Monday, July 27, 2015

Nyonya Bawel: Mengantar, Menunggu atau Menjemput

Nyonya Bawel sedang merasa rempong. Gegara kedua anak bersekolah yang jaraknya sangat jauh. Cemas, kesal dan marah, 3 perasaan saya. Tapi tidak ada gunanya karena situasi dan kondisi tidak bisa saya atur berdasar kemauan saya.

Pembicaraan mengenai rencana meninggalkan dunia gathering blogger terasa sebagai perpisahan yang menyedihkan. Lebay yah? Biarlah, emang lebay. Saya harus memilih dan dalam situasi seperti ini, kebawelan saya seperti hilang entah tanpa bekas.

Membayangkan mengantar si bungsu, menunggu hingga pulang atau mengantar, meninggalkannya dan menjemput lagi saat pulang, terbayang sebagai rutinitas yang agak menakutkan. Belum lagi Papanya yang ikuta menjadi bawel dengan mengusulkan saya membawa motor.

Dulu sewaktu berhetni kerja, niatnya akan menghentikan ojek langganan yang biasa antar jemput anak. Maka saya beli motor, dan belajar setiap sore. Sesudah lancar, mulai menjemput anak walau masih diikuti suami dari belakang.

Sayang rutinitas antar jemput anak tidak jadi saya lakukan karena suami tetap nggak tega. Akhirnya sayapun tidak biasa mengendarai motor. Kalau sekarang harus membawa motor untuk antar jemput si Bungsu, rasanya nggak sanggup deh. Siang malam saya berdoa, mohon petunjuk dan berharap masalah ini ada solusinya.

Lagi-lagi ketidak konsistenan suami menguntungkan saya. Suami nggak tega membiarkan saya meluncur di atas motor. Walau ada perasaan ingin mencoba lagi. Singkat cerita, anak-anak sudah sekolah. Mengantar, menunggu atau menjemput, tidak menjadi kenyataan. Saya tetap mengikuti gathering blogger dan selalu ada jalan lain untuk si Bungsu. Lupa memperhitungkan ada abangnya yang bisa membawa motor dan pulang mempunyai waktu yang cukup untuk menjemut si bungsu.

Berangkatnya? Masih ada Papanya. Keuntungan lain punya usaha sendiri. Waktu kerja ditentukan dan diatur sendiri. Nyonya Bawel nggak perlu bawel, karena selalu ada jalan keluar dari tiap permasalahan. 

No comments: