Monday, October 22, 2007

SEPOTONG KISAH MENJELANG IDUL FITRI.

Saya sangat percaya memberi sebagian dari yang kita miliki tidak akan membuat kita menjadi kekurangan. Hal ini saya pelajari dari almarhum ayah mertua saya. Kedua mertua saya bukan berasal dari orang yang ada tapi mereka berhasil menanamkan pesan bahwasannya tanpa uang bukan berarti kita tidak bisa membantu.

Dan pesan ini ikut saya aminkan. Bukankah tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlalu miskin hingga tidak dapat membantu orang lain dengan doa? Karena untuk berdoa seseorang tidak perlu mempunyai status sosial atau status ekonomi tinggi. Cukup punya hubungan yang erat dengan sang pencipta bumi.

Saya mempunyai keyakinan agama yang berbeda dengan kedua mertua saya. Tapi itu tidak menghalangi hubungi religius diantara kami. Sebelum menikah seluruh keluarga mertua saya tahu kalau keyakinan saya berbeda dengan mereka. Bila akhir pekan saya menginap di sana (Bogor) maka di hari Minggu pagi, ayah mertua saya akan bertanya sudakan saya ke gereja? Biasanya saya menjawab, akan mengikuti ibadah sore sekalian pulang ke Jakarta.

Ayah mertua saya juga sangat percaya pendidikkan punya peranan penting dalam mengentaskan kebodohan dan kemiskinan. Ini di aplikasikan dalam kehidupan nyata. Sudah beberapa anak kampung atau anak jalanan yang berhasil menjadi sarjana hingga menikah berkat campur tangan ayah dan ibu mertua saya. Memang tidak semuanya berhasil, terutama kalau si anak yang diasuh kedua mertua saya tidak punya niat yang sama.

Saya teringat seorang gadis kecil bernama Yanti. Waktu itu mungkin usianya sekitar 12 tahun dan sedang bermain layang-layang di siang hari. Ayah mertua saya memperhatikan dan kemudian memanggilnya. Di tanya mengapa tidak bersekolah. Yanti dengan acuh menjawab sudah tamat SD dan tak ada biaya untuk sekolah. Ayah mertua saya minta diantar ke rumah orang tuanya.

Yanti menurut dan memperkenalakan ayah mertua saya denga ayahnya. Yanti 7 bersaudara, ia anak ke 4. Ibunya suah meninggal. Ayahnya hanya buruh bangunan dan kakak-kakaknya bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga. Entah apa pembicaraan ayah mertua saya pokoknya Yanti pindah ke rumah mertua saya. Yanti diperlakukan sama dengan anak-anak yang masih sekolah. Waktu itu dua adik suami masih duduk di SMA. Pagi-pagi sarapan lalu ke sekolah. Siang membantu pekerjaan rumah, menyapu, mengepel, menyetrika atau mencuci piring dan bila malam semua sama-sama belajar.

Waktu berjalan terus dari SMP Yanti melanjutkan ke SMEA hingga praktek kerja di sebuah perusahaan. Ayah mertua saya tidak sempat melihat Yanti tamat SMEA karena keburu menghadap Illahi. Ibu mertua saya melanjutkan apa yang sudah ditinggalkan almarhum. Waktu itu selain Yanti, juga ada seorang anak laki-laki dari sebuah kampung di Lewiliang namanya Lili.

Ibu mertua saya yang memang bisa menjahit tengah menyiapkan beberapa pakaian untuk Yanti agar dapat dipergunakan bila melamar pekerjaan. Ibu mertua saya juga tengah mengumpulkan uang untuk memberi tambahan kursus komputer dan Bahasa Inggris. Ketika suatu hari Yanti berkata ingin pulang ke rumah ayahnya. Padahal jarak rumah mertua saya dengan orang tua Yanti hanya beberapa gang saja.

Saya pernah bertanya mengapa dengan jarak yang dekat Yanti harus pindah ke rumah mertua saya. Menurut ibu mertua hal itu untuk memudahkannya mengarahkan dan mengontrol. Karena rumah Yanti jauh dari memadai untuk layak di tinggali. Dan pada waktu pamitpun, ibu mertua saya merasa heran karena setiap saat sebetulnya Yanti bisa pulang ke rumah ayahnya.

Entah bagaimana ceritanya, sampai suatu ketika saya datang ke Bogor Yanti benar-benar sudah tidak ada. Dari berita yang saya terima Yanti sudah menikah dengan laki-laki yang berprofesi sebagai “mister cepek” alias laki-laki yang menjual jasa mengatur lalu lintas diperempatan jalan dengan upah serelanya, karena sudah hamil dan kini sudah di ceraikan pula.

Ibu mertua saya sangat sedih dan kecewa karena merasa gagal mengentaskan Yanti dari komunitas miskin dan bodoh di kampungnya. Saya hanya bisa menghibur dengan mengatakan “Yanti sudah memilih jalannya! Mak sudah memfasilitasi semampu Mak!”
Biasanya ibu mertuanya saya hanya tersenyum, menghembuskan nafas panjang dan mengusap dada.

Setiap Idul Fitri, ibu mertua saya gembira karena kedatangan anak-anak asuhnya yang sudah berkeluarga. Anak-anak asuh itu sudah seperti kawan buat kami. Bahkan mereka juga punya hubungan batin yang erat dengan ibu mertua saya. Ada kalanya bila perasaan mereka tidak enak dan teringat akan Ibu mertua saya. Mereka akan menelephone untuk menanyakan kabar. Biasanya memang karena ibu mertua saya sedang tidak sehat. Maka mereka akan datang, bersilaturahmi dan mendoakan agar ibu mertua saya cepat sehat.

Hal yang saya kagumi dari ayah dan ibu mertua saya, mereka saya ingin memutuskan rantai kebodohan dan kemiskinan dalam sebuah keluarga agar tidak berlanjut. Memang dari beberapa anak asuh ayah dan ibu mertua saya, mereka umumnya punya usaha dan berhasil membantu ekonomi orang tuanya.

Saya jadi teringat permbicaraan malam takbiran kemarin. Kami sedang duduk di teras belakang rumah. Saya, ipar saya, Silvy, Ibu mertua saya dan Lili si anak asuh. Ibu mertua saya sedang di pijat Lili dan Silvy. Ibu mertua saya berkata: “Rasanya tidak percaya semua anak-anak sudah menikah. Padahal waktu di tinggal papi, masih ada 3 anak yang belum selesai!”
“Empat bu, kan saya juga belum selesai!” Potong Lili.
“Ya empat, sama kamu!” ujar Ibu Mertua saya sambil tersenyum. Ibu mertua saya pantas tersenyum, karena Lili baru saja di wisuda.

Suasana hening, mata ibu mertua saya menerawang jauh. Rumah besar ini masih sepi karena semua penghuninya sudah menikah dan tinggal di luar rumah ini. Tinggal Ibu mertua saya dengan keluarga kecil satu adik suami bersama istri dan anaknya serta si Lili.

Keheningan terpecahkan manakala berurut-turut terdengar suara klakson mobil. Dengan sigap Lili berdiri dan berlari membuka pintu gerbang. Garasi yang kosong mulai terisi, satu persatu mulai berdatangan. Ada sebuncah rasa haru didada ini. Tak sanggup aku membayangkan ritual esok sesudah sholat Ied, yang pasti akan banjir air mata. Kalau kata suami air mata memaafkan dan dimaafkan adalah air mata kebahagiaan. Karena keluar dari nurani yang tercerahkan. (15 Oktober 2007)

Tuesday, September 25, 2007

MENGAJARKAN AGAMA PADA ANAK.

Bukan maksud hati menjadi pemikir tapi tidak berpikir rasanya sama juga tidak hidup alias mati. Kala belahan jiwa dan kedua buah cintaku sudah di buai mimpi, angan pikiranku mengembara. .Aku sadar betul tidak pandai mengajarkan agama pada kedua anakku. Karena mengajarkan agama bukalah bidangku. Tapi sebagai orang beragama aku ingin anak-anakku mengenal agama dengan cara yang benar. Persoalannya mengenal agama dengan cara yang benar itu yang bagaimana? Pemikiran ini datang kala aku mendengar Vanessa berdoa menjelang tidur malam.

Vanessa berlutut di tempat tidur menghadap tumpukan bantal. Melipat tangan di depan dada dan memejamkan mata. Lebih kurang yang terucap.;

Tuhan
Terima kasih untuk hari ini
Ampuni Bastian yang makannya lama.
Ajar Bastiaan agar mau makan cepat dan banyak.
Terima kasih untuk Bastian yang sudah menolong aku dalam bermain.
Tuhan berkati mama dan papa kami
yang selalu mengasihi kami.
Ajar aku untuk menyayangi Bastiaan dan Bastiaan menyayangi aku.
Sekarang kami akan tidur
jaga dan bangunkan kami besok dengan tubuh yang segar. Amin

Ada perasaan haru yang menyusup ke relung hati ini. Apakah Vanessa mengerti dengan apa yang diucapkannya?
Aku jadi merenung, apakah pengenalanku akan agama sudah benar? Dan apakah sikapku dalam beragama juga benar? Sejujurnya aku merasa agama hanya sebuah stigma pada ajaran tertentu. Bersifat agama kelihatannya menjadi lebih penting ketimbang beragama. Mungkin bersifat agama maksudku religius. Sifat religius, sebuah sifat yang lebih mengutamakan harmonisasi atau kedamaian.

Sifat religius ini bukan hanya terkait pada kegiatan melaksankan ibadah tapi juga menyangkut pada hubungan antar sesama. Keinginan untuk selalu menciptakan harmonisasi dan kedamaian adalah sebuah kondisi yang mengarah pada ketenangan. Aku merasa sifat religius adalah sebuah sifat atau kondisi seseorang yang ingin selalu berada dalam kondisi dan situasi yang harmonis. Sehingga tecipta sebuah kedamaian atau kenyamanan. Bukankah seharusnya agama menjadi fasilitator ke arah tersebut? Bukankah tujuan agama baik adanya?

Aku tidak ingin mengajarkan sesuatu yang bersifat dogmatis pada kedua anakku. Tapi persoalannya pada agama yang aku anut, ajaran dogmatis itu masih mejadi salah satu andalan pengajaran pada pengenalan agama.

Misalnya aku tidak ingin mengajarkan bahwa kalau Vanessa tidak mau berbagi dengan sesama dalam hal ini Bas maka kelak Vanessa akan masuk neraka. Konsep neraka adalah sesuatu yang belum ingin kuknealkan pada Bas dan Van. Jauh lebih baik bagiku bila Bas dan Van lebih mengerti atau memahami mengapa mereka harus berbagi.

Hal yang akau katakan pada keduanya:
Pertama, dua-duanya anak mama. Terlahir sebagai adik dan kakak dari satu mama dan satu papa. Bila ingin hidup menyenangkan maka kebersama dengan sesama (dalam hal antara Bas dan Van maka keduanya harus mau saling mengalah. Berusaha untuk saling menyenangkan. Misalnya: Bas mau membantu Van saat Van ingin mengambil sesuatu di tempat yang lebih tinggi. Atau Van juga dengan senang hati mengambil Bas minum jika Bas minta tolong, begitu juga sebaliknya.

Sungguh menakutkan buatku, seandainya aku salah dalam mengarahkan mereka terhadap pengenalan dan pemahaman pada agama. Terutama agama yang kami anut. Aku ingin anak-anakku mempunyai pemikiran yang terbuka. Aku ingin mereka merasakan sendiri bahwa agama bukanlah antara "aku dan kamu" tapi lebih pada "aku dan sang Pencipta".

Di luar sana perbedaan agama sampai saat ini masih menjadi sebuah ancaman bahkan kekerasan atas nama agama semakin hari semakin meningkat. Ini sebetulnya bentuk kegagalan pemerintah dalam melindungi/ mengayomi warganya dalam menjalankan ibadahnya sebagaimana yang dijabarkan dalam Pancasila sila pertama.

Membayangi anak-anakku akan terjun di dunia yang buas aku jadi teringat ketika seorang penangkar penyu melepas anak-anak penyu. Ratusan telur penyu yang diselamatkan sampai menetas lalu di lepas ke laut lepas. Namun alam sangat kejam menyeleksi. Hanya yang tangguh yang bertahan. Aku jadi berpikir apa yang membuat beberapa penyu bertahan, aku ingin tahu agar bisa menjadi pedomanku dalam membekali kedua anakku menjadi anak-anak yang tangguh dan mampu melewati seleksi alam.

Namun sebelum masa itu tiba, aku akan terus belajar dan berusaha mendampingi Bas dan Van dengan kasih agar kelak keduanya mempunyai cinta kasih yang seluas samudra yang bisa mereka bagikan pada sesama. Aku berharap kenikmatan mereka dalam belaian kasih kedua orang tuanya menjadi kenangan yang takkan pernah pudar sehingga menjadi motivasi bagi mereka untuk merealisasikan cinta kasih itu dalam tindakan nyata dalam keseharian hidup mereka . (25 SEPT 2007)

Icha
yang selalu berusaha menjadi istri dan ibu yang baik.

Sunday, June 17, 2007

Obrolan santai: HAK ORANG TUA!

Beberapa waktu lalu media ramai dengan berita terjatuhnya seorang balita di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Media langsung meliput dan menyiarkan berita duka tersebut. Sebagian media menyebutnya sebagai musibah, demikian juga orang tua korban. Bahkan pengelola Pusat Perbelanjaan tersebut juga menyebutnya sebagai musibah. Saya tidak mempersoalkan peristiwanya mau disebut musibah atau tragedi, intinya sama ada sebuah fakta seorang anak terjatuh dari lantai satu dan mengakibatkan korban tewas.

Langsung timbul pertanyaan salah siapa? Orang tua korban mengakui ini sebagai kesalahan mereka karena sempat lalai dan melepaskan si korban dari genggaman. Namun mereka meminta pengelola pusat Perbelanjaan untuk lebih meningkatkan fasilitas keamanan buat pengunjung. Sikap orang tua korban adalah sikap bijaksana yang tidak menyalahkan pihak lain.

Sebuah stasiun televisi menginformasikan berita kriminal, dimana seorang ibu tega menyiramkan air panas pada anaknya yang berusia 3 tahun karena buang air kecil sembarangan. Di tegaskan lagi dalam berita tersebut, diketahui si anak hanyalah anak angkat. Seakan-akan penjelasan terakhir ingin menjelaskan kenapa si ibu tega menyiramkan air panas. Andaikan anak kandung mungkin si ibu tidak tega. Lebih kurang aku mengartikannya seperti itu.

Ini menjadi bahan diskusi aku dan pasanganku. Apa yang mendorong si ibu sampai tega menyiram balita dengan air panas. Kalau si ibu tak mempunyai rasa belas kasih lantaran cuma anak angkat, kenapa mau mengangkat anak

Berita-berita peristiwa membuat Aku merenung dan memikirkan peran sebagai orang tua. Dalam siklus kehidupan mahluk hidup, lahir menjadi anak dan kelak menikah menjadi suami/istri lalu mempunyai anak perannya berubah lagi menjadi ayah dan ibu. Akan meningkat lagi seiring lahirnya generasi berikut atau cucu hingga di labelkan peran sebagai kakek/nenek. Ayah-ibu atau kakek dan nenek adalah sebutan lain dari peran sebagai orang tua. Makna kata Orang tua secara harfiah adalah orang yang sudah tua. Namun jika sudah menikah dan mempunyai anak, otomasti pasangan tersebut disebut orang tua biarpun umur mereka masih muda.

Apakah memiliki anak baik kandung atau angkat sekedar membei nilai tambah pada sebuah keluarga? Supaya masyarakat menilai sebagai keluarga yang sempurna, ada bapak, ibu dan anak? Apakah keluarga yang tidak mempunyai anak dianggap tidak sempurna? Apakah pasangan menikah yang tidak mempunyai anak dianggap tidak sempurna? Penilaian semacam inilah yang harus di ubah.




Aku jadi teringat ketika Bas dan Van pulang sekolah menjelang 17 Agustusan tahun lalu. Mungkin di sekolah diajarkan bahwasannya walaupun dari berbagai suku bangsa pada dasarnya semua anak adalah anak Indonesia. Jadi ketika mereka pulang sekolah, keduanya menceritakan asal suku kawan sekelasnya.
“Nico orang batak loh, Ma” Kata Vanes
“ Ayu, orang Jawa “Kata Bas.
“Kalau begitu Bas dan Van orang apa?” tanyaku
“Orang Menado!” Jawab keduanya serempak. Aku tak meralatnya karena ada benarnya walupun papanya orang Gorontalo, akukan orang Menado. Dan keduanya lebih terbiasa dengan sebutan sebagai orang Menado ketimbang Gorontalo.
“Kalau Oma Pinang (maksudnya Oma yang tinggal di Pinang)?” tanyaku
“Oh kalau Oma Pinang sih orang tua!” jawab Bas lugu. Kontan meledaklah tawaku.?

Apakah “Menjadi Orang Tua” adalah keinginan semua orang? Persoalannya jika menjadi orang tua lekat dengan kewajiban dan tanggung jawab, aku jadi ingin tahu, bukankah kewajiban seharusnya lekat dengan hak? Mengapa menjadi orang tua lebih lebih lekat dengan tanggung jawab tanpa diikuti apa yang menjadi haknya? Pertanyaan selanjutnya apa sih yang menjadi hak orang tua?

Dalam suatu perbincangan santai dengan suamiku, ia mengatakan. Salah satu hak orang tua adalah bersikap otoriter! Dalam hati aku bertanya, apa iya? Otoriter kan mengatur dengan paksa. Kemudian suamiku menceritakan, kemarin sore saat pulang kerja, ia melihat kerumunan orang ketika di hampiri ternyata seorang anak muda yang mental dari motornya lantaran menghindari balita.

Balita itu berjalan dengan ibunya di atas trotoar. Menurut saksi mata, si ibu menggandeng si balita di sebelah kanan, sehingga si balita bersisian langsung dengan jalanan. Rupanya keduanya baru membeli sesuatu jajanan. Si anak meminta si ibu membuka bungkusan jajanan yang di beli, sehingga si ibu melepas tangan si balita dari genggaman.

Pada saat itu melintas motor dari arah berlawanan. Harusnya tidak terjadin apa-apa tapi entah bagaimana si balita melompat dari trotar ke jalanan saat motor melintas. Si pengendara menghindari balita dengan berhenti mendadak dan mengakibatkan di pengandara mental cukup jauh.

Saksi mata yang sedang menolong pengendara motor, sempat menegur si ibu lantaran membiarkan si anak di sebelah kanan. Si ibu dengan entengnya menjawab: “Habis tadi dia ngambek maunya di kanan yah sudah!”

Menurut suamiku, saat-saat semacam itu, orang tua harus menjadi otoriter. Mau anaknya ngambek bukan masalah., si ibu lebih tahu mencegah bayaha daripada si anak. Justru tindakan otoriter itu adalah upaya menghindari si balita dari celaka. Kadang memang tindakan kasar harus dilakukan demi menyelamatkan.

Aku jadi ingat kisah seorang pelukis yang mendapat order melukis dinding dan langit-langit rumah seorang milyarder. Setiap satu lukisan selesai, biasanya si pelukis akan mundur dan memandang karyanya dari jarak agak jauh.

Suatu sore, sang milyarder mengunjungi si pelukis yang tengah menyelesaikan lukisan di dinding balkon. Seperti biasa si pelukis mundur menjauh dari objek lukisannya. Sang milayrder melihat bahaya karena si pelukis mundur mendekati tepian balkon. Maka sang milyarder berteriak mengingatkan, karena luasnya bangunan balkon, suara sang milyarder bergema sehingga si pelukis tak mendengar dengan jelas.

Sang milyarder tak putus asa, ia terus melambai-lambaikan tangan berusaha menarik perhatian si pelukis. Si pelukis malah balik melambaikan tangan. Jarak sang milyarder lebih dekat ke lukisan ketimbang ke si pelukis. Maka dengan cepat si milyarder menyiramkan sisa cat ke lukisan yang ada. Tentu saja si pelukis marah melihat perbuatan penjaga sang milyarder. Si pelukis sangat emosi melihat hasil karyanya di rusak. Walau sang milyarder memiliki uang tapi tak memberinya hak merusak karya lukisanku, ucap si pelukis dalam hati. Karena marah si pelukis berhenti berjalan mundur dan kini kembali mendekati lukisannya.

“Berani sekali kamu melakukan hal itu!” seru si pelukis dengan emosi. Tapi sang milyarder tak gentar, ia malah tersenyum lega. Ketika si pelukis mendekat dengan tenang sang milyarder berkata :”Hanya dengan merusak lukisanmu aku bisa menyelamatkan jiwamu yang nyaris jatuh dari balkon karena kamu jalan mundur sehingga tak melihat tepian balkon”

Makna dari ilustrasi di atas adalah bagaimana sebuah tindakan kasar atau jahat terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan jiwa. Dan kelihatannya orang tua punya hak otoriter semacam itu selama tujuan akhirnya adalah keselamatan dan keberhasilan anak-anaknya. Aku jadi ingat betapa kesalnya Van karena aku tidak memenuhi keinginannya makan es krim. Bahkan aku pura-pura tak mendengar tangisnya. Bahkan sampai Van berucap “:Mama beli es krim itukan untuk aku!” ujarnya sambil menangis. Memang Es krim adalah salah satu menu makan kedua anakku sehari-hari. Karena aku tak suka mereka jajan, aku kerap membuat es krim atau membeli dalam ukuran literan sebagai persediaan.

Ini kulakukan karena Van sedang radang tenggrokan akibat batuk pilek. Justru jika aku memenuhi permintaannya, aku malah akan menyiksa Van dalam sakit yang lebih lama. Apa cuma itu hak orang tua? Tentu saja tidak. Orang tua juga punya hak menikmati kebahagiaan dari setiap prilaku dan aktivitas anak-anaknya. Karena sesungguhnya sakitnya anak-anak adalah derita orang tua. Dan tawa ceria anak-anak adalah bahagianya orang tua.

Satu hal lagi, menjadi orang tua tidak selalu dengan melahirkan tapi bersikap asah asih asuh pada setiap anak adalah hak sekaligus kewajiban. Termasuk pada anak-anak yang bukan dilahirkan dari tubuh kita. Sikap asih asah dan asuh pada setiap anak adalah wujud syukur sekaligus terima kasih pada orang tua yang sudah melahirkan kita. (17 Juni 2007)

Sunday, March 25, 2007

MENYINGKAP SELIMUT ITU !


Ketika anda menyingkap selimut seseorang, itu menunjukkan kedekatan hubungan anda dengan orang tersebut. Karena aku percaya kalau anda tidak mempunyai hubungan yang dekat dengan orang tersebut, jangankan menyingkap selimut, masuk ke kamar orang tersebut saja, sudah salah.

Sebaliknya kalau anda dekat dengan orang tersebut, jangankan menyingkap selimut itu, masuk bergabung di balik selimut tersebut saja, sah! Aku tidak akan berbicara kegiatan di balik selimut. Biarlah itu menjadi cerita pribadi masing-masing. P

emahamanku menyingkap selimut seseorang, sama maknanya dengan menyingkap batas. Batas perbedaan dan batas ketertutupan. Ya, aku sudah menyingkap batas perbedaan dan batas ketertutupan antara aku dan suami.

Tepatnya kapan, aku juga kurang tahu, namun yang pasti aku sudah menyingkap selimut tersebut, kini tak ada lagi rahasia diantara kami yang tinggal hanya komitmen untuk tidak menghianati kepercayaan yang terus kami bangun.

Hidup berumah tangga tidak cukup hanya bermodalkan cinta, satu tujuan dan bahagia bersama harus menjadi cita-cita pasangan tersebut. Bahagia bersama bukan sekedar bebas tertawa tapi hidup nyaman tanpa tekanan dan tanpa rasa takut.

Aku sudah melampaui batas tersebut, dengan kusingkap selimut perbedaan dan ketertutupan antara aku dan suami. Kini tak ada lagi rasa takut atau malu dalam mengungkapkan rasa dan pemikiranku.

Ini yang kukatakan tak ada rahasia diantara kami. Itulah kebebasan yang hakiki dalam berumah tangga. Buatku sesuatu yang aneh kalau masih ada ketakutan atau rasa enggan atau malu dari salah satu pasangan dalam hal mengungkapkan rasa dan pemikiran pada pasangannya. Kita perlu membangun rasa malu, bila kita melanggar komitmen !

Ketika pasangan tersebut menikah, mereka telah menjadi satu tubuh dan satu jiwa. Karenanya mereka juga menjadi satu rasa. Salah satu dari pasangan tersebut di sakiti maka yang satu seharusnya juga merasa tersakiti. Karenanya aku yakin, seharusnya pasangan suami istri tidak saling menyakiti baik secara fisik maupun mental.

Pagi ini, ketika kuterbangun dan keluar dari balik selimut yang kugunakan untuk berbagi dengan si bungsu, Vanessa. Aku mendapati belahan jiwaku sedang menikmati berita di tv. Aku terbangun karena deringan telephone yang ternyata dari ibu mertua. Beliau menanyakan keadaan putera sulungku, Bas.

Dua hari ini Bas kurang sehat. Suamiku mengira Bas kena Demam Berdarah karena ada bintik-bintik merah di punggung, gejala panas, pusing dan mual. Tapi suamiku enggan membawanya ke RS. Dengan alasan di observasi dulu dua hari. Ini sifat yang kukenal sejak awal menikah. Bukan suamiku tidak percaya dokter, tapi suamiku punya keyakinan yang besar akan kemampuannya dalam menangani gejala sakit anak-anak.

Dan dalam perjalanan rumah tangga kami, aku memang melihat buktinya. Kepanikan justru membawa pada tindakan yang tidak rasional.Aku mengabarkan pada ibu mertua, Bas semalaman demam dan menggigil. Mulai pukul dua dan baru reda sekitar pukul enam pagi. Panasnya cukup tinggi walau akhirnya menurun setelah di beri paracetamol. Cuma sekarang ada batuk. Mungkin ini gejala flu disertai batuk. Jadi kukatakan, nanti setelah Bas bangun jika kondisinya tak bagus, aku berjanji akan segera membawanya ke dokter.

Selesai berbicara dengan ibu mertua dan menutup gagang telephone, suamiku mengembangkan kedua tangannya, menantikanku dalam pelukan. Sungguh damai dan bahagia rasanya berada dalam pelukannya. “Bas masih tidur?” tanyanya “He eh. Kamu belum tidur yah?” aku balik bertanya “Demi anak, aku harus berjaga!” jawabnya “Tapi kalau kamu sakit, bagaimana?” tanyaku lagi “Ya, jangan dong. Tapi memang agak pusing nih. Buatkan kopi dong” pintanya manja “Ok” jawabku.

Belum lagi aku bangkit dari pelukannya, Van muncul dengan wajah kusam. “Selamat pagi cantik!” sapaku sambil merentangkan tangan, mengundang Van masuk dalam dekapanku. Aku dan Van berada dalam pelukan Frisch, suamiku. “Waduh jadi berat, ada siapa yah?” Tanya Frisch “Aku” Jawab Van pelan. “Hei….kok kamu ikut-ikutan masuk sini?” Tanya Frisch “Aku kan juga mencintai mama” Jawab Van yang langsung disambut Frisch dengan gelak tawa. Mungkin pengaruh sinteron, akhir-akhir ini Van selalu menggunakan kata “mencintai” baik padaku, pada papanya maupun pada Bas. Aku bangkit dan meninggalkan keduanya. Sebelum menjerang air, kusempatkan memeriksa kondisi Bas. Panasnya sudah turun dan ia nampak lelap.

Akhir-akhir ini hubunganku dengan suami sangat dekat.. Ini juga membuat aku semakin mengenal sifat dan kebiasaannya. Ternyata memahami pasangan hidup kita hanya memerlukan keterbukaan diri kita untuk lebih menerima ia apa adanya. Sebelum menikah dan ketika baru menikah, aku membuat target-target yang mungkin cukup menekan suamiku.

Di awal pernikahan, hubungan kami berubah menjadi penuh ketegangan. Bahkan terasa sampai lima tahun pertama. Hidupku dipenuhi target dan ketika target tak terpenuhi berganti dengan rasa khawatir. Tapi ketika aku mengevaluasi lagi target-target dalam pernikahan kami dan melihat apa yang sudah aku dan suami lakukan, aku menyadari, banyak hal yang tidak mencapai target.

Aku sempat frustasi memikirkan target-target yang tak tercapai, aku menuduh suamiku kurang berusaha memenuhi target yang kita sepakati. Hidup kami terasa berat. Memasuki tahun ke tujuh pernikahan, aku melihat banyak hal yang seharusnya kami syukuri tapi tak terlihat. Seperti kehidupan keluarga yang baik dalam arti, secara ekonomi kami tak kekurangan bahkan kami bisa membeli polis asuransi pendidikan untuk anak-anak dan polis jaminan perawatan kesehatan di RS. Walau belum mampu mencicil rumah tapi kami masih mampu membayar sewa rumah. Anak-anak bersekolah dan sampai saat ini, biayanya masih dapat kami penuhi. Dapur juga masih tetap berasap.

Artinya, betapa banyak sebenarnya nikmat dan berkat Tuhan yang sudah aku terima tapi tak terasa karena aku memasang target dengan ukuran orang lain. Keinginan memiliki rumah seperti yang sudah dimiliki kakak-kakakku dan teman-temanku. Keinginan memiliki tabungan atau deposito seperti keluarga-keluarga di sinetron. Ingin memiliki mobil agar bisa keliling kota. Pokoknya hal-hal yang kelihatannya sepele dalam arti bukan standar tinggi. Tapi standar layak hidup. Namun aku lupa, standar layak hidup tiap orang ditentukan oleh orang tersebut.

Memang lingkungan memperngaruhi tapi penentuan tetap ada pada diri kita. Yang utama adalah pemenuhan kebutuhan primer. Kenyataannya ketika kehidupanku tidak seperti itu. Bukan kemudian aku menurunkan target tapi aku mencoba memandang dari sisi yang lain. Berusaha tetap bahkan harus ditingkatkan namun mensyukuri apa yang sudah diperoleh jauh lebih menetramkan.

Biar bagaimana aku juga tak mau bekerja keras lalu kehilangan waktu untuk bersama keluarga. Keluarga bukan sebuah taruhan, sebaliknya aku dan suami bekerja untuk kesejahteraan keluarga. Ketika aku sudah menyingkap selimut kehidupan yang melahirkan pemikiran picik, di balik selimut kehidupan itu, aku menemukan keindahan akan sebuah kepasrahan. Ketenangan akan sebuah janji. Usaha, kerja keras dan doa tak selalu menjanjikan kesuksesan tapi tak ada kesuksesan yang tidak di mulai dengan usaha, kerja keras dan doa.

Kedekatan fisik dan emosi antara aku dan suami adalah sebuah semangat akan tekad untuk memberi yang terbaik. Seperti tindakannya mengembangkan tangan menantiku dalam pelukan. Itu hanya tindakan kecil dan tidak terlalu berarti. Jika aku tidak mendekat dan menyambut masuk dalam pelukannya, juga tidak apa-apa.

Aku bisa saja berdalih ingin kekamar mandi. Tapi dengan aku menyambut undangannya masuk dalam pelukannya, aku bisa lebih merasakan ekspresi rasa sayangnya dan ia pun tahu aku menyayanginya. Tak perlu kata-kata, karena sikap dan tindakan bisa melebihi setiap ucapan.

Ketika kami sama-sama sepakat menyingkap semua perbedaan dan ketertutupan, maka kami menyatu dalam fisik dan emosi. Sehingga membuat semua yang kami usahakan selalu bertujuan untuk memberi yang terbaik bagi pasangan dan anak-anak. Beranikah anda menyingkap selimut perbedaan dan ketertutupan dalam kehidupan anda dan pasangan? (Icha Koraag, 25 Maret 2007)

Tuesday, March 13, 2007

JANGANLAH HENDAKNYA KAMU KUATIR

Rasa kuatir adalah hal biasa yang di rasakan setiap umat manusia. Ini bukan menunjukan kelemahan tapi perasaan itu justru menunjukan kita sebagai manusia. Setiap sendi kehidupan selalu menimbulkan rasa kuatir. Kuatir akan masa depan, kuatir akan jodoh, kuatir akan keselamatan diri, keluarga atau orang-orang yang di cintai. Kuatir akan pemenuhan kebutuhan hidup dll.

Bicara rasa kuatir mengenai pemenuhan kebutuhan hidup, salah satunya adalah kebutuhan akan uang. Memang uang bukan segala-galanya tapi untuk menjalani hidup, uang memang sangat diperlukan. Manajemen keuangan baik dalam organisasi, perusahaan atau sebuah keluarga adalah sebuah persoalan yang serius dan penting.

Aku suka memperhatikan kebiasaan beberapa kawanku dan kakak-kakakku yang sudah menikah. Kawan dan kakakku yang tidak bekerja otomatis mendapatkan uang dari suaminya untuk segala keperluan rumah tangga dan keperluan pribadi termasuk membantu saudara.

Sebelum aku menikah, aku sudah bekerja. Sehingga ketika menikah aku tidak berkeinginan meminta uang dari penghasilan suamiku. Jika ia memberi, aku menerima. Untuk biaya rumah tangga, suamiku tak menunggu di minta. Ia punya kesadaran penuh untuk membiayai. Salah seorang kawanku berprinsip, “Uang dia, uang gue tapi uang gue yach milik gue!” Biasanya kami tertawa. Namun kadang aku berpikir, benar gak yah berprinsip seperti itu.

Di masyarakat kita kebanyakan menjadikan suami sebagai kepala keluarga, sekaligus pencari nafkah. Dan karena stigma tersebut, banyak para lelaki yang menjadikan membiayai keluarga sebagai sebuah kewajiban dan tanggung jawab. Tak herannya juga banyak para suami yang merasa tertekan jika mengetahui penghasilan istri lebih besar dari para suami.

Demikian pula sebagian para istri yang terbiasa dan meyakini para suami sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah meyakini sekalipun mereka bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri tetap merasa tidak punya kewajiban dalam membiayai rumah tangga.

Aku pernah mengalami suatu posisi di mana aku bekerja dan suamiku tidak bekerja. Aku merasa tertekan bukan karena kondisi rumah tanggaku tapi lebih pada stigma sosial dan tekanan keluarga. Ibuku selalu memberi contoh ayahku, sebagai lelaki hebat yang bertanggung jawab menafkahi keluarga. Terus terang hal itu menjadi beban pemikiranku. Ketika menikah, aku kan tidak bisa meramalkan suamiku jobless. Siapa juga yang ingin bersuamikan lelaki pengangguran? Lalu apakah aku harus menceraikan suamikun karena dia tidak bekerja?

Rasanya, ketika aku mengikrarkan diri dalam janji pernikahan, salah satunya adalah selalau setia dalam suka maupun duka menerima dalam keadaan susah dan senang. Dan aku menggenapi janji pernikahanku dengan menerima secara ikhlas kondisi rumah tanggaku ketika suamiku tidak bekerja.

Bahkan aku senantiasa mensyukuri karena aku bekerja, paling tidak berarti dapurku masih bisa berasap. Yang membuat aku sangat mencintai suamiku, sekalipun ia tidak bekerja dalam –pengertian “kantoran”, ia tetap berusaha mencari uang. Walau sedikit tapi ia tetap memberikan kontribusi dalam keuangan keluarga. Kadang aku mengeluh juga tapi kupikir itu wajar. Manakala kebutuhan sangat banyak tapi belum terlihat uangnya.

Biasanya pertengkaran akan timbul, aku ngomel dan mendesak agar suamiku mencari uang lebih banyak. Suamiku balas ngomel karena sudah berusaha tapi belum dapat. Lalu harus bagaimana? Suasana berubah menjadi tegang, tidur pun berbalik punggung. Dalam kesendirian, aku menangis menyesali sikapku. Aku merasa menjadi istri yang jahat yang tak mau mengetahui kemampua suaminya. Tapi di satu sisi aku menangis dan bertanya mengapa harus begini? Biasanya aku baru bisa tertidur usai bercakap-cakap dengan Tuhan.

Aku harus meyakiniki Tuhan memang mengasihiku. Karena pada akhirnya semua terselesaikan dengan baik. Bahkan aku merasa Tuhan amat menyayangiku. Bukan sekali dua kali aku seakan mendaparkan mujizat. Memang kami tidak berkelimpahan sampai mempunyai tabungan yang banyak. Tapi sampai saat ini kami tidak kekurangan walau tidak berkelebihan. Aku dan suami tetap berusaha dan percaya Tuhan pasti memberkati!

Salah satu firman Tuhan yang memberikanku kekuatan:
Filipi 4: 6: “ Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”

Aku sudah membuktikan kebenaran akan berkatNya. Sekalipun aku kerap berpaling dariNya tak sekalipun dia meninggalkanku. (Icha Koraag, 13/3-2007)

Tuesday, March 06, 2007

APA MUNGKIN IDUL ADHA KORBANNYA SINGA?

Aku masih menikmati hari-hari libur panjang usai di PHK. Ternyata banyak hal baru yang cukup menyenangkan untuk aku lakukan. Tentu saja salah satunya bermain-main dengan aneka resep di dapur. Sampai-sampai suamiku bilang “Ini proses penggemukkan!” Tapi sepanjang dua minggu ini, ku lihat ia menikmati masakanku. Protesnya lebih ku rasa sebagai pujian. Seperti ucapannya saat usai makan malam.

“Kalau si mama terus-terusan masak seperti ini, kita bisa jadi korban waktu Idul Adha!” Ujarnya. Yang langsung di sambut Bas,
“Memangnya papa si embek?” Papa gak cocok jadi embek, papa cocoknya jadi banteng!” kata Bas. Dalam hati aku mengakui ada benarnya. Suamiku lebih cocok di samakan dengan banteng ketimbang embek (kambing).

Karena postur tubuhnya yang tinggi, besar dan kekar. Jadi lebih mirip banteng daripada kambing
“Iya pa, ?” Tanya Van dengan lugu
“Enggak, papa maunya jadi Raja Hutan, alias Singa!” Ujar Frisch lalu mengaum seperti seekor Singa. Bas dan Van tertawa dan tak mau kalah, lalu masing-masing menirukan suara binatang.
“Aku ular Anaconda!” Kata Bas lalu berdesis seperti suara ular.
Aku tak kaget dengan pilihan bas yang menjadi ular Anaconda. Bas sangat tertarik dengan reptile juga dinosaurus. Kadang-kadang jengkel aku di buatnya lantaran ibuku menuduhku mengajar anak tak benar. Pasalnya anak-anak seusia Bas lebih tertarik dengan binatang besar seperti singa, harimau, gajah atau beruang.

Biasanya sih, aku tidak komentar. Menurutku tak ada salahnya Bas menyukai reptile.
Tak beda dengan adiknya Van yang otomatis juga menjyukai aneka binatang. Karena mereka berdua kerap menonton National; Geographic atau Animal Planet. Tiba-tiba ku dengar Van bertanya.
“Aku…aku….” Sesaat Vanessa diam, “aku jadi apa ma?” Tanya Van sambil menatapku.
“Van jadi Macan!” jawabku
“Enggak mau., aku maunya jadi gajah!” ujar Van dengan wajah cemberut.
“Boleh saja tapi mama tidak tahu suara gajah!” jawabku lagi.
“Pa, bagaimana suara gajah?” Tanya Van
Frisch terdiam sesaat lalu mengeluarkan suara seperti sapi melenguh. Belum lagi suamiku berhenti menirukan suara gajah, Van sudah memotong.
“Aku jadi anjing saja,!” uajr Van lalu menyalak.

Bahagia benar rasanya, melihat orang-orang yang ku cintai ada bersamaku. Tak putus syukur dan terima kasih senantiasa ku serukan. Kebersamaan menjelang tidur malam, selalu kami sempatkan bermain dan belajar. Tiba-tiba Van sudah ada di belakangku.
“Anak anjing datang ke mamanya!’ ujar Van sambil menyalak halus dan mencium pipiku. Akupun ambil peran dalam permainan ini. Aku menyalak lalu menangkap Van dan menciuminya.
“Anjing sama ular berteman gak?” Tanya Bas
“Biasanya sih enggak!” jawabku tapi aku tahu arah pertanyaan Bas. Karenanya kulanjutkan lagi “Tapi kalau dalam permainan Anjing bisa berteman dengan ular”. Bas langsung mendekat masih tetap berdesis.
“Anaconda sayang sama mamanya anjing!” ujar Bas sambil menciumku.

“Tidak ada yang menciumi Raja Hutan, maka Raja Hutan marah dan mau pergi saja!” kata Frisch sambil mengaum dan bersiap-siap turun dari tempat tidur. Bas dan Van langsung melompat dan bergumul dengan papanya sambil menirukan suara anjing dan ular.
“Kok mama anjing tidak mau dekat-dekat?” Tanya Frisch dengan suara besar dan berat. Aku tertawa “Mamanya anjing tidak berteman dengan Raja Hutan!” jawabku.

Tiba-tiba suamiku duduk tegap dan berkata dengan suara di buat-buat menjadi berat. “Hai anak anjing dan ular Anaconda, bawa mama anjing kehadapan Raja Hutan !” Bas dan Van sudah larut dalam permainan ini, mereka berdua dengan sigap langsung menjawab “Ya, Raja Hutan!” Geli benar hatiku. Tak sempat menghindar Bas dan Van sudah memelukku dan menciumiku.
“Mama anjing harus di bawa ke hadapan Raja Hutan!” Kata Bas
“Iya!” tambah Van
“Hai Anaconda dan anjing kecil, mama anjing cape dan mau tidur!” jawabku sambil menguap. Bas dan Van tertawa geli.
“Baiklah kalau begitu, Raja Hutan akan buat susu, supaya Anaconda dan anjing kecil bisa tumbuh jadi besar dan kuat. Lalu gosok gigi!

Sesaat kemudian Bas dan Van langsung menikmati susunya. Kemudian keduanya ku giring ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Usai menggosok gigi, Bas dan Van langsung menempati posisi masing-masing di tempat tidur. Papanya melanjujtkan dengan bercerita tentang jenis-jenis binatang. Di mulai dari tempat hidupnya, Laut, darat dan udara. Lalu ukurannya besar, sedang dan kecil. Lalu nama-nama dan jenisnya. Belum lagi cerita tamat, kedua buah hatiku sudah lelap dalam tidurnya.

“Apakah mama anjing sudah tidur?” Tanya Frisch.
“Belum!” jawabku
“Mengapa?”
“Lagi berpikir”
“Mengenai apa?”
“Apa mungkin Idul Adha korbannya singa?” (Icha Koraag)

Saturday, January 13, 2007

Kisah Seorang Teman: MEMPERBAIKI KOMITMEN

Kita baru saja melangkah di awal tahun 2007. Pastinya 1001 rencana sudah di susun. Semoga bisa terpenuhi. Akhir minggu lalu, aku bertemu kawan kuliah. Kami bertemu dalam sebuah arisan alumni kampus.

Kawanku, sebut saja Belinda. Aku mengenanya di kampus. Menjadi dekat karena dosen pembimbing skripsiku sama dengan dosen walinya. Akhirnya persahabatan kami terbina. Belinda anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya lagi-laki dan empat adiknya perempuan semua.

Aku sering mengunjungi rumah Belinda karena tak jauh dari kampus,. Aku mengenal baik hanya tiga adiknya. Soalnya yang satu adik Belinda, kuliah di Medan. Dari ketiga adik yang kukenal, si bungsulah yang paling dekat denganku. Saat itu si bungsu yang bernama Lala baru duduk di kelas 2 SMP.

Ketika aku dan Belinda sudah lulus, kedekatanku dengan lala tetap terjalin lewat surat-suratan. Waktu itu belum musim HP, Cuma musim radio panggil (pager). Dan yang punya pager biasanya mereka yang sudah kerja.

Aku terus berkomunikasi baik dengan Belinda maupun dengan Lala. Pada pernikahan Lala, tiga tahun lalu, aku menyempatkan hadir. Lala tampak cantik, begitu juga pasangannya tampak gagah. Pokoknya pasangan yang serasi. Oh yah Lala dan pasangannya, sama-sama dokter. Bertemu di kampus, mendapat daerah penempatan sebagai dokter PTT (Pegawai tidak Tetap) Juga di kota yang sama.

Saat itu aku mengomentari, pantaslah kalau akhirnya mereka menjalin kasih dan sampai di pernikahan. Tapi cerita yang kudapatkan darti Belinda sungguh membuatku marah. Lala bagiku sudah seperti adik sendiri.

Setahun setelah pernikahannya, Lala mendapat panggilan dari sebuah kota di luar Pulau Jawa. Karena waktu itu sang suami sudah bekerja di sebuah RS, maka pasangan itu berpisah jarak. Uang yang didapat Lala dan suaminya cukup besar, sehingga dua minggu sekali mereka saling mengunjungi.

Entah siapa atau apa yang harus di salahi, Belinda bertemu dengan adik iparnya (Suami si Lala) menggandeng perempuan lain. Kakak mana yang tidak terkejut, kesal dan marah? Tapi Belinda memilih bersikap bikjaksana dengan tidak mengkonfrontasi maupun memberitahu Lala..

Tapi yang namanya menyimpan barang busuk, baunya pasti akan menyebar juga. Lala yang berada nun jauh di luar Jawa, suatu hari memberi kejutan dengan mendatangi RS tempat suaminya bertugas. Apa mau di kata, niat memberi kejutan pada suami malah Lala yang mendapt kejutan, Lala menjumpai suaminya sedang bepangku-pangkuan dengan salah seorang perempuan yang berpakaian perawat di ruang jaga.

“Jadi ini alasan kamu jaga malam? Karena memang ada yang dijagain!” Sembur Lala dengan emosi. Si Perawat langsung ngacir meninggal sang suami yang berusaha membujuk Lala agar jangan emosi..

Wah, aku yang medengar cerita Belinda saja ikutan emosi, apalagi Lala yang melihat dengan mata sendiri. Aku, ikut merasakan perasaan sakit Lala. Aku tidak rela Lala di sakiti. Singkat cerita dengan bantuan kedua orang tua masing-masing, Lala dan suami dipertemukan dalam sebuah rapat keluarga.

Kupikir sesekali rapat keluarga yang melibatkan para orang tua dalam masalah Rumah Tangga anak memang diperlukan. Umur pernikahan Lala baru tiga tahun. Dan dalam tiga tahun itu mereka bersama hanya satu tahun. Padahal hubungan dalam sebuah rumah tangga harus selalu di bangun.

Bukan sekedar pememenuhan kebutuhan seksual tapi juga kebutuhan batin atau emosi. Sebagai pasangan baru, mereka harus membantgun kedekatan itu. Jangankan pasangan baru, bagi pasangan yang sudah menikah lamapun tidak ada jaminan kedekatan emosi jika tidak di bangun. Susah dan senang adalah bumbu dalam kehidupan sama seperti garam dalam masakan.

Tapi masalah dalam rumah tangga tidak bisa disepelekan apalagi menyangkut orang ketiga. Menurut Belinda dari hasil rapat keluarga, tindakan yang harus dilakukan adalah memisahkan sang suami dari si perawat. Dan sebagai bukti penyesalan dan permintaan maaf, sang suami ikut Lala ke tempat kerja Lala. Semua percaya di daerah, dokter sangat dibutuhkan. Pastinya suami Lala akan dengan mudah mendapat pekerjaan.

Senang juga aku mendengar akhir cerita Belinda. Aku berharap yang terbaik bagi Lala. Tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi bagaimana mensikapi kesalahan yang pernah di buat dan menebusnya tidak sekedar dengan menyesal atau meminta maaf, itu lebih diperlukan.

Tidak ada jalan kehidupan yang lurus dan lebar. Berliku dan sempit justru menjadi ujian kemampuan kita melalui setiap persoalan kehidupan yang ada. Rumah tangga Lala dan suaminya bisa dilanjutkan. Bukan hal mudah memulai sesuatu yang sudah terluka. Sakitnya mungkin bisa sembuh dan hilang tapi tetap meninggalkan bekas. Namun kedewasaan menerima dan bersikap pada persoalan yang ada, akan menetukan arah kemana rumah tangga itu di bawa.

Sampai di rumah, aku mencoba merenungi cerita Belinda. Persoalan rumah tangga apapun itu, bisa menimpa siapa saja. Mungkin rumah tanggaku atau rumah tangga orang lain. Menjaga keutuhan rumah tangga tidak bisa dilakukan sendiri tapi harus melibatkan semua yang menjadi anggota rumah tangga tersebut. Baik istri, suami maupun anak. Saling menghormati, mengerti dan menghargai hanyalah sedikit faktor yang harus selalu di lakukan agar tujuan awal dalam pembentukan rumah tangga bisa terwujud.

Dan sekali lagi aku harus mensyukuri rumah tanggaku, suamiku mungkin bukan orang yang sempurna tapi aku meyakini ia laki-laki yang terbaik bagiku dan kedua anakku. Jika aku atau dia melakukan kesalahan, semoga kami bisa saling memaafkan. Mudah-mudahan kami bisa menjaga komitmen pernikahan kami. (Icha Koraag 13 Januari 2007)

Wednesday, January 10, 2007

KASIH SAYANG & KHAWATIR ORTU SEPANJANG MASA

“Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia”.

Saya percaya, anda semua pasti ingat lagu itu. Lagu yang diajarkan saat kita duduk di Taman kanak-Kanak. Siapapun pencipta syair lagu ini (Mungkin Ibu Kasur..?) sungguh pandai merangkai kata, menjadikan syair ini sarat akan makna.

Kata-katanya sangat sederhana namun menggambarkan hal yang luar biasa. Pilihan kata-katanya sangat tepat untuk di ajarkan pada anak-anak. Sehingga anak-anak mudah mencernanya, walau saya sendiri kurang pasti, apakah anak-anak di TK yang menyanyikan lagu tersebut paham maknanya.

Saya ingat ketika Van dan teman-temannya di Play Group menyanyikan lagu tersebut di peringatan hari ibu Desember lalu. Delapan balita, empat perempuan dan empat laki-laki mengenakan atasan batik dan bawahan rok putih. Berdiri di depan kelas, dengan dipandu ibu guru mulai menyanyikan lagu tersebut.

Mereka menyanyikan dengan sungguh-sungguh. Kali pertama suara yang terdengar sangat pelan. Kali kedua, bu guru meminta mereka bersuara lebih keras. Hasilnya mereka bernyanyi sekeras-kerasnya dan terdengar sangat cempreng (garing). Namun tetap tidak merubah makna dari syair lagu yang mereka bawakan.

Ada rasa haru yang mengalir di dada ini dan nyaris membuat air mata saya keluar. Saya mencoba mengendalikan diri dengan menengadahkan kepala. (Malu juga kalau ada yang melihat saya menangis) Setelah menengadah lalu saya menunduk sejenak, menenangkan isi dada ini yang dipenuhi rasa haru. Saat saya mengangkat wajah dan melihat ke kiri dan ke kanan, ternyata ibu dan bapak yang lainnya sedang menghapus air matanya.

Ternyata suara cempreng yang keluar dari bibir balita kami tidaklah penting. Tapi melihat mereka bernyanyi dengan penuh semangat dan syair lagu yang sangat menggetarkan mampu membobol pertahanan emosi para ortu termasuk saya.

Si kecil Van, berdiri di antara barisan dan sesekali ia memilin rambutnya. Sosoknya mungil, walau berdiri hampir sama tinggi dengan teman-temannya tapi bagiku Van tetap saja, si kecil yang masih sering ku timang-timang. Rasa tidak percaya melihat Van bernyanyi. Se hari-hari, ia masih hanya bersinglet dan celana dalam bila hanya di rumah.

Wajah bersih dan bersinar, bola matanya hitam dan besar, bibir dan hidungnya mungil. Kerap aku menganggunya dengan mengatakan, “Kok Van tidak ada hidungnya?” Biasanya ia, akan meraih tanganku dan meletakan ke hidungnya lalu berkata ”Ini hidungku, mama!” Dan biasanya aku aan tertawa tergelak-gelak. Habisnya hidung Van seperti setengah jambu air kancing yang berwarna merah dan kecil-kecil.

Saya jadi teringat, masa-masa saya mengandung anak-anak. Setiap saat berdoa agar Tuhan memberi yang terbaik buat janin dalam rahim saya. Ketika memasuki kehamilan tri mester ke tiga (Bulan ke-7) saya mulai diliputi kekhawtiran.

Akankah bayi saya hidup? Akankah fisiknya normal? Akankah ia sehat? Setelah persalinan usai dan saya sudah dapat memeluknya, maka saya mulai meneliti seluruh tubuhnya. Bayi saya hidup, sehat dan secara fisik normal. Puji Tuhan!

Hari berganti hari, kebahagiaan yang mewarnai hari-hari saya mulai di ganggu rasa khawatir lagi. Lewat empat puluh hari, apakah bayi saya dapat melihat? Lewat enam bulan, akankah ia dapat mendengar dan berbicara? Lewat setahun, akankah ia dapat berjalan?


Sejak kelahirannya yang membawa warna kebahagiaan, di iringi kekhawatiran yang sama besar. Semakin saya mengasihi, semakin besar kekhwatiran saya akan masa depannya. Setelah ia melewati usia setahun, dua tahun, tiga tahun dengan baik, bukan berarti saya tidak khawatir lagi.

Bukan saya tidak mempercayakan pada Tuhan. Tapi saya bicara pada konsep kenyataan hidup. Walau saya meyakinan rencana Tuhan adalah rencana terbaik bagi kehidupan saya, tidak berarti saya tidak akan bertanya atau menangis atau tergoncang saat mendapat ujian dari Tuhan.

Tidak ada seorang pun orang tua yang bisa tersenyum saat anak-anak mereka sakit. Mungkin menyadari ini teguran dari Tuhan, tapi kita pasti akan berseru ”Tuhan, limpahkan saja rasa sakit itu padaku, jangan pada anakku!”

Kembali pada persoalan rasa khawatir, Setiap masa pertumbuhan dan perkembangan anak, di situ selalu ada kekhwatiran para orang tua. Kasih sayang orang tua selalu berjalan seiring dengan rasa khawatirnya. Persoalan yang kita hadapi saat anak-anak duduk di tiap tingkat pendidikan seiring bertambah usianya juga menjadikan kebahagiaan dan kekhawatiran yang berbeda pula.

Jadi kalau dikatakan kasih sayang ortu sepanjang masa sebenarnya rasa khawatir ortu juga sepanjang masa, bahkan mungkin sepanjang hayat masih dikandung badan. Perhatikan, betapa para ortu sangat berbahagia bila berhasil mengantarkan anak-anaknya ke jenjang rumah tangga. Wajah mereka sangat sumringah bahkan kadang kebahagian para ortu di saat pernikahan anak-anaknya melampau kebahagiaan si pengantin itu sendiri. Tapi perhatikan juga deh, apakah ortu kita tidak cemas jika kita sedang ada masalah dalam rumah tangga kita?

Pada hal sebagai ortu, kita juga tahu kita tidak bisa menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Kita harus percaya solusi selalu ada baik kita ciptakan atau kita ambil dari tawaran orang lain. Namun yang pasti urusan dengan yang namanya anak, adalah harga yang harus selalu kita bayar. Karena anak tidak pernah minta untuk dilahirkan!

Orang bijak mengatakan, setiap orang terlahir bagai kertas putih polos. Akan tertulis atau tergambar apa, tergantung nilai dan ajaran yang diterima yang bersangkutan. Mulanya ia dibantu menggariskan pena kehidupannya, selanjutnya ia akan menggoreskan sendiri. Bukan lagi garis atau coretan tapi mungkin sudah berbentuk kata dan kalimat.

Nah apakah anda akan menuliskan semua kekhawatiran anda atau akan ada tuliskan juga besarnya kasih anda pada anak-anak yang anda lahirkan atau orang-orang sekitar yang anda cintai? Setiap habis hujan akan selalu ada pelangi! Ke hawatiran memang akan selalu ada namun Tuhan juga selalu menjanjikan kedamaian dan kebahgiaan. Jadi kuncinya cuma satu, pasrah dan berserah diri. (Icha Koraag. 10 Januari 2007)