Thursday, February 28, 2013

Kisahku: Sungguhkah Privasiku sudah dilanggar?





Semalam ketika aku tiba di rumah, aku sangat terkejut melihat tumpukkan buku dan surat-surat yang berantakan di kamar. Tiba-tiba kelelahan menjadi bertambah. “Ada apa sih?” tanyaku dalam hati. Yang rapih hanya surat-surat penting seperti surat nikah, akte kelahiran, ijazah dan beberapa lembar surat penghargaan karena semua ada dalam satu document keeper. Beberapa foto bertaburan di tempat tidur.

Suamiku tanpa dosa dan ringan saja mengatakan,” Rak buku kamu saya rapihkan. Kelihatannya ada beberapa kertas yang tidak perlu dan bisa dibuang. Jujur aku agak marah padanya. Karena aku menemukan rak bukuku sudah “di acak-acak!” Semua buku di rak di turunkan lalu di tumpuk entah berdasarkan apa. Juga negative foto dan foto-foto dokumentasi anak-anak serta dokumentasi perjalananku di tumpuk jadi satu dalam sebuah kardus.

Barangkali anda akan menuduhku tidak tahu diri, di bantu kok malah kesal. Aku bukan tidak mau di bantu. Kalau suamiku mau membantu silahkan saja tapi bersama-samaku, jangan saat aku tidak ada. karena aku jadi merasa asing dengan rak buku itu. Aku pasti memerlukan waktu lebih lama jika akan mencari buku yang kuperlukan atau yang ingin kubaca.

Suamiku mencoba menghiburku dengan memperlihatkan foto-foto anak sewaktu bayi dan berkomentar, “Lucu sekali yah. Tapi kok aku tidak tahu kapan foto ini diambil?’ Aku tidak mau menjawab dan meninggalkan suami. Aku milih langsngung kekamar mandi. Membasahkan tubuh mulai dari ujung rambut berharap kepala ini bisa menjadi lebih dingin dan terus ke hati, sehingga aku bisa lebih tenang.

Sambil mandi, benakku tak berhenti berpikir. ”Apa sih tujuan Suamiku merapihkan rak buku ?” pikirku dalam hati. Sebenarnya tidak ada yang aku takutkan atau khawatirkan. Toh antara aku dan Suami tidak ada rahasia apa-apa. Cuma rasanya tidak rela, ini sedikit menyangkut masalah privasi!

Dalam kamar mandi kudengar gelak tawa Suami bersama kedua buah hati kami Bas & Van. Pasti mereka tengah melihat foto. Aku jadi tersenyum. Melihat dokumentasi yang merekam gambar perjalanan hidup anak-anak memang menyenangkan. Tapi tidak berarti aku menjadi tidak kesal. Karena kesalku tetap ada!

Aku tidak mau melihat rak buku, di kamar aku langsung naik dan rebahan ditempat tidur. Bas dan Van masuk, ikut naik di sampingku. Keduanya memeluk dan mencium. Sesaat rasanya amat bahagia.

”Mama lelah yah?” tanya Bas sambil tidak melepaskan pelukannya dari tubuhku. Seperti biasa Van mengulang pertanyan yang sama.

”Mama lelah yah?” tanya Van.

”Iya” jawbku. Tiba-tiba Suamiku masuk ke kamar dan berseru:

”Papa ikut yah! Papa kan juga mau dekat-dekat Mama!”  Ujar Suamiku sambil duduk diujung tempat tidur. Kubisiki telinga Van untuk mengatakan tidak! Kontan Van berteriak ” Tidak boleh! Ini Mama aku tahu!’ ujar Van.

”Yeah..... ini Mama aku juga” kata Bastiaan.

”Punya papa juga dong!” ujar Suami lagi

Ketiganya berteriak dan beradu mulut karena kini si Papa sudah menggelitik Bas dan Van, sehingga aku yang berada ditengah, terjepit. Aku menari nafas panjang dan berdoa ’Tuhan beri aku kesabaran seluas samudra!” Ini adalah sepotong doa yang selalu aku ucapkan kala rasa kesal sudah sampai diubun-ubun.

Aku tidak bereaksi hanya menghindar saja dari gerakan kaki dan tangan anak-anak. Pelan-pelan keluar dari ”ajang smack down”. Ku tinggalkan kamar dan nongkrong depan tv di ruang tamu. Silih berganti chanel kutekan, tak ada satupun yang masuk dalam pemikiranku. Benakku masih penuh tanda tanya mengapa rak bukuku dibongkar?

Aku mencoba berpikir dari sisi yang lain, mencoba mengetahui mengapa aku harus marah! Ini rumah kami bersama dan di rak itu pun semua milik bersama. Sesungguhnya tidak ada alasan untuk aku marah.

Privasi? Ya, aku merasa privasiku terganggu. Atau hanya perasaan tidak nyaman karena selama ini, rak buku aku yang menyusun. Sehingga tersusun atau teratur berdasarkan standar ukuranku? Mungkin saja. Memang buku-buku itu lebih banyak koleksiku karena sebagian besar adalah buku-buku yang aku miliki sebelum menikah. Ketika aku pindah dari rumah orang tuaku, semua barang pribadi termasu buku-buku aku bawa serta. Sedangkan seingatku, suamiku memang tidak membawa apa-apa karena itu sebagian barang pribadinya masih berada di rumah orangtuanya Bogor.

Aku menghembuskan nafas panjang mencoba kompromi dengan perasaanku sendiri. Aku tidak ingin berkonfrontasi dengan suamiku. Toh dia tidak punya salah apa-apa dan mungkin bermaksud baik. Aku berdiri dan berjalan menuju rak buku. Aku terdiam hanya memandang rak yang rapih dan bersih. Perlahan kuambil sebuah amplop surat dari tumpukan kertas di kardus. Sebuah surat lama yang ditujukan untukku..

Ku buka dan kubaca. Aku tersenyum, sebuah surat cinta yang berisi puja dan puji untukku. Tertanggal 20 Desember 1987. Tiba-tiba Suamiku sudah muncul di depanku sambil memegang kardus berisi foto-foto.

”Ini harus di atur, supaya jangan rusak!” Ujarnya. Aku tak menjawab hanya memandangnya.

”Surat cinta yah?” tanya Suamiku datar.

”Yang pasti bukan dari kamu!” Jawabku

’Tidak penting, sekarang kamu istriku!” Jawab Suamiku santai. Ia meletakan kardus di samping kaki, lalu memelukku. Aku menyembunyikan wajahku di perutnya.

”Kamu kesal, aku mengobrak-abrik hartamu?” bisiknya pelan di telingaku. Aku diam. Batinku masih berperang. Suamiku melanjutkan lagi. Aku menemukan banyak naskah cerpenmu. Aku tahu itu hartamu. Aku tersentak.

”Cerpen apa?” tanyaku

”Naskah-naskah cerpen yang kamu tulis belasan tahun lalu” Ujarnya tanpa melepaskan pelukan. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang teratur, tiba-tiba detakan itu terasa indah ditelingaku.

”Aku minta maaf, kalau kamu kesal. Aku tadi mencari buku kwitansi yang seingatku ada di rak itu. Karena tidak terlihat, aku terus mencari, tahu-tahu aku menemukan banya hartamu dan ketika tersadar semua sudah berantakan!’ Suami mengaku.

Aha....Suamiku baru saja melakukan pengakuan dosa. Jadi tujuan utmanya bukan merapihkan buku-bukuku. Ia hendak mencari buku kwitansi. Sekarang semua menjadi jelas. K dengar Papa (Suami) berkata:
 ”Aku tidak membaca surat-surat dan buku harianmu…
”Ha, Buku harian apa?” potongku terkejut. Karena seingatku aku sudah membakar semua buku harianku. Suamiku mengangsurkan satu buku kecil bergambar snoopy sedang memegang balon berbentuk hati. Aku langsung mengambil dan membacanya.

Ku buka halaman pertama, November 1987 Aku terus membaca, entah mengap air mataku mengalir. Ketika lembar berikutnya kubalik, ada nama Suamiku di sana. Aku mengangkat wajah dan menatapnya lalu bertanya: “Jujur Pa, kamu baca atau tidak buku ini?” tanyaku

Air mukanya biasa saja dan Suamiku menjawab ringan. ”Kamu tahu, aku tidak suka campur dengan urusan orang!’

“Aku tanya, Papa baca atau tidak buku ini?” desakku. Sebenarnya tidak ada kejutan apa-apa, Cuma aku ingin tahu, apakah samiku tertarik ingin mengetahui yang aku di masa kami masih berpacaran?

“Sudahlah, aku lapar nih!” Ujarnya sambil meninggalkan aku. Sebelum tubuhnya hilang di balik pintu, Suamiku berbalik dan tersenyum lalu berkata, ”Apa kabar Mr. Amerika (Nama disamarkan) dan Mr. Australia (Nama disamarkan) yah? Tanyanya. Aku hanya bisa tertawa ngakak ”Awas ya Pa!” seruku. Dua nama itu adalah dua nama yang juga ku tulis dalam diary ini.

Kekesalanku sudah berkurang dan kami makan malam bersama sambil membicarakan kejadian hari ini serta tingkah pola Bas dan Van. Sebelum pukul sembilan, aku sudah menggiring Bas dan Van ke kamar mandi untuk cuci kaki dan gosok gigi. Suamiku masih menonton tv saat aku di tempat tidur bersama kedua anakku. Sambil berbaring disamping Van yang asyik memilin-milin rambutku, aku berpikir masih perlukah aku kesal? Atau sungguhkah privasiku telah dilanggar?  Atau inikah sebenarnya rasa cinta diantara kami? 

Tulisan ini diikutkan Giveaway-wedding-annivesarry-ke-6


Tuesday, February 26, 2013

RESOLUSIKU DI TAHUN 2013


Aku bukan tipe orang yang ambisius. Tapi aku selalu berusaha sekeras dan sebaik mungkin untuk mencapai suatu prestasi. tahun 2012 adalah tahun kedua, aku menjadi ibu rumah tangga penuh, setelah 18 tahun berkarir.

Resolusiku di tahun 2012 yang tercapai adalah:
- Menjadi sahabat bagi kedua anakku yang beranjak menjadi abg (12 tahun laki-laki dan 9 tahun perempuan)

Aku perempuan bekerja sejak sebelum menikah. Ketika menikah lalu mempunyai anak, aku meninggalkan mereka saat usia mereka baru dua setengah bulan. Keseharian, aku bekerja dari pk. 08.30 sd 17.30. tapi aku berangkat sejak jam 06.30 dan tiba kembali di rumah jam 19.00. Nyaris 12 jam meninggalkan anak-aakku. Tiba di rumah aku hanya punya waktu kurang dari 2 jam berinteraksi dengan mereka. Jika dina keluar kota, bisa berminggu-minggu aku tak bertemu.

Maka ketika aku berhenti bekerja. Hal utama yang harus aku pelajari dan sesuaikan adalah berdekatan dengan mereka. Ternyata tidak mudah. tahun 2011, aku nyaris meangis setiap malam karena kedua anakku merasa aneh akau ada di rumah sepanjang waktu.

Proses berkenalan dan mengenali segala kebiasaan mereka. Mulai dari makanan ke sukaan, cara belajar, nonton tv (mengenali program kesukaan mereka0 membutuhkan keikhlasan yang dalam. ternyata selama ini, aku tidak "mengenali" mereka.

Maka tahun 2012 aku membuat resolusi
1. Menjadi sahabat kedua anakku
2.  Mengantar si sulung lulu SD dan masuk ke SMP N favorite.
3.Menekuni hobi menulis dan menerbitkan buku


Aku harus bersyukur, ketiga resolusi itus udah tercapai.
Kini anak-anakku sudah bisa menerima aku dan mau berbagi cerita denganku. Keberadaanku di rumah bisa diterima mereka. Malah mereka semakin senang karena aku bisa membuatkan makanan kesukaan mereka termasuk menemani mereka belajar lebih lama dibanding saat aku kerja dulu.

Di saat anak-anak bersekolah, aku membersihkan rumah dan menyelesaikan semua kewajibanku sebaga ibu rumah tangga. Begitu pekerjaan selesai, aku bisa duduk di depan komputer, menekuni kembali kesukaanku dalam menulis.

Sulungku lulus dengan hasil yang baik, Nilai Ebtanas murninya rata-rata hampir 9 dan ia diterima di SMPN 12, kebayoran Baru Jakarta. Salah satu SMPN unggulan. Bahkan sulungku mendapat predikat peserta Masa Orientasi Sekolah terfavorite dari 280 siswa baru.

Kini aku sudah mempunyai 20 buku antologi dimana ada tulisanku di dalamnya.

Karena resolusi 2012, sudah tercapai maka aku mencanangkan resolusi 2013.
1. Mengajak kedua anakku jalan-jalan ke Bali
2.Mengembangkan Grup Kepenulisan di FB yang aku bangun pertengahan 2012.
3. Memiliki Penerbitan Indie
4. Menerbitkan novel solo.

Untuk meweujudkan ketiga resolusi tersebut, aku terus menabung, berkreasi membuat program,  dan tetap  menulis.

Sunday, February 24, 2013

Inilah aku


Aku terlahir sebagai anak ketujuh dari sebelas bersaudara yang semuanya perempuan. Dari sepuluh kali mama melahirkan, menghadirkan sebelas anak. Karena kelahiran yang ke sepuluh di tutup dengan kembar. Terlahir dari pasangan TNI AD dan guru, kehidupanku tidak jauh berbeda dengan orang-orang lain. Kami besar dalam satu rumah dengan semua kakak dan adik.

Almarhum Papa bernama Bastiaan Koraag (Banda Atjeh: 18 November 1926) Anak sulung dari dua bersaudara dari pasangan Opa: Mantri KNIL,Almarhum Elisa Koraag. (Nama yang diwariskan ke namaku) dengan Oma: almarhumah Sofie..Selisih ulang tahunku dengan Papa hanya berjarak 2 hari (HUT 20 Nov), membuat aku dan Papa sangat dekat. Kami mempunyai hubungan yang istimewa. Papa meninggal 20 Januari 1987, saat aku sudah mahasiswi. Tapi tidak ada seorang anakpun yang berbagaia ditinggal ayahnya ke alam baka. Begitupun denganku. Kepergian Papa mampu membuatku hancur ke titik nol, aku merasa tidak memiliki siapa-siapa yang mengerti aku. 

Mama terlahir  24 September 1929 dengan nama Olga Magdalena Parera, putri kedua mantan Walikota Menado, Almarhum Juriant Parera dan mantan anggota DPRD Sulawesi Utara, Almarhumah Adelaida Coloway. Hubunganku dengan Mama tidak sedekat hubunganku dengan Papa.

Walaupun anggota keluargaku banyak, kami dibesarkan dalam satu rumah. Satu persatu meninggalkan rumah ketika menikah dan kuliah di lain kota. Secara umum karna kami dibesarkan dalam satu rumah, hubungan antar kakak dan adik sangat erat. Tapi bukan berarti kami tidak suka berante, cekcok tetap saja ada, namun namanya saudara, hal itu terjad hanya sebentar saja.

PENIDIDIKAN:
Mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi, aku selesaikan di Jakarta.
TK dan SD di Rawa Kemiri 01 Kebayoran lama Jakarta Selatan
SMP Negeri 66 Jakarta-Selatan
SMA Negeri 32 Jakarta-Selatan
Intitut Ilmu Sosial dan Politik (Komunikasi Masaa: Jurnalistik)

PRIBADI:
Menikah dengan Frisch Young Monoarfa, 8 Juli 1996
Memiliki dua anak:
Frisch Bastiaan Calvarie Monoarfa (17 Juli 2000)
Vanessa Elleanor Monoarfa  (31 Juli 2003)

PENGALAMAN
 Sejak kuliah menjadi reporter lepas beberapa media cetak.
Tahun 1992-2002  berkerja di radio Pesona FM
Mulai dari penyiar harian,
Host Talk Show :
- Pintar-Pesona Interior & Arsitektur)Kerjama dengan Jakarta Disign Center (Subtitute)
- Pesona Gizi Keluarga, bersama ahli gizi Tuti Soenardi
- Pesona Buah Hati, kerjasama dengan Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia cabang Jakarta
- Pesona Dapur Bersama Rudy Choirudin (Subtitute)
- Pesona Kecantikan (Subtitute)
- Pesona Seksi (Seks & Konsultasi bersama Dr. Naek L Tobing (Subtitute)
- Pesona Segar (Sehat & Bugar) Bersama DR. Kartno Mohammad (Subtitute)
- Pesona Hukum bersama LBHWK (Subtitute)

Produser acara Pesona pagi
Kepala bagian Siaran

Tahun 2002-2007
Bergabung di Polling Center sebagai RE & Moderator untuk FGD
Sempat berkeliling di 30 propinsi dan lebih dari 200 kota di Inonesia)
Hingga sempat bertugas di Timor-Timur (Dili)

Tahun 2007-2009
Membantu Juliana Agung di CCSL (Center for Customer Satifaction & Loyality)
Menangani project:
- FGD 3 kota untuk sebuah bank di Jakarta, Semarang dan Medas
- Mystery Shoping sebuah Retail seluruh Indonesia
- Mystery Shoping produk telephone genggam di 5 kota di Indonesia
- Melakukan Service Qualita Audit untuk sebuah provider di seluruh Sulawesi
(Melalui 25 kota untuk menyelesaikan 22 target)

Tahun 2009-2010
Menjadi CMI di ebuah perusahaan Kacang Terbesar di Indonesia

Tahun 2011-sekarang
Mejadi ibu rumah tangga full.

AKTIFITAS:
Menulis sajak/puisi dan cerpen sejak kelas 3 SD.
Tulisanku pernah di muat di Majalah Bobo, Majalah Hai, Majalah Kartini, Tabloid Wanita Indonesia, Tabloid Nova, Tabloid Nakita dan Majalah Rias.
Saat berkembang Citizen Jurnalistik, sempat bergabung sebagai kontributor di Harian On Line Koran Indonesia.
Menulis di personal blog sejak tahun 2006.
Bergabung di Kompasiana tahuan 2012
Bergabung di facebook tahun 2008
Bergabung di twitter tahun 2010
 Tahun 2012 membangun Grup Kepenulisan di facebook  PEDAS-Penulis dan Sastra 
Sejak berhenti sebagai pegawai kantoran, aku banyak menghabiskan waktu dengan menulis dan berbagi pengalaman dengan penulis-penulis pemula. Dan aku mendedikasikan Grup Pedas untuk mereka yang ingin belajar dan mengenal sastra.

Buku
Hingga saat ini tulisanku sudah diterbitkan menjadi buku lebih kurang 20 buah buku:
3 buku kisah kehidupan bersama Sekolah kehidupan (Avatar 2007)
Kumpulan Puisi Penulia Lepas (Pustaa Jamil 2009)
Kontributor kisah nyata dalam Buku bahaya Alkohol (Gramedia 2009)
Jakarta Banget (Nulis.com 2012)
Antara Aku dan Tetanggaku (Ae Publishing 2012)
Rotasi kehidupan (Ae Pulishing 2012)
Warna-warni cinta (Ae Pblishing 2012)
Menteri tanpa dasi (Leutika Prio 2012)
The Damn Delicious (Pustaka Jingga 2012)
Penantang Mimpi (Hasfa Pubishing 2012)
Doa Ibu (Penerbit Harfey 2012)
Doa ibu sepanjang masa (PMB 2012)
Eca Moment I (Ae Publishing 2012)
Ketika Binatang Bicara Cinta (Ae Publishing 2012)
Doa Bunda-Pedas (Indie Publishing 2012)
Permata Jiwa (Indie Publishing 2013)
Surata untuk Danay (Ae Publishing 2013)
The dream lover (Percetakan Sugia 2013)
Antologi 250 Puisi Cinta Indonesia-Pedas (Indie Pubishing 2013)

Beberapa masih dalam proses penerbitan.