Wednesday, January 22, 2014

Tersandera Stigma Sosial




Suatu malam, saat santai nonton tv, suami saya bertanya:

"Ma, memangnya aneh yah kalau bapak-bapak bawa anak dan belanja?" tanya suami

"Apanya yang aneh? Papakan biasa belanja dengan Bas dan Van"

'Itu maksud Papa, setiap kali berbelanja hanya dengan anak-anak, pasti ada yang bertanya, ibunya kemana?" Ujar suami saya . Saya diam dan mencoba berpikir.

"Siapa yang suka bertanya begitu? itu mah iseng saja, Basa-basi". Walau ada sebersit tanya, perasaa kalau saya berbelanja dengan anak-anak tidak ada yang bertanya, bapaknya kemana bu?'

"Banyaklah, mulai dari SPG di dalam sampai kasir" Jawab suami.

Saya tak menjawab tapi melanjutkan pemikiranku sendiri. Apa aneh kalau laki-laki berbelanja dengan anak tanpa istri/ibu anak-anak? Toh orang juga tidak akan tahu kalau ada pasangan laki-perempumpaun plus anak berbelanja itu sebuha keluarga. Dan apakah etis melemparkan pertanyaan semacam itu? Bgaimana kalau sitrinya sudah meninggal atau sudah dicerai?

"Papa, jawab apa kalau ditanya seperti itu? Tanya saya

"Tidak dijawablah. Kasih senyum saja" Ujar suami sambil tertawa.

Masyarakat Indonesia memang masyarakat yang nyinyir. Terkadang basa-basi yang tak perlu toh diucapkan juga. ama seperti ketika bertemu pasangan yang baru menikah pertanyaannya selalu : kapan mau punya anak?. Atau pasangan yang lama menikah tapi belum punya anak. "Kok nggak hamil-hamil?" Pertanyaan yang tidak ada perlunya dan menurut saya terlau pribadi.

Sama seperti pertanyaan yang dilemparkan pada suami saya saat berbelanja denga anak-anak tanpa saya. Seakan-akan sesuatu yang ganjil jika seorang bapak  berbelanja dengan anak-anak tanpa istri. Padahal tidak ada yang ganjil da tidak ada yang salah. Sejak sebelum menikah, saya berkomitmen dengan pasangan untuk selalu sejajar sebagai pasangan. Kadang saya harus dibelakang selangkah tapi kadang saya harus memposisikan selangkah di depan. Selama hubungan yang demikian membuat masing-masing nyaman, ok-ok saja.

Stigma sosial kerap kali menyandera kita dalam beraktrifitas kalau kita terpengaruh, Makanya lepaskan anggapan tabu atau aneh atau ganjil hanya karena dulu, yang berbelanja adalah kaum perempuan. Padahal belanja bukan kegiatan yang berkonotasi jender. Sama halnya dengan tukang jahit, tukang masak, sopir taksi dan lain-lain. So, bebaskan pikiran jangan terpengaruh pada pemikiran sempit.

Wednesday, January 15, 2014

Menjaga Suasana Hati


Perlukan suasan hati di jaga? Tentu saja perlu. Setiap manusia mempunyai emosi, ada kalanya kelelahan fisik mempengaruhi suasan batin. Demikian pula dengan kebalikannya. Batin yang lelah akan terlihat pada tampilan fisik.

Dulu, saya seorang pekerja kantoran. Yang menghabiskan waktu 12 jam lebih di luar rumah. Tekanan pekerjaan sangat mempengaruhi suasana hati saya. Di kejar tenggat waktu laporan baik laporan bulanan atau laporan akltifitas mingguan. Bukan hanya suasana hati yang terpengaruih, bahkan napsu makanpun terpengaruh. Kalau sudah begitu, lambung akan menjadi korban.

Tukak lambung atau penyakit maag, adalah jenis yang paling akrab menemani para pekerja. Bukan semata karena jadual makan yang tak teratur saja. Tekanan kerja alias stress mampu memicu asam lambung berproduksi lebih banyak. Membuat gas yang berputar dalam lambung dan menimbulkan rasa nyeri di perut. Rasanya aduhai banget.

Berbagai merk obat maag menjadi koleksi dalam tas kerja. Suami saya orang yang paling cepat dan paham membaca suasana hati saya. Sebagai pekerja independen, suami saya bebas mengatur waktu kerjanya. Seringkali ia lebih dulu tiba di rumah. Wajah kusut saya akan disambutnya dengan pelukan hangat. Ia akan memanggil kedua anak saya untuk memberi pelukan. Biasanya ia akan mengatakan: "Ayo kasih Mama pelukan, Mama sudah kehabisan energi". Hingga kini anak-anak jika melihat saya atau papanya lelah, mereka akan memeluk dan berkata: Saatnya transfer energi.

Begitu juga ketika anak-anak lelah sepulang sekolah, sebuah pelukan mampu mengembalikan semangat mereka lagi. Sejak saya tidak bekerja per satu januari 2011. Jika saya di rumah, saya menyambut anak-anak pulang sekolah dengan pelukan. Sebagai ibu rumah tangga, kini saya yang bertugas mejaga suasana hati seluruh anggota keluarga.

Bukan hanya sebatas pelukan, saya kini bisa mengekpresikan dengan bermacam-macam masakah sederhana untuk makan siang mereka. Jika cuaca dingin, semangkuk mie ayam atau soto ayam, mampu membuat mereka tertawa. Sebaliknya di cuaca panas, semangkuk kecil es krim bisa menjadi pembuka selera makan siang.

Saya percaya menjaga suasana hati seseorang, sebenanrynya mengajar kita untuk berempati. Menemnpatkan rasa kita pada diri orang lain. Dan itu berlaku bukan hanya pada anggota keluarga. ketika menjaga suasana hati siapa saja, silahturahmi dengan kawan dan kerabat dapat lebih nayamn dan hangat.