Monday, October 22, 2007

SEPOTONG KISAH MENJELANG IDUL FITRI.

Saya sangat percaya memberi sebagian dari yang kita miliki tidak akan membuat kita menjadi kekurangan. Hal ini saya pelajari dari almarhum ayah mertua saya. Kedua mertua saya bukan berasal dari orang yang ada tapi mereka berhasil menanamkan pesan bahwasannya tanpa uang bukan berarti kita tidak bisa membantu.

Dan pesan ini ikut saya aminkan. Bukankah tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlalu miskin hingga tidak dapat membantu orang lain dengan doa? Karena untuk berdoa seseorang tidak perlu mempunyai status sosial atau status ekonomi tinggi. Cukup punya hubungan yang erat dengan sang pencipta bumi.

Saya mempunyai keyakinan agama yang berbeda dengan kedua mertua saya. Tapi itu tidak menghalangi hubungi religius diantara kami. Sebelum menikah seluruh keluarga mertua saya tahu kalau keyakinan saya berbeda dengan mereka. Bila akhir pekan saya menginap di sana (Bogor) maka di hari Minggu pagi, ayah mertua saya akan bertanya sudakan saya ke gereja? Biasanya saya menjawab, akan mengikuti ibadah sore sekalian pulang ke Jakarta.

Ayah mertua saya juga sangat percaya pendidikkan punya peranan penting dalam mengentaskan kebodohan dan kemiskinan. Ini di aplikasikan dalam kehidupan nyata. Sudah beberapa anak kampung atau anak jalanan yang berhasil menjadi sarjana hingga menikah berkat campur tangan ayah dan ibu mertua saya. Memang tidak semuanya berhasil, terutama kalau si anak yang diasuh kedua mertua saya tidak punya niat yang sama.

Saya teringat seorang gadis kecil bernama Yanti. Waktu itu mungkin usianya sekitar 12 tahun dan sedang bermain layang-layang di siang hari. Ayah mertua saya memperhatikan dan kemudian memanggilnya. Di tanya mengapa tidak bersekolah. Yanti dengan acuh menjawab sudah tamat SD dan tak ada biaya untuk sekolah. Ayah mertua saya minta diantar ke rumah orang tuanya.

Yanti menurut dan memperkenalakan ayah mertua saya denga ayahnya. Yanti 7 bersaudara, ia anak ke 4. Ibunya suah meninggal. Ayahnya hanya buruh bangunan dan kakak-kakaknya bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga. Entah apa pembicaraan ayah mertua saya pokoknya Yanti pindah ke rumah mertua saya. Yanti diperlakukan sama dengan anak-anak yang masih sekolah. Waktu itu dua adik suami masih duduk di SMA. Pagi-pagi sarapan lalu ke sekolah. Siang membantu pekerjaan rumah, menyapu, mengepel, menyetrika atau mencuci piring dan bila malam semua sama-sama belajar.

Waktu berjalan terus dari SMP Yanti melanjutkan ke SMEA hingga praktek kerja di sebuah perusahaan. Ayah mertua saya tidak sempat melihat Yanti tamat SMEA karena keburu menghadap Illahi. Ibu mertua saya melanjutkan apa yang sudah ditinggalkan almarhum. Waktu itu selain Yanti, juga ada seorang anak laki-laki dari sebuah kampung di Lewiliang namanya Lili.

Ibu mertua saya yang memang bisa menjahit tengah menyiapkan beberapa pakaian untuk Yanti agar dapat dipergunakan bila melamar pekerjaan. Ibu mertua saya juga tengah mengumpulkan uang untuk memberi tambahan kursus komputer dan Bahasa Inggris. Ketika suatu hari Yanti berkata ingin pulang ke rumah ayahnya. Padahal jarak rumah mertua saya dengan orang tua Yanti hanya beberapa gang saja.

Saya pernah bertanya mengapa dengan jarak yang dekat Yanti harus pindah ke rumah mertua saya. Menurut ibu mertua hal itu untuk memudahkannya mengarahkan dan mengontrol. Karena rumah Yanti jauh dari memadai untuk layak di tinggali. Dan pada waktu pamitpun, ibu mertua saya merasa heran karena setiap saat sebetulnya Yanti bisa pulang ke rumah ayahnya.

Entah bagaimana ceritanya, sampai suatu ketika saya datang ke Bogor Yanti benar-benar sudah tidak ada. Dari berita yang saya terima Yanti sudah menikah dengan laki-laki yang berprofesi sebagai “mister cepek” alias laki-laki yang menjual jasa mengatur lalu lintas diperempatan jalan dengan upah serelanya, karena sudah hamil dan kini sudah di ceraikan pula.

Ibu mertua saya sangat sedih dan kecewa karena merasa gagal mengentaskan Yanti dari komunitas miskin dan bodoh di kampungnya. Saya hanya bisa menghibur dengan mengatakan “Yanti sudah memilih jalannya! Mak sudah memfasilitasi semampu Mak!”
Biasanya ibu mertuanya saya hanya tersenyum, menghembuskan nafas panjang dan mengusap dada.

Setiap Idul Fitri, ibu mertua saya gembira karena kedatangan anak-anak asuhnya yang sudah berkeluarga. Anak-anak asuh itu sudah seperti kawan buat kami. Bahkan mereka juga punya hubungan batin yang erat dengan ibu mertua saya. Ada kalanya bila perasaan mereka tidak enak dan teringat akan Ibu mertua saya. Mereka akan menelephone untuk menanyakan kabar. Biasanya memang karena ibu mertua saya sedang tidak sehat. Maka mereka akan datang, bersilaturahmi dan mendoakan agar ibu mertua saya cepat sehat.

Hal yang saya kagumi dari ayah dan ibu mertua saya, mereka saya ingin memutuskan rantai kebodohan dan kemiskinan dalam sebuah keluarga agar tidak berlanjut. Memang dari beberapa anak asuh ayah dan ibu mertua saya, mereka umumnya punya usaha dan berhasil membantu ekonomi orang tuanya.

Saya jadi teringat permbicaraan malam takbiran kemarin. Kami sedang duduk di teras belakang rumah. Saya, ipar saya, Silvy, Ibu mertua saya dan Lili si anak asuh. Ibu mertua saya sedang di pijat Lili dan Silvy. Ibu mertua saya berkata: “Rasanya tidak percaya semua anak-anak sudah menikah. Padahal waktu di tinggal papi, masih ada 3 anak yang belum selesai!”
“Empat bu, kan saya juga belum selesai!” Potong Lili.
“Ya empat, sama kamu!” ujar Ibu Mertua saya sambil tersenyum. Ibu mertua saya pantas tersenyum, karena Lili baru saja di wisuda.

Suasana hening, mata ibu mertua saya menerawang jauh. Rumah besar ini masih sepi karena semua penghuninya sudah menikah dan tinggal di luar rumah ini. Tinggal Ibu mertua saya dengan keluarga kecil satu adik suami bersama istri dan anaknya serta si Lili.

Keheningan terpecahkan manakala berurut-turut terdengar suara klakson mobil. Dengan sigap Lili berdiri dan berlari membuka pintu gerbang. Garasi yang kosong mulai terisi, satu persatu mulai berdatangan. Ada sebuncah rasa haru didada ini. Tak sanggup aku membayangkan ritual esok sesudah sholat Ied, yang pasti akan banjir air mata. Kalau kata suami air mata memaafkan dan dimaafkan adalah air mata kebahagiaan. Karena keluar dari nurani yang tercerahkan. (15 Oktober 2007)

1 comment:

Bayu Probo said...

Tulisan Anda begitu inspiratif dan menyentuh. Terima kasih, telah berbagi.