Tuesday, March 06, 2007

APA MUNGKIN IDUL ADHA KORBANNYA SINGA?

Aku masih menikmati hari-hari libur panjang usai di PHK. Ternyata banyak hal baru yang cukup menyenangkan untuk aku lakukan. Tentu saja salah satunya bermain-main dengan aneka resep di dapur. Sampai-sampai suamiku bilang “Ini proses penggemukkan!” Tapi sepanjang dua minggu ini, ku lihat ia menikmati masakanku. Protesnya lebih ku rasa sebagai pujian. Seperti ucapannya saat usai makan malam.

“Kalau si mama terus-terusan masak seperti ini, kita bisa jadi korban waktu Idul Adha!” Ujarnya. Yang langsung di sambut Bas,
“Memangnya papa si embek?” Papa gak cocok jadi embek, papa cocoknya jadi banteng!” kata Bas. Dalam hati aku mengakui ada benarnya. Suamiku lebih cocok di samakan dengan banteng ketimbang embek (kambing).

Karena postur tubuhnya yang tinggi, besar dan kekar. Jadi lebih mirip banteng daripada kambing
“Iya pa, ?” Tanya Van dengan lugu
“Enggak, papa maunya jadi Raja Hutan, alias Singa!” Ujar Frisch lalu mengaum seperti seekor Singa. Bas dan Van tertawa dan tak mau kalah, lalu masing-masing menirukan suara binatang.
“Aku ular Anaconda!” Kata Bas lalu berdesis seperti suara ular.
Aku tak kaget dengan pilihan bas yang menjadi ular Anaconda. Bas sangat tertarik dengan reptile juga dinosaurus. Kadang-kadang jengkel aku di buatnya lantaran ibuku menuduhku mengajar anak tak benar. Pasalnya anak-anak seusia Bas lebih tertarik dengan binatang besar seperti singa, harimau, gajah atau beruang.

Biasanya sih, aku tidak komentar. Menurutku tak ada salahnya Bas menyukai reptile.
Tak beda dengan adiknya Van yang otomatis juga menjyukai aneka binatang. Karena mereka berdua kerap menonton National; Geographic atau Animal Planet. Tiba-tiba ku dengar Van bertanya.
“Aku…aku….” Sesaat Vanessa diam, “aku jadi apa ma?” Tanya Van sambil menatapku.
“Van jadi Macan!” jawabku
“Enggak mau., aku maunya jadi gajah!” ujar Van dengan wajah cemberut.
“Boleh saja tapi mama tidak tahu suara gajah!” jawabku lagi.
“Pa, bagaimana suara gajah?” Tanya Van
Frisch terdiam sesaat lalu mengeluarkan suara seperti sapi melenguh. Belum lagi suamiku berhenti menirukan suara gajah, Van sudah memotong.
“Aku jadi anjing saja,!” uajr Van lalu menyalak.

Bahagia benar rasanya, melihat orang-orang yang ku cintai ada bersamaku. Tak putus syukur dan terima kasih senantiasa ku serukan. Kebersamaan menjelang tidur malam, selalu kami sempatkan bermain dan belajar. Tiba-tiba Van sudah ada di belakangku.
“Anak anjing datang ke mamanya!’ ujar Van sambil menyalak halus dan mencium pipiku. Akupun ambil peran dalam permainan ini. Aku menyalak lalu menangkap Van dan menciuminya.
“Anjing sama ular berteman gak?” Tanya Bas
“Biasanya sih enggak!” jawabku tapi aku tahu arah pertanyaan Bas. Karenanya kulanjutkan lagi “Tapi kalau dalam permainan Anjing bisa berteman dengan ular”. Bas langsung mendekat masih tetap berdesis.
“Anaconda sayang sama mamanya anjing!” ujar Bas sambil menciumku.

“Tidak ada yang menciumi Raja Hutan, maka Raja Hutan marah dan mau pergi saja!” kata Frisch sambil mengaum dan bersiap-siap turun dari tempat tidur. Bas dan Van langsung melompat dan bergumul dengan papanya sambil menirukan suara anjing dan ular.
“Kok mama anjing tidak mau dekat-dekat?” Tanya Frisch dengan suara besar dan berat. Aku tertawa “Mamanya anjing tidak berteman dengan Raja Hutan!” jawabku.

Tiba-tiba suamiku duduk tegap dan berkata dengan suara di buat-buat menjadi berat. “Hai anak anjing dan ular Anaconda, bawa mama anjing kehadapan Raja Hutan !” Bas dan Van sudah larut dalam permainan ini, mereka berdua dengan sigap langsung menjawab “Ya, Raja Hutan!” Geli benar hatiku. Tak sempat menghindar Bas dan Van sudah memelukku dan menciumiku.
“Mama anjing harus di bawa ke hadapan Raja Hutan!” Kata Bas
“Iya!” tambah Van
“Hai Anaconda dan anjing kecil, mama anjing cape dan mau tidur!” jawabku sambil menguap. Bas dan Van tertawa geli.
“Baiklah kalau begitu, Raja Hutan akan buat susu, supaya Anaconda dan anjing kecil bisa tumbuh jadi besar dan kuat. Lalu gosok gigi!

Sesaat kemudian Bas dan Van langsung menikmati susunya. Kemudian keduanya ku giring ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Usai menggosok gigi, Bas dan Van langsung menempati posisi masing-masing di tempat tidur. Papanya melanjujtkan dengan bercerita tentang jenis-jenis binatang. Di mulai dari tempat hidupnya, Laut, darat dan udara. Lalu ukurannya besar, sedang dan kecil. Lalu nama-nama dan jenisnya. Belum lagi cerita tamat, kedua buah hatiku sudah lelap dalam tidurnya.

“Apakah mama anjing sudah tidur?” Tanya Frisch.
“Belum!” jawabku
“Mengapa?”
“Lagi berpikir”
“Mengenai apa?”
“Apa mungkin Idul Adha korbannya singa?” (Icha Koraag)

1 comment:

Nita said...

hahahaha....lucu...