Tuesday, December 11, 2012

Kegelisahan Hati dan Jiwaku: Arisan Seks Pelajar di Situbondo


Sesudah mendengar informasi dari tv, ada rasa marah yang menggumpal di dada. Di Situbondo ada arisan seks yang dilakukan pelajar SMA. Berdasarkan pengakuan PSK yang ditemui LSM peduli AIDS. Apa yang salah dengan kondisi masyarakat sekarang ini? Begitu banyak pertanyaan bermain-main dalam kepalaku. Aku seorang perempuan, istri sekaligus ibu. Aku memiliki sepasang anak. 12 tahun laki-laki dan 9 tahun perempuan. Salahkah kalau aku mencemaskan masa depan anak-anakku?

Aku tahu aku belum menjadi ibu yang terbaik bagi mereka, makanya aku terus berusaha. Tidak mudah tapi aku tak akan pernah berhenti berusaha. Kembali pada kegelisahan hatiku. Apa yang mendorong anak-anak SMA (laki-laki) terpikir atau punya ide membuat arisan seks? Kok idenya gila bener? Bener-bener gila! Apa yang membuat mereka berpikir dan ingin mencoba melakukan hubungan seks? Benar pada usia remaja, hormon dalam tubuh terjadi perubahan besar-besaran. Naluri ketertarikan pada lawan jenis adalah normal. Tapi kok yah terpikir untuk melakukan hubungan seks dengan PSK lagi?

Beberapa minggu terakhir media juga ramai memberitakan akan adanya perubahan kurikulum pendidikan. Aku belum mencari tahu detilnya. Tapi sekilas terdengar akan dihapuskannya mata pelajaran IPA dan IPS. Lalu mata pelajaran bahasa Inggris menjadi mata pelajaran ektrakurikuler. Aku tidak tahu ini langkah mundur atau memang sudah dikaji dengan serius. Lalu akan diganti dengan mata pelajaran apa? Budi pekerti? Pembangunan karakter  sudah harus dibangun sejak masih dalam rumah (pra sekolah).

Di negara barat, memang ada pendidikan penjurusan sesuai minat dan bakat anak. Di Indonesia semua pukul rata sejak TK hingga SMA, Mata pelajarannya itu-itu saja. Jadi jangan harap naik kelas lalu bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kalau tidak berhasil di mata pelajaran yang ditentukan. Tidak ada perguruan tinggi menerima mahasiswa yang tidak punya ijasah SMA atau setingkat atau sederajat. Walau Perguruan Tingginya khusus mengajarkan seni tari, seni pertunjukan, seni lukis yang tiak ada kaitannya dengan matematika, fisika, kimia dan biologi.

Aku teringat pada seorang kawan di SMA yang harus keluar karena ia tidak bisa mendapat nilai lebih dari 6 untuk pelajaran eksakta. Ia hanya menguasai ketrampilan menggambar. Dan statusnya sebagai pelajar SMA selesai sampai kelas satu saja karena tidak naik ke kelas dua. Dan mungkin ia sadar tidak akan mampu, maka ia keluar. Setahun-dua tahun pertama kami masih berkomunikasi lama-lama tenggelam dalam aktifitas masing-masing dan tidak ada kabar lagi.  Sempat medengar kabar, ia membuka usaha sebagai pelukis pinggi jalan di Pasar Baru. Aku sempat mencari ke sana untuk mendata kawan-kawan, tapi tak bertemu. (Urusan reuni)

Kok, aku jadi melantur.  Aku cuma mau bilang memang ada yang salah dengan kurikulum pendidikan Indonesia. Anak-anak sekarang lebih ditekankan mendapat nilai tinggi ketimbang berlaku jujur. Anak tidak diajar menerima resiko dan tanggung jawab. Kalau mereka belajar pasti nilainya baik.  tapi karena pelajarannya (Materi dan metode) juga tidak pasti (tiap tahun berubah) maka tak heran kalau pelajaran sekarang sangat sulit dipahami. 

Kembali pada persoalan kegelisahan hati dan jiwaku. Aku masih mempertanyakan, apa dasar anak-anak SMA itu melakukan arisan seks? Kok kreatif banget yah? Apakah kemajuan dunia tekonologi, komunikasi dan informasi a.k.a internet yang menyebabkannya? Apakah peredaran film porno/bacaan porno yang bebas? Di mana peran masyarakat, pendidik, orangtua, pemuka adat, pemuka agama?

Bicara libido, adalah sesuatu yang wajar. Diperlukan pengetahuan dan informasi untuk mengendalikan libido. Benarkah karena tidak adanya pendidikan seks di sekolah? Atau karena seks adalah hal tabu untuk dibicarakan secara terbuka antara anak dan orangtua atau antara murid dan guru? Ini para sosiolog dan psikolog harus mencari solusi, agar ada suaut metode yang bisa diinformasikan untuk menanggulangi pengendalian libido para remaja.

Karang taruna adalah salah satu organisasi beranggotakan para remaja untuk melakukan bermacam-macam aktifitas. Ada pelatihan olahraga dan seni baik untuk meningkatkan ketrampilan, melestarikan budaya hingga untuk mencapai  prestasi. Sayang gaungnya Karang Taruna sudah hilang ditelan jaman. Mungkin istilah Karang Taruna juga hanya sebagian pemuda atau remaja atau masyarakat umum yang mengetahuinya. Tapi coba sebutkan nama boy/girl band lokal atau internasional. Pasti semua dengan cepat mampu menyebutkan lebih dari 5 nama.

Rasanya semua komponen bangsa harus duduk dan mendiskusikan segera secara bersama-sama. Mau dibawa kemana masa depan generasi muda jika moral sudah tidak ada? Dari data kementerian kesehatan, kaum yang rentan terhadap penularan HIV AIDS adalah para ibu rumah tangga dan anak muda. Bahkan kini sudah ada 45 %  dari total populasi penderita HIV AIDS adalah anak muda.

Hubungan seks memang bukan satu-satunya cara penularan HIV AIDS tapi salah satu penularan langsung yang paling cepat. Jadi jangan heran kalau target ke 6 dari MDG's (Millenium Development Goals) yaitu Pemberantasan bersama terhadap HIV AIDS dan Malaria tidak akan tercapai. Targetnya tahun 2015. Sekarang saja sudah tahun 2012 dan data yang ada malah terjadi peningkatan yang cukup signifikan.
Bagaimana HIV AIDS tidak akan meningkat jika anak SMA saja punya ide membuat arisan seks. Banyak kelompok yang menentang sosialisasi penggunaan kondom karena dianggap melegalkan hubungan seks bebas. Andaikan para pemuka adat/pemuka agama mampu memberikan arahan agar umat membentengi iman  agar menghormati ikatan pernikahan, menjaga komitmen dan kepercayaan dengan tidak berselingkuh. Tapi kini sulit mencari  panutan. Perselingkuhan dilakukan praktisi politik (anggota dewan) artis, bupati dan lain-lain. Dan pemberitaannya sangat gencar. Lebih banyak pemberitaan seputar aib ketimbang pemberitaan pencapaian prestasi. 

Kepalaku mumet memikirkan apa yang harus kulakukan sebagai perempuan, istri sekaligus ibu untuk membuat acuan pegangan dan arahan untuk kedua anakku. Tentu tidak bisa menjaga mereka selama 24 jam. Aku sudah membiasakan melakukan komunikasi terbuka, membangun komitmen dan kepercayaan anak-anak. Bahwa aku dan papa mereka adalah pegangan dan pelindung mereka. Arahan yang baik dan positip terus  kami berikan tapi andaikan mereka melakukan kesalahan/kekhilafan, mama dan papa ada dan akan mendampingi. Tidak sejengkalpun papa dan mama akan meninggalkan kalian. Baru itu yang bisa aku lakukan. Bagaimana dengan anda?

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

2 comments:

rita dewi said...

semoga anak-anak kita dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang tercela.

Arga Litha said...

Bundaaa, akun kompasiananya apa? Lebih baik bila dicantumkan.

Artikelnya menarik, saya suka. Pemabhasan tentang seks memang harus dijelaskan dengan baik dan benar agar tidak salah kaprah dan dipraktekkan diam2