Saturday, December 23, 2006

KEBAHAGIAAN DI SUATU PAGI !

Aku masih terbaring di ranjang. Selimut masih membungkus tubuhku, dan aku juga masih merasakan tangan mungil Van yang memilin-milin ujung rambutku, tiba-tiba aku tersentak oleh doa yang terucap dari bibir Van.



Tuhan Yesus yang baik,

Berkati mama, papa, Kakak Bas dan Anes.

Terima kasih Tuhan, Amin!



Bunyi doanya sederhana saja. Kata-kata yang digunakan juga terangkai dalam kalimat langsung.

Tanpa pembungkus, tanpa menggunakan kalimat pemanis.

meluncur lancar tak terbata-bata dari bibir mungil, Van.

Putri bungsuku yang baru berusia 3,5 tahun.



Sontak, rasa kantukku hilang, berganti dengan kesegaran yang diawali getaran telinga atas doa dari bibir mungil Van. Aku berbalik dan kali ini Van menyembunyikan wajahnya di leherku.



Ku cium lembut seluruh wajahnya, juga tubuhnya. Matanya terpejam tapi bibirnya membentuk senyum. Ah tak ada permandangan yang lebih indah daripada permandangan dihadapanku sekarang.



Anakku adalah anugerah yang sungguh luar biasa yang kumiliki dalam kehidupanku. Darinya aku belajar memahami arti memiliki, darinya pula aku belajar memahami arti kasih yang sesungguhnya. Kala kelelahan menerpa tubuh ini, kala sakat menyakit melingkup diri ini, Van ada dan selalu ada di dekatku.



Dengan tangan mungilnya di remas-remas kaki dan tanganku, maksudnya memijatku. Tangan mungil dan tenaga kecilnya nyaris tak memberi rasa apa-apa di kaki dan tanganku tapi menimbulkan getar-getar halus di sanubari ini. Sungguh menyenangkan mempunyai buah hati seperti Van.



Bas yang sudah duduk didepan tv sambil menikmati susu coklatnya, sesekali masuk ke kamar hanya untuk bertanya: Boleh aku mencium mama? Apa ada kebahagiaan yang melebihi hal-hal seperti itu?



Mencium Bas dan Van, saat ini masih serupa seperti mencium mereka saat masih bayi merah. Saat kami asyik berangkulan di tempat tidur, aku teringat sesuatu. Yah, Hari ini Sabtu 23 Desember 2006. Bergegas dengan tertatih (Kondisiku masih belum pulih) aku menggandeng Bas dan Van menemui papanya. Yah, hari ini papanya berulang tahun. Kamipun larut dalam pelukan. Aku memimpin doa syukur untuk suamiku, kesehatanku dan keluargaku.



Tak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan kala Tuhan menyertai kehidupan kita dimanapun dan sedang apapun. Terima kasih Tuhan untuk semua berkat yang sudah Kau anugerahkan bagiku dan bagi orang-orang ku cintai. (Icha Koraag, 23 Des 2006)

Thursday, December 21, 2006

SELAMAT HARI IBU, UNTUK DIRI SENDIRI!

Hari ibu?
Dulu waktu aku sekolah, jika memperingati Hari Ibu, aku coba memahami peran perempuan secara umum. Lalu peran perempuan dalam kehidupanku (Ibuku). Sekarang, aku mencoba memahami hari Ibu, sebagai hari aku. Ya, bukankah aku seorang perempuan, seorang istri dan ibu dari Bas & Van?

Jadi tidak salahkan kalau aku mengucapkan selamat hari ibu, bagi diriku sendiri.
"Cha, selamat hari ibu.
Semoga apa yang kamu perjuangkan untuk selalu menjadi istri dan ibu yang baik bisa terwujud!"

Sekarang aku sedang sakit!
Sejak Senin, 18 Des, seluruh permukaan tubuhku timbul bercak-bercak merah. Karena tidak merasa terganggu, aku tidak terlalu peduli. Selasa pagi, bercak itu mulai rata di seluruh tubuh dan wajah. Tapi aku tetap kerja dan menyempatkan diri datang ke Peluncuran Buku Kembang-Kembang Genjer.

Pulang dari TIM, aku singgah di Klinik 24 jam dekat rumah. Dokter jaga bilang, ah paling alergi. Padahal sampai umurku tua begini, aku belum pernah tahu alergie. Tapi aku tak banyak komentar, terima di suntik dan di bekali obat 2 macam. Serta surat istirahat 2 hari.

Hari Rabu, ada demam sedikit tapi tidak terlalu mengganggu, aku masih mengantar Bas dan Van untuk merayakan Natal di sekolah lalu menuliskan dan mempostingkan liputan Kembang-Kembang Genjer. Siang sehabis minum obat aku tidur. Seperti pesan dokter, obatnya membuat ngantuk.

Aku terbangun, kala kakiku di sentuh Bas. Bas minta makan karena lapar. Ku lihat jam menunjukan pukul 18.40. Bas dan Van suah bangun tapi membiarkan aku tetap tidur. Ku paksakan bangun, dan menyesuaikan dengan keadaan, barulah perlahan-lahan aku turun dari tempat tidur dan menyiapkan makan malam.

Sepanjang mengerjakan persiapan makan malam, pikiranku melayang pada mamiku. Mungkin dulu mamipun seperti ini. Di tengah sakit tetap harus menyediakan kebutuhan keluarga. Kalau aku merenungkan, Karena tanggung jawab sebagai ibu, rasa sakit jadi tidak kami rasakan.

Aku hanya mempunyai dua anak, sedangkan mamiku 11, apa jadinya kalau mami sakit dan tidak bisa mengasuh 11 anaknya? Sekarang aku rasakan sendiri. Sakit itu bisa tidak terasa jika ingat kewajiban merawat Bas dam Van, Mungkin seperti itulah yang dilakukan dan dirasa para ibu dimana-mana. Tidak pernah mengaku bahkan dengan tegar akan berkata "Saya sehat-sehat saja!"

Mungkin seperti inilah yang dirasakan mamiku atau ibu-ibu di seluruh dunia, demi keluarga yang dicinta, ia tidak merasakan apa yang terjadi dengan tubuhnya. Tapi, waktu itu apa yang aku lakukan? Berterima kasihkah? Bersyukurkah? atau biasa saja?

Tiba-tiba airmata mengalir , ada perasaan perih bagai diiris sembilu, menjadi ibu adalah keinginanku sendiri, Sungguh aku sangat bersyukur dan berbahagia bisa menjadi seperti yang aku inginkan. Di belantara dunia, banyak orang yang tidak bisa menjadi seperti yang diinginkan.

Dengan berbagai alasan, peran sebagai ibu berusaha dimatikan. Padahal naluri untuk merawat dan mengasihi sudah menyertai setiap perempuan yang terlahir di bumi. Tuhan memberikan siksa dan derita ketika datang bulan, hamil dan bertarung nyawa saat melahirkan buah cintanya. Tapi Tuhan juga memberikan kemuliaan yang tiada tara buat semua perempuan yang berperan sebagai ibu.

Hanya perempuan yang bisa memberikan air susunya sebagai makanan pertama, penguat tubuh anak-anaknya. Menjelang malam, aku sangat mengantuk, perutku mual. Setelah selesai memberi makan Bas dan Van, ganti Frisch yang mengurus aku. Ia menyiapkan makan malamku. Usai makan malam dan minum obat, aku tertidur.

Pagi ini, kurasakan semua sendi pergelangan tangan dan kakiku sakit. Ketika kutelepon adikku yang dokter, ia memperkirakan asam urat. Aku niat akan ke dokter dulu sebelum memberli obat yang dianjurkan adikku. Herannya bercak-bercak merah belum juga hilang. Wajahku jadi nampak kusam. Jadi semakin tak sedap di lihat.

Hari ini, hari ibu.
Aku sakit. Merenung untuk memaknai hari ibu, alih-alih membuat aku sedih. Tadi aku menelpon mami dan mama mertua ku, mengucap salam dan selamat hari ibu. Mereka berdua mengucapkan salam kembali selamat hari ibu untukku. Ya, akupun pantas mendapat ucapan selamat hari Ibu! (Icha Koraag, 22 Des 2006)

Sunday, December 03, 2006

Poligami atau Poliandry adalah pengingkaran komitmen

Ketika beberapa waktu lalu ada acara pemilihan "Poligami award" yang di motori pemilik sebuah rumah makan khas Solo, saya tidak merespon. Artinya saya tidak berkomentar mengenai peristiwa tersebut. Karena sisi keperempuanan saya tersinggung.

Perempuan dijejerkan dan dipamerkan sebagai manusia yang takluk dan menerima berbagi suami, lalau komunitas itu layak mendapat penghargaan. Buat saya itu adalah masyarakat yang sakit. Jujur, itu salah satu peristiwa yang turut memacu tekad saya untuk terus mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat mengenai hak, peran dan tanggung jawab manusia berjenis kelamin laki-laki dan berjenis kelamin perempuan.

AA Gym bukan dewa, ia hanya manusia biasa yang ditempelkan berbagai atribut peran di dunia. Kita, masyarakat yang mengenal sosok AA Gym baik secara langsung maupun lewat media harus memisahkan fakta tersebut dari emosi. Artinya jangan karena kepalang mengaggumi ucapan atau ajaran yang disebar luaskan lalu bias menganggap semua tindakan seorang AA Gym patut diteladani juga.

Sekali lagi coba telaah dengan kepala dan hati yang tenang. dari beberapa kawan perempuan yang saya tanyakan umumnya mereka menjawab "Tindakan AA Gym sudah benar tapi tidak perlu di tiru". Lalu saya mengejar dengan pertanyan lain. Bukankah sebuah tindakan yang benar harus di tiru dan tindakan yang tidak benar harus diperbaiki agar menjadi benar?"

Setelah diam sejenak, umumnya mereka menjawab "Iya, sih". Tapi ada semacam keengganan untuk menjawab lebih lanjut.

Kemudian saya tanyakan satu pertanyaan langsung: "Bagaimana rasanya kalau kamu harus berbagi suami?"

"Jujur saya tidak mau"
"Kalau mau mendapat upah sorga, ya terima"
"Di sini kan kita diuji, keikhlasan dan ketaqwaan kita"

Untuk jawaban pertama, saya tanyakan lagi mengapa tidak mau?
"Barangkali saya manusia biasa, sulit rasanya membayangkan harus berbagi suami".

Jawaban kedua dan ketiga, saya tanyakan lagi "Apakah sorga tidak menyediakan tempat bagi perempuan yang tidak rela berbagi suami?"

Jawabnya: "Yah, bukan begitu tapi di agama kita kan kita diajar untuk mengikuti suami sebagai imam."

Saya tanyakan lagi, " Apakah kamu akan terus mengikuti atau menjadikan panutan orang yang sudah menyakiti kamu?"

Tak ada jawaban.

Apakah salah, kalau kita sebagai perempuan mengakui sebagai manusia biasa sehingga tidak rela berbagi suami adalah sesuatu yang wajar? Apakah justru dengan berusaha merelakan berbagi suami agar tampak ilmu keikhlasan dan iman pada agamanya menjadi lebih baik?

Seperti apa yang disampaikan Juli alam sebuah milis, manusia dan agama adalah bagian dari kebudayaan, tapi tidak Kepercayaan/Iman! Saya setuju dengan pendapat Juli. Banyak masyarakat kita, terutama kaum perempuan tidak bisa memisahkan agama sebagai sebuah keyakinan dan agama sebagai sebuah budaya.

Lebih jauh Juli mengatakan: Poligami bukan hanya masalah Cemburu atau dinilai dari perasaan semata. Tapi merupakan bagian dari pengingkaran komitmen.

Lagi-lagi saya harus mengakui, saya sependapat. Padahal kalau mereka mau mengatakan berdasarkan apa yang mereka rasa, ini justru membantu mereka keluar dari budaya yang dibentuk untuk percaya bahwasannya perempuan tidak punya pilihan. Suka atau tidak suka, ya terima. Tidak bisa kalau suka terima, tidak suka tinggalkan.

Dan kalau ditanya mengapa? Satu buku tidak cukup menjawab.
Persoalannya bukan poligami atau poliandri, itu persoalan sepele dan terlalu sederhana. Ini persoalan lebih menyangkut substansi pengetahuan hak-hak perempuan.

Coba jujur tanyakan pada pasangan masing-masing sebelum menikah, akankah merelakan pasangannya berpoligami atau berpoliandri nanti?
4 Des 2006.