Tuesday, November 28, 2006

DOUBLE STANDARD

DOUBLE STANDARD


Minggu lalu ketika media memberitakan tewasnya seorang bocah karena ulah beberapa bocah lain yang mempraktekkan “Smack Down”. Beramai-ramai para orang tua (Suami-istri) berkomentar dan menghendaki tayangan Smack Down pada sebuat tv swasta dihentikan.

Kalau topik tersebut bukan gosip ibu-ibu arisan. Tapi kalau topik Dhani-Maia itu gosip arisan. Mengapa begitu ? karena menggunakan double standard.

Double Standrad atau standar ganda adalah pilihan yang banyak digunakan masyarakat untuk mesnikapi sebuah situasi. Atau dengan kata lain sebenarnya bisa dimaknai sebagai "tidak punya sikap" atau "hanya ikut-ikutan dan mencari aman."

Kebiasaan masyarakat baik laki-laki atau perempuan yang menggunakan standar ganda adalah kelompok masyarakat yang tidak berani berpendapat (Bukan tidak punya pendapat). Di sebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah pola asuh, dimana mengharamkan upaya menyampaikan pendapat. Orang tua hanya mendidik anak mendengar dan melaksanakan aturan yang dibuat orang tua tanpa boleh menyampaikan pendapatnya.

Saya tidak mengatakan pola asuh semacam itu salah tapi yang pasti pola asuh semacam itu menciptakan anak-anak yang tidak mampu mengeluarkan pendapat. Padahal menyampaikan pendapat adalah salah satu hak dasar manusia.

Salah satu reaksi dari tulisan saya mengenai Dhani-Maia, adalah gosip ibu-ibu arisan. Saya cuma mau meluruskan, dan mengatakan anggapan tersebut tidak benar. Saya hanya ingin menggugah sedikit rasa peduli pada sesama perempuan yang juga istri dan ibu. Tidak lebih!

Dari tulisan saya yang berjudul “SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA), saya mendapatkan reaksi sekitar 30 tanggapan. Tanggapannya bermacam-macam, ada yang malah menuduh saya menyebarkan gosip, ada yang membenarkan dan mendukung sikap Dhani dilihat dari sisi agama. Ada yang tak peduli dengan berpendapat itu urusan rumah tangga Dhani dan Maia. Ada juga yang beranggapan strategi pendongkarakan popularitas/penjualan album dan ada juga yang tidak setuju pada sikap Dhani.


Ini iklim demokrasi, siapapun boleh berpendapat, sama seperti saya yang bebas mempostingkan tulisan saya selama itu tidak melanggar SARA. Mari kita lihat dari substansi isi dan teknik penulisan. Saya melemparkan topik pembicaraan, anda mau menanggapi silahkan, tidak menanggapi ya silahkan. Karena apapun pendapat anda pastinya dipengaruhi oleh tingkat intelektual, pengalaman hidup, pemahaman ajaran agama dan pengetahuan sosial tentang hidup dan kehidupan.

Dari berbagai tanggapan saya bisa mendapat gamabaran seperti apa masing-masing orang yang berpendapat. Dan saya menghormati pendapat dan si pemberi pendapat. (Terima kasih untuk semua yang sudah bereaksi)

Pendapat yang mengatakan saya menyebarkan isyu atau gosip, itu hak anda berpendapat demikian, menurut saya kalau isyu atau gosip faktanya tidak jelas, sementara yang saya tuliskan faktanya ada. (Pernyataan Dhani adalah fakta)

Saya tidak bisa menanggapi pendapat yang mempertimbangkan agama karena saya tidak punya kapasitas untuk itu.

Pendapat yang mengatakan itu urusan RT Dhani dan Maia, saya sependapat. Tapi telah berubah menjadi urusan publik atau masyarakat yang lebih luas karena Dhani menggunakan Media massa (umum) untuk persoalan RT dengan kata lain, Dhani mengizinkan hal tersebut menjadi persoalan masyarakat. Dan disini masyarakat bebas menanggapi. Sebagai anggota masyarakat, saya peduli. Karena kepedulian saya maka saya menuliskan tulisan ini.

Dalam tulisan saya sebelumnya (“SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA)), jelas saya tuliskan, kita diajar untuk menjaga RT kita dengan saling menjaga, menyayangi, menghormati satu sama lain sebagai pasangan. Apakah pantas seseorang yang mengaku pasangan hidup kita (suami/istri) mempermalukan pasangannya dimuka umum? Jika ada ajaran yang mengajarkan untuk tidak saling menjaga. Menyayangi, menghormati satu sama lain sebagai pasangan yang menikah, tolong informasikan ke saya.

Dalam tulisan saya juga jelas saya tuliskan, persoalannya berbeda jika Dhani mengultimatum Maia langsung pada yang bersangkutan tanpa melibatkan Media massa (umum) Saya setuju pendapat yang mengatakan sajian infoteinment bagaikan makanan enak tapi tak begizi. Saya bukan orang yang gemar mencari tahu gosip selebriti tapi yang saya melihat informasi lain dibalik info tersebut.

Informasi bisa diperoleh darimana saja, ketika saya medengar infromasi ultimatum seorang Dhani pada Maia istrinya, saya tidak melihat mereka sebagai selebriti. Saya peduli pada persoalan ini, karena saya seorang perempuan yang juga istri dan seorang ibu.

Keluarga sebagai unit terkecil berperan besar dalam komunitas masyarakat yang lebih luas. Jika sebuah keluarga tidak mampu mempertahankan nilai-nilai moral dalam keluarga tersebut, maka komunitas masyarakat yang lebih besar akan menjadi ”sakit”. Ketika nilai-nilai sosial dan moral dalam sebuah keluarga tidak diperdulikan hanya berpijak pada nilai agama, semua hanya kepalsuan.

karena sesungguhnya tidak ada satu agama di dunia ini yang mengizinkan atau memberi hak salah satu pasangan yang terikat dalam sebuah pernikahan untuk mempermalukan pasangan lainnya dihadapan masyarakat luas. Sekalipun orang tersebut berpangkat, berkuasa, berpendidikan tinggi atau memiliki kekayaan melimpah.

Itu tidak menunjukan wibawa atau nilai lain selain membuka aib dan mencoreng aib di keningnya sendiri. Silahkan anda menilai sendiri tipe orang seperti itu dikaji dari sisi sosial, psikologi ataupun agama.

Saya sebagai anggota masyarakat, sebagai perempuan, sebagai ibu dan sebagai istri jelas tersinggung jika ada kaum saya diperlakukan seperti itu. Jangan dibelokkan pada pemahaman emansipasi. Saya tidak berpendapat emansipasi sebagai kebebasan perempuan untuk melakukan apa saja.

Bagi saya emansipasi adalah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kesepakatan. Artinya jika Dhani dan Maia sepakat Maia boleh bermusik hanya Sabtu dan Minggu bukan All day. Loh kok setelah kebablasan baru ditegur? Saya percaya pasangan yang baik akan selalu mengingatkan dan menjaga pasangannya agar jangan salah jalan atau salah melangkah.

Termasuk kalau Dhani seorang laki-laki yang gentle, ia bisa melaporkan Maia telah melanggar Undang-Undang No. 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), Yaitu penelantaran rumah tangga.

Sebaliknya dengan mengultimatum lewat media massa justru Dhani yang telah melanggar UU PKDRT karena melakukan kekerasan psikhis.

Hal-hal baik dari kehidupan orang lain bisa kita tiru, sebaliknya hal-hal buruk dari kehidupan orang lain, kita hindari. Bukankah kita bisa belajar darimana saja termasuk dari kisah kehidupan orang lain ? dan itu yang sedang saya pelajari. (Icha Koraag, 29 nov 2006)

No comments: