebagai tempat berisitirahat atau tidur. Kamar bagiku juga berfungsi
sebagai tempat bersenda gurau dengan suami dan anak-anak. Karena hanya
kamar tidur yang berpendingin ruangan. Dan kamar tidurku adalah kamar
tidur satu-satunya di rumah ini yang berarti juga kamar tidur suami
dan anak-anakku. Bisa dibilang, kami melakukan banyak aktivitas dalam
kamar tidur.

Dalam kamar ini juga aku menemani anak-anak belajar. Bas dan Van tidak
bersedia belajar di ruang depan dengan alasan gerah. Aku tahu, rumah
kami walau memiliki ventilasi cukup tetap tidak bisa menahan panasnya
udara kota Jakarta. Lagi pula aku mempertimbangkan kemampuan
konsentrasi anak-anak. Di ruangan yang panas, mereka cepat
berkeringat, itu membuat tubuh mereka tidak nyaman dan pada akhirnya
mengganggu konsentrasi belajar.

Di kamar ini pula, kala kedua anakku dibuai mimpi, aku dan suamiku
bertukar cerita tentang aktivitas masing-masing sepanjang hari ini.
Sambil berbaring dipangkuannya, kutumpahkan semua keluh kesah atau
bahagiaku. Tangan kekarnya senantiasa mengusap lembut punggung hingga
betis kakiku. Ku tahu, ia berusaha meringankan kelelahan dan rasa
pegalku.

Namun sering juga usahanya berakhir pada penyatuan tubuh kami dalam
tarian cinta. Kamar kami jadi saksi bisu. Dan biarlah tetap begitu.
Karena jika kamar ini bisa bicara, lebih dari seribu cerita bisa ia
ungkapkan. (Icha koraag)

LEBIH BAIK SAKIT GIGI DARIPADA PATAH HATI

Kalau saya tidak salah, kalimat judul di atas adalah penggalan salah satu lagu dangdut. Saya tidak ingat siapa yang mempopulerkannya. Dulu kalau mendengar penggalan syair tersebut, saya dan teman-teman biasanya tertawa ngakak seraya membenarkan dalam hati. Soalnya sakit gigi ada dokternya dan ada obatnya tapi kalau patah hati?

Padahal bagi orang yang sudah merasakan sakit gigi, bisa dipastkan tidak setuju sekali dengan kalimat judul di atas. Sakit gigi, adalah suatu penyakit yang tidak terlalu nampak, hanya sebatas dalam rongga mulut tapi kemampuan rasa sakit yang ditebarkannya mampu, membuat orang yang merasakannya tidak bisa tenang bahkan sakit gigi walau hanya satu dua hari terasa bagaikan tiada berakhir.

Pertanyaannya, siapa lagi yang mau patah hati? Pasti semua akan menjawab tidak ada yang mau. Persoalannya dapatkah kita memilih untuk tidak patah hati? Jawabannya tidak. Karena manusia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Barangkali kita perlu menelusuri terlebih dahulu, penyebab atau kemungkin yang bisa membuat patah hati.

Patah hati bisa diartikan baru putus cinta. Jadi supaya jangan patah hati, ya jangan putus cinta dong. Bagaimana caranya supaya jangan putus? Telaah kembali hubungan tersebut. Kalau tidak cocok jangan dipaksakan, kalau putus, yah jangan merasa patah hati dong. Lebih baik putus dari sekarang daripada putus setelah menikah.

Patah hati bisa diartikan cinta tak terbalas alias bertepuk sebelah tangan. Hey.............kenapa juga harus merasa patah hati hanya karena bertepuk sebelah tangan. Apa cuma dia mahluk di dunia ini? Tak bersambut, cari lagi yang lain. Ayo tepuk tangan sendiri, toh Tuhan memberi kamu sepasang tangan, tanpa orang lain kamu bisa bertepuk tangan sendiri. Intinya, jangan hancur karena sebuah penolakan. Buktikan orang itu menyesal pernah menolak kamu.

Patah hati bisa diartikan kekecewaan yang disebabakan gagalnya sebuah hubungan. Karena menyangkut sebuah hubungan pastinya melibatkan lebih dari satu orang. Dulu teman-teman saya pernah bilang, lebih baik patah hati daripada tidak pernah merasakan jatuh cinta. Hmm...bagaimana yah? Apa rugi tidak pernah jatuh cinta? Apa sih jatuh cinta? Mengapa orang bisa jatuh cinta? Apa bedanya jatuh cinta sama jatuh dari pohon? Pastinya sih, sama-sama sakit. Cuma kalau jatuh cinta, sakitnya tidak kelihatan kalau jatuh dari pohon, jelas kelihatan. Kalau tidak jidat benjol, yah paling-paling kaki atau tangan patah.

Kalau tidak mau jatuh dari pohon, maka jangan naik pohon. Maka dijamin kamu tidak akan jatuh dari pohon. So...apakah supaya tidak jatuh cinta lebih baik jangan berurusan dengan cinta? Apa ada yang bisa menolak cinta? Ih gila banget kalau ada yang bisa menentang kuasa alam.

Cinta itu anugerah terbesar dari sang pencipta. Menolak cinta sama dengan menolak anugerah Tuhan. Apa berani? (Kalau Van yang mengucapkan kata-katanya di balik menjadi berani apa?)
Kunci sebenarnya sangat sederhana. Terimalah jatuh cinta sebagai sebuah proses alam. Bagian dari proses kehidupan. Seperti air yang mengalir, jika dihambat akan meluap. Jika dibiarkan, air akan mengalir mengikuti alurnya. Demikian juga cinta, kenapa juga di tolak? Biarkan saja dia tumbuh dan berkembang menjadi bagian dalam diri kita.

Persoalannya tidak sesederhana itu. Kalau jatuh cinta pada orang yang salah? Loh kok bisa? Maksudnya cinta kita tidak berbalas lantaran orang tersebut tidak mencintai kita. Yah, sudah. Mengapa harus dipasa? Cinta itu lahir dari rasa. Jatuh cinta tidak pakai logika. Bahkan orang bilang cinta itu buta. Gara-gara cinta, maaf-maaf tai kucing bisa terasa coklat. (Apa iya...?) Itu pendapat orang yang jatuh cinta.

Padahal tidak benar! Ikuti saja naluri. Cuma jangan lupa, manusia itu bukan binatang. Manusia itu mahluk paling mulia ciptaan Tuhan yang dilengkapi akal dan budi. Jadi kalau binatang cuma punya akal tapi tidak punya budi. Nah manusia biarpun sedang jatuh cinta tetap harus menggunakan akal dan budi dalam mengendalikan rasa tersebut agar jangan salah melangkah.

Seperti apa sih rasanya jatuh cinta? Susah dijabarkan dengan kata-kata karena ini menyangkut rasa. Dan perasaan tiap orang itu sifatnya relatif. Ada yang bawaannya gembira terus, maunya tersenyum terus. Ada juga yang mendadak ingin berpenampilan rapi terus. Tapi ada juga yang terbayang terus wajah pujaan hatinya. Jadi maunya melamun terus. Padahal, kalau mau jujur, semua itu hanya emosional.

Kematangan suatu hubungan cinta lebih mengedepankan logika bukan emosi atau perasaan. Justru kalau kita mencintai seseorang, kita ingin orang tersebut berbahagia. Dan jika orang tersebut berbahagia dengan mengakhiri hubungannya dengan kita, itulah yang harus kita laukan. Itulah yang namanya cinta. Cinta tidak harus memiliki. Cinta yang besar tidak pernah berakhir karena The greates love is never end. Cinta sejati adalah cinta yang besar. Cinta yang rela dikorbankan demi kebahgiaan dari orang yang dicintai.

Ketika sampai pada keikhlasan, maka itulah sebenarnya yang dinamakan cinta. Termasuk cinta pada pasangan suami istri.
Ketika cinta di kedepankan maka yang ada pengabdian.
Ketika cinta dikedepankan, Tidak ada perasaan siapa lebih besar atau siapa yang harus dihormati.
Ketika cinta dikedepankan maka kita selalu mendahulukan orang yang kita cintai.
Ketika cinta dikedepankan maka kita ingin senatiasa membahagiakan orang yang kita cintai.

Cinta itu lemah lembut
Dapat kita pelajari dari kelembutan seorang ibu yang merawat bayinya
Cinta itu tidak menuntut
Dapat kita pelajari dari kerelaan induk harimau yang menyusui anak-anaknya
Cinta itu pengabdian
Dapat kita pelajari dari induk burung yang mengajarkan anaknya terbang
Cinta itu penuh kasih
Dapat kita pelajari dari orang utan yang mengasuh anak-anaknya
Cinta itu penuh kedamaian.
Dapat kita pelajari dari dari dua balita yang bermain bersama
Cinta itu panjang sabar
Dapat kita pelajari dari kesabaran orang tua yang mengajarkan anaknya bersepeda
Cinta itu kerelaan
Dapat kita pelajari dari sebatang lilin yang rela hancur demi memberi sedikit penerangan

Jadi mengapa harus takut patah hati? Sakit gigi itu sakitnya luar biasa dan kalau anda belum pernah sakit gigi, jangan sesekali mengatakan lebih baik gigi dari pada patah hati. Saya jadi teringat ketika masih remaja dulu.

Pacaran saya pahami sebagai bagian darei proses interaksi dengan sesama. Bukan saya tida setia, saya cuma sulit mengatakan tidak pada orang yang menyukai saya. Tapi saya juga tidak mengatakan saya bersedia menjadi pacarnya. Pada waktu itu saya hanya berkomitmen dengan satu orang.

Singkat cerita, pacar saya mendapati saya berjalan dengan laki-laki lain. Katanya karena cinta, dia marah lalu memutuskan saya tanpa memberikan kesempatan saya menjelaskan. Saya pulang mengadu pada ibu saya sambil menangis. Ibu saya berkata: ”Sekarang kamu masuk kamarmu, tutup dan kuncilah pintu. Menangislah dua hari dua malam. Sesudah itu kamu keluar, angkat wajahmu, hapus air matamu dan songsonglah dunia. Putus cinta bukan akhir segalanya. Itu hanya secuplik dari bagian perjalanan hidupmu!”

Dan benar, putus cinta atau patah hati bukan akhir dari segalanya. Masih panjang goresan cerita yang saya bisa lakukan untuk hidup saya. Pacaran hanya sebagian kecil dari penggalan perjalanan hidup. Jadi nikmati selagi bisa dinikmati. Ketika yakin telah jatuh cinta dan meletakkan atau mempercayakan hidupmu pada seseorang maka pada waktu yang bersamaan, kita harus mempersiapkan diri untuk sakit hati.

Orang yang kita cintai tidak berarti tidak bisa atau tidak akan mengecewakan kita. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang menerima apa adanya. Sehingga ketika kenyataannya orang yang kita cintai tidak seperti yang kita harapkan, maka kompromi adalah jalan yang harus diambil. Perlu kita sadari orang yang kita cintai tidaklah sempurna, sebagaimana adanya kita. Justru dalam kekurangan kita saling melengkapi.

Ketika anda menjalani sebuah komitmen dalam pernikahan yang saya percaya awalnya karena cinta lalu dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga tersebut dihantam badai dan gelomnang, jangan sesekali anda berpikir ini saatnya mengakhiri perjalanan dalam bahtera rumah tangga tersebut.

Justru anda pelu mensikapi sebagai sebuah ujian untuk menguji kekuatan dan kualitas bahtera yang dibangun atas dasar cinta Juga perjalanan bahtera cinta itu sendiri. Cinta bisa ditumbuhkan dan harus ditumbuhkan. Cinta perlu dipelihara sebagaimana tumbuhan. Pohon cinta akan terus tumbuh dan memberi kesejukan jika anda rajin memberinya pupuk berupa kepercayaan, perhatian, komitmen, kasih sayang dan terpenting cinta itu sendiri. Percayalah pohon cinta itu akan tumbuh subur dan senantiasa menimbulkan inspirasi cinta bagi yang melihat.

Jika hari ini anda patah hati, bersyukurlah karena anda pernah merasakan jatuh cinta. Hanya orang-orang yang beruntung yang bisa merasakan jatuh cinta. Karena tidak setiap orang pernah atau bisa merasakan cinta. (Icha Koraag, 27 Nov 2006)

Tuesday, November 14, 2006

SURAT CINTA

Surat ini kusimpan sudah 25 tahun lamanya.
Aku tidak tahu dimana si pengirim surat ini berada.
(Icha)



Jakarta, 20 Des 1987

Icha yang mempesona. Apa kabar? Selalulah mempesona!

Saya suka kamu, karena ternyata kamu suka berkorespodensi. Kebetulan saya lebih bisa mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Ada banya hal yang ingin saya ceritakan, tentu tentang diri saya. Saya perlu menghilangkan, melenyapkan kegamangan.

GAMANG

Ketika lembar hari luluh
Kabut jatuh berguling
Tetapi mengapa di bukit-bukit jauh?

Ketika gerimis turun
Alam mengalun, merayap
Tetapi mengapa mentariku lenyap?

Ketika lembar hari mengadu
Dan jiwa luluh, kulihat kau berjaga
Demikian dekatku dalam bicara

Demikian dekatku
Pada tepian semesta raya
Demikian dekatku
Pada puncak absurditas
tetapi mengapa kata-kataku menerbitkan lembayung di langit?
Tetapi mengapa aku memburu keterasingan & di buru kegamangan?

Puisi itu menggambarkan perasaan saya sekarang, tentu setelah mengenal kamu. Saya berada di dalam kegamangan selalu, jika mulai mengenal dekat sesorang yang saya suka. Sebabnya sudah jelas, keyakinan pemikiran makro-cosmos saya.

Saya seolah memburu kamu, padahal kamu adalah keterasingan. Saya yakin tak akan bisa mengerti kamu, tetapi bukan karena kamu salah-tidak tetapi karena saya egois. Tak bisa lepas dari dunia saya sendiri, masuk dalam dunia orang lain. Semakin saya dekat kamu. Semakin saya terasing dalam pemikiran saya.

Aku suka kamu!

Sementara itu, saya suka kamu ada di dekat saya. Maka kegamanganlah yang mencekal
Ini terjadi sejak beribu-ribu tahun yang lalu, Icha. Aku selalu dengan duniaku, meski kamu atau teman-teman cewek lain (dulu) milik rongga dadaku, keniscayaan kehidupan menjadi rival beratmu, bukan manusia.

Saya adalah anak kehidupan yang nakal Icha.
Yang ketika bermain lupa pada induknya. Yang kemudian pula berteriak menyapa langit. Cha tulisan ini memang tulisan orang yang kesepian. Lihatlah, rasakan, bagaimana dia meronta-ronta.

Icha, saya tak tahu, akankah kamu sama seperti orang lain (teman-teman cewek) yang setelah tahu siapa saya lalu memutuskan untu ”just for fun” tahukah kamu betapa menyakitkannya itu? Dan betapa menyakitkan ketika kemudian orang-orang mengatakan saya Don Juan. Terlalu mahal memang harga yang harus saya bayar untuk sebuah pemikiran. Berbahayakah saya, jika saya anti-theis, tak bertuhan?

Bagai awan saya terbang kesana kemari terbawa angin. Padahal hanya satu yang ingin saya dapatkan dari teman-teman cewek, melihat saya sebagai manusia, laki-laki bukan setan atau monster.

Itulah sebabnya Cha, hari pertama saya mengenal kamu, saya langsung memberitahu kamu bahwa saya atheis. Saya tidak ingin seperti yang lain, kamu melakukan hal yang sama, mundur setelah tahu ke-atheis-an saya. Saya mau hari itu juga kamu mengindar dari saya daripada suatu hari nanti, kala saya meletakan harapan di tempat yang amat layak-kamu melihat saya sebagai racun. Namun di luar dugaan saya, kamu ktakan; kedengarannya menarik. Lalu saya jawab, terasa lebih menghinda daripada memuji.

”Ada yang mencekat
Ada yang berkutat
Ada yang meradang
Ada yang hilang
Kalau kamu tak ada”

Icha sungguh mati saya tak percaya sikap kamu itu. Pulang dari punck, saya pastikan (mencari kepastian) dugaan-dugaan saya di rumah kamu. Nampaknya kamu memng tertarik dengan penyimpangan saya itu (gr deh gue!) namun saya tahu, kamu punya niat baik, mengembalikan saya ke jalan yang benar! Yang penting kamu adalah a motivation to still a live.

Karena tangisan-tangisan kecil belum reda. Menangis bukan karena rasa absurditas hidup menjadi atheis tapi karena kesendirian. Kesendirian menanggung absurditas hidup. Cha, memang amat mengherankn pengaruh kamu. Memang telah lama aku memutuskan untuk tidak radikal lagi dalam tindakan yang berlandaskan ke-atheis-an saya. Nmun di gereja itu, saya sama sekali ”ogah” bertengkar meski saya tahu banyak tentang ”Trinitas, keTuhanan Yesus atau Rasul Paulus”, misalnya. Minat saya terhadap agama-agama kan sudah sejak dulu. Galau sekali rasanya, karena tiba-tiba harus kompromis dengan penghotbah itu!

”Biarkan saya berkata:
Saya suka kamu
Dan biarkan saya mendengar kamu berkata
Saya tahu itu
Lalu biarkan saya berharap
Bukan hanya kata itu”

Sungguh amat menenangkan, tiba-tiba kamu duduk diantara saya dan penghotbah itu. Ingin rasanya saya katakan pada kamu” Icha kalau bukan karena sedang ada rasa sayang saya pada kamu tentu sudah saya sikat habis ini orang. Tapi hebat orang itu, tak bisa saya pungkiri dia dapat melihta api pemberontakkan hanya dari mata saya. Padahal itu hanya beberapa kali saja ketika dia membacakan doa.

Pertama kali dalam hidup saya, begitulah saya berkata dalam hati setelah kita pulang. Ada orang yang memancing dalam kolam pemikirn saya, namun saya sama sekali tak mengamuk. Ya, mudah-mudahan ini pertanda baik, seperti yang kamu katakan: baik bukan bukan berarti saya mengubah pikiran saya tetapi syaa mulai mendapat kepastian bahwa ada cara menghilangkan pengaruh buruk dari ke-atheis-an saya.

Pengaruh buruk, ya memang ada menyelimuti hidup saya yaitu keresahan. Sering saya berkata: Hormat saya kepada filsuf-filsuf yang bunuh diri. Mereka adalah orang-orang yang jujur pada dirinya sendiri, itu saja alasannya.

Cuma saya tak akan mengikuti jejaknya. Telah saya putuskan hidup ini indah, maka aku ingin tetap hidup. Apalagi setelah ada kamu Cha. Hidup tidak hanya indah tapi juga mengalun. Ok Cha saya harus ngeposin surat ini. Hari ini sudah tanggal 22 Desember, jadi dua hari saya tulis surat ini setiap malam.

Cha ini masih ada satu puisi lagi untuk kamu. Sebenarnya banyak puisi yang saya dapat buat setelah ketemu kamu. Saya gak tahu bagus tidaknya puisi-puisi ini tapi yang pasti keluar dari tempat yang terdalam di benak. Puisi terakhir (di surat ini) adalah saduran dari Shakespeare, Cuma udah dimodifikasi.

Percayakan Icha

Kamu boleh tidak percaya
Bahwa matahari pernah bersinar dan akan selalu bersinar
Kamu boleh tidak percaya
Bahwa bintang pernah berkelip dan akan selalu berkelip
Kamu boleh tidak percaya
Bahwa bumi pernah berputar dan akan sellu berputar
Bahkan kamu boleh tidak percaya
Pada apa yang saya katakan
Namun jangan kamu tidak percaya
Bahwa kamu mempesonaku


22 Des 1987
Some one

Wednesday, November 08, 2006

Kisahku: SUNGGUHKAH PRIVASIKU DILANGGAR?”

Kisahku: SUNGGUHKAH PRIVASIKU DILANGGAR?”

Semalam ketika aku tiba di rumah, aku sangat terkejut melihat tumpukkan buku dan surat-surat yang berantakan di kamar. Tiba-tiba kelelahan menjadi bertambah. “Ada apa sih?” tanyaku dalam hati. Yang rapih hanya surat-surat penting seperti surat nikah, akte kelahiran, ijazah dan beberapa lembar surat penghargaan karena semua ada dalam satu document keeper. Beberapa foto bertaburan di tempat tidur.

Suamiku tanpa dosa dan ringan saja mengatakan,” Rak buku kamu saya rapihkan. Kelihatannya ada beberapa kertas yang tidak perlu dan bisa dibuang. Jujur aku agak marah padanya. Karena aku menemukan rak bukuku sudah “di acak-acak!” Semua buku di rak di turunkan lalu di tumpuk entah berdasarkan apa. Juga negative foto dan foto-foto dokumentasi anak-anak serta dokumentasi perjalananku di tumpuk jadi satu dalam sebuah kardus.

Barangkali anda akan menuduhku tidak tahu diri, di bantu kok malah kesal. Aku bukan tidak mau di bantu. Kalau suamiku mau membantu silahkan saja tapi bersama-samaku, jangan saat aku tidak ada. karena aku jadi merasa asing dengan rak buku itu. Aku pasti memerlukan waktu lebih lama jika akan mencari buku yang kuperlukan atau yang ingin kubaca.

Frisch mencoba menghiburku dengan memperlihatkan foto-foto anak sewaktu bayi dan berkomentar, “Lucu sekali yah. Tapi kok aku tidak tahu kapan foto ini diambil?’ Aku tidak mau menjawab dan meninggalkan Frisch. Aku milih langsngung kekamar mandi. Membasahkan tubuh mulai dari ujung rambut berharap kepala ini bisa menjadi lebih dingin dan terus ke hati, sehingga aku bisa lebih tenang.

Sambil mandi, benakku tak berhenti berpikir. ”Apa sih tujuan Frisch merapihkan rak buku ?” pikirku dalam hati. Sebenarnya tidak ada yang aku takutkan atau khawatirkan. Toh antara aku dan Frisch tidak ada rahasia apa-apa. Cuma rasanya tidak rela, ini sedikit menyangkut masalah privasi! Ujarku salam hati.

Dalam kamar mandi kudengar gelak tawa Frisch bersma Bas & Van. Pasti mereka tengah melihat foto. Aku jadi tersenyum. Melihat dokumentasi yang merekam gambar perjalanan hidup anak-anak memang menyenangkan. Tapi tidak berarti aku menjadi tidak kesal. Karena kesalku tetap ada!

Aku tidak mau melihat rak buku, di kamar aku langsung naik dan rebahan ditempat tidur. Bas dan Van masuk, ikut naik di sampingku. Keduanya memeluk dan mencium. Sesaat rasanya amat bahagia.

”Mama lelah yah?” tanya Bas sambil tidak melepaskan pelukannya dari tubuhku. Seperti biasa Van mengulang pertanyan yang sama.
”Mama lelah yah?” tanya Van.
”Iya” jawbku. Tiba-tiba Frisch masuk ke kamar dan berseru:
”Papa ikut yah! Papa kan juga mau dekat-dekat mama!” kata Frisch sambil duduk diujung tempat tidur. Kubisiki telinga Van untuk mengatakan tidak! Kontan Van berteriak ” Tidak boleh! Ini mama aku tahu!’ ujar Van.
”Yeah..... ini mama aku juga” kata Bastiaan.
”Punya papa juga dong!” ujar Frisch

Ketiganya berteriak dan beradu mulut karena Frisch sudah menggelitik Bas dan Van, sehingga aku yang berada ditengah, terjepit. Aku menari nafas panjang dan berdoa ’Tuhan beri aku kesabaran seluas samudra!” Ini adalah sepotong doa yang selalu aku ucapkan kala rasa kesal sudah sampai diubun-ubun.

Aku tidak bereaksi hanya menghindar saja dari gerakan kaki dan tangan anak-anak. Pelan-pelan keluar dari ”ajang smack down”. Ku tinggalkan kamar dan nongkrong depan tv di ruang tamu. Silih berganti chanel kutekan, tak ada satupun yang masuk dalam pemikiranku. Benakku masih penuh tanda tanya dengan rak buku yang berantakan.

Aku mencoba berpikir dari sisi yang lain, mencoba mengetahui mengapa aku harus marah! Ini rumah kami bersama dan di rak itu pun semua milik bersama. Sesungguhnya tidak ada alasan untuk aku marah.

Privasi? Ya, aku merasa privasiku terganggu. Atau hanya perasaan tidak nyaman karena selama ini, rak buku aku yang menyusun. Sehingga tersusun atau teratur berdasarkan standar ukuranku? Mungkin saja. Memang buku-buku itu lebih banyak koleksiku karena sebagian besar adalah buku-buku yang aku miliki sebelum menikah. Ketika aku pindah dari rumah mami, semua barang pribadi termasu buku-buku aku bawa serta. Sedangkan Frisch seingatku memang tidk membawa apa-apa karena itu sebagian barang pribadinya masih berada di Bogor.

Aku menghembuskan nafas panjang mencoba kompromi dengan perasaanku sendiri. Aku tidak ingin berkonfrontasi dengan Frisch. Toh dia tidak punya salah apa-apa dan mungkin bermaksud baik. Aku berdiri dan berjalan menuju rak buku. Aku terdiam hanya memandang rak yang rapih dan bersih. Perlahan kuambil sebuah amplop surat dari tumpukan kertas di kardus. Sebuah surat lama yang ditujukan untukku..

Ku buka dan kubaca. Aku tersenyum, sebuah surat cinta yang berisi puja dan puji untukku. Tertanggal 20 Desember 1987. Tiba-tiba Frisch sudah muncul di depanku sambil memegang kardus berisi foto-foto.

”Ini harus di atur, supaya jangan rusak!” Ujarnya. Aku tak menjawab hanya memandangnya.
”Surat cinta yah?” tanya Frisch datar.
”Yang pasti bukan dari kamu!” Jawabku
’Tidak penting, sekarang kamu istriku!” Jawab Frisch santai. Ia meletakan kardus di samping kaki, lalu memelukku. Aku menyembunyikan wajahku di perutnya.
”Kamu kesal, aku mengobrak-abrik hartamu?” bisiknya pelan di telingaku. Aku diam. Bathinku masih berperang. Frisch melanjutkan lagi. Aku menemukan banyak naskah cerpenmu. Aku tahu itu hartamu. Aku tersentak.

”Cerpen apa?” tanyaku
”Naskah-naskah cerpen yang kamu tulis belasan tahun lalu” Ujarnya tanpa melepaskan pelukan. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang teratur, tiba-tiba detakan itu terasa indah ditelingaku.
”Aku minta maaf, kalau kamu kesal. Aku tadi mencari buku kwitansi yang seingatku ada di rak itu. Karena tidak terlihat, aku terus mencari, tahu-tahu aku menemukan banya hartamu dan ketika tersadar semua sudah berantakan!’ Aku Frisch.

Aha....Frisch baru saja melakukan pengakuan dosa. Jadi tujuan utmanya bukan merapihkan buku-bukuku. Ia hendak mencari buku kwitansi. Sekarang semua mejadi jelas. Ku dengar Frisch berkata:

”Aku tidak membaca surat-surat dan buku harianmu

”Ha, Buku harian apa?” potongku terkejut. Karena seingatku aku sudah membakar semua buku harianku. Frisch mengangsurkan satu buku kecil bergambar snoopy sedang memegang balon berbentuk hati. Aku langsung mengambil dan membacanya.

Ku buka halaman pertama, November 1987 Aku terus membaca, entah mengap air mataku mengalir. Ketika lembar berikutnya kubalik, ada nama Frisch di sana. Aku mengangkat wajah dan menatapnya lalu bertanya: “Jujur pa, kamu baca atau tidak buku ini?” tanyaku

Air mukanya biasa saja dan Frisch menjawab ringan. ”Kamu tahu, aku tidak suka campur dengan urusan orang!’

“Aku tanya, papa baca atau tidak buku ini?” desakku. Sebenarnya tidak ada kejutan apa-apa, Cuma aku ingin tahu, apakah Frisch tertarik ingin mengetahui yang aku tulis 19 tahun lalu.

“Sudahlah, aku lapar nih!” Kata Frisch sambil meninggalkan aku. Sebelum tubuhnya hilang di balik pintu, Frisch berbalik dan tersenyum lalu berkata, ”Apa kabar Alvin dan Karel yah? Tanyanya. Aku hanya bisa tertawa ngakak ”Awas ya pa!” seruku. Dua nama itu adalah dua nama yang juga ku tulis dalam diary ini.

Kekesalanku sudah berkurang dan kami makan malam bersama sambil membicarakan kejadian hari ini serta tingkah pola Bas dan Van. Sebelum pukul sembilan, aku sudah menggiring Bas dan Van ke kamar mandi untuk cuci kaki dan gosok gigi. Frisch masih menonton tv saat aku di tempat tidur bersama kedua anakku. Sambil berbaring disamping Van yang asyik memilin-milin rambutku, aku berpikir masih perlukah aku kesal? Atau sungguhkah privasiku telah dilanggar? (Icha Koraag. Jakarta, 9 Nov 2006)

Friday, November 03, 2006

SERBA-SERBI PACARAN

Pacaran adalah istilah untuk dua orang yang sedang menjalin hubungan karena rasa suka. Dulu saya takut dan malu untk menjalin suatu hubungan khusus dengan teman pria. Ketika saya SMA dan pelatih basket saya mulai sering-sering datang dan mengajak saya nonton bioskop kalau malam Minggu, saya suka jengkel. Saya selalu mencari 1001 alasan untuk menghindar. Jadi saat malam Minggu, saya suka pesan pada kakak atau adik untuk mengatakan saya tidak ada kalau ada orang mencari saya.

Dan benar saja, belum pukul tujuh sudah terdengar suara motor. Saya tahu itu teman pria saya karena pacar kakak saya rumahnya tidak jauh sehingga cuma berjalan kaki. Dari jendela kamar saya mengintip dan terdengar kakak saya mengatakan saya menginap di rumah tante. Tahu-tahu turun hujan, teman pria saya tidak jadi pulang malah bergabung ngobrol dengan kakak saya dan pacarnya.

Saya tidak ambil pusing. Cuma saya harus hati-hati kalau keluar dari kamar. Dari teras bisa melihat ke arah ruang tamu dan ruang keluarga. Biasanya mereka nongkrong di teras. Untung kamar mandi letaknya persis depan kamar tidur jadi biar saya bolak-balik kamar mandi tidak akan terlihat. Kan lucu kalau malah saya yang terjajah dan mejadi tawanan di dalam rumah sendiri. Brengseknya, adik-adik saya kalau diajak sepakat untuk tidak mengatakan saya ada, bersedia kalau saya berjanji memberikan sebatang coklat.

Saya tidak tahu, hujan reda jam berapa dan kawan saya serta pacar kakak saya pulang jam berapa. Yang pasti pagi-pagi saya bangun tidur dengan perasaan senang. Minggu pagi kami terbiasa pergi ke gereja bersama-sama. Karena tidak ada pembantu maka kami setrika baju sendiri. Saat saya akan setrika baju, kakak saya memberikan bajunya untuk saya strika sebagai upah berdustanya tadi malam. Mangkel tapi tak bisa menolak!

Singkat cerita karena cape di peras adik dan kakak saya, saya memberanikan diri menerima teman pria saya itu. Ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Kita bisa asyik ngobrol mengenai teman-teman dan beberapa pertandingan basket. Dan saya makin menyayangi papi saya karena begitu teng jam 9, papi saya batuk-batuk di ruang tamu, ketika saya masuk untuk melihatnya, papi hanya menunjukkan jam di dinding. Saya langsung paham, itu artinya kawan saya harus pulang. Saya senang, terbebas dari kawan pria saya juga dari pemerasan adik dan kakak.

Berbeda dengan saya yang merasa senang kalau mendengar papi saya batuk, maka kakak saya akan bersungut-sungut. Jadi kalau saya segera menyampaikan bahwa kawan saya harus pulang, kakak saya malah minta tambah 30 menit lagi waktunya. Kalau- mengingat-ingat hal itu rasanya lucu juga.

Kalau kawan pria yang datang cuma satu, artinya kawan saya satu, pacar kakak saya satu dan pacar kakak saya yang lain juga satu, maka cuma akan ada 3 pria muda yang datang. Kebayang gak kalau yang naksir saya atau kakak-kakak saya lebih satu.

Pernah satu masa, yang datang ke rumah jumlah lebih dari biasanya. Berhubung saya tidak punya komitmen dengan siapa-siapa jadi saya tenang-tenang saja. Berbeda dengan kakak saya yang persis di atas saya. Dia pasti kebingungan dan senjatanya selalu minta papi saya keluar untuk ikutan ngobrol. Pastinya teman-teman pria pada gerah dan satu persatu pamit pulang.

Kata orang-orang dia memang ”macan” (manis dan cantik) jadi teman prianya juga banyak. Cuma kalau pacarnya di mana-mana, saya juga suka kesal. Karena wajahnya yang ”macan” itu, lulus SMA dia langsung bekerja sebagai SPG air mineral yang menjadi pelopor air mineral di Indonesia.

Akibatnya, dia punya pacar di rumah (teman kompleks) dia punya pacar eks teman sekolah dan di tempat kerja. Repotnya, kini gantian saya yang harus berdusta untuknya. Kalau buat saya satu malam minggu saja sudah terlampau banyak, maka kakak saya perlu waktu lagi. Jadi dia pacaran tidak cuma malam minggu. Bisa jadi malam Senin dengan ex teman sekolah atau malam Kamis dengan teman rumah dengan alasan ikut organisasi karang taruna.

Kejadian banyaknya teman pria yang datang ke rumah kami tidak terjadi satu dua kali tapi sering. Mengakibatkan antrian mobil, motor dan sepeda sangat panjang di depan rumah kami. Pernah satu kali malam minggu, sejak sore papi saya sudah mandi dan mondar-madir di teras. Jelas kami heran, kalau saya tenang-tenang saja tidak demikian dengan kakak saya. Berulang-ulang melihat ke teras dan akhirnya bertanya ke mami, si papi sedang apa sih?

Si mami, sebagai ibu yang baik, bertanyalah pada si papi. Dan jawaban papi sungguh menggelikan. Entah serius atau bercanda si papi bilang mau jadi tukang parkir. Karena mobil, motor dan sepeda sudah terlalu banyak yang parkir di muka rumah kalau malam minggu. Saya tertawa ngakak sementara kakak-kakak saya pada mencak-mencak.

Tapi punya teman pria atau pacar banyak ternyata lumayan juga. Ketika menjelang natal, rumah akan direnovasi terutama di warnai ulang. Tenaga sukarela sangat banyak. Tak perlu ada tukang, cukup remaja-remaja SMA yang di koordinir si papi dan modal makan siang masakan mami. Tidak sampai seminggu, rumah dengan luas 400 meter, rapih di cat ulang.
Si papi yang mantan tentara ini, ternyata sangat pandai bergaul dengan anak-anak SMA, ujung-ujungnya si papi rela mengeluarkan radio tape-nya untuk menghibur anak-anak yang sedang mengecat.

Kalau saya ingat-ingat masa pacaran, mami dan papi saya ternyata cukup punya perhatian. Memang jadul banget dengan batuk-batuk sebagai tanda habis waktu berkunjung, cuma lumayan kreatif. Dan mengenang masa-masa itu mampu membuat saya tersenyum. Papi saya memang berkesan galak, apalagi soal disiplin ketepatan waktu. Bukan hanya waktu berkunjung saat pacaran tapi soal ketepatan waktu berangkat dan pulang sekolah juga sangat ketat, Jangan pernah coba-coba terlambat tanpa alasan, karena akan berhadapan dengan si papi yang akan panjang lebar menjelaskan mengenai dampak ketidak disiplinan pada situasi perang. Jangankan terlambat setengah jam, beberapa menit saja bisa berati ratusan nyawa melayang.

Jadi saya tidak pernah minta perpanjangan waktu saat pacaran karena selain alasan di atas, saat saya pacaran dengan papanya Bas dan Van, si papi sudah almarhum. Sebagai penghormatan terhadap papi saya yang kisahnya dia dengar dari saya, mantan pacar saya itu mengabadikan nama almarhum papi saya pada putra sulung kami, Bastiaan! (Icha Koraag, 3 November 2006)