Friday, November 03, 2006

SERBA-SERBI PACARAN

Pacaran adalah istilah untuk dua orang yang sedang menjalin hubungan karena rasa suka. Dulu saya takut dan malu untk menjalin suatu hubungan khusus dengan teman pria. Ketika saya SMA dan pelatih basket saya mulai sering-sering datang dan mengajak saya nonton bioskop kalau malam Minggu, saya suka jengkel. Saya selalu mencari 1001 alasan untuk menghindar. Jadi saat malam Minggu, saya suka pesan pada kakak atau adik untuk mengatakan saya tidak ada kalau ada orang mencari saya.

Dan benar saja, belum pukul tujuh sudah terdengar suara motor. Saya tahu itu teman pria saya karena pacar kakak saya rumahnya tidak jauh sehingga cuma berjalan kaki. Dari jendela kamar saya mengintip dan terdengar kakak saya mengatakan saya menginap di rumah tante. Tahu-tahu turun hujan, teman pria saya tidak jadi pulang malah bergabung ngobrol dengan kakak saya dan pacarnya.

Saya tidak ambil pusing. Cuma saya harus hati-hati kalau keluar dari kamar. Dari teras bisa melihat ke arah ruang tamu dan ruang keluarga. Biasanya mereka nongkrong di teras. Untung kamar mandi letaknya persis depan kamar tidur jadi biar saya bolak-balik kamar mandi tidak akan terlihat. Kan lucu kalau malah saya yang terjajah dan mejadi tawanan di dalam rumah sendiri. Brengseknya, adik-adik saya kalau diajak sepakat untuk tidak mengatakan saya ada, bersedia kalau saya berjanji memberikan sebatang coklat.

Saya tidak tahu, hujan reda jam berapa dan kawan saya serta pacar kakak saya pulang jam berapa. Yang pasti pagi-pagi saya bangun tidur dengan perasaan senang. Minggu pagi kami terbiasa pergi ke gereja bersama-sama. Karena tidak ada pembantu maka kami setrika baju sendiri. Saat saya akan setrika baju, kakak saya memberikan bajunya untuk saya strika sebagai upah berdustanya tadi malam. Mangkel tapi tak bisa menolak!

Singkat cerita karena cape di peras adik dan kakak saya, saya memberanikan diri menerima teman pria saya itu. Ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Kita bisa asyik ngobrol mengenai teman-teman dan beberapa pertandingan basket. Dan saya makin menyayangi papi saya karena begitu teng jam 9, papi saya batuk-batuk di ruang tamu, ketika saya masuk untuk melihatnya, papi hanya menunjukkan jam di dinding. Saya langsung paham, itu artinya kawan saya harus pulang. Saya senang, terbebas dari kawan pria saya juga dari pemerasan adik dan kakak.

Berbeda dengan saya yang merasa senang kalau mendengar papi saya batuk, maka kakak saya akan bersungut-sungut. Jadi kalau saya segera menyampaikan bahwa kawan saya harus pulang, kakak saya malah minta tambah 30 menit lagi waktunya. Kalau- mengingat-ingat hal itu rasanya lucu juga.

Kalau kawan pria yang datang cuma satu, artinya kawan saya satu, pacar kakak saya satu dan pacar kakak saya yang lain juga satu, maka cuma akan ada 3 pria muda yang datang. Kebayang gak kalau yang naksir saya atau kakak-kakak saya lebih satu.

Pernah satu masa, yang datang ke rumah jumlah lebih dari biasanya. Berhubung saya tidak punya komitmen dengan siapa-siapa jadi saya tenang-tenang saja. Berbeda dengan kakak saya yang persis di atas saya. Dia pasti kebingungan dan senjatanya selalu minta papi saya keluar untuk ikutan ngobrol. Pastinya teman-teman pria pada gerah dan satu persatu pamit pulang.

Kata orang-orang dia memang ”macan” (manis dan cantik) jadi teman prianya juga banyak. Cuma kalau pacarnya di mana-mana, saya juga suka kesal. Karena wajahnya yang ”macan” itu, lulus SMA dia langsung bekerja sebagai SPG air mineral yang menjadi pelopor air mineral di Indonesia.

Akibatnya, dia punya pacar di rumah (teman kompleks) dia punya pacar eks teman sekolah dan di tempat kerja. Repotnya, kini gantian saya yang harus berdusta untuknya. Kalau buat saya satu malam minggu saja sudah terlampau banyak, maka kakak saya perlu waktu lagi. Jadi dia pacaran tidak cuma malam minggu. Bisa jadi malam Senin dengan ex teman sekolah atau malam Kamis dengan teman rumah dengan alasan ikut organisasi karang taruna.

Kejadian banyaknya teman pria yang datang ke rumah kami tidak terjadi satu dua kali tapi sering. Mengakibatkan antrian mobil, motor dan sepeda sangat panjang di depan rumah kami. Pernah satu kali malam minggu, sejak sore papi saya sudah mandi dan mondar-madir di teras. Jelas kami heran, kalau saya tenang-tenang saja tidak demikian dengan kakak saya. Berulang-ulang melihat ke teras dan akhirnya bertanya ke mami, si papi sedang apa sih?

Si mami, sebagai ibu yang baik, bertanyalah pada si papi. Dan jawaban papi sungguh menggelikan. Entah serius atau bercanda si papi bilang mau jadi tukang parkir. Karena mobil, motor dan sepeda sudah terlalu banyak yang parkir di muka rumah kalau malam minggu. Saya tertawa ngakak sementara kakak-kakak saya pada mencak-mencak.

Tapi punya teman pria atau pacar banyak ternyata lumayan juga. Ketika menjelang natal, rumah akan direnovasi terutama di warnai ulang. Tenaga sukarela sangat banyak. Tak perlu ada tukang, cukup remaja-remaja SMA yang di koordinir si papi dan modal makan siang masakan mami. Tidak sampai seminggu, rumah dengan luas 400 meter, rapih di cat ulang.
Si papi yang mantan tentara ini, ternyata sangat pandai bergaul dengan anak-anak SMA, ujung-ujungnya si papi rela mengeluarkan radio tape-nya untuk menghibur anak-anak yang sedang mengecat.

Kalau saya ingat-ingat masa pacaran, mami dan papi saya ternyata cukup punya perhatian. Memang jadul banget dengan batuk-batuk sebagai tanda habis waktu berkunjung, cuma lumayan kreatif. Dan mengenang masa-masa itu mampu membuat saya tersenyum. Papi saya memang berkesan galak, apalagi soal disiplin ketepatan waktu. Bukan hanya waktu berkunjung saat pacaran tapi soal ketepatan waktu berangkat dan pulang sekolah juga sangat ketat, Jangan pernah coba-coba terlambat tanpa alasan, karena akan berhadapan dengan si papi yang akan panjang lebar menjelaskan mengenai dampak ketidak disiplinan pada situasi perang. Jangankan terlambat setengah jam, beberapa menit saja bisa berati ratusan nyawa melayang.

Jadi saya tidak pernah minta perpanjangan waktu saat pacaran karena selain alasan di atas, saat saya pacaran dengan papanya Bas dan Van, si papi sudah almarhum. Sebagai penghormatan terhadap papi saya yang kisahnya dia dengar dari saya, mantan pacar saya itu mengabadikan nama almarhum papi saya pada putra sulung kami, Bastiaan! (Icha Koraag, 3 November 2006)

1 comment:

Anonymous said...

Its so natural.
I love it too Icha.
This will be a funny movie if someone bring it up :-)
Rgds,
a