Tuesday, November 14, 2006

SURAT CINTA

Surat ini kusimpan sudah 25 tahun lamanya.
Aku tidak tahu dimana si pengirim surat ini berada.
(Icha)



Jakarta, 20 Des 1987

Icha yang mempesona. Apa kabar? Selalulah mempesona!

Saya suka kamu, karena ternyata kamu suka berkorespodensi. Kebetulan saya lebih bisa mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Ada banya hal yang ingin saya ceritakan, tentu tentang diri saya. Saya perlu menghilangkan, melenyapkan kegamangan.

GAMANG

Ketika lembar hari luluh
Kabut jatuh berguling
Tetapi mengapa di bukit-bukit jauh?

Ketika gerimis turun
Alam mengalun, merayap
Tetapi mengapa mentariku lenyap?

Ketika lembar hari mengadu
Dan jiwa luluh, kulihat kau berjaga
Demikian dekatku dalam bicara

Demikian dekatku
Pada tepian semesta raya
Demikian dekatku
Pada puncak absurditas
tetapi mengapa kata-kataku menerbitkan lembayung di langit?
Tetapi mengapa aku memburu keterasingan & di buru kegamangan?

Puisi itu menggambarkan perasaan saya sekarang, tentu setelah mengenal kamu. Saya berada di dalam kegamangan selalu, jika mulai mengenal dekat sesorang yang saya suka. Sebabnya sudah jelas, keyakinan pemikiran makro-cosmos saya.

Saya seolah memburu kamu, padahal kamu adalah keterasingan. Saya yakin tak akan bisa mengerti kamu, tetapi bukan karena kamu salah-tidak tetapi karena saya egois. Tak bisa lepas dari dunia saya sendiri, masuk dalam dunia orang lain. Semakin saya dekat kamu. Semakin saya terasing dalam pemikiran saya.

Aku suka kamu!

Sementara itu, saya suka kamu ada di dekat saya. Maka kegamanganlah yang mencekal
Ini terjadi sejak beribu-ribu tahun yang lalu, Icha. Aku selalu dengan duniaku, meski kamu atau teman-teman cewek lain (dulu) milik rongga dadaku, keniscayaan kehidupan menjadi rival beratmu, bukan manusia.

Saya adalah anak kehidupan yang nakal Icha.
Yang ketika bermain lupa pada induknya. Yang kemudian pula berteriak menyapa langit. Cha tulisan ini memang tulisan orang yang kesepian. Lihatlah, rasakan, bagaimana dia meronta-ronta.

Icha, saya tak tahu, akankah kamu sama seperti orang lain (teman-teman cewek) yang setelah tahu siapa saya lalu memutuskan untu ”just for fun” tahukah kamu betapa menyakitkannya itu? Dan betapa menyakitkan ketika kemudian orang-orang mengatakan saya Don Juan. Terlalu mahal memang harga yang harus saya bayar untuk sebuah pemikiran. Berbahayakah saya, jika saya anti-theis, tak bertuhan?

Bagai awan saya terbang kesana kemari terbawa angin. Padahal hanya satu yang ingin saya dapatkan dari teman-teman cewek, melihat saya sebagai manusia, laki-laki bukan setan atau monster.

Itulah sebabnya Cha, hari pertama saya mengenal kamu, saya langsung memberitahu kamu bahwa saya atheis. Saya tidak ingin seperti yang lain, kamu melakukan hal yang sama, mundur setelah tahu ke-atheis-an saya. Saya mau hari itu juga kamu mengindar dari saya daripada suatu hari nanti, kala saya meletakan harapan di tempat yang amat layak-kamu melihat saya sebagai racun. Namun di luar dugaan saya, kamu ktakan; kedengarannya menarik. Lalu saya jawab, terasa lebih menghinda daripada memuji.

”Ada yang mencekat
Ada yang berkutat
Ada yang meradang
Ada yang hilang
Kalau kamu tak ada”

Icha sungguh mati saya tak percaya sikap kamu itu. Pulang dari punck, saya pastikan (mencari kepastian) dugaan-dugaan saya di rumah kamu. Nampaknya kamu memng tertarik dengan penyimpangan saya itu (gr deh gue!) namun saya tahu, kamu punya niat baik, mengembalikan saya ke jalan yang benar! Yang penting kamu adalah a motivation to still a live.

Karena tangisan-tangisan kecil belum reda. Menangis bukan karena rasa absurditas hidup menjadi atheis tapi karena kesendirian. Kesendirian menanggung absurditas hidup. Cha, memang amat mengherankn pengaruh kamu. Memang telah lama aku memutuskan untuk tidak radikal lagi dalam tindakan yang berlandaskan ke-atheis-an saya. Nmun di gereja itu, saya sama sekali ”ogah” bertengkar meski saya tahu banyak tentang ”Trinitas, keTuhanan Yesus atau Rasul Paulus”, misalnya. Minat saya terhadap agama-agama kan sudah sejak dulu. Galau sekali rasanya, karena tiba-tiba harus kompromis dengan penghotbah itu!

”Biarkan saya berkata:
Saya suka kamu
Dan biarkan saya mendengar kamu berkata
Saya tahu itu
Lalu biarkan saya berharap
Bukan hanya kata itu”

Sungguh amat menenangkan, tiba-tiba kamu duduk diantara saya dan penghotbah itu. Ingin rasanya saya katakan pada kamu” Icha kalau bukan karena sedang ada rasa sayang saya pada kamu tentu sudah saya sikat habis ini orang. Tapi hebat orang itu, tak bisa saya pungkiri dia dapat melihta api pemberontakkan hanya dari mata saya. Padahal itu hanya beberapa kali saja ketika dia membacakan doa.

Pertama kali dalam hidup saya, begitulah saya berkata dalam hati setelah kita pulang. Ada orang yang memancing dalam kolam pemikirn saya, namun saya sama sekali tak mengamuk. Ya, mudah-mudahan ini pertanda baik, seperti yang kamu katakan: baik bukan bukan berarti saya mengubah pikiran saya tetapi syaa mulai mendapat kepastian bahwa ada cara menghilangkan pengaruh buruk dari ke-atheis-an saya.

Pengaruh buruk, ya memang ada menyelimuti hidup saya yaitu keresahan. Sering saya berkata: Hormat saya kepada filsuf-filsuf yang bunuh diri. Mereka adalah orang-orang yang jujur pada dirinya sendiri, itu saja alasannya.

Cuma saya tak akan mengikuti jejaknya. Telah saya putuskan hidup ini indah, maka aku ingin tetap hidup. Apalagi setelah ada kamu Cha. Hidup tidak hanya indah tapi juga mengalun. Ok Cha saya harus ngeposin surat ini. Hari ini sudah tanggal 22 Desember, jadi dua hari saya tulis surat ini setiap malam.

Cha ini masih ada satu puisi lagi untuk kamu. Sebenarnya banyak puisi yang saya dapat buat setelah ketemu kamu. Saya gak tahu bagus tidaknya puisi-puisi ini tapi yang pasti keluar dari tempat yang terdalam di benak. Puisi terakhir (di surat ini) adalah saduran dari Shakespeare, Cuma udah dimodifikasi.

Percayakan Icha

Kamu boleh tidak percaya
Bahwa matahari pernah bersinar dan akan selalu bersinar
Kamu boleh tidak percaya
Bahwa bintang pernah berkelip dan akan selalu berkelip
Kamu boleh tidak percaya
Bahwa bumi pernah berputar dan akan sellu berputar
Bahkan kamu boleh tidak percaya
Pada apa yang saya katakan
Namun jangan kamu tidak percaya
Bahwa kamu mempesonaku


22 Des 1987
Some one

1 comment:

xienxien said...

saya kenal Bunda Gaul dr 'airputih.'
tulisan Bunda hebat!
saya perlu banyak belajar dr Bunda!