Thursday, July 09, 2015

Jejak Masa

Tahun ajaran baru adalah masa-masa yang mendebarkan. Walau sudah tidak menjadi pelajar/mahasiswa rasanya tetap masih mampu membuat perut mules. Saat ini, saya ibu dari sepasang anak jelang remaja. Kebetulan tahun ini kedua anak saya akan memasuki jenjang yang lebih tinggi. Yaitu SMP dan SMA.

Biaya jelas disiapkan jauh-jauh hari. Tapi situasi bisa berubah sehingga apa yang sudah disiapkan, menjadi tidak berarti. Anggapan ganti pejabat ganti aturan, berimbas pada saya. Saya merasa menjadi korban peraturan. Tapi bagi orang lain, mungkin hanya dicibir. "Sudah dari dulu kalee aturannya begitu!"

Saya hanya rakyat biasa yang tidak punya kekuasan. Jadi saya harus menelan kekecewaan atas aturan yang saya (rasa) merugikan saya. Singkat cerita saya harus mendaftar kembali dan mencari peluang untuk tetap memasukan anak-anak di sekolah negeri walau di luar Jakarta.

Si bungsu diterima di SMPN 23 dan Si Sulung di SMAN 6, keduanya di Tangerang. Lega? ya enggaklah. Mengapa? Karena jaraknya yang sangat jauh. Dua minggu kepala ini terasa mau pecah, memikirkan bagaimana berangkat sekolah nanti? Menghitung jarak tempu dan waktu tempuh. Mencari jalan alternatif, memikirkan transportasi juga biaya bensin/ongkos angkutan.

Awalnya  saya mengatur si sulung berangkat sekalian mengantar si bungsu hingga di pertengahan jalan menuju sekolah si Bungsu. Karena sekolah si bungsu harus membelok ke kiri sementara sekolah si Sulung lurus. Tapi dari tempat si bungsu diturunkan untuk berpindah ke angkutan umum untuk melanjutkan ke sekolah, jarak tempuhnya masih jauh.

Kalau si Sulung harus mengantarkan si bungsu hingga di sekolah, kemungkinan besar si sulung akan terlambat. Kalau Papanya yang harus mengantar si bungsu, juga tidak memungkinkan karena berlawanan arah. Papanya ke Jakarta. Maka satu-satunya ya, saya yang harus mengantar si Bungsu. Membayangkan saya menjadi seperti kebanykan ibu-ibu yang mengantar anaknya ke sekolah, perut saya terasa mules. Jujur ini hal baru buat saya.

Maka ketika Si Bungsu harus hadir ke sekolah untuk menerima informasi persiapan Masa Bina Sekolah/ Masa Orientasi Sekolah, menjadi waktu yang pas untuk latihan dengan angkutan umum. Sayang bangunnya keseingan sehingga tetap harus diantar hingga sekolah. Selain lain latihan naik angkutan umum, sayapun latihan menunggu si bungsu di sekolah. Hal yang belum pernah saya lakukan, bahkan dulu ketika sibungsu di kelompok bermainpun, saya tak penah menunggu.

Tapi barangkali nilah yang dibilang jejak masa. Saya cuma bisa merencanakan, bahkan dapat kejutan ketika mendapt info kelak si bungsu masuk siang. Helooooo...saya kira sudah ada tidak ada kegiatan sekolah yang di mulai siang hari. Kenyataan keterbatasan loka kelas membuat waktu belajar dibagi dua dalam satu hari. Dan berita buruknya, berarti hari Sabtu harus masuk sekolah.

Oh...benar-benar musibah rasanya. Karena sekian lama anak-anak bersekolah di Jakarta, Sabtu sudah terbiasa libur. Tapi lagi-lagi jejak masa, tiap masa aturannya berbeda. Pun implementasinya. Maka di sinilah saya, dengan program baru: Mengantar, menunggu dan menjemput pulang.

2 comments:

Titis Ayuningsih said...

wah, dua-duanya lagi butuh biaya sekolah yang gak sedikit ya mbak.

Adi Pradana said...

Yang sabar ya mbak, akan indah pada waktunya... semangaaaaat....