Tuesday, November 28, 2006

SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA)

Sebelum berangkat kerja, saya sempat mendengar informasi yang ditayangkan sebuah infoteinment di tv. Achmad Dhani, pentolan grop musik DEWA yang juga suami dari salah satu personil group vokal RATU, Maia, mengultimatum sang istri untuk membubarkan group vocalnya atau pernikahan Dhani dan Maia yang buyar!

Utimatum itu keluar dari mulut Achmad Dhani dan disiarkan semua infoteinment yang ada. Sayangnya pada waktu yang bersamaan, infoteinment tidak menginformasikan bagaimana reaksi dan pendapat sang istri, Maia.

Infoteinment hanya mengatakan dengan kalimat standar “Hingga informasi ini disiarkan, Maia belum bisa dimintakan pendapat. HP yang dihubungi pun tak tersambung”. Kalimat tersebut sebetulnya hanya upaya menunjukkan bahwa infoteinment sudah melakukan berita berimbang. Sudah menghubungi Maia namun yang bersangkutan tidak bisa dihubungi.

Achmad Dhani mengatakan, ia sangat terenyuh bahkan nyaris mengeluarkan airmata karena anak-anaknya melakukan semua aktivitas hanya ditemani pembantu. Makan dengan pembantu, nonton tv dengan pembantu, siap-siap ke sekolah juga dengan pembantu. Jika menggunakan daftar absen, sebagai seorang ibu, absen Maia sudah sangat banyak

Sebagai suami, Dhani meminta Maia keluar dari RATU, menghentikan semua aktivitas bermusiknya dan kembali ke keluarga. Ultimatum tersebut tidak main-main. Ini dapat dilihat dari tindakan Dhani yang memecat Vita yang di tunjuk Dhani untuk menjadi Manajer RATU. Dhani menilai Vita sudah gagal mengatur jadwal RATU yang berdampak pada kesibukan Maia, sehingga Maia menelantarkan keluarga.

Ternyata info yang mengatakan Achmad Dhani seorang yang otoriter, bukan isapan jempol. Pernyataan yang disampaikan Achmad Dhani kepada masyarakat melalui infoteinment, membenarkan anggapan selama ini, bahwa Achmad Dhani memang seorang yang Otoriter.

Saya jadi teringat ketika Maia baru menampakkan langkah kakinya di dunia musik Indonesia, dalam sebuah wawancara yang ditayangkan sebuah tv swasta, Maia mengatakan langkahnya ini direstui dan di dukung sang suami. Sang suami melihat anak-anak sudah besar dan dapat di tinggal, sehingga sang suami mengizinkan Maia kembali menekuni apa yang dulu pernah ditekuni (Maia sempat menjadi backing vocal)

Jika sekarang Maia, dinilai sudah keterlaluan oleh sang suami, maka yang menjadi keprihatinan adalah, apakah pasangan Dhani dan Maia tidak mempunyai hubungan komunikasi? Apakah Dhani dan Maia tidak tinggal serumah?

Dalam artikel yang berjudul ”Mengikis sifat Otoriter” yang di tuliskan Arland dalam milis ”Mencintai Islam”: Orang yang otoriter memandang dirinya lebih dari orang lain dan selalu melihat sesuatu dari sisi kejelekannya saja. Salah satu yang berbahaya di antara penyakit hati adalah sifat egois, tidak mau kalah, ingin menang sendiri, ingin selalu merasa benar, atau sifat selalu merasa dirinya tidak berpeluang untuk berbuat salah.

Apa yang dutuliskan Arland semua nampak dalam diri seorang Dhani Dewa. Bahkan tanpa perasaan malu mengultimatum istri sendiri dan mengumumkannya pada masyarakat luas. Bukankah kita diajarkan bagaimana suami-istri saling mendukung dan saling menjaga bukan saling mempermalukan.

Jika salah satu dari pasangan suami istri tersebut sudah tidak menghormati pasangannya, akankah kehidupan rumah tangganya dapat berjalan dengan baik? Memang tidak menutup kemungkinan Maia akan memilih rumah tangganya dan mengorbankan karir bermusiknya.

Saya bukan penggemar group vokal RATU,. Sayapun tidak merasa dirugikan jika group vokal RATU di bubarkan. Ada apa dibalik motivasi Dhani DEWA dalam mengultimatum sang istri. Sungguhkah didorong keprihatinan atas nasib ketiga anak-anaknya.

Atau karena kepopuleran Dhani dikalahkan oleh kepopuleran Maia? Jika prihatin terhadap nasib ketiga anak-anaknya, apakah ini bukan salah satu resiko yang sudah bisa dipredeksi ketika mengizinkan sang istri terjun ke dunia entertain? Apakah tidak ada komunikasi dintara pasangan Dhani dan Maia sehingga jadual Maia bisa terlampau banyak sehingga berdampak pada tingginya frekwensi meninggalkan keluarga?

Tahukah Dhani dengan tinggnya frekwensi manggung RATU berarti tebalnya kocek Maia? Apakah sesungguhnya Dhani mulai merasa terancam melihat perolehan Maia dari segi materi? Atau hal yang paling kecil tapi cukup prinsipil, Dhani kesepian? Sehingga ini hanya alasan dari niat yang sesungguhnya untuk melakukan tindakan lain?

Semua kemungkinan bisa dan mungkin terjadi. Seharusnya jika menghormati istrinya, ulmitumlah istrinya sendiri tanpa perlu menggunakan jalur umum. Dari sikapnya yang mempbulikasikan ultimatumnya pada masyarakat umum, menunjukan Dhani DEWA tidak menghormati lembaga pernikahan sekalipun itu pernikahannya sendiri.

Ini mengingatkan masyarakat pada sikapnya yang tidak sopan pada ayah kandungnya ketika sang ayah kandung membenarkan pernikahan Dhani Dewa dan Mulan Kwok, memang terjadi. So, Dengan kata lain , jika seseorang sudah tidak menghormati rumah tangganya, keluarganya, juga orang tuanya maka pada dasarnya orang tersebut tidak menghormati dirinya sendiri. (Icha Koraag)

1 comment:

muhammad abduh said...

Tanpa disengaja, saat sebuah TV swasta menanyakan sosok Dhani yang tengah mengultimatum (mewarning) istrinya, saya sedang siap mengantar anak saya yang masih tiga tahun pergi ke sekolah play group, sekaligus mengantar istri saya bekerja.
Pandangan dan telinga saya memang sempat tersita sekian menit melihat sang "Dewa" dari Group Dewa. Kukatakan pada istri tentang "keanehan" sikap Dhani.
Saya katakan aneh karena mengapa Dhani "menggugat-gugat" keberadaan istrinya yang dikatakan Dhani telah absen.
Saya jadi heran, bukankah kesibukan istrinya telah direstuinya begitu Dhani merelakan istrinya terus terjun di dunia hiburan.
Saya juga heran, sebagai suami, apakah sang "Dewa" tidak bisa menjalin komunikasi dengan baik sang istri. Dia anggap apa sang istri?
Boleh dan sah-sah saja dia bertindak otoriter pada personel Dewa, tapi bukankah Maia itu istrinya yang harus dilindungi dan dikasihi.
Sepintas kilas, Dhani tengah menunjukkan kasih sayang pada anak-anaknya dengan mengungkapkan kesedihannya manakala anak-anak lebih banyak dengan pembantu.
Tapi apakah dia tidak sadar, apa yang dilakukan dan disiarakan di media, bisa merusak kejiwaan anak-anaknya. Apakah dia tidak sadar, bagaimana sakitnya melihat orang tua sendiri 'bertengkar'
Ah mungkin masih banyak di antara kita untuk belajar menjadi suami, istri dan orang tua yang baik.