Tuesday, September 25, 2007

MENGAJARKAN AGAMA PADA ANAK.

Bukan maksud hati menjadi pemikir tapi tidak berpikir rasanya sama juga tidak hidup alias mati. Kala belahan jiwa dan kedua buah cintaku sudah di buai mimpi, angan pikiranku mengembara. .Aku sadar betul tidak pandai mengajarkan agama pada kedua anakku. Karena mengajarkan agama bukalah bidangku. Tapi sebagai orang beragama aku ingin anak-anakku mengenal agama dengan cara yang benar. Persoalannya mengenal agama dengan cara yang benar itu yang bagaimana? Pemikiran ini datang kala aku mendengar Vanessa berdoa menjelang tidur malam.

Vanessa berlutut di tempat tidur menghadap tumpukan bantal. Melipat tangan di depan dada dan memejamkan mata. Lebih kurang yang terucap.;

Tuhan
Terima kasih untuk hari ini
Ampuni Bastian yang makannya lama.
Ajar Bastiaan agar mau makan cepat dan banyak.
Terima kasih untuk Bastian yang sudah menolong aku dalam bermain.
Tuhan berkati mama dan papa kami
yang selalu mengasihi kami.
Ajar aku untuk menyayangi Bastiaan dan Bastiaan menyayangi aku.
Sekarang kami akan tidur
jaga dan bangunkan kami besok dengan tubuh yang segar. Amin

Ada perasaan haru yang menyusup ke relung hati ini. Apakah Vanessa mengerti dengan apa yang diucapkannya?
Aku jadi merenung, apakah pengenalanku akan agama sudah benar? Dan apakah sikapku dalam beragama juga benar? Sejujurnya aku merasa agama hanya sebuah stigma pada ajaran tertentu. Bersifat agama kelihatannya menjadi lebih penting ketimbang beragama. Mungkin bersifat agama maksudku religius. Sifat religius, sebuah sifat yang lebih mengutamakan harmonisasi atau kedamaian.

Sifat religius ini bukan hanya terkait pada kegiatan melaksankan ibadah tapi juga menyangkut pada hubungan antar sesama. Keinginan untuk selalu menciptakan harmonisasi dan kedamaian adalah sebuah kondisi yang mengarah pada ketenangan. Aku merasa sifat religius adalah sebuah sifat atau kondisi seseorang yang ingin selalu berada dalam kondisi dan situasi yang harmonis. Sehingga tecipta sebuah kedamaian atau kenyamanan. Bukankah seharusnya agama menjadi fasilitator ke arah tersebut? Bukankah tujuan agama baik adanya?

Aku tidak ingin mengajarkan sesuatu yang bersifat dogmatis pada kedua anakku. Tapi persoalannya pada agama yang aku anut, ajaran dogmatis itu masih mejadi salah satu andalan pengajaran pada pengenalan agama.

Misalnya aku tidak ingin mengajarkan bahwa kalau Vanessa tidak mau berbagi dengan sesama dalam hal ini Bas maka kelak Vanessa akan masuk neraka. Konsep neraka adalah sesuatu yang belum ingin kuknealkan pada Bas dan Van. Jauh lebih baik bagiku bila Bas dan Van lebih mengerti atau memahami mengapa mereka harus berbagi.

Hal yang akau katakan pada keduanya:
Pertama, dua-duanya anak mama. Terlahir sebagai adik dan kakak dari satu mama dan satu papa. Bila ingin hidup menyenangkan maka kebersama dengan sesama (dalam hal antara Bas dan Van maka keduanya harus mau saling mengalah. Berusaha untuk saling menyenangkan. Misalnya: Bas mau membantu Van saat Van ingin mengambil sesuatu di tempat yang lebih tinggi. Atau Van juga dengan senang hati mengambil Bas minum jika Bas minta tolong, begitu juga sebaliknya.

Sungguh menakutkan buatku, seandainya aku salah dalam mengarahkan mereka terhadap pengenalan dan pemahaman pada agama. Terutama agama yang kami anut. Aku ingin anak-anakku mempunyai pemikiran yang terbuka. Aku ingin mereka merasakan sendiri bahwa agama bukanlah antara "aku dan kamu" tapi lebih pada "aku dan sang Pencipta".

Di luar sana perbedaan agama sampai saat ini masih menjadi sebuah ancaman bahkan kekerasan atas nama agama semakin hari semakin meningkat. Ini sebetulnya bentuk kegagalan pemerintah dalam melindungi/ mengayomi warganya dalam menjalankan ibadahnya sebagaimana yang dijabarkan dalam Pancasila sila pertama.

Membayangi anak-anakku akan terjun di dunia yang buas aku jadi teringat ketika seorang penangkar penyu melepas anak-anak penyu. Ratusan telur penyu yang diselamatkan sampai menetas lalu di lepas ke laut lepas. Namun alam sangat kejam menyeleksi. Hanya yang tangguh yang bertahan. Aku jadi berpikir apa yang membuat beberapa penyu bertahan, aku ingin tahu agar bisa menjadi pedomanku dalam membekali kedua anakku menjadi anak-anak yang tangguh dan mampu melewati seleksi alam.

Namun sebelum masa itu tiba, aku akan terus belajar dan berusaha mendampingi Bas dan Van dengan kasih agar kelak keduanya mempunyai cinta kasih yang seluas samudra yang bisa mereka bagikan pada sesama. Aku berharap kenikmatan mereka dalam belaian kasih kedua orang tuanya menjadi kenangan yang takkan pernah pudar sehingga menjadi motivasi bagi mereka untuk merealisasikan cinta kasih itu dalam tindakan nyata dalam keseharian hidup mereka . (25 SEPT 2007)

Icha
yang selalu berusaha menjadi istri dan ibu yang baik.

1 comment:

Arga Litha said...

agama ialah patokan. memang sudah kewajiban mengajarkan pada anak2 sedari dini agar nantinya bisa melekat selalu di hati :)