Wednesday, January 10, 2007

KASIH SAYANG & KHAWATIR ORTU SEPANJANG MASA

“Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia”.

Saya percaya, anda semua pasti ingat lagu itu. Lagu yang diajarkan saat kita duduk di Taman kanak-Kanak. Siapapun pencipta syair lagu ini (Mungkin Ibu Kasur..?) sungguh pandai merangkai kata, menjadikan syair ini sarat akan makna.

Kata-katanya sangat sederhana namun menggambarkan hal yang luar biasa. Pilihan kata-katanya sangat tepat untuk di ajarkan pada anak-anak. Sehingga anak-anak mudah mencernanya, walau saya sendiri kurang pasti, apakah anak-anak di TK yang menyanyikan lagu tersebut paham maknanya.

Saya ingat ketika Van dan teman-temannya di Play Group menyanyikan lagu tersebut di peringatan hari ibu Desember lalu. Delapan balita, empat perempuan dan empat laki-laki mengenakan atasan batik dan bawahan rok putih. Berdiri di depan kelas, dengan dipandu ibu guru mulai menyanyikan lagu tersebut.

Mereka menyanyikan dengan sungguh-sungguh. Kali pertama suara yang terdengar sangat pelan. Kali kedua, bu guru meminta mereka bersuara lebih keras. Hasilnya mereka bernyanyi sekeras-kerasnya dan terdengar sangat cempreng (garing). Namun tetap tidak merubah makna dari syair lagu yang mereka bawakan.

Ada rasa haru yang mengalir di dada ini dan nyaris membuat air mata saya keluar. Saya mencoba mengendalikan diri dengan menengadahkan kepala. (Malu juga kalau ada yang melihat saya menangis) Setelah menengadah lalu saya menunduk sejenak, menenangkan isi dada ini yang dipenuhi rasa haru. Saat saya mengangkat wajah dan melihat ke kiri dan ke kanan, ternyata ibu dan bapak yang lainnya sedang menghapus air matanya.

Ternyata suara cempreng yang keluar dari bibir balita kami tidaklah penting. Tapi melihat mereka bernyanyi dengan penuh semangat dan syair lagu yang sangat menggetarkan mampu membobol pertahanan emosi para ortu termasuk saya.

Si kecil Van, berdiri di antara barisan dan sesekali ia memilin rambutnya. Sosoknya mungil, walau berdiri hampir sama tinggi dengan teman-temannya tapi bagiku Van tetap saja, si kecil yang masih sering ku timang-timang. Rasa tidak percaya melihat Van bernyanyi. Se hari-hari, ia masih hanya bersinglet dan celana dalam bila hanya di rumah.

Wajah bersih dan bersinar, bola matanya hitam dan besar, bibir dan hidungnya mungil. Kerap aku menganggunya dengan mengatakan, “Kok Van tidak ada hidungnya?” Biasanya ia, akan meraih tanganku dan meletakan ke hidungnya lalu berkata ”Ini hidungku, mama!” Dan biasanya aku aan tertawa tergelak-gelak. Habisnya hidung Van seperti setengah jambu air kancing yang berwarna merah dan kecil-kecil.

Saya jadi teringat, masa-masa saya mengandung anak-anak. Setiap saat berdoa agar Tuhan memberi yang terbaik buat janin dalam rahim saya. Ketika memasuki kehamilan tri mester ke tiga (Bulan ke-7) saya mulai diliputi kekhawtiran.

Akankah bayi saya hidup? Akankah fisiknya normal? Akankah ia sehat? Setelah persalinan usai dan saya sudah dapat memeluknya, maka saya mulai meneliti seluruh tubuhnya. Bayi saya hidup, sehat dan secara fisik normal. Puji Tuhan!

Hari berganti hari, kebahagiaan yang mewarnai hari-hari saya mulai di ganggu rasa khawatir lagi. Lewat empat puluh hari, apakah bayi saya dapat melihat? Lewat enam bulan, akankah ia dapat mendengar dan berbicara? Lewat setahun, akankah ia dapat berjalan?


Sejak kelahirannya yang membawa warna kebahagiaan, di iringi kekhawatiran yang sama besar. Semakin saya mengasihi, semakin besar kekhwatiran saya akan masa depannya. Setelah ia melewati usia setahun, dua tahun, tiga tahun dengan baik, bukan berarti saya tidak khawatir lagi.

Bukan saya tidak mempercayakan pada Tuhan. Tapi saya bicara pada konsep kenyataan hidup. Walau saya meyakinan rencana Tuhan adalah rencana terbaik bagi kehidupan saya, tidak berarti saya tidak akan bertanya atau menangis atau tergoncang saat mendapat ujian dari Tuhan.

Tidak ada seorang pun orang tua yang bisa tersenyum saat anak-anak mereka sakit. Mungkin menyadari ini teguran dari Tuhan, tapi kita pasti akan berseru ”Tuhan, limpahkan saja rasa sakit itu padaku, jangan pada anakku!”

Kembali pada persoalan rasa khawatir, Setiap masa pertumbuhan dan perkembangan anak, di situ selalu ada kekhwatiran para orang tua. Kasih sayang orang tua selalu berjalan seiring dengan rasa khawatirnya. Persoalan yang kita hadapi saat anak-anak duduk di tiap tingkat pendidikan seiring bertambah usianya juga menjadikan kebahagiaan dan kekhawatiran yang berbeda pula.

Jadi kalau dikatakan kasih sayang ortu sepanjang masa sebenarnya rasa khawatir ortu juga sepanjang masa, bahkan mungkin sepanjang hayat masih dikandung badan. Perhatikan, betapa para ortu sangat berbahagia bila berhasil mengantarkan anak-anaknya ke jenjang rumah tangga. Wajah mereka sangat sumringah bahkan kadang kebahagian para ortu di saat pernikahan anak-anaknya melampau kebahagiaan si pengantin itu sendiri. Tapi perhatikan juga deh, apakah ortu kita tidak cemas jika kita sedang ada masalah dalam rumah tangga kita?

Pada hal sebagai ortu, kita juga tahu kita tidak bisa menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Kita harus percaya solusi selalu ada baik kita ciptakan atau kita ambil dari tawaran orang lain. Namun yang pasti urusan dengan yang namanya anak, adalah harga yang harus selalu kita bayar. Karena anak tidak pernah minta untuk dilahirkan!

Orang bijak mengatakan, setiap orang terlahir bagai kertas putih polos. Akan tertulis atau tergambar apa, tergantung nilai dan ajaran yang diterima yang bersangkutan. Mulanya ia dibantu menggariskan pena kehidupannya, selanjutnya ia akan menggoreskan sendiri. Bukan lagi garis atau coretan tapi mungkin sudah berbentuk kata dan kalimat.

Nah apakah anda akan menuliskan semua kekhawatiran anda atau akan ada tuliskan juga besarnya kasih anda pada anak-anak yang anda lahirkan atau orang-orang sekitar yang anda cintai? Setiap habis hujan akan selalu ada pelangi! Ke hawatiran memang akan selalu ada namun Tuhan juga selalu menjanjikan kedamaian dan kebahgiaan. Jadi kuncinya cuma satu, pasrah dan berserah diri. (Icha Koraag. 10 Januari 2007)

No comments: