Wednesday, August 05, 2015

Menjemput Rezeki



Haruskah Rezeki dijemput? Harus, karena nggak ada rezeki yang jatuh dari langit. Semua pasti melalui ikhtiar, doa, usaha dan kerja keras. Dulu waktu Nyonya Bawel masih gadis kinyis-kinyis. Walau hari libur, pagi-pagi pasti sudah dibangunkan.

Biasanya Nyonya Bawel akan bilang "Ya ampun Ma, inikan hari libur, masa bangun siang sedikit nggak boleh?" dan Mama Nyonya Bawel akan berseru: "Nggak baik anak gadis bangun siang, nanti rejekinya dipatok ayam".

Sekarang, kalau Nyonya Bawel lakukan yang sama saat membangunkan anak-anak di hari libur, jawab mereka: "Kalau ayam mau matok rejeki kita, ayamnya kita goreng aja Ma!" lalu tidur lagi dan Nyonya Bawel nggak bisa ngapa-ngapain.

Lain dulu lain sekarang, itu sudah pasti. Bagaimana mau menjemput rezeki kalau enggan bangun pagi? Tapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memutar balikan pola hidup. Teknologi berkembang sangat pesat dan memberikan kontribusi yang nyata bagi kehidupan manusia. Saat ini banyak jenis-jenis pekerjaan yang sama sekali tidak terayang di masa 20-30 tahun yang lalu. Spesialis Media Sosial, misalnya. Begitu juga jam kerja. Jam kerja masa sekarang adalah 24 jam. Internet telah menghilangkan batasan waktu dan tempat. Dengan internet kita terkoneksi ke seluruh dunia. Biar kita disini tengah malam, di belahan dunia lain ada yang masih siang.

Bermain facebook, bercengkrama di Instagram dan berkicau di twitter bisa menjadi sumber/ladang rejeki. Baik sebagai pekerja tetap maupun sebagai pekerja sambilan/paruh waktu. Lima tahun lalu ketika saya memutuskan berhenti bekerja sebagai pegawai kantoran yang terikat 08.30-17.30, saya merasakan dua kondisi yang bertabrakan. Kondisi pertama saya merasa bebas, lepas dari kewajiban bangun bagi dan terjebak kemacetan saat pergi dan pulang. Kondisi kedua sadar sesadar-sadarnya, nggak ada ada transferan di akhir bulan.

Lalu berbagai perasaan aneh menyelimuti Nyonya Bawel. Salah satunya minta uang dari suami. Walau kenyataannya suami tidak pernah menunggu Nyonya Bawel meminta tapi Nyonya Bawel tidak punya keberanian membelanjakan uang suami untuk keperluan pribadi, seperti belanja peralatan lenong (make up). Tapi Tuhan, sayang sama Nyonya Bawel. Lewat hobi mengarang, Nyonya Bawel kembali menulis. Kalau dulu menulisnya di buku catatan harian sekarang secara on line di blog. Awalnya Nyonya Bawel masih menulsikan catatan harian cuma sekarang menjadi catatan digital. Isinya juga masih seputar keseharian Nyonya Bawel mengurus keluarga dan rumah.

Perkembangan teknologi komputer dan internet melahirkan profesi blogger yaitu orang yang menulis di blog. Maka sejak berhenti jadi orang upahan, Nyonya Bawel mengaktifkan diri di dunia online. Mulai dari membangun grup kepenulisan PEDAS-Penulis dan Sastra hingga bergabung diberbagi grup komunitas blogger.

Banyak orang salah persepsi ketika mengetahui Nyonya Bawel membangun grup kepenulisan. Banyak yang mengira karena Nyonya Bawel sudah ahli dalam hal menulis padahal grup PEDAS dibangun karena Nyonya Bawel mencari kawan untuk sama-sama belajar dan memperlancar kemampuan menulis.

Singkat cerita adanya grup PEDAS-Penulis dan Sastra membuat Nyonya Bawel lebih rajin mengolah kata menjadi puisi atau cerita pendek. Pada akhirnya  mendorong Nyonya Bawel membangun PEDAS Publishing. Dengan tujuan untuk memfasilitasi penerbitan buku karya anggota grup PEDAS dan siapa saja yang mau menerbitkan buku dengan biaya sendiri. PEDAS Publishing membantu mewujudkan dengan membantu mengurus ISBN dan barcode, termasuk permbuatan cover dan editing, sehingga buku layak terbit dan layak di baca. Serta membantu publikasi lewat on line.

Buat kawan-kawan yang sudah punya banyak catatan harian dan ingin diterbitkan menjadi buku silahkan kirim email ke pedas2012@rocketmail.com. Subyek: Kirim naskah.
Naskah dalam bentuk lampiran ditulis di ms word, spasi standar, Fon Arial/TNR 12. Minimal 75 hal A4. Bayarkah menerbitkan buku di PEDAS Publishing? Ya, bayar. Kok bayar? Karena PEDAS Publishing membantu menerbitkan hingga mejadi buku. Bisa dapat untung nggak dengan memerbitkan buku di PEDAS Publishing? tergantung tujuan. Kalau tujuannya profit besar silakan ke penerbit lain. Kalau mau untung, ya harus kerja pintar dan kerja keras. Promosi terus menerus. Untung pasti ada. Karena penulis bisa menentukan harga jual sendiri. Jadi bisa menghitung berapa keuntungan yang ingin dicapai.

Menulis telah membuka pintu rezeki yang Nyonya Bawel tidak pernah menduga. Karena tujuan Nyonya Bawel menulis adalah mengekspresikan apa yang Nyonya Bawel rasakan dan pikirkan. Ternyata pada akhirnya, banyak rezeki berdatangan dari kegiatan menulis di blog. Siapa yang mengira dari berbagai acara blogger gathering yang Nyonya Bawel datangi, telah menjadi semacam lahan yang ditebari benih. Sejak tahun 2014 hingga sekarang, benih itu mulai bertumbuh dan menghasilkan.

Tanpa perlu Nyoya Bawel terjebak kemacetan, pekerjaan datang dan upah mengalir lewat tranfer ke bank. Nyonya Bawel belum pernah bertemu dengan pemberi kerja tapi Nyonya Bawel dipercaya. Untuk yang satu itu, Nyonya Bawel berusaha menahan diri untuk tidak bawel dan kepo mencari tahu. Nyonya Bawel percaya, Tuhan tidak pernah tidur dan barang siapa bekerja karenaNya maka Ia akan melimpatgandakan rezeki. Jadi jangan pernah takut, rezeki nggak pernah ketukar.



3 comments:

Alaika Abdullah said...

Sukak banget dengan tulisan ini, Nyonya Bawel! Agreed, teknologi telah membuka peluang kerja baru tanpa batasan waktu dan jarak, dan sungguh bikin kita tercengang, bersyukur dan hayuk atuh, semakin kita optimalkan! Tapinya.... Aku malah skrg ini terikat di dlm jam kerja kantoran, Nyonya.... Hiks... :)
Apa kabar, Nyonya Bawel? Dah lama tak jumpa yaa? :)

Gustyanita Pratiwi said...

Ahhh aku jadi tertarik ikutan PEDAS

Yati Rachmat said...

Hehe...jadi ingat si abang almarhum, yang selalu bangun siang karena komputeran ampe larut, bahkan sampai dini hari. (ketika sehat). Ya, itu tadi bawelnya si Bunda kalo bangunin dia: Ayo donk, Bang, bangun, solat subuh dulu. Gimana mau rezekinya dateng, lha udah dipatokin ayam duluan. Huuh, si abang." Gitu tuh bawelnya si Bunda. Memang betul dengan cara yang bervariasi, Allah mewajibkan kita untuk menjemput rezeki. Aamiin.