Monday, June 01, 2015

Integritas dan Kapabilitas

Presiden pertama dan kedua Indonesia, Soekarno dan Soeharto lahir dibulan Juni. Pancasila yang menjadi landasan negeri inipun dicetuskan 1 Juni. Mengapa buat saya penting? Karena kedua orangtua saya menikah juga di bulan Juni. Maka wajar dong, kalau saya beranggapan June is The Great Mont (for me). Karena saya belajar mengenai kejujuran dan kapabilitas dari orang-orang yang lahir pada bulan Juni.

Saya mengaggumi Presiden Soekarno, karena pemikiran-pemikirannya. Dulu saya sangat terpesona mendengar alamrhum Ayah menceritakan konsep Nasakom-Nasionalis, Agama dan Komunis. Mungkin nggak sih, kaum beragama berjalan seiring dengan Komunis yang nggak percaya Tuhan? Sebetulnya konsep presiden Soekarnoa sederhana saja. Bagaimana kaum nasionalis, kaum beragama dan kaum komunis tidak saling mempersoalakn prinsip hidup yang terkait dengan kepercayaan. Konsep Soekarno menitikberatkan pada konsep organisasi bernegara.

Masyarakat kita (Indonesia) yang mayoritas agamis, selalu meletakan segala sesuatu di atas dasar kepercayaannya, termasuk konsep berorganisasi. Misalnya: Bagaimana mau kerjasama dengan mereka yang tidak beragama? Karena kaum beragama, percaya, cuma bisa bekerja sama dengan kaum yang percaya pada kaum beragama juga. Mengapa? Karena dalam ajaran agama, akan takut akan Tuhan dapat menjadi landasan berlaku jujur. Padahal konsep organisasi bernegara lebih meletakan pada prinsip integritas dan berkapabilitas. Jujur dan mampu. Terlepas percaya atau tidak seseorang pada konsep Tuhan, intergritas itu ada dalam diri. Sama seperti kemampuan, melekat dalam individu.

Lalu bagaimana dengan Presien Soeharto? Bukankah negara ini terlilit hutan dan babak belur di bawah pemerintahannya? Ini agak berat. Percaya deh, kehancuran negara ini bukan karena beliau seorang. Terlalu banyak faktor yang membuat negara ini babak belur. Salah satunya karena tidak adanya integritas dan kemampuan pada individu yang memegang posisi penting pada masa itu.

Sumber ilustrasi


Kejujuran dan kemampuan, menurut saya adalah dua hal mendasar yang harus ada dalam setiap sendi kehidupan, termasuk dalam konsep berumah tangga-menikah. Cinta dan ekonomi yang mapan tidak bisa menjadi jaminan, pernikahan yang langgeng. Karena tidak ada bahterah pernikahan yang melaju mulus di samudera kehidupan. Sumpah, ini serius.

Samudera yang dari banyak gambar terlihat tenang dan menyejukan mata saat dipandang, bisa berganti menjadi badai dan gelombang yang menakutkan. Begitu juga dengan pernikahan, awalnya semua manis dan menyenangkan tapi ketika integritas dan kemampuan diri dipertanykan, maka riak-riak kecil, bisa menjadi gelombang yang menghancurkan.

Integritas adalah hal mendasar dalam melakoni kehidupan. Sedangkan kemampuan diri terkait semua hal diperlukan untuk menopang integritas. Ketika kemampuan goyah, maka inegritaspun bisa goyah. Ya, ketika tak mampu menjaga hati, maka setiap saat kejujuran dapat berbelok. Sebaliknya kemampuan berpegang teguh menghormati integritas diri, akan melancarkan semua urusan dan hubungan. Kejujuran menghapuskan semua rasa takut dan ketidak perayaan. Ketidakmampuan diri dapat diperbaiki dengan mempertahankan kejujuran. Sebaliknya ketika ketidak jujuran tidak dapat meningkatkan kemampuan diri dalam segala hal. Wong bersikap jujur aja nggak bisa, bagaimana mau meningkatkan kemampuan yang lain? Jujur dulu, maka yang lain bisa dipelajari.

Kalau bukan karena integritas dan kapabilitas
kami tak mampu lewati lebih dari 25 th bersama



No comments: