Monday, December 09, 2013

Menghangatkan Hubungan Suami Istri


Emang perlu? Ya, perlu dong. Walaupun sudah menikah, tidak otomatis bergaransi semua akan baik-baik saja. Kok bisa? Loh, waktu pacaran saja, kita suka beda pendapat. Masa iya setelah menikah pendapat kita akan selalu sama?

Logikanya menikah bukanlah solusi dari suatu masalah. Justru menikah, tiap pasangan akan memiliki tantangan masing-masing sesuai karateristik tiap pasangan. Ada yang merasa perbedaan yang ada justru untuk melengkapi. Itu filsafat bijaksananya. Kenyataannya, perbedaan, apalagi beda pendapat bisa memancing emosi jiwa. Kalau tidak ditangani, ujung-ujungnya hubungan suami istri kehilangan gairah. Tanpa sadar tahu-tahu semua menjadi dingin.

Lalu masing-masing mencari kesibukan sendiri-sendiri dan terjebak pada aktifitas yang awalnya dianggap mengisi kekosongan. Jangan heran kalau akhirnya perceraian menjadi pilihan. Berikut beberapa cara saya menanggulangi permasalahan saya dan pasangan.

1. Selalu minta petunjuk pada yang Kuasa.Sekuat apapun, kita tetap bukan apa-apa dan bkan siapa-siapa. Berdoa dan berpegang pada arahanNya dalam kitab suci akan membantu cooling down.

2.Selalu mengingat, apapun masalahnya, pasangan  adalah partner dalam mencari solusi.
Artinya jangan pernah berpikir mencari orang ketiga, sebelum kita mengenali permasalahan kita sendiri. Tidak salah mencari orang ketiga untuk membantu mencari solsui tapi pastikan pihak ketiga adalah orang yang profesional, bukan tempat curhat sementara.

3. Membangun keyakinan, pasangan selalu menginginkan yang terbaik bagi saya dan anak-anak.
Keyakinan semacam ini, mendorong saya untuk selalu mempercayai. Orang yang dipercayai lebih besar membuktikan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ketimbang orang yang sering dicurigai. Memusatkan semua aktifitas dan pemikiran, apa yang dilakukan adalah demi dan untuk keluarga. Setiap orang boleh memiliki privasi. Tapi kepentingan pasangan dan anak menjadi prioritas utama. Silahkan menikmati "me time" sesekali. Tapi anda akan lebih menikmati waktu yang dilalui bersama pasangan dan anak-anak.

4. Membiasakan selalu bersentuhan, mengusap, memeluk dan mencium. Kegiatan yang kelihatannya sepele, akan menjadi aktifitas yang dapat meningkatkan rasa sayang satu sama lain.

5. Magic word: Tolong, Terima kasih dan Maaf tetap menjadi kata kunci. Bukan untuk merendahkan diri, sebaliknya memperlihatkan penghormatan dan pengabdian.

6. Bangun citra positif pasangan dalam diri dan beri dukungan untuk pasangan mewujudkan citra positif yang kita bangun. Ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan tanggung jawab.

7. Lakukan kegiatan bersama. Ini mengembalikan kenangan saat awal-awal membangun hubungan. Selalulah berusaha memberi yang terbaik.

8. Jika terjadi perbedaan pendapat, hargai. Tak sependapat tidak mengapa tapi tetap keputusan diambil untuk dan atas nama kenyamanan keluarga. Pikirkan hal tersebut.

9. Pastikan, tidak ada hari di mana kekesalan disimpan. Karena itu sama dengan menyimpan bom waktu. Katakan anda kesal, anda kecewa, ungkapkan semua perasaan anda, pastikan pasangan kita mendengarkan. Karena terkadang, pasangan tidak tahu karena iapun punya masalah yang mungkin tak ingin dibaginya dengan kita.

10. Biasakan menyapanya dengan kasih dan kelembutan. Karena perlakukan yang demikian akan dibalas dengan sikap yang sama. tak akan ia menampik tawaran secangkir teh hangat bila disajikan dengan senyum.



Sebetulnya ini sikap atau prilaku sehari-hari. Tapi selama perjalanan rumah tangga saya, saya banyak melakukan kesalahan. Saya bukan istri atau ibu yang sempurna. tapi dalam perjalanan melalui jalan kehidupan ini saya terus berupaya menjadi sempurna. Prosesnya berjalan terus (mungkin) hingga akhir usia.

Tuesday, November 19, 2013

Kertas 2 Rim, Es Campur dan Semangkok Bakso dari Gaji Pertama.

Gaji pertama? Saya sudah mulai mendapat uang dari saya melatih pramuka. Saat itu saya SMA, melatih SMP dan SD. Bayarannya, sebetulnya dibilangnya ganti transport, yaitu Rp. 25 ribu. Uang segitu besar sekali karena ongkos naik metro mini cuma Rp. 50 rupiah. (Di Jakarta) Bakso semangkok cuma Rp. 100 dan ongkos naik bajaj jarak pendek cuma Rp.500. Uang itu saya gunakan untuk jajan dan beli kertas surat & perangko. Saya hobi surat-suratan. Waktu itu usia saya 15 tahun.

Jaman saya kuliah, saya sudah mulai menulis cerpen. Di muat di majalah Hai, bayarannya Rp. 75.000. Cerpen kedua naik jadi Rp. 125.000. Semua saya gunakan buat jajan dan ongkos berkegiatan. Ke tempat kuliah mengharuskan saya naik angkutan umum tiga kali. jadi kalau dapat tambahan uang saku dari hasil menulis, senang.

Nah kalau kerja resmi walau masih kuliah. Gajinya pertama  Rp. 325.000 itu sebagai reporter majalah dwimingguan. Uangnya buat menambahkan keperluan skripsi. Semester akhir saya sudah kerja sebagai reporter tetap. Jadi gaji pertama buat membeli kertas 2 rim, sisanya buat beli es camur dan bakso, makan bersama sahabat. 
 
Saya memang bercita-cita, kalau dapat gaji pertama buat ortu dalam hal ini Mama. Tapi waktu saya bilang dan ingin menyerahkan uangnya ke Mama. Mama menolak. Mama bilang :"Kamu layak menikmati hasil keringatmu. Gunakan saja buat keperluanmu". Makanya jadi saya belikan kertas dua rim lalu beli es campur dan bakso, makan bersama sahabat.
 
Lulus kuliah, kerja di Radio sebagai penyiar, gajinya pertama Rp. 525.000. Uang segitu tidak terlalu besar buat saya karena saya tiap bulan masih dapat uang saku dari kakak-kakak yang kalau ditotal besarnya lebih dari itu. Kondisi ini (Tidak bergantung pada gaji) membuat saya terkenal vokal dalam memperjuangkan kesejahteraan karyawan. Termasuk sebagai provakator untuk mogok siaran. Diinformasikan kalau gaji akan di potong, sesuai jumlah jam siaran yang tidak di lakukan. Saya dengan rasa percaya diri besar mengatakan: "Gaji saya, saya sumbangkan buat perusahaan".

Kalau dipikir-pikir sekarang, saat itu saya agak edan. Tapi kondisi tidak bergantung pada gaji, membuat saya bisa merasakan perasaan kawan-kawan yang seharusnya bisa mendapatkan lebih. Alhasil, dibuat kebijaksanaan, karyawan mendapatkan tambahan uang dari proyek yang dikerjakan. Proyek disini adalah program acara yang disponsori.
 
Saya sangat percaya ketidakbergantungan secara ekonomi membuat kita bisa berbuat sesuatu tanpa beban. Misalnya ingin belanja sesuatu. Ketidakbergantungan secara ekonomi juga memperbesar rasa percaya dan harga diri. Sehingga tidak "mengobral" tenaga demi upah yang tidak sesuai. Memang tidak mudah tapi dari dulu, niat saya bekerja bukan semata untuk mendapatkan uang. Saya percaya uang akan datang sendirinya sebagai bonus atas apa yang sudah kita lakukan. Gaji bulanan adalah reward yang kita dapati sesuai dengan apa yang sudah kita berikan.



Monday, November 18, 2013

Saya dan Dia, 25 tahun kemudian


Bagi sebagian orang, peringatan hari kelahiran tidaklah penting. Saya tidak akan memperdebatkan hal tersebut. Masalahnya sejak saya kecil, memperingati hari kelahiran sudah menjadi tradisi. bahkan hingga saat ini. Tradisi yang dibangun sejak saya kecil. 

Saya menemukan kendala ketika ternyata pasangan saya tidak punya kebiasaan tersebut dalam keluarganya. Waktu pacaran, dia sampai terharu karena saya di rumah dibantu ibu dan adik-adik saya, menyiapkan nasi kuning untuk syukurannya. Waktu itu kan masih pacaran, dia nyaris mengeluarkan airmata waktu datang dan melihat kejutan yang saya buat.

Dan giliran saya ulang tahun, saya ingat tahun 1988. Dia datang dengan membawa karangan bunga. Keseharainnya terbiasa dengan t-shirt dan jeans tapi hari itu dia datang dengan kemeja lengan panjang yang di lipat hingga siku dan bercelana panjang berbahan katun plus sepatu pantovel. Agak-agak kepo, saya menyambutnya. Eh tahun itu belum ada istilah kepo.

Tapi yang membuat saya balik terharu, ada hadiah dan kartu ucapan buatan sendiri. Bentuknya hati terlipat dan kalau dibuka jadi ada 3 hati yang berjejer. Bertuliskan tangan yang isinya, lebih kurang: Dia mengucap syukur boleh menjadi bagian dalam memperingati hari ulang tahun saya. Ke depannya dia berharap dia akan selalu ada dan akan tetap ada. Kami pacaran delapan tahun lalu menikah dan Juli 2013 adalah tahun ke 17 pernikahan kami.

Maka 20 Nov 2013 berarti tahun ke 25 dia ada dan mendampingi saya di hari ulang tahun. Moga-moga saya menang dalam GA ini berarti saya dapat hadiah ulang tahun #ngarepdotcom. Sayang kartu ucapan yang selalu ada di dompet saya hilang bersama dompet yang dicopet tahun 2008. Tapi apalah arti kartu ucapannya dibanding sosoknya yang masih setia mendampingi hingga 25 tahun kemudian?

Saya selalu mensyukuri nikmati ini. Salah satu hal terindah dalam hidup saya, adalah ketika dia hadir dan bersedia menjadi pendamping hidup saya, menjadi ayah bagi kedua buah hati kami. Thanks God.

Monday, September 23, 2013

Kami masih belajar mengenali pasangan

Merayakan keberhasilan setahun bahterah rumah tangga melayari lautan kehidupan

 8 Juli 2013, usia pernikahanku genap 17 tahun. Puji syukur untuk semua yang sudah kuterima dalam hidup pernikahanku. Buah cinta kamipun sudah berwujud sepaang anak laki-laki (13 tahun) dan perempuan (10 tahun). Kisah kebersamaanku sudah kutulisakan dalam artikel Tak ada aku, tak ada kamu. Tapi kisah kehidupan kami tak pernah berakhir. Selalu ada kisah yang bisa aku tuliskan.

Kami teman sekampus. Kami memiliki banyak peramaan tapi juga banyak perbedaan. Persamaan kami membuat kami bisa asyik menjalani, bercerita dan tertawa-tawa. Sebaliknya perbedaan diantara kami, membuat kami menjadi lebih kaya akan pengenalan diri, baik secara pribadi maupun pada orang lain. Ketika dalam keadaan senang, maka persamaan kami menjadi penguat tapi dalam keadaan berbeda pendapat, maka perbedaan kami menjadi tantangan.

Di awal-awal pernikahan, aku begitu takut bahterah rumah tangga ini tak sanggup melayari lautan kehidupan. Rasanya badai, angin topan dan gelombang tinggi begitu gencar meluluh lantakan bahtera rumah tangga yang baru seumur jagung. Pusing, mual, muntah, lelah, kecewa bersatu menjadi sebuah kekuatan melawan. Aku tak ingin dipermainkan oleh kehidupan. Kehidupan aku dan pasanganku dimulai karena sesuatu yang baik. Sesuatu yang mulia, keinginan bersama menghidupkan rasa sayang, rasa cinta yang entah darimana datangnya, telah mengikat jiwa kami.

Dulu semasa pacaran, kadang aku berpikir perbedaan pandangan akan membuat hubungan kami jalan di tempat. Aku seorang pekerja entertainment (Di radio) dan dia seorang eksekutif muda yang tidak suka clubing. (Hura-hura menghabis waktu bersama kawan-kawan). Pernah di satu masa, sebagai pekerja media, Valentine's day menjadi sebuah program yang bernilai jual tinggi. Maka radio tempat kubekerja menyelenggarakan acara tersebut. sayang seribu  sayang, lelaki yang telah mencuri hati ini  tak berminat datang sekalipun untuk menemaniku.

Dengan berat hati aku memutuskan untuk tidak menghadiri acara tersebut. Kebetulan jatuhnya juga dihari kerja bukan diakhir pekan. Maka setelah persiapan segala sesuatunya beres, saat usai jam kerja aku memilih pulang. Lepas magrib aku sudah di rumah. Melepas lelah, aku langsung mandi. Siraman air dingin sangat menyejukan. Mampu meluluhkan rasa kecewa yang mengganjal di hati, melewati Valentine's day party. Selesai mandi, aku berdiam di kamar, menikmati kekecewaan yang aku goreskan di catatan harian. jaman itu masih berbentuk buku.

Sekitar pukul 19.30, adikku mengetuk pintu kamarku dan  memberitahu ada tamu. Uh males banget rasanya. Masih dalam pakaian tidur model baby dol (Celana pendek dan atasan). Sebelum keluar aku masih menyempatkan diri melepas handuk yang membungkus kepala (Habis keramas) dan bersisir. Kamarku berhadapan dengan ruang tamu, waktu aku keluar aku tidak melihat ada tamu. Di ruang keluarga, adik-adikku tetap nonton tv, aku melanjutkan langkah kaki ke teras. Aku sempat heran kok lampu teras tidak dinyalakan. Maka akupun menyalakan. Penasaran juga siapa  yang datang bukan diakhir pekan.

Begitu lampu teras menyala dan saat aku berdiri di depan pintu, reflek aku masuk lagi ke dalam. Bersandar dipintu dan berusaha meyakinkan diri, ini bukan mimpi. Setelah yakin, kembali aku buka pintu kali ini pintu terbuka aku berdiri mematung. Di depanku berdiri lelaki yang tidak bersedia menemaniku ke Valentine's day party. Berdiri dengan pantalon coklat, kemeja berwarna jingga, satu tangan memeluk karangan bunga mawar dan satu tangan memegang hadiah kecil dalam kotak transparan. Senyumnya mengembang, guanteng sekaliiiiii.

Ia mendekat dan mencium keningku sambil berkata,: " Bagiku tak ada hari valentine karena valentineku adalah setiap hari bersama kamu!". Perasaanku langsung terbang dan melayang, aku merasa seringan kapas. Luluh dan meleleh, Tak sanggup berkata hanya sepasang aliran sungai kecil mengalir di kedua pipiku, Dasar cengeng! makiku dalam hati.

Kejutan manis itu, masih melekat erat dalam memoriku. bahkan selalu hadir seolah baru terjadi kemarin, padahal kejadian itu sudah dua puluh tahun berlalu. Kenangan-kenangan baik manis atau tidak, telah menjadi fondasi keputusan untuk masuk dalam hubungan yang serius, mengikat dan bertanggung jawab, Berumah tangga.
Happy Family

Hingga hari ini, hingga detik ini perbedaan pendapat masih terjadi, kami masih tetap belum mengenal satu sama lain 100 %. Setiap hari tetap ada hal baru yang kami pelajari, dan tetap berharap bahterah rumah tangga ini tetap stabil melayari lautan kehidupan. Badai, Angin topan dan gelombang tidak lagi menakutkan. Lelaki gagah ini, telah menjadi nakhoda yang bertanggung jawab dan aku telah sepakat membantunya mengembangkan layar agar bahtera ini berjalan tenang diatas lautan kehidupan. Doa kepada sang maha kuasa, pujian, penghargaan dan kasih sayang  diantara kami yang terus kami tumbuhkan, kami jaga agar senantiasa baru dan segar. Membuat menghidupkan kebahgiaan dalam bahterah rumah tangga ini  menjadi pekerjaan yang menyenangkan.

Kalau ada hal-hal yang kupelajari dan kutemui serta kuyakini sebagai kekuatan rumah tangga kami adalah besarnya keinginan kami berdua untuk tetap bersama, menghormati, saling percaya, menyediakan waktu berkomunikasi adalah bagian dari upaya menciptakan kebersamaan ini.  Memelihara dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab adalah bagian dari cara kami mensyukuri apa yang sudah kami miliki. Memang kami masih memiliki banyak keinginan tapi kami tidak akan mengorbankan apa yang sudah kami miliki.

Masih saling mengenali

17 tahun bukan sebuah perjalanan yang sebentar tapi proses bertumbuh sebagai satu kesatuan masih terus kami pelajari. Kami percaya, itu cara Tuhan menyatukan kami. Dan lewat tulisan ini, jika boleh saya mengirimkan harapan bagi pasangan yang berbahagia karena pernikahannya tiba di tahun ke 10.
Kawan, syukurilah nikmati yang sudah didapat. Berlomba-lombalah melayani dengan cinta dan kasih sayang. Pelihara kepercayaan dan menjaga kehormatan pasangan. Mengalah untuk menang dan pada akhirnya percaya kebahagiaan akan menjadi milik kalian manakala kalian menerima satu sama lain apa adanya.Semoga senantiasa bersatu hinbgga maut memisahkan.




Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada

Saturday, June 08, 2013

FF: Ketika denting asmara bersenandung




Di tepian telaga hasratku melambung, setinggi langit terbangkan senandung. Jemariku gemetar. Sepucuk surat cinta tergenggam mengirimkan  getar elektronik  ke syaraf  ujung. Berdentam detak hantungku bagai irama palu si tukang kayu. Ingin kulepas  semua yang  mengukung jiwaku. Norma-norma sosial, agama, hukum, tiada artinya. Tiba-tiba diriku menjadi linglung .  Sesuatu  membuatku canggung. Ya, ada yang menggelitik di lambung seperti resah yang terkandung dalam gelisah yang membumbung, di situ geliat asaku tertampung Berdiri salah dudukpun salah. 

Surat cinta bertuliskan untaian kalimat manis, tertera jelas lewat aksara yang ku kenal betul, dari tarian jemarinya. Isinyapun masih sama, seolah kelindan asamara kami masih saling mengikat. Seperti ketika bibir kami saling memagut, menyalurkan hasrat purba.  Salahkah bila kami saling mencinta? Persetan dengan pangkat dan gelar. Cinta kami tulus.  Ia memang atasanku, kami memang masih satu korps. Intitusi terhormat, pengayom dan pelindung masyarakat. Lalu di mana kami meletakan cinta yang terlahir tanpa kami inginkan?   Tapi, sudahlah. Kuputuskan, aku harus, mengalah. demi korps,  keluarganya,  pasukan kesatuannya dan demi negara. 

Sama seperti  pertemuan di Kota Surabaya. Kami tak pernanh meminta untuk di tugaskan di kota yang sama. Bahkan jauh sebelumnya, kami tak pernah saling mengenal. Tapi ketika tatapan mata bertemu, jiwa kami seolah terlahir untuk bersama. Tiba-tiba saja seolah aku sudah mengenalnya lama. Ketika denting asmara bersenandung dalam jiwa ini, seragam kami menjadi batasan yang menyakitkan. 

Harus kuakui tenaga terkuras.  Aku lelah menyiapkan sejuta dusta untuk menjawab pertanyaan orang tua, pasukan kesatuanku dan Kapten Bhirawa sendiri, mengenai pengunduran diriku. Menatap wajahnya, membuatku lemah. Tinggi kami nyaris sama. Setiap orang akan mengakui, kami sebagai pasangan  serasi. Bahkan dalam dua kali pertandingan menembak antar  Polda, kami berdua mampu mempersembahkan mendali emas. Namun tetap tidak menjadi dukungan bagi kami melanjutkan hubungn ini,. Seluruh tubuh ini gemetar parah. Inikah cinta yang jatuh?  Aku memang butuh agar hidup menjadi utuh, dan padanya akukan patuh. Tak bolehkan kami menikmati cinta? hanya karena jenis kelamin kami sama?



Tuesday, June 04, 2013

MENYEMAI CINTA: MERAJUT HARAPAN BARU




Kisah ini ku tuliskan berdasarkan pengalaman pribadi. Semoga bermanfaat. Mulanya, aku enggan menuliskan ini, tapi GA Mba Niken Kusumowardhani, menggelitikku. Dengan tema: Menyemai Cinta, pengalamanku sangat pas.

Pernikahanku bulan depan berusia 17 tahun. Kalau tulisan ini memenangkan salah satu hadiah, berarti sekaligus hadiah pernikahanku. Aku menikah di usai yang sudah tinggi (kepala tiga). Harapanku, aku bisa memasuki kehidupan berumah tangga dengan persiapan yang jauh lebih matang dibanding mereka yang menikah di usia lebih muda dariku.

Kenyataannya tidak seperti itu. Ternyata di mana-mana awal pernikahan selalu sama. Menyatukan dua manusia dengan jenis kelamin dan latar belakang pendidikan, pengalaman, wawasan yang berbeda membuat penyatuan itu tidak mudah. Cuma karena aku menikah dengan pilihanku sendiri, maka aku enggan berbagi kisah di awal pernikahanku. Mama dan semua saudara-saudaraku, tahunya aku berbahagia.

Padahal, setiap hari aku bercucuran air mata di kamar mandi. Suamiku tidak tahu. Aku tidak ingin ia mengetahui perasaanku. Dan ini kesalahan terbesar. Sesudah menikah, tidak seharusnya menyimpan persoalan sendiri, apalagi menyangkut hubungan suami istrti. saat itu aku masih bekerja. Aku sangat menginginkan citra istri yang hebat. Sehingga aku memaksakan diri mewujudkan citra tersebut.

Di mulai saat fajat terbit, aku sudah masuk ke dapur. Menyiapkan sarapan dan bekal kami berdua. Sementara suami mandi, aku membereskan tempat tidur. Lalu menyusul mandi, berpakaian dan bersiap berangkat. Di tempat kerja dengan segala persoalannya aku jalani apa adanya. Biasanya aku pulang lebih dulu darti suami, sehingga aku bisa menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum sempat dikerjakan saat pagi. Begitu tgiba di rumah aku langsung, membersihkan rumah, menyuci baju dan menyiapkan makan malam. Saat suami pulanmg, semua rapih dan tersedia tapi aku tak lagi memiliki energi.

Makan malam dengan energi yang dipaksakan dan saat suami masih inmgin nonton tv, aku benar-benar tak lagi dapat membuka mata. Hubungan intim, tetap dilakukan dengan sukacita, saat fajar menjelang. tapi seiring berjalannya waktu, hubungan bukan membaik, malah menjadi dingin. Kami seperti dua orang berbeda yang hidup di dalam satu rumah.

Banyaknya acara keluarga (Karena aku dan suami sama-sama terlahir dari keluarga besar. kami sama-sama ank ke7 dari 11 bersaudara. Bedanya aku bersebelas perempuan, suami campur laki dan perempuan saudara-saudaranya) membuat kami harus sering berpergian bersama-sama. Kesempatan semacam ini, menjadi alasan kami untuk bergandeng tangan, saling melayani dan duduk berdekatan. Biasanya sehabis dari acara keluarga, kami seperti dua orang yang masih pacaran. Di situasi seperti itu bisanya suami mengjaakku bicara dari hati ke hati.

Awalnya aku enggan meceritakan apa yang manjadi ganjalan. Tapi pandainya suami mengorek isi hati ini, aku pun luluh dan bercerita apa yang menjadi obsesiku. (Untung suami tidak tertawa, kalau dia tertawa mungkin pernikahanku tidak sampai hari ini) Suamiku memeluk dan mengusap kepalaku dengan kasih. Ia diam, sampai aku mendesaknya untuk bicara. Hanya kalimat singkat yang diucapkannya: Aku lebih memerlukan kamu dalam pelukanku, ketimbang rumah bersih dan makan malam tersedia tapi kamu tidur berpelukan  guling.

Sejak saat itu, suamiku mengambil sebagian peran yang aku lakukan. Saat fajar terbit, suami sudah mulai mencuci baju (Memang sih menggunakan mesin cuci, tapi tetap perlu pemilahan berdasarkan bahan dan warna). Aku menyiapkan sarapan dan bekal, suamiku membereskan tempat tidur. Ketika aku pulang kerja, aku tinggal menyapu dan mengepel lalu menyiapkan makan malam. Terkadang suami memberitahu, ia membawa makan malam, sehingga aku cukup menata meja.

Waktu terus berjalan, persoalan datang silih berganti. Tiap masa ada persoalannya masing-masing. Ketika anak pertama lahir, ketidak tahuan mengurus anak menjadi pertengkaran yang tidak terelakan. Padahal kalau diingat-ingat, hal itu semata karena kekhwatiran semata. Begitu pula ketika lahir anak kedua. (Anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan) kondisi keuangan sempat menjadi bahan pertengkaran. Perbedaan dalam pengelolaan keuangan, demi mempersiapkan bekal pendidikan anak-anak, tidak sepaham. Aku melahirkan di tahun keempat pernikahan, artinya aku dan suami memiliki waktu yang banyak membangun kebersamaan. Kenyataannya perbedaan pendapat selalu menjadi pemicu keributan.

Tapi besarnya rasa cinta diantara kami, membuat semua bisa ditaklukan. Di setiap akhir permasalahan, ada pelajaran baru yang aku dan suami dapati. Makin hari hubungan kami bertambah dewasa. Pengertian semakin terjalin. Keinginan untuk melayani dan memberikan yang terbaik, kami lakukan berlomba-lomba. Kejutan-kejutan kecil yang manis menjadi selingan yang menyegarkan. Berjalan-jalan sore di sekitar pemukiman rumah, menjadi hiburan sederhana. Sesekali ke pasar ikan, anak-anak sangat antusias melihat pelelangan ikan. Sementara kami berdua bergandengan tangan sambil menyelami perasaan masing-masing.

Di hari libur, suamiku tak segan berbelanja kebutuhan sehari-hari baik di pasar tradisional maupun modern. Sebenarnya, itu caranya dalam memberiku waktu dan kesempatan padaku berlama-lama duduk depan komputer. Ia sangat mengenali kesukaanku dibidang menulis. Tiga tahun lalu kami pernah bertengkar hebat karena facebook dan hand phone. Sempat dua bulan aku merasa rumah tanggaku tidak bisa diselamatkan. Kewajiban sebagai ibu dan istri tetap aku lakukan. tapi lain dari itu, semua terasa sudah mati. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membangun komunikasi. 

Dengan menahan segala perasaan jengkel, kesal, malu dan marah, aku membuka percakapan. Di luar dugaanku, suamiku menanggapi dengan santai dan tenang. Banyak kami berbicara dan membuat kesepakatan-kesepakatan baru. Sampai akhirnya, aku tiba pada sebuah kesimpulan, bahwasannya kehidupan berumah tangga, perlu dievaluasi setiap ada waktu. Banyak kesempakatan-kesepakatan baru bisa dilakukan. Dengan tidak mengurangi hormat atau menjajah satu sama lain.
Happy Family


Keterbukaan, komunikasi, kepercayaan, saling menghormati tetap menjadi kunci hubungan yang harmonis. Layaknya sebuah pohon, rasa cinta kasih antar suami istri memang perlu diperbarui setiap waktu. Handphone saja perlu dicharge, begitu pula hubungan bathin suami-istri. Perlu ada penyegaran setiap waktu. dan kini yang kami lakukan, adalah berjalan pagi, seminggu tiga kali sambil berbincang santai.

Karena kami berdua sama-sama menyukai membaca, toko buku menjadi tempat rekreasi bersama anak-anak. Waktu kami berdua relatif lebih banyak sejak suami memutuskan usaha sendiri dan aku berhenti bekerja kantor. Kini kami berdua saling mendukung usaha masing-m asing. Kadang aku berperan sebagai sekretaris merangkap operator telephone. Atau suami yang membantuku menjadi mesenger. Sementara suami mengantar pesanan, aku mempersiapkan makan siang.

Jika di awal pernikahan kami merasa sebagai sebuah panci dan tutupnya, maka kini panci dan tutupnya sudah berubah warna, tapi fungsi tetap sebagai wadah memasak sayur. Begitulah pernikahan kami, berjalan 17 tahun, bukan langkah yang pendek. Kalau boleh berharap kami masih ingin menjalani kehidupan bersama lebih lama lagi. Dengan tujuan pernikahan yang masih sama dan berharap tetap sama, hingga maut memisahkan kami.We love each other and we hope, still stick together untill separate by dead.


Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani

Wednesday, March 13, 2013

Berharap kecipratan semangat Bunda Yati Rachmat

Di Singasana Istana Aru Palaka, Bone tahun 2008

Saya  tidak punya banyak koleksi foto sendiri. Saya punya koleksi foto sendiri ketika tersadar saya perlu dokumentasi pada perjalanan yang saya lalui atau pada kegiatan yang saya ikuti. Foto di atas diambil di singgasaa istana Aru Palaka di kota Bone, Sulawesi Selatan. Mendengar nama itu pasti tak asing. Karena kerap kita baca saat pelajaran sejarah. Foto itu bagian dari dokumentasi saat saya melakukan  perjalanan dinas, berkeliling Sulawesi, 25 kota dalam tempo satu setengah bulan. tahun 2008

Pastinya belum mengenal yang namanya Bunda Yati Rachmat. Saya mengenal Bunda Yati Rachmat lewat Komunitas Kumpulan Emak Blogger. (KEB) yang berdiri 18 Januari 2012. Tahun 2008 saya masih berkeliling Indonesia, hingga Jan 2011, saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga penuh.

Dalam proses mencari dan mengisi kegiatan, maka sekitar April 2012, saya menemukan Grup Kumpulan Emak Blogger di facebook. Setelah saya masuk, mengamati, berkenalan dan mengikuti kegiatannya, saya merasa cocok. Akhirnya menjelang Kompasianival 2012, saya bertemu dengan  Bunda Yati Rachmat saat bersama-sama mengisi acara di Radio Bahana. Sosoknya tak jauh dari bayangan saya. Seorang perempuan aktif dan kreatif walau usianya sudah melampaui kepala tujuh.

Saya salut pada beliau dan bangga bisa mengenalnya. Berharap semangatnya bisa menjadi teladan bagi saya dan bagi banyak perempuan lain. Usia tidak menyurutkan semangat dan aktifitasnya dalam menulis. Walau tidak di dukung sepenuhnya oleh anak-anaknya tapi beliau tetap enjoy ngeblog. Tak ada kritikan yang bisa saya berikan, sebaliknya seuntai doa dan harapan agar Bunda Yati tetap sehat dan bahagia bersama keluarga dan tetap menjaga silaturahmi dengan sesama anggota KEB.

Berikut foto di Kompasianival Nov 2012, sehari setelah berkenalan dan bertemu dengan Bunda Yati Rachmat.


Gayaku di Kompasianival 2012


Kuis Seven Days by. Rhein Fathia

Novelnya Rhein Fathia


Rhein Fathia pemenang Lomba Novel Romance Qanita dan dalam rangka menyambut novel tersebut yang di beri judul SEVEN DAYS mengadakan KUIS!! Pertanyaan gampang, jawabnya dan syaratnya yang agak ribet. Tapi silakan kalau mau ikut, cek infonya di sini:

Pertanyaannya:
"Anggap ada yang mau bayarin kamu jalan-jalan ke mana aja, nggak peduli berapa biayanya. Kamu diberi waktu selama TUJUH HARI dan haarus mengajak SATU orang saja. Ke mana kamu akan pergi traveling, sama siapa, dan apa alasannya?"


Tempat impan saya adalah Negara Belanda. Jangan bilang kok mau-maunya pergi ke negara yang pernah menjajah Indonesia. Belanda menjadi negara impian saya karena Belanda letaknya berdekatan dengan beberapa negara lain yang bisa dikunjungi dalam rentang waktu 7 hari itu, seperti Prancis, Belgia, Jerman, Australia. Di Belanda saya ingin mengunjungi kota keramik Delf dan museum yang menyimpan banyak catatan sejarah tentang Indonesia dan budayanya. Saya ingin ke Prancis mengunjungi Restaurant Indonesia yang dijadikan ajang perjuangan hidup korban G 30 S. Belgia, Jerman dan Austria, saya ingin melihat sisa-sisa perang dunia ke II.

Itu alasan pertaman, alasan kedua banyak sahabat-sahabat yang ingin saya temui. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa pulang ke Indonesia akibat dampak G 30 S. Mereka sangat mencintai Indonesia dan sangat berkeinginan pulang ke Indonesia. namun cuaca politik tidak memberikan iklim yang memperbolehkan mereka pulang.Selama ini kami berkounikasi hanya lewat on line dan surat menyurat biasa.

Dan yang akan saya ajak serta, sudah pasti lelaki tercinta dalam hidup saya, ya suami saya. Ke Bali bersama, sudah kami jalani, Ke Bukit Tinggipun sudah, ke Sulawesi Utara pun sudah. Jadi ini saatnya membayangkan tujuh hari ke negara lain. Pasti asyik dan seru.

Tulisan ini diikut sertakan pada : "Kuis Seven Days by. Rhein Fathia"