Sunday, June 17, 2007

Obrolan santai: HAK ORANG TUA!

Beberapa waktu lalu media ramai dengan berita terjatuhnya seorang balita di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Media langsung meliput dan menyiarkan berita duka tersebut. Sebagian media menyebutnya sebagai musibah, demikian juga orang tua korban. Bahkan pengelola Pusat Perbelanjaan tersebut juga menyebutnya sebagai musibah. Saya tidak mempersoalkan peristiwanya mau disebut musibah atau tragedi, intinya sama ada sebuah fakta seorang anak terjatuh dari lantai satu dan mengakibatkan korban tewas.

Langsung timbul pertanyaan salah siapa? Orang tua korban mengakui ini sebagai kesalahan mereka karena sempat lalai dan melepaskan si korban dari genggaman. Namun mereka meminta pengelola pusat Perbelanjaan untuk lebih meningkatkan fasilitas keamanan buat pengunjung. Sikap orang tua korban adalah sikap bijaksana yang tidak menyalahkan pihak lain.

Sebuah stasiun televisi menginformasikan berita kriminal, dimana seorang ibu tega menyiramkan air panas pada anaknya yang berusia 3 tahun karena buang air kecil sembarangan. Di tegaskan lagi dalam berita tersebut, diketahui si anak hanyalah anak angkat. Seakan-akan penjelasan terakhir ingin menjelaskan kenapa si ibu tega menyiramkan air panas. Andaikan anak kandung mungkin si ibu tidak tega. Lebih kurang aku mengartikannya seperti itu.

Ini menjadi bahan diskusi aku dan pasanganku. Apa yang mendorong si ibu sampai tega menyiram balita dengan air panas. Kalau si ibu tak mempunyai rasa belas kasih lantaran cuma anak angkat, kenapa mau mengangkat anak

Berita-berita peristiwa membuat Aku merenung dan memikirkan peran sebagai orang tua. Dalam siklus kehidupan mahluk hidup, lahir menjadi anak dan kelak menikah menjadi suami/istri lalu mempunyai anak perannya berubah lagi menjadi ayah dan ibu. Akan meningkat lagi seiring lahirnya generasi berikut atau cucu hingga di labelkan peran sebagai kakek/nenek. Ayah-ibu atau kakek dan nenek adalah sebutan lain dari peran sebagai orang tua. Makna kata Orang tua secara harfiah adalah orang yang sudah tua. Namun jika sudah menikah dan mempunyai anak, otomasti pasangan tersebut disebut orang tua biarpun umur mereka masih muda.

Apakah memiliki anak baik kandung atau angkat sekedar membei nilai tambah pada sebuah keluarga? Supaya masyarakat menilai sebagai keluarga yang sempurna, ada bapak, ibu dan anak? Apakah keluarga yang tidak mempunyai anak dianggap tidak sempurna? Apakah pasangan menikah yang tidak mempunyai anak dianggap tidak sempurna? Penilaian semacam inilah yang harus di ubah.




Aku jadi teringat ketika Bas dan Van pulang sekolah menjelang 17 Agustusan tahun lalu. Mungkin di sekolah diajarkan bahwasannya walaupun dari berbagai suku bangsa pada dasarnya semua anak adalah anak Indonesia. Jadi ketika mereka pulang sekolah, keduanya menceritakan asal suku kawan sekelasnya.
“Nico orang batak loh, Ma” Kata Vanes
“ Ayu, orang Jawa “Kata Bas.
“Kalau begitu Bas dan Van orang apa?” tanyaku
“Orang Menado!” Jawab keduanya serempak. Aku tak meralatnya karena ada benarnya walupun papanya orang Gorontalo, akukan orang Menado. Dan keduanya lebih terbiasa dengan sebutan sebagai orang Menado ketimbang Gorontalo.
“Kalau Oma Pinang (maksudnya Oma yang tinggal di Pinang)?” tanyaku
“Oh kalau Oma Pinang sih orang tua!” jawab Bas lugu. Kontan meledaklah tawaku.?

Apakah “Menjadi Orang Tua” adalah keinginan semua orang? Persoalannya jika menjadi orang tua lekat dengan kewajiban dan tanggung jawab, aku jadi ingin tahu, bukankah kewajiban seharusnya lekat dengan hak? Mengapa menjadi orang tua lebih lebih lekat dengan tanggung jawab tanpa diikuti apa yang menjadi haknya? Pertanyaan selanjutnya apa sih yang menjadi hak orang tua?

Dalam suatu perbincangan santai dengan suamiku, ia mengatakan. Salah satu hak orang tua adalah bersikap otoriter! Dalam hati aku bertanya, apa iya? Otoriter kan mengatur dengan paksa. Kemudian suamiku menceritakan, kemarin sore saat pulang kerja, ia melihat kerumunan orang ketika di hampiri ternyata seorang anak muda yang mental dari motornya lantaran menghindari balita.

Balita itu berjalan dengan ibunya di atas trotoar. Menurut saksi mata, si ibu menggandeng si balita di sebelah kanan, sehingga si balita bersisian langsung dengan jalanan. Rupanya keduanya baru membeli sesuatu jajanan. Si anak meminta si ibu membuka bungkusan jajanan yang di beli, sehingga si ibu melepas tangan si balita dari genggaman.

Pada saat itu melintas motor dari arah berlawanan. Harusnya tidak terjadin apa-apa tapi entah bagaimana si balita melompat dari trotar ke jalanan saat motor melintas. Si pengendara menghindari balita dengan berhenti mendadak dan mengakibatkan di pengandara mental cukup jauh.

Saksi mata yang sedang menolong pengendara motor, sempat menegur si ibu lantaran membiarkan si anak di sebelah kanan. Si ibu dengan entengnya menjawab: “Habis tadi dia ngambek maunya di kanan yah sudah!”

Menurut suamiku, saat-saat semacam itu, orang tua harus menjadi otoriter. Mau anaknya ngambek bukan masalah., si ibu lebih tahu mencegah bayaha daripada si anak. Justru tindakan otoriter itu adalah upaya menghindari si balita dari celaka. Kadang memang tindakan kasar harus dilakukan demi menyelamatkan.

Aku jadi ingat kisah seorang pelukis yang mendapat order melukis dinding dan langit-langit rumah seorang milyarder. Setiap satu lukisan selesai, biasanya si pelukis akan mundur dan memandang karyanya dari jarak agak jauh.

Suatu sore, sang milyarder mengunjungi si pelukis yang tengah menyelesaikan lukisan di dinding balkon. Seperti biasa si pelukis mundur menjauh dari objek lukisannya. Sang milayrder melihat bahaya karena si pelukis mundur mendekati tepian balkon. Maka sang milyarder berteriak mengingatkan, karena luasnya bangunan balkon, suara sang milyarder bergema sehingga si pelukis tak mendengar dengan jelas.

Sang milyarder tak putus asa, ia terus melambai-lambaikan tangan berusaha menarik perhatian si pelukis. Si pelukis malah balik melambaikan tangan. Jarak sang milyarder lebih dekat ke lukisan ketimbang ke si pelukis. Maka dengan cepat si milyarder menyiramkan sisa cat ke lukisan yang ada. Tentu saja si pelukis marah melihat perbuatan penjaga sang milyarder. Si pelukis sangat emosi melihat hasil karyanya di rusak. Walau sang milyarder memiliki uang tapi tak memberinya hak merusak karya lukisanku, ucap si pelukis dalam hati. Karena marah si pelukis berhenti berjalan mundur dan kini kembali mendekati lukisannya.

“Berani sekali kamu melakukan hal itu!” seru si pelukis dengan emosi. Tapi sang milyarder tak gentar, ia malah tersenyum lega. Ketika si pelukis mendekat dengan tenang sang milyarder berkata :”Hanya dengan merusak lukisanmu aku bisa menyelamatkan jiwamu yang nyaris jatuh dari balkon karena kamu jalan mundur sehingga tak melihat tepian balkon”

Makna dari ilustrasi di atas adalah bagaimana sebuah tindakan kasar atau jahat terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan jiwa. Dan kelihatannya orang tua punya hak otoriter semacam itu selama tujuan akhirnya adalah keselamatan dan keberhasilan anak-anaknya. Aku jadi ingat betapa kesalnya Van karena aku tidak memenuhi keinginannya makan es krim. Bahkan aku pura-pura tak mendengar tangisnya. Bahkan sampai Van berucap “:Mama beli es krim itukan untuk aku!” ujarnya sambil menangis. Memang Es krim adalah salah satu menu makan kedua anakku sehari-hari. Karena aku tak suka mereka jajan, aku kerap membuat es krim atau membeli dalam ukuran literan sebagai persediaan.

Ini kulakukan karena Van sedang radang tenggrokan akibat batuk pilek. Justru jika aku memenuhi permintaannya, aku malah akan menyiksa Van dalam sakit yang lebih lama. Apa cuma itu hak orang tua? Tentu saja tidak. Orang tua juga punya hak menikmati kebahagiaan dari setiap prilaku dan aktivitas anak-anaknya. Karena sesungguhnya sakitnya anak-anak adalah derita orang tua. Dan tawa ceria anak-anak adalah bahagianya orang tua.

Satu hal lagi, menjadi orang tua tidak selalu dengan melahirkan tapi bersikap asah asih asuh pada setiap anak adalah hak sekaligus kewajiban. Termasuk pada anak-anak yang bukan dilahirkan dari tubuh kita. Sikap asih asah dan asuh pada setiap anak adalah wujud syukur sekaligus terima kasih pada orang tua yang sudah melahirkan kita. (17 Juni 2007)

No comments: