Sunday, March 25, 2007

MENYINGKAP SELIMUT ITU !


Ketika anda menyingkap selimut seseorang, itu menunjukkan kedekatan hubungan anda dengan orang tersebut. Karena aku percaya kalau anda tidak mempunyai hubungan yang dekat dengan orang tersebut, jangankan menyingkap selimut, masuk ke kamar orang tersebut saja, sudah salah.

Sebaliknya kalau anda dekat dengan orang tersebut, jangankan menyingkap selimut itu, masuk bergabung di balik selimut tersebut saja, sah! Aku tidak akan berbicara kegiatan di balik selimut. Biarlah itu menjadi cerita pribadi masing-masing. P

emahamanku menyingkap selimut seseorang, sama maknanya dengan menyingkap batas. Batas perbedaan dan batas ketertutupan. Ya, aku sudah menyingkap batas perbedaan dan batas ketertutupan antara aku dan suami.

Tepatnya kapan, aku juga kurang tahu, namun yang pasti aku sudah menyingkap selimut tersebut, kini tak ada lagi rahasia diantara kami yang tinggal hanya komitmen untuk tidak menghianati kepercayaan yang terus kami bangun.

Hidup berumah tangga tidak cukup hanya bermodalkan cinta, satu tujuan dan bahagia bersama harus menjadi cita-cita pasangan tersebut. Bahagia bersama bukan sekedar bebas tertawa tapi hidup nyaman tanpa tekanan dan tanpa rasa takut.

Aku sudah melampaui batas tersebut, dengan kusingkap selimut perbedaan dan ketertutupan antara aku dan suami. Kini tak ada lagi rasa takut atau malu dalam mengungkapkan rasa dan pemikiranku.

Ini yang kukatakan tak ada rahasia diantara kami. Itulah kebebasan yang hakiki dalam berumah tangga. Buatku sesuatu yang aneh kalau masih ada ketakutan atau rasa enggan atau malu dari salah satu pasangan dalam hal mengungkapkan rasa dan pemikiran pada pasangannya. Kita perlu membangun rasa malu, bila kita melanggar komitmen !

Ketika pasangan tersebut menikah, mereka telah menjadi satu tubuh dan satu jiwa. Karenanya mereka juga menjadi satu rasa. Salah satu dari pasangan tersebut di sakiti maka yang satu seharusnya juga merasa tersakiti. Karenanya aku yakin, seharusnya pasangan suami istri tidak saling menyakiti baik secara fisik maupun mental.

Pagi ini, ketika kuterbangun dan keluar dari balik selimut yang kugunakan untuk berbagi dengan si bungsu, Vanessa. Aku mendapati belahan jiwaku sedang menikmati berita di tv. Aku terbangun karena deringan telephone yang ternyata dari ibu mertua. Beliau menanyakan keadaan putera sulungku, Bas.

Dua hari ini Bas kurang sehat. Suamiku mengira Bas kena Demam Berdarah karena ada bintik-bintik merah di punggung, gejala panas, pusing dan mual. Tapi suamiku enggan membawanya ke RS. Dengan alasan di observasi dulu dua hari. Ini sifat yang kukenal sejak awal menikah. Bukan suamiku tidak percaya dokter, tapi suamiku punya keyakinan yang besar akan kemampuannya dalam menangani gejala sakit anak-anak.

Dan dalam perjalanan rumah tangga kami, aku memang melihat buktinya. Kepanikan justru membawa pada tindakan yang tidak rasional.Aku mengabarkan pada ibu mertua, Bas semalaman demam dan menggigil. Mulai pukul dua dan baru reda sekitar pukul enam pagi. Panasnya cukup tinggi walau akhirnya menurun setelah di beri paracetamol. Cuma sekarang ada batuk. Mungkin ini gejala flu disertai batuk. Jadi kukatakan, nanti setelah Bas bangun jika kondisinya tak bagus, aku berjanji akan segera membawanya ke dokter.

Selesai berbicara dengan ibu mertua dan menutup gagang telephone, suamiku mengembangkan kedua tangannya, menantikanku dalam pelukan. Sungguh damai dan bahagia rasanya berada dalam pelukannya. “Bas masih tidur?” tanyanya “He eh. Kamu belum tidur yah?” aku balik bertanya “Demi anak, aku harus berjaga!” jawabnya “Tapi kalau kamu sakit, bagaimana?” tanyaku lagi “Ya, jangan dong. Tapi memang agak pusing nih. Buatkan kopi dong” pintanya manja “Ok” jawabku.

Belum lagi aku bangkit dari pelukannya, Van muncul dengan wajah kusam. “Selamat pagi cantik!” sapaku sambil merentangkan tangan, mengundang Van masuk dalam dekapanku. Aku dan Van berada dalam pelukan Frisch, suamiku. “Waduh jadi berat, ada siapa yah?” Tanya Frisch “Aku” Jawab Van pelan. “Hei….kok kamu ikut-ikutan masuk sini?” Tanya Frisch “Aku kan juga mencintai mama” Jawab Van yang langsung disambut Frisch dengan gelak tawa. Mungkin pengaruh sinteron, akhir-akhir ini Van selalu menggunakan kata “mencintai” baik padaku, pada papanya maupun pada Bas. Aku bangkit dan meninggalkan keduanya. Sebelum menjerang air, kusempatkan memeriksa kondisi Bas. Panasnya sudah turun dan ia nampak lelap.

Akhir-akhir ini hubunganku dengan suami sangat dekat.. Ini juga membuat aku semakin mengenal sifat dan kebiasaannya. Ternyata memahami pasangan hidup kita hanya memerlukan keterbukaan diri kita untuk lebih menerima ia apa adanya. Sebelum menikah dan ketika baru menikah, aku membuat target-target yang mungkin cukup menekan suamiku.

Di awal pernikahan, hubungan kami berubah menjadi penuh ketegangan. Bahkan terasa sampai lima tahun pertama. Hidupku dipenuhi target dan ketika target tak terpenuhi berganti dengan rasa khawatir. Tapi ketika aku mengevaluasi lagi target-target dalam pernikahan kami dan melihat apa yang sudah aku dan suami lakukan, aku menyadari, banyak hal yang tidak mencapai target.

Aku sempat frustasi memikirkan target-target yang tak tercapai, aku menuduh suamiku kurang berusaha memenuhi target yang kita sepakati. Hidup kami terasa berat. Memasuki tahun ke tujuh pernikahan, aku melihat banyak hal yang seharusnya kami syukuri tapi tak terlihat. Seperti kehidupan keluarga yang baik dalam arti, secara ekonomi kami tak kekurangan bahkan kami bisa membeli polis asuransi pendidikan untuk anak-anak dan polis jaminan perawatan kesehatan di RS. Walau belum mampu mencicil rumah tapi kami masih mampu membayar sewa rumah. Anak-anak bersekolah dan sampai saat ini, biayanya masih dapat kami penuhi. Dapur juga masih tetap berasap.

Artinya, betapa banyak sebenarnya nikmat dan berkat Tuhan yang sudah aku terima tapi tak terasa karena aku memasang target dengan ukuran orang lain. Keinginan memiliki rumah seperti yang sudah dimiliki kakak-kakakku dan teman-temanku. Keinginan memiliki tabungan atau deposito seperti keluarga-keluarga di sinetron. Ingin memiliki mobil agar bisa keliling kota. Pokoknya hal-hal yang kelihatannya sepele dalam arti bukan standar tinggi. Tapi standar layak hidup. Namun aku lupa, standar layak hidup tiap orang ditentukan oleh orang tersebut.

Memang lingkungan memperngaruhi tapi penentuan tetap ada pada diri kita. Yang utama adalah pemenuhan kebutuhan primer. Kenyataannya ketika kehidupanku tidak seperti itu. Bukan kemudian aku menurunkan target tapi aku mencoba memandang dari sisi yang lain. Berusaha tetap bahkan harus ditingkatkan namun mensyukuri apa yang sudah diperoleh jauh lebih menetramkan.

Biar bagaimana aku juga tak mau bekerja keras lalu kehilangan waktu untuk bersama keluarga. Keluarga bukan sebuah taruhan, sebaliknya aku dan suami bekerja untuk kesejahteraan keluarga. Ketika aku sudah menyingkap selimut kehidupan yang melahirkan pemikiran picik, di balik selimut kehidupan itu, aku menemukan keindahan akan sebuah kepasrahan. Ketenangan akan sebuah janji. Usaha, kerja keras dan doa tak selalu menjanjikan kesuksesan tapi tak ada kesuksesan yang tidak di mulai dengan usaha, kerja keras dan doa.

Kedekatan fisik dan emosi antara aku dan suami adalah sebuah semangat akan tekad untuk memberi yang terbaik. Seperti tindakannya mengembangkan tangan menantiku dalam pelukan. Itu hanya tindakan kecil dan tidak terlalu berarti. Jika aku tidak mendekat dan menyambut masuk dalam pelukannya, juga tidak apa-apa.

Aku bisa saja berdalih ingin kekamar mandi. Tapi dengan aku menyambut undangannya masuk dalam pelukannya, aku bisa lebih merasakan ekspresi rasa sayangnya dan ia pun tahu aku menyayanginya. Tak perlu kata-kata, karena sikap dan tindakan bisa melebihi setiap ucapan.

Ketika kami sama-sama sepakat menyingkap semua perbedaan dan ketertutupan, maka kami menyatu dalam fisik dan emosi. Sehingga membuat semua yang kami usahakan selalu bertujuan untuk memberi yang terbaik bagi pasangan dan anak-anak. Beranikah anda menyingkap selimut perbedaan dan ketertutupan dalam kehidupan anda dan pasangan? (Icha Koraag, 25 Maret 2007)

Tuesday, March 13, 2007

JANGANLAH HENDAKNYA KAMU KUATIR

Rasa kuatir adalah hal biasa yang di rasakan setiap umat manusia. Ini bukan menunjukan kelemahan tapi perasaan itu justru menunjukan kita sebagai manusia. Setiap sendi kehidupan selalu menimbulkan rasa kuatir. Kuatir akan masa depan, kuatir akan jodoh, kuatir akan keselamatan diri, keluarga atau orang-orang yang di cintai. Kuatir akan pemenuhan kebutuhan hidup dll.

Bicara rasa kuatir mengenai pemenuhan kebutuhan hidup, salah satunya adalah kebutuhan akan uang. Memang uang bukan segala-galanya tapi untuk menjalani hidup, uang memang sangat diperlukan. Manajemen keuangan baik dalam organisasi, perusahaan atau sebuah keluarga adalah sebuah persoalan yang serius dan penting.

Aku suka memperhatikan kebiasaan beberapa kawanku dan kakak-kakakku yang sudah menikah. Kawan dan kakakku yang tidak bekerja otomatis mendapatkan uang dari suaminya untuk segala keperluan rumah tangga dan keperluan pribadi termasuk membantu saudara.

Sebelum aku menikah, aku sudah bekerja. Sehingga ketika menikah aku tidak berkeinginan meminta uang dari penghasilan suamiku. Jika ia memberi, aku menerima. Untuk biaya rumah tangga, suamiku tak menunggu di minta. Ia punya kesadaran penuh untuk membiayai. Salah seorang kawanku berprinsip, “Uang dia, uang gue tapi uang gue yach milik gue!” Biasanya kami tertawa. Namun kadang aku berpikir, benar gak yah berprinsip seperti itu.

Di masyarakat kita kebanyakan menjadikan suami sebagai kepala keluarga, sekaligus pencari nafkah. Dan karena stigma tersebut, banyak para lelaki yang menjadikan membiayai keluarga sebagai sebuah kewajiban dan tanggung jawab. Tak herannya juga banyak para suami yang merasa tertekan jika mengetahui penghasilan istri lebih besar dari para suami.

Demikian pula sebagian para istri yang terbiasa dan meyakini para suami sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah meyakini sekalipun mereka bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri tetap merasa tidak punya kewajiban dalam membiayai rumah tangga.

Aku pernah mengalami suatu posisi di mana aku bekerja dan suamiku tidak bekerja. Aku merasa tertekan bukan karena kondisi rumah tanggaku tapi lebih pada stigma sosial dan tekanan keluarga. Ibuku selalu memberi contoh ayahku, sebagai lelaki hebat yang bertanggung jawab menafkahi keluarga. Terus terang hal itu menjadi beban pemikiranku. Ketika menikah, aku kan tidak bisa meramalkan suamiku jobless. Siapa juga yang ingin bersuamikan lelaki pengangguran? Lalu apakah aku harus menceraikan suamikun karena dia tidak bekerja?

Rasanya, ketika aku mengikrarkan diri dalam janji pernikahan, salah satunya adalah selalau setia dalam suka maupun duka menerima dalam keadaan susah dan senang. Dan aku menggenapi janji pernikahanku dengan menerima secara ikhlas kondisi rumah tanggaku ketika suamiku tidak bekerja.

Bahkan aku senantiasa mensyukuri karena aku bekerja, paling tidak berarti dapurku masih bisa berasap. Yang membuat aku sangat mencintai suamiku, sekalipun ia tidak bekerja dalam –pengertian “kantoran”, ia tetap berusaha mencari uang. Walau sedikit tapi ia tetap memberikan kontribusi dalam keuangan keluarga. Kadang aku mengeluh juga tapi kupikir itu wajar. Manakala kebutuhan sangat banyak tapi belum terlihat uangnya.

Biasanya pertengkaran akan timbul, aku ngomel dan mendesak agar suamiku mencari uang lebih banyak. Suamiku balas ngomel karena sudah berusaha tapi belum dapat. Lalu harus bagaimana? Suasana berubah menjadi tegang, tidur pun berbalik punggung. Dalam kesendirian, aku menangis menyesali sikapku. Aku merasa menjadi istri yang jahat yang tak mau mengetahui kemampua suaminya. Tapi di satu sisi aku menangis dan bertanya mengapa harus begini? Biasanya aku baru bisa tertidur usai bercakap-cakap dengan Tuhan.

Aku harus meyakiniki Tuhan memang mengasihiku. Karena pada akhirnya semua terselesaikan dengan baik. Bahkan aku merasa Tuhan amat menyayangiku. Bukan sekali dua kali aku seakan mendaparkan mujizat. Memang kami tidak berkelimpahan sampai mempunyai tabungan yang banyak. Tapi sampai saat ini kami tidak kekurangan walau tidak berkelebihan. Aku dan suami tetap berusaha dan percaya Tuhan pasti memberkati!

Salah satu firman Tuhan yang memberikanku kekuatan:
Filipi 4: 6: “ Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”

Aku sudah membuktikan kebenaran akan berkatNya. Sekalipun aku kerap berpaling dariNya tak sekalipun dia meninggalkanku. (Icha Koraag, 13/3-2007)

Tuesday, March 06, 2007

APA MUNGKIN IDUL ADHA KORBANNYA SINGA?

Aku masih menikmati hari-hari libur panjang usai di PHK. Ternyata banyak hal baru yang cukup menyenangkan untuk aku lakukan. Tentu saja salah satunya bermain-main dengan aneka resep di dapur. Sampai-sampai suamiku bilang “Ini proses penggemukkan!” Tapi sepanjang dua minggu ini, ku lihat ia menikmati masakanku. Protesnya lebih ku rasa sebagai pujian. Seperti ucapannya saat usai makan malam.

“Kalau si mama terus-terusan masak seperti ini, kita bisa jadi korban waktu Idul Adha!” Ujarnya. Yang langsung di sambut Bas,
“Memangnya papa si embek?” Papa gak cocok jadi embek, papa cocoknya jadi banteng!” kata Bas. Dalam hati aku mengakui ada benarnya. Suamiku lebih cocok di samakan dengan banteng ketimbang embek (kambing).

Karena postur tubuhnya yang tinggi, besar dan kekar. Jadi lebih mirip banteng daripada kambing
“Iya pa, ?” Tanya Van dengan lugu
“Enggak, papa maunya jadi Raja Hutan, alias Singa!” Ujar Frisch lalu mengaum seperti seekor Singa. Bas dan Van tertawa dan tak mau kalah, lalu masing-masing menirukan suara binatang.
“Aku ular Anaconda!” Kata Bas lalu berdesis seperti suara ular.
Aku tak kaget dengan pilihan bas yang menjadi ular Anaconda. Bas sangat tertarik dengan reptile juga dinosaurus. Kadang-kadang jengkel aku di buatnya lantaran ibuku menuduhku mengajar anak tak benar. Pasalnya anak-anak seusia Bas lebih tertarik dengan binatang besar seperti singa, harimau, gajah atau beruang.

Biasanya sih, aku tidak komentar. Menurutku tak ada salahnya Bas menyukai reptile.
Tak beda dengan adiknya Van yang otomatis juga menjyukai aneka binatang. Karena mereka berdua kerap menonton National; Geographic atau Animal Planet. Tiba-tiba ku dengar Van bertanya.
“Aku…aku….” Sesaat Vanessa diam, “aku jadi apa ma?” Tanya Van sambil menatapku.
“Van jadi Macan!” jawabku
“Enggak mau., aku maunya jadi gajah!” ujar Van dengan wajah cemberut.
“Boleh saja tapi mama tidak tahu suara gajah!” jawabku lagi.
“Pa, bagaimana suara gajah?” Tanya Van
Frisch terdiam sesaat lalu mengeluarkan suara seperti sapi melenguh. Belum lagi suamiku berhenti menirukan suara gajah, Van sudah memotong.
“Aku jadi anjing saja,!” uajr Van lalu menyalak.

Bahagia benar rasanya, melihat orang-orang yang ku cintai ada bersamaku. Tak putus syukur dan terima kasih senantiasa ku serukan. Kebersamaan menjelang tidur malam, selalu kami sempatkan bermain dan belajar. Tiba-tiba Van sudah ada di belakangku.
“Anak anjing datang ke mamanya!’ ujar Van sambil menyalak halus dan mencium pipiku. Akupun ambil peran dalam permainan ini. Aku menyalak lalu menangkap Van dan menciuminya.
“Anjing sama ular berteman gak?” Tanya Bas
“Biasanya sih enggak!” jawabku tapi aku tahu arah pertanyaan Bas. Karenanya kulanjutkan lagi “Tapi kalau dalam permainan Anjing bisa berteman dengan ular”. Bas langsung mendekat masih tetap berdesis.
“Anaconda sayang sama mamanya anjing!” ujar Bas sambil menciumku.

“Tidak ada yang menciumi Raja Hutan, maka Raja Hutan marah dan mau pergi saja!” kata Frisch sambil mengaum dan bersiap-siap turun dari tempat tidur. Bas dan Van langsung melompat dan bergumul dengan papanya sambil menirukan suara anjing dan ular.
“Kok mama anjing tidak mau dekat-dekat?” Tanya Frisch dengan suara besar dan berat. Aku tertawa “Mamanya anjing tidak berteman dengan Raja Hutan!” jawabku.

Tiba-tiba suamiku duduk tegap dan berkata dengan suara di buat-buat menjadi berat. “Hai anak anjing dan ular Anaconda, bawa mama anjing kehadapan Raja Hutan !” Bas dan Van sudah larut dalam permainan ini, mereka berdua dengan sigap langsung menjawab “Ya, Raja Hutan!” Geli benar hatiku. Tak sempat menghindar Bas dan Van sudah memelukku dan menciumiku.
“Mama anjing harus di bawa ke hadapan Raja Hutan!” Kata Bas
“Iya!” tambah Van
“Hai Anaconda dan anjing kecil, mama anjing cape dan mau tidur!” jawabku sambil menguap. Bas dan Van tertawa geli.
“Baiklah kalau begitu, Raja Hutan akan buat susu, supaya Anaconda dan anjing kecil bisa tumbuh jadi besar dan kuat. Lalu gosok gigi!

Sesaat kemudian Bas dan Van langsung menikmati susunya. Kemudian keduanya ku giring ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Usai menggosok gigi, Bas dan Van langsung menempati posisi masing-masing di tempat tidur. Papanya melanjujtkan dengan bercerita tentang jenis-jenis binatang. Di mulai dari tempat hidupnya, Laut, darat dan udara. Lalu ukurannya besar, sedang dan kecil. Lalu nama-nama dan jenisnya. Belum lagi cerita tamat, kedua buah hatiku sudah lelap dalam tidurnya.

“Apakah mama anjing sudah tidur?” Tanya Frisch.
“Belum!” jawabku
“Mengapa?”
“Lagi berpikir”
“Mengenai apa?”
“Apa mungkin Idul Adha korbannya singa?” (Icha Koraag)