Wednesday, August 12, 2015

Bungsuku Bertambah Pintar

Tidak baik membandingkan semasa aku seusia si Bungsu dengan keadaan si Bungsu saat ini. Persoalannya seringkali, aku merasa anak zaman sekarang cenderung tidak dewasa dan tidak mandiri. Ketika aku mencoba mengevaluasi, aku menemukan lebih bayak kesalahan ada pada aku, sebagai orangtua.

Dulu saat aku kelas 3 SD aku sudah memilki tugas dan tanggung jawab menyapu halaman rumah an mengepel kamar sendiri. Saat ini anakku sudah 12 dan 15 tahun, cuci piring bekas makannya sendiri saja, terkadang tidak di lakukan. Jika aku mengingatkan, keduanya hanya menjawab dengan manis "Iya Mama" Tapi tetap tidak langsung dikerjakan. Ketimbang mulutku lelah, biasanya aku juga yang mencuci piring-piring itu.


Begitu juga dalam banyak hal yang seharusnya bisa diselesaikan anak-anak, kami maksudnya aku dan Papanya suka ikut campur. Terakhir adalah masalah seragam. Aku sudah mengatakan ke Papanya, pembelian seragam biar dilakukan anak-anak, sekalian mereka mengukur sesuai ukuran tubuhnya. Ternyata anak-anak tetap belum memiliki keberanian berargmentasi dengan guru/petugas koperasi terkait ukuran baju. Si Bungsu Van mendapat semua baju dengan ukuran XL. Menurut Van, ia sudah menolak dan minta tkar engan ukuran L tapi petuas koperasi berkata, Van ukurannya XL. Kenyataannya dengan ukuran XL baik kemeja, rok pramuka dan celana olahraga semua kebesaran dan kepanjangan.

Awal sekolah, aku mengajak Van ke tukang jahit untuk  memasang semua emblem di kemeja sekolah. Karena Van sudah tahu, maka kemarin Papanya minta Van membawa rok pramuka, kemeja putih dan celana olahraga untuk di potong dan dikecilkan. Mendengar perintah Papanya, ada perasaan nggak rela di hati ini. Van belum pernah melakukan tugas seperti itu. Tapi kalau aku menyela atau ikut campur, itu tidak mendidik. Alhasil aku diam saja. Tak lama Van masuk ke kamar dan meminta aku menemaninya. Dengan berat hati aku menolak. Wajah Van langsung mendung, plus bimoli-bibir monyong lima cm.

Dengan wajah tidak enak sama seperti perasaanku. Van berjalan membawa tas plastik berisi seragamnya. Sekitar 30 menit, Van kembali dengan wajah cerah dan tersenyum. Aku dari kamar langsung ke luar menyongsong Van. Papanya sudah lebih dulu berdiri di pintu. Kedua tangannya terbuka dan Van langsung masuk dalam pelukan Papanya. "Bisakan? Tidak ada yang susah kan? Tanya Papanya. Yang ditanya masih menenggelamkan wajahnya di dada Papanya.

"Gantian dong, Mamanya juga mau peluk." Ujarku. Van berpindah ke dalam pelukanku. Di telinganynya aku berbisik. "Mama bangga, Van tambah pintar". Van mengangkat wajahnya dan menyodorkan segelas Capucino. "Ini aku beli buat Mama" Ujarnya.

Hari ini anakku mendapat pelajaran baru dalam kehdupannya. Aku mengira ia tidak bisa tapi perkiraanku salah. saatnya aku harus memberi kepercayaan, lebih luas dan lebih besar. Nyatanya Ia bisa!

Tuesday, August 11, 2015

Sekolah Anakku, Mewah.


Bungsuku, gadis kecil bernama Vanessa. biasa kusapa cantik. Bagi setiap ibu, anak perempuannya adalah yang tercantik di seluruh permukaan bumi. Selain itu, aku berharap, panggilan cantik bisa membuat lebih percaya diri.

Dua minggu pertama sekolah, aku lebih banyak mendengar cerita dari Si Sulung. Aku sempat berkata kepada Papanya anak-anak, Mengapa si Bungsu tak pernah bercerita tentang aktifitasnya di sekolah? Kemarin menjelang tidur malam, terjawablah kegelisahanku.

Awalnya walau kami berdmoisili di Tangerang tapi kedua anakku bersekolah di Jakarta. saat SD keduanya bersekolah berbasis agama. Lulus SD kami memasukkannya ke sekolah negeri. Ini memang sudah kami rencanakan, saat SD, aku masih belum mempercayai anak-anakku untuk bergaul luas dengan bermacam manusia dengan aneka latar belakang tapi lulus SD, aku yakin mereka siap.

Tahun ajaran baru ini kedua anakku bersekolah di Tangerang. Sebagai orangtua aku dan Papanya sangat kecewa. Mereka bersekolah di Tangerang karena aturan dibuat demikian. Jika melawan aturan saya tidak bisa melawan, suka tidak suka maka kedua anak bersekolah di Tangerang. berbedea dengan kami, sebagai orangtua, kedua anakku menikmati sekolah dan kawan-kawan barunya.

Ketidak relaanku menyekolahkan anak-anak di Tangerang karena kami buta dengan wilayah Tangerang. Semua aktifitas kami lebih banyak di Jakarta. Tapi ini barangkali saatnya kami sebagai warga Tangerang berkontribusi lebih banyak di Tangerang.

Semalam, si Bungsu bercerita, proses pemilihan ketua kelas. Tiga calon, dua laki-laki dan satu perempuan. Yang perempuan ya anakku dan hasil menunjukan mayoritas memilih si bungsu sebagai ketua kelas. Pertanyaanku pada si bungsu, "Kamu tahu mengapa kamu dipilih sebagai ketua kelas?" Jawab si Bungsu: Karena aku tegas dan aku bisa mengkoordinir kawan-kawan.

Jawaban yang mantap. Tapi kapan si bungsu mengkoordinir kawan-kawannya? Kan sekolah baru satu minggu waktu pemilihan ketua kelas diadakan? Entahlah.

Lalu aku menanyakan bagaimana situasi sekolah? Dengan lancar si bungsu bercerita. Terakhir yang kutanyakan, apakah ia suka bersekolah di situ? Jawab si bungsu: Suka dong kan sekolahku mewah? Maksudnya? Aku memang tahu bangunan sekolahnya cukup bagus, tiga lantai dan ber ac tapi aku tak menangkap kesan mewah.

Kata si bungsu: Iya mewah-Mepet Sawah! Ujarnya sambil tertawa-tawa. Akupun ikut tergelak mendengarnya, lalu kamipun tidur sambil berpelukan.

Wednesday, August 05, 2015

Menjemput Rezeki



Haruskah Rezeki dijemput? Harus, karena nggak ada rezeki yang jatuh dari langit. Semua pasti melalui ikhtiar, doa, usaha dan kerja keras. Dulu waktu Nyonya Bawel masih gadis kinyis-kinyis. Walau hari libur, pagi-pagi pasti sudah dibangunkan.

Biasanya Nyonya Bawel akan bilang "Ya ampun Ma, inikan hari libur, masa bangun siang sedikit nggak boleh?" dan Mama Nyonya Bawel akan berseru: "Nggak baik anak gadis bangun siang, nanti rejekinya dipatok ayam".

Sekarang, kalau Nyonya Bawel lakukan yang sama saat membangunkan anak-anak di hari libur, jawab mereka: "Kalau ayam mau matok rejeki kita, ayamnya kita goreng aja Ma!" lalu tidur lagi dan Nyonya Bawel nggak bisa ngapa-ngapain.

Lain dulu lain sekarang, itu sudah pasti. Bagaimana mau menjemput rezeki kalau enggan bangun pagi? Tapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memutar balikan pola hidup. Teknologi berkembang sangat pesat dan memberikan kontribusi yang nyata bagi kehidupan manusia. Saat ini banyak jenis-jenis pekerjaan yang sama sekali tidak terayang di masa 20-30 tahun yang lalu. Spesialis Media Sosial, misalnya. Begitu juga jam kerja. Jam kerja masa sekarang adalah 24 jam. Internet telah menghilangkan batasan waktu dan tempat. Dengan internet kita terkoneksi ke seluruh dunia. Biar kita disini tengah malam, di belahan dunia lain ada yang masih siang.

Bermain facebook, bercengkrama di Instagram dan berkicau di twitter bisa menjadi sumber/ladang rejeki. Baik sebagai pekerja tetap maupun sebagai pekerja sambilan/paruh waktu. Lima tahun lalu ketika saya memutuskan berhenti bekerja sebagai pegawai kantoran yang terikat 08.30-17.30, saya merasakan dua kondisi yang bertabrakan. Kondisi pertama saya merasa bebas, lepas dari kewajiban bangun bagi dan terjebak kemacetan saat pergi dan pulang. Kondisi kedua sadar sesadar-sadarnya, nggak ada ada transferan di akhir bulan.

Lalu berbagai perasaan aneh menyelimuti Nyonya Bawel. Salah satunya minta uang dari suami. Walau kenyataannya suami tidak pernah menunggu Nyonya Bawel meminta tapi Nyonya Bawel tidak punya keberanian membelanjakan uang suami untuk keperluan pribadi, seperti belanja peralatan lenong (make up). Tapi Tuhan, sayang sama Nyonya Bawel. Lewat hobi mengarang, Nyonya Bawel kembali menulis. Kalau dulu menulisnya di buku catatan harian sekarang secara on line di blog. Awalnya Nyonya Bawel masih menulsikan catatan harian cuma sekarang menjadi catatan digital. Isinya juga masih seputar keseharian Nyonya Bawel mengurus keluarga dan rumah.

Perkembangan teknologi komputer dan internet melahirkan profesi blogger yaitu orang yang menulis di blog. Maka sejak berhenti jadi orang upahan, Nyonya Bawel mengaktifkan diri di dunia online. Mulai dari membangun grup kepenulisan PEDAS-Penulis dan Sastra hingga bergabung diberbagi grup komunitas blogger.

Banyak orang salah persepsi ketika mengetahui Nyonya Bawel membangun grup kepenulisan. Banyak yang mengira karena Nyonya Bawel sudah ahli dalam hal menulis padahal grup PEDAS dibangun karena Nyonya Bawel mencari kawan untuk sama-sama belajar dan memperlancar kemampuan menulis.

Singkat cerita adanya grup PEDAS-Penulis dan Sastra membuat Nyonya Bawel lebih rajin mengolah kata menjadi puisi atau cerita pendek. Pada akhirnya  mendorong Nyonya Bawel membangun PEDAS Publishing. Dengan tujuan untuk memfasilitasi penerbitan buku karya anggota grup PEDAS dan siapa saja yang mau menerbitkan buku dengan biaya sendiri. PEDAS Publishing membantu mewujudkan dengan membantu mengurus ISBN dan barcode, termasuk permbuatan cover dan editing, sehingga buku layak terbit dan layak di baca. Serta membantu publikasi lewat on line.

Buat kawan-kawan yang sudah punya banyak catatan harian dan ingin diterbitkan menjadi buku silahkan kirim email ke pedas2012@rocketmail.com. Subyek: Kirim naskah.
Naskah dalam bentuk lampiran ditulis di ms word, spasi standar, Fon Arial/TNR 12. Minimal 75 hal A4. Bayarkah menerbitkan buku di PEDAS Publishing? Ya, bayar. Kok bayar? Karena PEDAS Publishing membantu menerbitkan hingga mejadi buku. Bisa dapat untung nggak dengan memerbitkan buku di PEDAS Publishing? tergantung tujuan. Kalau tujuannya profit besar silakan ke penerbit lain. Kalau mau untung, ya harus kerja pintar dan kerja keras. Promosi terus menerus. Untung pasti ada. Karena penulis bisa menentukan harga jual sendiri. Jadi bisa menghitung berapa keuntungan yang ingin dicapai.

Menulis telah membuka pintu rezeki yang Nyonya Bawel tidak pernah menduga. Karena tujuan Nyonya Bawel menulis adalah mengekspresikan apa yang Nyonya Bawel rasakan dan pikirkan. Ternyata pada akhirnya, banyak rezeki berdatangan dari kegiatan menulis di blog. Siapa yang mengira dari berbagai acara blogger gathering yang Nyonya Bawel datangi, telah menjadi semacam lahan yang ditebari benih. Sejak tahun 2014 hingga sekarang, benih itu mulai bertumbuh dan menghasilkan.

Tanpa perlu Nyoya Bawel terjebak kemacetan, pekerjaan datang dan upah mengalir lewat tranfer ke bank. Nyonya Bawel belum pernah bertemu dengan pemberi kerja tapi Nyonya Bawel dipercaya. Untuk yang satu itu, Nyonya Bawel berusaha menahan diri untuk tidak bawel dan kepo mencari tahu. Nyonya Bawel percaya, Tuhan tidak pernah tidur dan barang siapa bekerja karenaNya maka Ia akan melimpatgandakan rezeki. Jadi jangan pernah takut, rezeki nggak pernah ketukar.



Monday, August 03, 2015

Peran Media Sosial dalam Membangun Opini

Judunya serius banget yah? Biarin. Kali ini Nyonya Bawel menulis karena gemas.
Topik BPJS Kesehatan haram, telah membuat Nyonya Bawel kesal dan sakit kepala. Bagaimana nggak kesal, siapapun orang  atau media yang menyebarluaskan topik BPJS haram harus dituntut karena menimbulkan keresahan banyak orang.

Nyonya Bawel nggak terlalu terpengaruh karena Nyonya Bawel non mulsim. Artinya dikatakan BPJS Haram, itu masalah yang percaya soal halal dan haram. Nyonya Bawel nggak percaya itu. Pemberitaan viral seputar BPJS haram berjalan sangat cepat dan pada akhirnya ketahuan nggak pernah ada kata "haram" dalam rekomendasi atau catatan dari MUI atas pelaksanaan BPJS.

Media sosial menjadi media alternatif dalam menyebarluaskan informasi. Sementara kecepatan berputarnya media sosial tidak sebanding dengan pemahaman penggunannya. Masih banyak masyarakat yang tidak paham tujuan bermedia sosial, alih-alih menjaring mafaat malah mudarat yang di dapat. Celakanya lagi kalau media sosial malah menjadi sumber keresahan banyak orang.

Nyonya Bawel kalau kalau santai suka bicara dengan anak-anak di rumah. Mama ini nggak dibantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah sudah biasa. Menyapu, mengepel, mencuci baju, mencuci priring dan memasak sudah menjadi bagian aktifitas setiap hari. Tapi jangan ikut memberantakin. Artinya, biasakan mengembalikan segala sesuatu ke tempatnya.

Di rumah Nyonya Bawel, penghuninya cuma 4 tapi gelas minum bisa lebih dari 6 gelas dan tersebar mulai dari meja makan, meja belajar hingga meja ruang tamu. Kalau hal seperti itu, bagaimana Nyonya Bawel nggak bawel?

Lebih kurang harusnya pengguna media sosial prinsipnya juga seperti prinsip Nyonya Bawel. Jika belum bisa menyebarkan luaskan sesuatu yang berdampak positif ada baiknya tidak ikut menyebarluaskan hal yang menimbulkan dampak negatif. Tanpa kita ikut menjadi jahat, sudah banyak orang jahat yang ada. Makanya lebih baik kita menyebarkan kebaikan. Wong kadang-kadang niat baik saja belum tentu diterima dengan baik.

Media sosial angat besar pernanannya dalam membangun opini masyarakat. Terkadang informasi yang tersebar luas cuma dibaca judulnya. Celakanya lebih sering judul dan isi berita nggak konek alias nggak ada hubungannya. Makanya mneurut Nyonya Bawel, kita perlu loh menahan diri, bahkan mundur sejenak.

Perhatikan deh orang yang mau ancang-ancang untuk meaju dengan cepat biasanya mundur dulu. Dan dengan kita menahan diri atau mundur sejenak, kita bisa maju lebih cepat. Nggak percaya, coba aja buktika.