Saturday, June 08, 2013

FF: Ketika denting asmara bersenandung




Di tepian telaga hasratku melambung, setinggi langit terbangkan senandung. Jemariku gemetar. Sepucuk surat cinta tergenggam mengirimkan  getar elektronik  ke syaraf  ujung. Berdentam detak hantungku bagai irama palu si tukang kayu. Ingin kulepas  semua yang  mengukung jiwaku. Norma-norma sosial, agama, hukum, tiada artinya. Tiba-tiba diriku menjadi linglung .  Sesuatu  membuatku canggung. Ya, ada yang menggelitik di lambung seperti resah yang terkandung dalam gelisah yang membumbung, di situ geliat asaku tertampung Berdiri salah dudukpun salah. 

Surat cinta bertuliskan untaian kalimat manis, tertera jelas lewat aksara yang ku kenal betul, dari tarian jemarinya. Isinyapun masih sama, seolah kelindan asamara kami masih saling mengikat. Seperti ketika bibir kami saling memagut, menyalurkan hasrat purba.  Salahkah bila kami saling mencinta? Persetan dengan pangkat dan gelar. Cinta kami tulus.  Ia memang atasanku, kami memang masih satu korps. Intitusi terhormat, pengayom dan pelindung masyarakat. Lalu di mana kami meletakan cinta yang terlahir tanpa kami inginkan?   Tapi, sudahlah. Kuputuskan, aku harus, mengalah. demi korps,  keluarganya,  pasukan kesatuannya dan demi negara. 

Sama seperti  pertemuan di Kota Surabaya. Kami tak pernanh meminta untuk di tugaskan di kota yang sama. Bahkan jauh sebelumnya, kami tak pernah saling mengenal. Tapi ketika tatapan mata bertemu, jiwa kami seolah terlahir untuk bersama. Tiba-tiba saja seolah aku sudah mengenalnya lama. Ketika denting asmara bersenandung dalam jiwa ini, seragam kami menjadi batasan yang menyakitkan. 

Harus kuakui tenaga terkuras.  Aku lelah menyiapkan sejuta dusta untuk menjawab pertanyaan orang tua, pasukan kesatuanku dan Kapten Bhirawa sendiri, mengenai pengunduran diriku. Menatap wajahnya, membuatku lemah. Tinggi kami nyaris sama. Setiap orang akan mengakui, kami sebagai pasangan  serasi. Bahkan dalam dua kali pertandingan menembak antar  Polda, kami berdua mampu mempersembahkan mendali emas. Namun tetap tidak menjadi dukungan bagi kami melanjutkan hubungn ini,. Seluruh tubuh ini gemetar parah. Inikah cinta yang jatuh?  Aku memang butuh agar hidup menjadi utuh, dan padanya akukan patuh. Tak bolehkan kami menikmati cinta? hanya karena jenis kelamin kami sama?



Tuesday, June 04, 2013

MENYEMAI CINTA: MERAJUT HARAPAN BARU




Kisah ini ku tuliskan berdasarkan pengalaman pribadi. Semoga bermanfaat. Mulanya, aku enggan menuliskan ini, tapi GA Mba Niken Kusumowardhani, menggelitikku. Dengan tema: Menyemai Cinta, pengalamanku sangat pas.

Pernikahanku bulan depan berusia 17 tahun. Kalau tulisan ini memenangkan salah satu hadiah, berarti sekaligus hadiah pernikahanku. Aku menikah di usai yang sudah tinggi (kepala tiga). Harapanku, aku bisa memasuki kehidupan berumah tangga dengan persiapan yang jauh lebih matang dibanding mereka yang menikah di usia lebih muda dariku.

Kenyataannya tidak seperti itu. Ternyata di mana-mana awal pernikahan selalu sama. Menyatukan dua manusia dengan jenis kelamin dan latar belakang pendidikan, pengalaman, wawasan yang berbeda membuat penyatuan itu tidak mudah. Cuma karena aku menikah dengan pilihanku sendiri, maka aku enggan berbagi kisah di awal pernikahanku. Mama dan semua saudara-saudaraku, tahunya aku berbahagia.

Padahal, setiap hari aku bercucuran air mata di kamar mandi. Suamiku tidak tahu. Aku tidak ingin ia mengetahui perasaanku. Dan ini kesalahan terbesar. Sesudah menikah, tidak seharusnya menyimpan persoalan sendiri, apalagi menyangkut hubungan suami istrti. saat itu aku masih bekerja. Aku sangat menginginkan citra istri yang hebat. Sehingga aku memaksakan diri mewujudkan citra tersebut.

Di mulai saat fajat terbit, aku sudah masuk ke dapur. Menyiapkan sarapan dan bekal kami berdua. Sementara suami mandi, aku membereskan tempat tidur. Lalu menyusul mandi, berpakaian dan bersiap berangkat. Di tempat kerja dengan segala persoalannya aku jalani apa adanya. Biasanya aku pulang lebih dulu darti suami, sehingga aku bisa menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum sempat dikerjakan saat pagi. Begitu tgiba di rumah aku langsung, membersihkan rumah, menyuci baju dan menyiapkan makan malam. Saat suami pulanmg, semua rapih dan tersedia tapi aku tak lagi memiliki energi.

Makan malam dengan energi yang dipaksakan dan saat suami masih inmgin nonton tv, aku benar-benar tak lagi dapat membuka mata. Hubungan intim, tetap dilakukan dengan sukacita, saat fajar menjelang. tapi seiring berjalannya waktu, hubungan bukan membaik, malah menjadi dingin. Kami seperti dua orang berbeda yang hidup di dalam satu rumah.

Banyaknya acara keluarga (Karena aku dan suami sama-sama terlahir dari keluarga besar. kami sama-sama ank ke7 dari 11 bersaudara. Bedanya aku bersebelas perempuan, suami campur laki dan perempuan saudara-saudaranya) membuat kami harus sering berpergian bersama-sama. Kesempatan semacam ini, menjadi alasan kami untuk bergandeng tangan, saling melayani dan duduk berdekatan. Biasanya sehabis dari acara keluarga, kami seperti dua orang yang masih pacaran. Di situasi seperti itu bisanya suami mengjaakku bicara dari hati ke hati.

Awalnya aku enggan meceritakan apa yang manjadi ganjalan. Tapi pandainya suami mengorek isi hati ini, aku pun luluh dan bercerita apa yang menjadi obsesiku. (Untung suami tidak tertawa, kalau dia tertawa mungkin pernikahanku tidak sampai hari ini) Suamiku memeluk dan mengusap kepalaku dengan kasih. Ia diam, sampai aku mendesaknya untuk bicara. Hanya kalimat singkat yang diucapkannya: Aku lebih memerlukan kamu dalam pelukanku, ketimbang rumah bersih dan makan malam tersedia tapi kamu tidur berpelukan  guling.

Sejak saat itu, suamiku mengambil sebagian peran yang aku lakukan. Saat fajar terbit, suami sudah mulai mencuci baju (Memang sih menggunakan mesin cuci, tapi tetap perlu pemilahan berdasarkan bahan dan warna). Aku menyiapkan sarapan dan bekal, suamiku membereskan tempat tidur. Ketika aku pulang kerja, aku tinggal menyapu dan mengepel lalu menyiapkan makan malam. Terkadang suami memberitahu, ia membawa makan malam, sehingga aku cukup menata meja.

Waktu terus berjalan, persoalan datang silih berganti. Tiap masa ada persoalannya masing-masing. Ketika anak pertama lahir, ketidak tahuan mengurus anak menjadi pertengkaran yang tidak terelakan. Padahal kalau diingat-ingat, hal itu semata karena kekhwatiran semata. Begitu pula ketika lahir anak kedua. (Anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan) kondisi keuangan sempat menjadi bahan pertengkaran. Perbedaan dalam pengelolaan keuangan, demi mempersiapkan bekal pendidikan anak-anak, tidak sepaham. Aku melahirkan di tahun keempat pernikahan, artinya aku dan suami memiliki waktu yang banyak membangun kebersamaan. Kenyataannya perbedaan pendapat selalu menjadi pemicu keributan.

Tapi besarnya rasa cinta diantara kami, membuat semua bisa ditaklukan. Di setiap akhir permasalahan, ada pelajaran baru yang aku dan suami dapati. Makin hari hubungan kami bertambah dewasa. Pengertian semakin terjalin. Keinginan untuk melayani dan memberikan yang terbaik, kami lakukan berlomba-lomba. Kejutan-kejutan kecil yang manis menjadi selingan yang menyegarkan. Berjalan-jalan sore di sekitar pemukiman rumah, menjadi hiburan sederhana. Sesekali ke pasar ikan, anak-anak sangat antusias melihat pelelangan ikan. Sementara kami berdua bergandengan tangan sambil menyelami perasaan masing-masing.

Di hari libur, suamiku tak segan berbelanja kebutuhan sehari-hari baik di pasar tradisional maupun modern. Sebenarnya, itu caranya dalam memberiku waktu dan kesempatan padaku berlama-lama duduk depan komputer. Ia sangat mengenali kesukaanku dibidang menulis. Tiga tahun lalu kami pernah bertengkar hebat karena facebook dan hand phone. Sempat dua bulan aku merasa rumah tanggaku tidak bisa diselamatkan. Kewajiban sebagai ibu dan istri tetap aku lakukan. tapi lain dari itu, semua terasa sudah mati. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membangun komunikasi. 

Dengan menahan segala perasaan jengkel, kesal, malu dan marah, aku membuka percakapan. Di luar dugaanku, suamiku menanggapi dengan santai dan tenang. Banyak kami berbicara dan membuat kesepakatan-kesepakatan baru. Sampai akhirnya, aku tiba pada sebuah kesimpulan, bahwasannya kehidupan berumah tangga, perlu dievaluasi setiap ada waktu. Banyak kesempakatan-kesepakatan baru bisa dilakukan. Dengan tidak mengurangi hormat atau menjajah satu sama lain.
Happy Family


Keterbukaan, komunikasi, kepercayaan, saling menghormati tetap menjadi kunci hubungan yang harmonis. Layaknya sebuah pohon, rasa cinta kasih antar suami istri memang perlu diperbarui setiap waktu. Handphone saja perlu dicharge, begitu pula hubungan bathin suami-istri. Perlu ada penyegaran setiap waktu. dan kini yang kami lakukan, adalah berjalan pagi, seminggu tiga kali sambil berbincang santai.

Karena kami berdua sama-sama menyukai membaca, toko buku menjadi tempat rekreasi bersama anak-anak. Waktu kami berdua relatif lebih banyak sejak suami memutuskan usaha sendiri dan aku berhenti bekerja kantor. Kini kami berdua saling mendukung usaha masing-m asing. Kadang aku berperan sebagai sekretaris merangkap operator telephone. Atau suami yang membantuku menjadi mesenger. Sementara suami mengantar pesanan, aku mempersiapkan makan siang.

Jika di awal pernikahan kami merasa sebagai sebuah panci dan tutupnya, maka kini panci dan tutupnya sudah berubah warna, tapi fungsi tetap sebagai wadah memasak sayur. Begitulah pernikahan kami, berjalan 17 tahun, bukan langkah yang pendek. Kalau boleh berharap kami masih ingin menjalani kehidupan bersama lebih lama lagi. Dengan tujuan pernikahan yang masih sama dan berharap tetap sama, hingga maut memisahkan kami.We love each other and we hope, still stick together untill separate by dead.


Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani