Saturday, January 13, 2007

Kisah Seorang Teman: MEMPERBAIKI KOMITMEN

Kita baru saja melangkah di awal tahun 2007. Pastinya 1001 rencana sudah di susun. Semoga bisa terpenuhi. Akhir minggu lalu, aku bertemu kawan kuliah. Kami bertemu dalam sebuah arisan alumni kampus.

Kawanku, sebut saja Belinda. Aku mengenanya di kampus. Menjadi dekat karena dosen pembimbing skripsiku sama dengan dosen walinya. Akhirnya persahabatan kami terbina. Belinda anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya lagi-laki dan empat adiknya perempuan semua.

Aku sering mengunjungi rumah Belinda karena tak jauh dari kampus,. Aku mengenal baik hanya tiga adiknya. Soalnya yang satu adik Belinda, kuliah di Medan. Dari ketiga adik yang kukenal, si bungsulah yang paling dekat denganku. Saat itu si bungsu yang bernama Lala baru duduk di kelas 2 SMP.

Ketika aku dan Belinda sudah lulus, kedekatanku dengan lala tetap terjalin lewat surat-suratan. Waktu itu belum musim HP, Cuma musim radio panggil (pager). Dan yang punya pager biasanya mereka yang sudah kerja.

Aku terus berkomunikasi baik dengan Belinda maupun dengan Lala. Pada pernikahan Lala, tiga tahun lalu, aku menyempatkan hadir. Lala tampak cantik, begitu juga pasangannya tampak gagah. Pokoknya pasangan yang serasi. Oh yah Lala dan pasangannya, sama-sama dokter. Bertemu di kampus, mendapat daerah penempatan sebagai dokter PTT (Pegawai tidak Tetap) Juga di kota yang sama.

Saat itu aku mengomentari, pantaslah kalau akhirnya mereka menjalin kasih dan sampai di pernikahan. Tapi cerita yang kudapatkan darti Belinda sungguh membuatku marah. Lala bagiku sudah seperti adik sendiri.

Setahun setelah pernikahannya, Lala mendapat panggilan dari sebuah kota di luar Pulau Jawa. Karena waktu itu sang suami sudah bekerja di sebuah RS, maka pasangan itu berpisah jarak. Uang yang didapat Lala dan suaminya cukup besar, sehingga dua minggu sekali mereka saling mengunjungi.

Entah siapa atau apa yang harus di salahi, Belinda bertemu dengan adik iparnya (Suami si Lala) menggandeng perempuan lain. Kakak mana yang tidak terkejut, kesal dan marah? Tapi Belinda memilih bersikap bikjaksana dengan tidak mengkonfrontasi maupun memberitahu Lala..

Tapi yang namanya menyimpan barang busuk, baunya pasti akan menyebar juga. Lala yang berada nun jauh di luar Jawa, suatu hari memberi kejutan dengan mendatangi RS tempat suaminya bertugas. Apa mau di kata, niat memberi kejutan pada suami malah Lala yang mendapt kejutan, Lala menjumpai suaminya sedang bepangku-pangkuan dengan salah seorang perempuan yang berpakaian perawat di ruang jaga.

“Jadi ini alasan kamu jaga malam? Karena memang ada yang dijagain!” Sembur Lala dengan emosi. Si Perawat langsung ngacir meninggal sang suami yang berusaha membujuk Lala agar jangan emosi..

Wah, aku yang medengar cerita Belinda saja ikutan emosi, apalagi Lala yang melihat dengan mata sendiri. Aku, ikut merasakan perasaan sakit Lala. Aku tidak rela Lala di sakiti. Singkat cerita dengan bantuan kedua orang tua masing-masing, Lala dan suami dipertemukan dalam sebuah rapat keluarga.

Kupikir sesekali rapat keluarga yang melibatkan para orang tua dalam masalah Rumah Tangga anak memang diperlukan. Umur pernikahan Lala baru tiga tahun. Dan dalam tiga tahun itu mereka bersama hanya satu tahun. Padahal hubungan dalam sebuah rumah tangga harus selalu di bangun.

Bukan sekedar pememenuhan kebutuhan seksual tapi juga kebutuhan batin atau emosi. Sebagai pasangan baru, mereka harus membantgun kedekatan itu. Jangankan pasangan baru, bagi pasangan yang sudah menikah lamapun tidak ada jaminan kedekatan emosi jika tidak di bangun. Susah dan senang adalah bumbu dalam kehidupan sama seperti garam dalam masakan.

Tapi masalah dalam rumah tangga tidak bisa disepelekan apalagi menyangkut orang ketiga. Menurut Belinda dari hasil rapat keluarga, tindakan yang harus dilakukan adalah memisahkan sang suami dari si perawat. Dan sebagai bukti penyesalan dan permintaan maaf, sang suami ikut Lala ke tempat kerja Lala. Semua percaya di daerah, dokter sangat dibutuhkan. Pastinya suami Lala akan dengan mudah mendapat pekerjaan.

Senang juga aku mendengar akhir cerita Belinda. Aku berharap yang terbaik bagi Lala. Tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi bagaimana mensikapi kesalahan yang pernah di buat dan menebusnya tidak sekedar dengan menyesal atau meminta maaf, itu lebih diperlukan.

Tidak ada jalan kehidupan yang lurus dan lebar. Berliku dan sempit justru menjadi ujian kemampuan kita melalui setiap persoalan kehidupan yang ada. Rumah tangga Lala dan suaminya bisa dilanjutkan. Bukan hal mudah memulai sesuatu yang sudah terluka. Sakitnya mungkin bisa sembuh dan hilang tapi tetap meninggalkan bekas. Namun kedewasaan menerima dan bersikap pada persoalan yang ada, akan menetukan arah kemana rumah tangga itu di bawa.

Sampai di rumah, aku mencoba merenungi cerita Belinda. Persoalan rumah tangga apapun itu, bisa menimpa siapa saja. Mungkin rumah tanggaku atau rumah tangga orang lain. Menjaga keutuhan rumah tangga tidak bisa dilakukan sendiri tapi harus melibatkan semua yang menjadi anggota rumah tangga tersebut. Baik istri, suami maupun anak. Saling menghormati, mengerti dan menghargai hanyalah sedikit faktor yang harus selalu di lakukan agar tujuan awal dalam pembentukan rumah tangga bisa terwujud.

Dan sekali lagi aku harus mensyukuri rumah tanggaku, suamiku mungkin bukan orang yang sempurna tapi aku meyakini ia laki-laki yang terbaik bagiku dan kedua anakku. Jika aku atau dia melakukan kesalahan, semoga kami bisa saling memaafkan. Mudah-mudahan kami bisa menjaga komitmen pernikahan kami. (Icha Koraag 13 Januari 2007)

Wednesday, January 10, 2007

KASIH SAYANG & KHAWATIR ORTU SEPANJANG MASA

“Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia”.

Saya percaya, anda semua pasti ingat lagu itu. Lagu yang diajarkan saat kita duduk di Taman kanak-Kanak. Siapapun pencipta syair lagu ini (Mungkin Ibu Kasur..?) sungguh pandai merangkai kata, menjadikan syair ini sarat akan makna.

Kata-katanya sangat sederhana namun menggambarkan hal yang luar biasa. Pilihan kata-katanya sangat tepat untuk di ajarkan pada anak-anak. Sehingga anak-anak mudah mencernanya, walau saya sendiri kurang pasti, apakah anak-anak di TK yang menyanyikan lagu tersebut paham maknanya.

Saya ingat ketika Van dan teman-temannya di Play Group menyanyikan lagu tersebut di peringatan hari ibu Desember lalu. Delapan balita, empat perempuan dan empat laki-laki mengenakan atasan batik dan bawahan rok putih. Berdiri di depan kelas, dengan dipandu ibu guru mulai menyanyikan lagu tersebut.

Mereka menyanyikan dengan sungguh-sungguh. Kali pertama suara yang terdengar sangat pelan. Kali kedua, bu guru meminta mereka bersuara lebih keras. Hasilnya mereka bernyanyi sekeras-kerasnya dan terdengar sangat cempreng (garing). Namun tetap tidak merubah makna dari syair lagu yang mereka bawakan.

Ada rasa haru yang mengalir di dada ini dan nyaris membuat air mata saya keluar. Saya mencoba mengendalikan diri dengan menengadahkan kepala. (Malu juga kalau ada yang melihat saya menangis) Setelah menengadah lalu saya menunduk sejenak, menenangkan isi dada ini yang dipenuhi rasa haru. Saat saya mengangkat wajah dan melihat ke kiri dan ke kanan, ternyata ibu dan bapak yang lainnya sedang menghapus air matanya.

Ternyata suara cempreng yang keluar dari bibir balita kami tidaklah penting. Tapi melihat mereka bernyanyi dengan penuh semangat dan syair lagu yang sangat menggetarkan mampu membobol pertahanan emosi para ortu termasuk saya.

Si kecil Van, berdiri di antara barisan dan sesekali ia memilin rambutnya. Sosoknya mungil, walau berdiri hampir sama tinggi dengan teman-temannya tapi bagiku Van tetap saja, si kecil yang masih sering ku timang-timang. Rasa tidak percaya melihat Van bernyanyi. Se hari-hari, ia masih hanya bersinglet dan celana dalam bila hanya di rumah.

Wajah bersih dan bersinar, bola matanya hitam dan besar, bibir dan hidungnya mungil. Kerap aku menganggunya dengan mengatakan, “Kok Van tidak ada hidungnya?” Biasanya ia, akan meraih tanganku dan meletakan ke hidungnya lalu berkata ”Ini hidungku, mama!” Dan biasanya aku aan tertawa tergelak-gelak. Habisnya hidung Van seperti setengah jambu air kancing yang berwarna merah dan kecil-kecil.

Saya jadi teringat, masa-masa saya mengandung anak-anak. Setiap saat berdoa agar Tuhan memberi yang terbaik buat janin dalam rahim saya. Ketika memasuki kehamilan tri mester ke tiga (Bulan ke-7) saya mulai diliputi kekhawtiran.

Akankah bayi saya hidup? Akankah fisiknya normal? Akankah ia sehat? Setelah persalinan usai dan saya sudah dapat memeluknya, maka saya mulai meneliti seluruh tubuhnya. Bayi saya hidup, sehat dan secara fisik normal. Puji Tuhan!

Hari berganti hari, kebahagiaan yang mewarnai hari-hari saya mulai di ganggu rasa khawatir lagi. Lewat empat puluh hari, apakah bayi saya dapat melihat? Lewat enam bulan, akankah ia dapat mendengar dan berbicara? Lewat setahun, akankah ia dapat berjalan?


Sejak kelahirannya yang membawa warna kebahagiaan, di iringi kekhawatiran yang sama besar. Semakin saya mengasihi, semakin besar kekhwatiran saya akan masa depannya. Setelah ia melewati usia setahun, dua tahun, tiga tahun dengan baik, bukan berarti saya tidak khawatir lagi.

Bukan saya tidak mempercayakan pada Tuhan. Tapi saya bicara pada konsep kenyataan hidup. Walau saya meyakinan rencana Tuhan adalah rencana terbaik bagi kehidupan saya, tidak berarti saya tidak akan bertanya atau menangis atau tergoncang saat mendapat ujian dari Tuhan.

Tidak ada seorang pun orang tua yang bisa tersenyum saat anak-anak mereka sakit. Mungkin menyadari ini teguran dari Tuhan, tapi kita pasti akan berseru ”Tuhan, limpahkan saja rasa sakit itu padaku, jangan pada anakku!”

Kembali pada persoalan rasa khawatir, Setiap masa pertumbuhan dan perkembangan anak, di situ selalu ada kekhwatiran para orang tua. Kasih sayang orang tua selalu berjalan seiring dengan rasa khawatirnya. Persoalan yang kita hadapi saat anak-anak duduk di tiap tingkat pendidikan seiring bertambah usianya juga menjadikan kebahagiaan dan kekhawatiran yang berbeda pula.

Jadi kalau dikatakan kasih sayang ortu sepanjang masa sebenarnya rasa khawatir ortu juga sepanjang masa, bahkan mungkin sepanjang hayat masih dikandung badan. Perhatikan, betapa para ortu sangat berbahagia bila berhasil mengantarkan anak-anaknya ke jenjang rumah tangga. Wajah mereka sangat sumringah bahkan kadang kebahagian para ortu di saat pernikahan anak-anaknya melampau kebahagiaan si pengantin itu sendiri. Tapi perhatikan juga deh, apakah ortu kita tidak cemas jika kita sedang ada masalah dalam rumah tangga kita?

Pada hal sebagai ortu, kita juga tahu kita tidak bisa menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Kita harus percaya solusi selalu ada baik kita ciptakan atau kita ambil dari tawaran orang lain. Namun yang pasti urusan dengan yang namanya anak, adalah harga yang harus selalu kita bayar. Karena anak tidak pernah minta untuk dilahirkan!

Orang bijak mengatakan, setiap orang terlahir bagai kertas putih polos. Akan tertulis atau tergambar apa, tergantung nilai dan ajaran yang diterima yang bersangkutan. Mulanya ia dibantu menggariskan pena kehidupannya, selanjutnya ia akan menggoreskan sendiri. Bukan lagi garis atau coretan tapi mungkin sudah berbentuk kata dan kalimat.

Nah apakah anda akan menuliskan semua kekhawatiran anda atau akan ada tuliskan juga besarnya kasih anda pada anak-anak yang anda lahirkan atau orang-orang sekitar yang anda cintai? Setiap habis hujan akan selalu ada pelangi! Ke hawatiran memang akan selalu ada namun Tuhan juga selalu menjanjikan kedamaian dan kebahgiaan. Jadi kuncinya cuma satu, pasrah dan berserah diri. (Icha Koraag. 10 Januari 2007)