Sunday, December 03, 2006

Poligami atau Poliandry adalah pengingkaran komitmen

Ketika beberapa waktu lalu ada acara pemilihan "Poligami award" yang di motori pemilik sebuah rumah makan khas Solo, saya tidak merespon. Artinya saya tidak berkomentar mengenai peristiwa tersebut. Karena sisi keperempuanan saya tersinggung.

Perempuan dijejerkan dan dipamerkan sebagai manusia yang takluk dan menerima berbagi suami, lalau komunitas itu layak mendapat penghargaan. Buat saya itu adalah masyarakat yang sakit. Jujur, itu salah satu peristiwa yang turut memacu tekad saya untuk terus mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat mengenai hak, peran dan tanggung jawab manusia berjenis kelamin laki-laki dan berjenis kelamin perempuan.

AA Gym bukan dewa, ia hanya manusia biasa yang ditempelkan berbagai atribut peran di dunia. Kita, masyarakat yang mengenal sosok AA Gym baik secara langsung maupun lewat media harus memisahkan fakta tersebut dari emosi. Artinya jangan karena kepalang mengaggumi ucapan atau ajaran yang disebar luaskan lalu bias menganggap semua tindakan seorang AA Gym patut diteladani juga.

Sekali lagi coba telaah dengan kepala dan hati yang tenang. dari beberapa kawan perempuan yang saya tanyakan umumnya mereka menjawab "Tindakan AA Gym sudah benar tapi tidak perlu di tiru". Lalu saya mengejar dengan pertanyan lain. Bukankah sebuah tindakan yang benar harus di tiru dan tindakan yang tidak benar harus diperbaiki agar menjadi benar?"

Setelah diam sejenak, umumnya mereka menjawab "Iya, sih". Tapi ada semacam keengganan untuk menjawab lebih lanjut.

Kemudian saya tanyakan satu pertanyaan langsung: "Bagaimana rasanya kalau kamu harus berbagi suami?"

"Jujur saya tidak mau"
"Kalau mau mendapat upah sorga, ya terima"
"Di sini kan kita diuji, keikhlasan dan ketaqwaan kita"

Untuk jawaban pertama, saya tanyakan lagi mengapa tidak mau?
"Barangkali saya manusia biasa, sulit rasanya membayangkan harus berbagi suami".

Jawaban kedua dan ketiga, saya tanyakan lagi "Apakah sorga tidak menyediakan tempat bagi perempuan yang tidak rela berbagi suami?"

Jawabnya: "Yah, bukan begitu tapi di agama kita kan kita diajar untuk mengikuti suami sebagai imam."

Saya tanyakan lagi, " Apakah kamu akan terus mengikuti atau menjadikan panutan orang yang sudah menyakiti kamu?"

Tak ada jawaban.

Apakah salah, kalau kita sebagai perempuan mengakui sebagai manusia biasa sehingga tidak rela berbagi suami adalah sesuatu yang wajar? Apakah justru dengan berusaha merelakan berbagi suami agar tampak ilmu keikhlasan dan iman pada agamanya menjadi lebih baik?

Seperti apa yang disampaikan Juli alam sebuah milis, manusia dan agama adalah bagian dari kebudayaan, tapi tidak Kepercayaan/Iman! Saya setuju dengan pendapat Juli. Banyak masyarakat kita, terutama kaum perempuan tidak bisa memisahkan agama sebagai sebuah keyakinan dan agama sebagai sebuah budaya.

Lebih jauh Juli mengatakan: Poligami bukan hanya masalah Cemburu atau dinilai dari perasaan semata. Tapi merupakan bagian dari pengingkaran komitmen.

Lagi-lagi saya harus mengakui, saya sependapat. Padahal kalau mereka mau mengatakan berdasarkan apa yang mereka rasa, ini justru membantu mereka keluar dari budaya yang dibentuk untuk percaya bahwasannya perempuan tidak punya pilihan. Suka atau tidak suka, ya terima. Tidak bisa kalau suka terima, tidak suka tinggalkan.

Dan kalau ditanya mengapa? Satu buku tidak cukup menjawab.
Persoalannya bukan poligami atau poliandri, itu persoalan sepele dan terlalu sederhana. Ini persoalan lebih menyangkut substansi pengetahuan hak-hak perempuan.

Coba jujur tanyakan pada pasangan masing-masing sebelum menikah, akankah merelakan pasangannya berpoligami atau berpoliandri nanti?
4 Des 2006.

No comments: