Tuesday, November 19, 2013

Kertas 2 Rim, Es Campur dan Semangkok Bakso dari Gaji Pertama.

Gaji pertama? Saya sudah mulai mendapat uang dari saya melatih pramuka. Saat itu saya SMA, melatih SMP dan SD. Bayarannya, sebetulnya dibilangnya ganti transport, yaitu Rp. 25 ribu. Uang segitu besar sekali karena ongkos naik metro mini cuma Rp. 50 rupiah. (Di Jakarta) Bakso semangkok cuma Rp. 100 dan ongkos naik bajaj jarak pendek cuma Rp.500. Uang itu saya gunakan untuk jajan dan beli kertas surat & perangko. Saya hobi surat-suratan. Waktu itu usia saya 15 tahun.

Jaman saya kuliah, saya sudah mulai menulis cerpen. Di muat di majalah Hai, bayarannya Rp. 75.000. Cerpen kedua naik jadi Rp. 125.000. Semua saya gunakan buat jajan dan ongkos berkegiatan. Ke tempat kuliah mengharuskan saya naik angkutan umum tiga kali. jadi kalau dapat tambahan uang saku dari hasil menulis, senang.

Nah kalau kerja resmi walau masih kuliah. Gajinya pertama  Rp. 325.000 itu sebagai reporter majalah dwimingguan. Uangnya buat menambahkan keperluan skripsi. Semester akhir saya sudah kerja sebagai reporter tetap. Jadi gaji pertama buat membeli kertas 2 rim, sisanya buat beli es camur dan bakso, makan bersama sahabat. 
 
Saya memang bercita-cita, kalau dapat gaji pertama buat ortu dalam hal ini Mama. Tapi waktu saya bilang dan ingin menyerahkan uangnya ke Mama. Mama menolak. Mama bilang :"Kamu layak menikmati hasil keringatmu. Gunakan saja buat keperluanmu". Makanya jadi saya belikan kertas dua rim lalu beli es campur dan bakso, makan bersama sahabat.
 
Lulus kuliah, kerja di Radio sebagai penyiar, gajinya pertama Rp. 525.000. Uang segitu tidak terlalu besar buat saya karena saya tiap bulan masih dapat uang saku dari kakak-kakak yang kalau ditotal besarnya lebih dari itu. Kondisi ini (Tidak bergantung pada gaji) membuat saya terkenal vokal dalam memperjuangkan kesejahteraan karyawan. Termasuk sebagai provakator untuk mogok siaran. Diinformasikan kalau gaji akan di potong, sesuai jumlah jam siaran yang tidak di lakukan. Saya dengan rasa percaya diri besar mengatakan: "Gaji saya, saya sumbangkan buat perusahaan".

Kalau dipikir-pikir sekarang, saat itu saya agak edan. Tapi kondisi tidak bergantung pada gaji, membuat saya bisa merasakan perasaan kawan-kawan yang seharusnya bisa mendapatkan lebih. Alhasil, dibuat kebijaksanaan, karyawan mendapatkan tambahan uang dari proyek yang dikerjakan. Proyek disini adalah program acara yang disponsori.
 
Saya sangat percaya ketidakbergantungan secara ekonomi membuat kita bisa berbuat sesuatu tanpa beban. Misalnya ingin belanja sesuatu. Ketidakbergantungan secara ekonomi juga memperbesar rasa percaya dan harga diri. Sehingga tidak "mengobral" tenaga demi upah yang tidak sesuai. Memang tidak mudah tapi dari dulu, niat saya bekerja bukan semata untuk mendapatkan uang. Saya percaya uang akan datang sendirinya sebagai bonus atas apa yang sudah kita lakukan. Gaji bulanan adalah reward yang kita dapati sesuai dengan apa yang sudah kita berikan.



1 comment:

Zaitun Hakimiah NS said...

Mandiri sejak masih dini euy..
hebat.. hebat..
tapi jaman dulu murah-murah banget ya harganya :p

Makasih udah ikutan GA ini^^