Tuesday, March 13, 2007

JANGANLAH HENDAKNYA KAMU KUATIR

Rasa kuatir adalah hal biasa yang di rasakan setiap umat manusia. Ini bukan menunjukan kelemahan tapi perasaan itu justru menunjukan kita sebagai manusia. Setiap sendi kehidupan selalu menimbulkan rasa kuatir. Kuatir akan masa depan, kuatir akan jodoh, kuatir akan keselamatan diri, keluarga atau orang-orang yang di cintai. Kuatir akan pemenuhan kebutuhan hidup dll.

Bicara rasa kuatir mengenai pemenuhan kebutuhan hidup, salah satunya adalah kebutuhan akan uang. Memang uang bukan segala-galanya tapi untuk menjalani hidup, uang memang sangat diperlukan. Manajemen keuangan baik dalam organisasi, perusahaan atau sebuah keluarga adalah sebuah persoalan yang serius dan penting.

Aku suka memperhatikan kebiasaan beberapa kawanku dan kakak-kakakku yang sudah menikah. Kawan dan kakakku yang tidak bekerja otomatis mendapatkan uang dari suaminya untuk segala keperluan rumah tangga dan keperluan pribadi termasuk membantu saudara.

Sebelum aku menikah, aku sudah bekerja. Sehingga ketika menikah aku tidak berkeinginan meminta uang dari penghasilan suamiku. Jika ia memberi, aku menerima. Untuk biaya rumah tangga, suamiku tak menunggu di minta. Ia punya kesadaran penuh untuk membiayai. Salah seorang kawanku berprinsip, “Uang dia, uang gue tapi uang gue yach milik gue!” Biasanya kami tertawa. Namun kadang aku berpikir, benar gak yah berprinsip seperti itu.

Di masyarakat kita kebanyakan menjadikan suami sebagai kepala keluarga, sekaligus pencari nafkah. Dan karena stigma tersebut, banyak para lelaki yang menjadikan membiayai keluarga sebagai sebuah kewajiban dan tanggung jawab. Tak herannya juga banyak para suami yang merasa tertekan jika mengetahui penghasilan istri lebih besar dari para suami.

Demikian pula sebagian para istri yang terbiasa dan meyakini para suami sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah meyakini sekalipun mereka bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri tetap merasa tidak punya kewajiban dalam membiayai rumah tangga.

Aku pernah mengalami suatu posisi di mana aku bekerja dan suamiku tidak bekerja. Aku merasa tertekan bukan karena kondisi rumah tanggaku tapi lebih pada stigma sosial dan tekanan keluarga. Ibuku selalu memberi contoh ayahku, sebagai lelaki hebat yang bertanggung jawab menafkahi keluarga. Terus terang hal itu menjadi beban pemikiranku. Ketika menikah, aku kan tidak bisa meramalkan suamiku jobless. Siapa juga yang ingin bersuamikan lelaki pengangguran? Lalu apakah aku harus menceraikan suamikun karena dia tidak bekerja?

Rasanya, ketika aku mengikrarkan diri dalam janji pernikahan, salah satunya adalah selalau setia dalam suka maupun duka menerima dalam keadaan susah dan senang. Dan aku menggenapi janji pernikahanku dengan menerima secara ikhlas kondisi rumah tanggaku ketika suamiku tidak bekerja.

Bahkan aku senantiasa mensyukuri karena aku bekerja, paling tidak berarti dapurku masih bisa berasap. Yang membuat aku sangat mencintai suamiku, sekalipun ia tidak bekerja dalam –pengertian “kantoran”, ia tetap berusaha mencari uang. Walau sedikit tapi ia tetap memberikan kontribusi dalam keuangan keluarga. Kadang aku mengeluh juga tapi kupikir itu wajar. Manakala kebutuhan sangat banyak tapi belum terlihat uangnya.

Biasanya pertengkaran akan timbul, aku ngomel dan mendesak agar suamiku mencari uang lebih banyak. Suamiku balas ngomel karena sudah berusaha tapi belum dapat. Lalu harus bagaimana? Suasana berubah menjadi tegang, tidur pun berbalik punggung. Dalam kesendirian, aku menangis menyesali sikapku. Aku merasa menjadi istri yang jahat yang tak mau mengetahui kemampua suaminya. Tapi di satu sisi aku menangis dan bertanya mengapa harus begini? Biasanya aku baru bisa tertidur usai bercakap-cakap dengan Tuhan.

Aku harus meyakiniki Tuhan memang mengasihiku. Karena pada akhirnya semua terselesaikan dengan baik. Bahkan aku merasa Tuhan amat menyayangiku. Bukan sekali dua kali aku seakan mendaparkan mujizat. Memang kami tidak berkelimpahan sampai mempunyai tabungan yang banyak. Tapi sampai saat ini kami tidak kekurangan walau tidak berkelebihan. Aku dan suami tetap berusaha dan percaya Tuhan pasti memberkati!

Salah satu firman Tuhan yang memberikanku kekuatan:
Filipi 4: 6: “ Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”

Aku sudah membuktikan kebenaran akan berkatNya. Sekalipun aku kerap berpaling dariNya tak sekalipun dia meninggalkanku. (Icha Koraag, 13/3-2007)

No comments: