Wednesday, November 08, 2006

Kisahku: SUNGGUHKAH PRIVASIKU DILANGGAR?”

Kisahku: SUNGGUHKAH PRIVASIKU DILANGGAR?”

Semalam ketika aku tiba di rumah, aku sangat terkejut melihat tumpukkan buku dan surat-surat yang berantakan di kamar. Tiba-tiba kelelahan menjadi bertambah. “Ada apa sih?” tanyaku dalam hati. Yang rapih hanya surat-surat penting seperti surat nikah, akte kelahiran, ijazah dan beberapa lembar surat penghargaan karena semua ada dalam satu document keeper. Beberapa foto bertaburan di tempat tidur.

Suamiku tanpa dosa dan ringan saja mengatakan,” Rak buku kamu saya rapihkan. Kelihatannya ada beberapa kertas yang tidak perlu dan bisa dibuang. Jujur aku agak marah padanya. Karena aku menemukan rak bukuku sudah “di acak-acak!” Semua buku di rak di turunkan lalu di tumpuk entah berdasarkan apa. Juga negative foto dan foto-foto dokumentasi anak-anak serta dokumentasi perjalananku di tumpuk jadi satu dalam sebuah kardus.

Barangkali anda akan menuduhku tidak tahu diri, di bantu kok malah kesal. Aku bukan tidak mau di bantu. Kalau suamiku mau membantu silahkan saja tapi bersama-samaku, jangan saat aku tidak ada. karena aku jadi merasa asing dengan rak buku itu. Aku pasti memerlukan waktu lebih lama jika akan mencari buku yang kuperlukan atau yang ingin kubaca.

Frisch mencoba menghiburku dengan memperlihatkan foto-foto anak sewaktu bayi dan berkomentar, “Lucu sekali yah. Tapi kok aku tidak tahu kapan foto ini diambil?’ Aku tidak mau menjawab dan meninggalkan Frisch. Aku milih langsngung kekamar mandi. Membasahkan tubuh mulai dari ujung rambut berharap kepala ini bisa menjadi lebih dingin dan terus ke hati, sehingga aku bisa lebih tenang.

Sambil mandi, benakku tak berhenti berpikir. ”Apa sih tujuan Frisch merapihkan rak buku ?” pikirku dalam hati. Sebenarnya tidak ada yang aku takutkan atau khawatirkan. Toh antara aku dan Frisch tidak ada rahasia apa-apa. Cuma rasanya tidak rela, ini sedikit menyangkut masalah privasi! Ujarku salam hati.

Dalam kamar mandi kudengar gelak tawa Frisch bersma Bas & Van. Pasti mereka tengah melihat foto. Aku jadi tersenyum. Melihat dokumentasi yang merekam gambar perjalanan hidup anak-anak memang menyenangkan. Tapi tidak berarti aku menjadi tidak kesal. Karena kesalku tetap ada!

Aku tidak mau melihat rak buku, di kamar aku langsung naik dan rebahan ditempat tidur. Bas dan Van masuk, ikut naik di sampingku. Keduanya memeluk dan mencium. Sesaat rasanya amat bahagia.

”Mama lelah yah?” tanya Bas sambil tidak melepaskan pelukannya dari tubuhku. Seperti biasa Van mengulang pertanyan yang sama.
”Mama lelah yah?” tanya Van.
”Iya” jawbku. Tiba-tiba Frisch masuk ke kamar dan berseru:
”Papa ikut yah! Papa kan juga mau dekat-dekat mama!” kata Frisch sambil duduk diujung tempat tidur. Kubisiki telinga Van untuk mengatakan tidak! Kontan Van berteriak ” Tidak boleh! Ini mama aku tahu!’ ujar Van.
”Yeah..... ini mama aku juga” kata Bastiaan.
”Punya papa juga dong!” ujar Frisch

Ketiganya berteriak dan beradu mulut karena Frisch sudah menggelitik Bas dan Van, sehingga aku yang berada ditengah, terjepit. Aku menari nafas panjang dan berdoa ’Tuhan beri aku kesabaran seluas samudra!” Ini adalah sepotong doa yang selalu aku ucapkan kala rasa kesal sudah sampai diubun-ubun.

Aku tidak bereaksi hanya menghindar saja dari gerakan kaki dan tangan anak-anak. Pelan-pelan keluar dari ”ajang smack down”. Ku tinggalkan kamar dan nongkrong depan tv di ruang tamu. Silih berganti chanel kutekan, tak ada satupun yang masuk dalam pemikiranku. Benakku masih penuh tanda tanya dengan rak buku yang berantakan.

Aku mencoba berpikir dari sisi yang lain, mencoba mengetahui mengapa aku harus marah! Ini rumah kami bersama dan di rak itu pun semua milik bersama. Sesungguhnya tidak ada alasan untuk aku marah.

Privasi? Ya, aku merasa privasiku terganggu. Atau hanya perasaan tidak nyaman karena selama ini, rak buku aku yang menyusun. Sehingga tersusun atau teratur berdasarkan standar ukuranku? Mungkin saja. Memang buku-buku itu lebih banyak koleksiku karena sebagian besar adalah buku-buku yang aku miliki sebelum menikah. Ketika aku pindah dari rumah mami, semua barang pribadi termasu buku-buku aku bawa serta. Sedangkan Frisch seingatku memang tidk membawa apa-apa karena itu sebagian barang pribadinya masih berada di Bogor.

Aku menghembuskan nafas panjang mencoba kompromi dengan perasaanku sendiri. Aku tidak ingin berkonfrontasi dengan Frisch. Toh dia tidak punya salah apa-apa dan mungkin bermaksud baik. Aku berdiri dan berjalan menuju rak buku. Aku terdiam hanya memandang rak yang rapih dan bersih. Perlahan kuambil sebuah amplop surat dari tumpukan kertas di kardus. Sebuah surat lama yang ditujukan untukku..

Ku buka dan kubaca. Aku tersenyum, sebuah surat cinta yang berisi puja dan puji untukku. Tertanggal 20 Desember 1987. Tiba-tiba Frisch sudah muncul di depanku sambil memegang kardus berisi foto-foto.

”Ini harus di atur, supaya jangan rusak!” Ujarnya. Aku tak menjawab hanya memandangnya.
”Surat cinta yah?” tanya Frisch datar.
”Yang pasti bukan dari kamu!” Jawabku
’Tidak penting, sekarang kamu istriku!” Jawab Frisch santai. Ia meletakan kardus di samping kaki, lalu memelukku. Aku menyembunyikan wajahku di perutnya.
”Kamu kesal, aku mengobrak-abrik hartamu?” bisiknya pelan di telingaku. Aku diam. Bathinku masih berperang. Frisch melanjutkan lagi. Aku menemukan banyak naskah cerpenmu. Aku tahu itu hartamu. Aku tersentak.

”Cerpen apa?” tanyaku
”Naskah-naskah cerpen yang kamu tulis belasan tahun lalu” Ujarnya tanpa melepaskan pelukan. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang teratur, tiba-tiba detakan itu terasa indah ditelingaku.
”Aku minta maaf, kalau kamu kesal. Aku tadi mencari buku kwitansi yang seingatku ada di rak itu. Karena tidak terlihat, aku terus mencari, tahu-tahu aku menemukan banya hartamu dan ketika tersadar semua sudah berantakan!’ Aku Frisch.

Aha....Frisch baru saja melakukan pengakuan dosa. Jadi tujuan utmanya bukan merapihkan buku-bukuku. Ia hendak mencari buku kwitansi. Sekarang semua mejadi jelas. Ku dengar Frisch berkata:

”Aku tidak membaca surat-surat dan buku harianmu

”Ha, Buku harian apa?” potongku terkejut. Karena seingatku aku sudah membakar semua buku harianku. Frisch mengangsurkan satu buku kecil bergambar snoopy sedang memegang balon berbentuk hati. Aku langsung mengambil dan membacanya.

Ku buka halaman pertama, November 1987 Aku terus membaca, entah mengap air mataku mengalir. Ketika lembar berikutnya kubalik, ada nama Frisch di sana. Aku mengangkat wajah dan menatapnya lalu bertanya: “Jujur pa, kamu baca atau tidak buku ini?” tanyaku

Air mukanya biasa saja dan Frisch menjawab ringan. ”Kamu tahu, aku tidak suka campur dengan urusan orang!’

“Aku tanya, papa baca atau tidak buku ini?” desakku. Sebenarnya tidak ada kejutan apa-apa, Cuma aku ingin tahu, apakah Frisch tertarik ingin mengetahui yang aku tulis 19 tahun lalu.

“Sudahlah, aku lapar nih!” Kata Frisch sambil meninggalkan aku. Sebelum tubuhnya hilang di balik pintu, Frisch berbalik dan tersenyum lalu berkata, ”Apa kabar Alvin dan Karel yah? Tanyanya. Aku hanya bisa tertawa ngakak ”Awas ya pa!” seruku. Dua nama itu adalah dua nama yang juga ku tulis dalam diary ini.

Kekesalanku sudah berkurang dan kami makan malam bersama sambil membicarakan kejadian hari ini serta tingkah pola Bas dan Van. Sebelum pukul sembilan, aku sudah menggiring Bas dan Van ke kamar mandi untuk cuci kaki dan gosok gigi. Frisch masih menonton tv saat aku di tempat tidur bersama kedua anakku. Sambil berbaring disamping Van yang asyik memilin-milin rambutku, aku berpikir masih perlukah aku kesal? Atau sungguhkah privasiku telah dilanggar? (Icha Koraag. Jakarta, 9 Nov 2006)

2 comments:

aRiEf said...

hehehehe...saia tau cerita anda dari 'air putih'. Lucu juga yah kalo misalnya udah rumah tangga, but anyway salut ama kata2 kamu yang "Tuhan beri aku kesabaran seluas samudra!”....sounds like a patient person to me. Jangan suka marah yah..suaminya sayang kok ama mba'yu (hehehe...).
take care

cara membuat website said...

salam kenal

cara membuat website