Sunday, May 31, 2015

Happy Day

Happy day, haruskah hanya di spesial day? Ya nggaklah. Happy day is everyday and everyday is special day. Dulu saat saya masih anak-anak. Tiap hari Minggu datang ke sekolah Minggu. Ibadah khusus untuk anak-anak. Salah satu lagu yang kerap kami nyanyikan sebagai ungkapan puji-pujian adalah lagu Hari ini, Harinya Tuhan.



Hari ini, hari ini
harinya Tuhan
harinya Tuhan
Mari kita, Mari kita 
bersukaria, bersukaria
Hari ini harinya Tuhan
Marikita bersukaria
hari ini, hari ini
harinya Tuhan

Hari Senin, hari Selasa, 
harinya Tuhan, harinya Tuhan
Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu
harinya Tuhan, harinya Tuhan
Hari Minggu harinya Tuhan
mari kita bersukaria
tiap hari-tiap hari
harinya Tuhan.

Kalau setiap hari adalah harinya Tuhan, mengapa kita tidak mensyukurinya? Tidak ada yang berbeda, hari ini, kemarin, besok ataupun lusa. Yang membedakan, bagaimana kita mengisi atau memanfaatkan waktu setiap hari. Susah dan senang hanyalah konsep. Kita bisa memilih, senang atau bahagia. Karena kita yang akan menjalani dan merasakannya.

Sebagai ibu dari sepasang anak dan istri dari seorang lelaki hebat, saya selalu dihadapi pada banyak pilihan. Tiap pilihan ada resikonya. Jadi tidak ada bedanya, memilih A atau memilih B, karena apa? Karena resiko yang menyertai setiap pilihan.


Dok: Elisa Koraag

Misalnya, menghadapi dua anak yang berbeda karakter. Sebagai ibu, saya harus menerima perbedaan tersebut dan memperlakukan keduanya dengan cara yang berbeda pula. Mau pukul rata, menyamakan cara berhadapan dengan mereka, boleh saja. Kan saya ibunya. Tapi resikonya harus saya terima, jika ada di antara mereka menolak perlakukan saya karena merasa cara saya tidak bisa mereka terima.

Sebaliknya, dengan saya memilih memperlakukan mereka sesuai karakter masing-masing, saya siap lelah sebagai resikonya. Tapi di sisi lain, akan menyenangkan bagi saya karena mereka senang. Tidak ada perasaan lain yang dirasakan orangtua, selain kebahagiaan, manakal mengetahui anaknya bahagia. Pun kedukaan, duka anak adalah duka orangtua. Jika anak bersedih, sebagai orangtua, saya merasakan dua kali lebih besar dibanding kesedihan si anak.

Jadi memilih hari ini untuk bahagia atau sedih atau kesal atau bete, terserah masing-masing orang. Yang pasti waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali. Jadi mengapa harus diisi dengan penyesalan karena kemarin melalui hari dengan sedih. Jadi mari kita selalu memilih bahagia. Agar setiap hari yang kita lalui bermakna.



Dok: Elisa Koraag

Berbahagialah untuk setiap oksigen yang kita hirup. Untuk kesempatan melihat anak-anak dan pasangan hidup. Untuk setiap makanan dan minuman yang bisa kita nikmati lewat mulut. Untuk setiap senyum yang bisa kita ekpresikan karena hati merasa senang. Mari kita lalui setiap hari degan bahagia karena setiap hari adalah hari yang spesial. Hari di mana Tuhan masih memberkati kita dan keluarga.


Dok: Elisa Koraag

Kalaupun ada diantara kita yang sudah tidak bersama salah satu anggota keluarga, baik karena sedang pergi, sedang bekerja di tempat yang jauh atau mungkin sudah meninggal, sebagai sebuah keluarga, doa terbaik kita mohonkan kepada Tuhan. Karena harta terindah adalah keluarga.


No comments: