Wednesday, November 18, 2015

DI BALIK BAWELNYA, SEORANG IBU



Nyonya Bawel sedang bersusah hati. 6 bulan yang lalu, putra sulung Nyonya Bawel terindikasi tubercolosis. Si ganteng ini, matahari kehidupan pertama dalam kehidupan Nyonya Bawel, yang ditunggu. Si Ganteng terlahir di tahun keempat pernikahan Nyonya Bawel, lewat operasi  Caesar. Soalnya ari-arinya menutupi jalan lahir. Kelahirannya sangat mungil, Cuma 2,8 kg dengan panjang 49 cm Padahal anank-anak kakak-adik Nyonya Bawel rata-rata lahir di atas 3 kg dengan panjang di atas 50 cm.

Tapi kedatangannya memang sangat di tunggu, tentu saja dalam kondisi apapun, Nyonya Bawel dan suami mensyukurinya. Prinsipnya lahir mungil, toh saat sudah di dunia bisa “dibesarkan”.  Maka kian cerahlah kehidupan Nyonya Bawel setelah si Ganteng hadir dalam kehidupan pernikahan Nyonya Bawel.  Si Ganteng yang lahir 27 Juli 2000, di beri nama Frisch Bastiaan Calvarie Monoarfa. Sehari hari dipanggil Bas. Bahkan papanya punya tagline Bast is the Best. Si Ganteng tumbuh sehat, ganteng dan sangat manis. Prilakunya selalu menyenangkan orang lain, bahkan terbawa hingga sekarang diusianya 15 tahun lebih.

Presatasi sekolahnya biasa saja, hanya ada di peringkat tengah, Rangking 15 dari 25 murid. Ketika Si Ganteng kelas 6 SD, Nyonya Bawel memilih berhenti bekerja dan bertekad menangani langsung pendidikannya, supaya bisa lulus dengan nilai baik dan bisa diterima di sekolah negeri. (Terbukti Si Ganteng lulus dengan NEM 26,2 utk 3 mata pelajaran dan di terima peringkat 3 di SMPN 12, Jakarta) Oh ya pendidikan dasar, kedua anak Nyonya Bawel (3  tahun setelah kelahiran Si Ganteng, Nyonya Bawel melahirkan gadis Cantik, namanya Vanessa) sengaja dimasukkan ke sekolah berbasis agama, karena Nyonya Bawel dan suami menginginkan anak-anak dengan dasar agama yang baik.

Saat wisuda kelas 6, Si Ganteng datang memberi bunga buat Nyonya Bawel.
Langsung meleber mili.



Keputusan Nyonya Bawel berhenti bekerja ternyata sangat tepat. Walau awalnya kedua anak Nyonya Bawel merasa aneh setiap pulang sekolah, kok si Mama ada di rumah. Minggu pertama anaka-anak mengira Nyonya Bawel cuti. Lama-alama mereka bertanya kok Mama nggak habis-habis cutinyaa? Akhirnya Nyonya Bawel memberitahukan kalau Nyonya Bawel sudah tidak bekerja. Itu artinya Nyonya Bawel akan akan terus  di rumah.

Si Ganteng dan Si Cantik menemani dua sepupu kecil.
Saat itu Si Ganteng kelas 6 SD dan Si cantik kelas 3 SD. Reaksi kedua anak Nyonya Bawel sangat mengejutkan.

Si Ganteng: Kalau Mama nggak kerja, apa kita masih bisa bersekolah?
Si Cantik: Apa kita masih bisa ke mall, jajan dan main?
Nyonya Bawel:  $$$$&&&&&&???????? Gubrak, nyaris pingsan.
Si  Ganteng: Berarti Mama akan makin bawel.
Si Cantik: Aku sedih.
Nyonya Bawel: Menahan tangis dan menahan diri nggak cakar tembok.

Yang bisa Nyonya Bawel lakukan, menggiring keduanya naik tempat tidur, posisi Nyonya Bawel di tengah, Si Ganteng dan Si Cantik di kiri kanan Nyonya Bawel. Lalu Nyonya Bawel mengajak mereka berdoa.

Lebih kurang isi doanya,  Nyonya Bawel mengucap syukur untuk kecerdasan kedua anak Nyonya Bawel dan memohon apa yang dikhawatirkan keduanya tidak terbukti. Memohon Tuhan yang melengkapi kebutuhan hidup kami dan menjauhkan dari semua kekhawatiran.

Usai berdoa, baru Nyonya Bawel menjelaskan, alasan Nyonya Bawel berhenti kerja.  Nyonya Bawel menjelaskan, anak-anak nggak akan berhenti sekolah. Kalau ke mall. Jajan dan main memang akan berkurang. Soal bawel, itu relative. Kalau Nggak nurut, pastinya Si Mama akan makin bawel.

Si Ganteng menari payung

Oh ya, balik ke perasaan Nyonya Bawel yang sedang bersusah hati. Ibu mana yang tidak cemas jika mengetahui ada anaknya yang sakit? Walau begitu banyak informasi dan akses berobat yang mudah dan murah, kekhawatiran ibu tetap. Tidak ada ibu yang ingin melihat anaknya menderita. Saat Si Ganteng terindikasi TB, tandanya hanya batuk dan demam. Batuk hampir seminggu dan tidak berkurang walau sudah diberi obat batuk warung. Berat badan nggak bertambah walau makannya banyak. Nyonya Bawel piker namanya juga anak remaja lelaki, wajar tumbuhnya ke atas bukan ke samping.

Sehingga ketika diajak ke puskesmas dan direkomendasikan untuk periksa dahak  dan rontgen, sisi hati Nyonya Bawel mulai resah. Singkat cerita selesai periksa dahak dan rontgen, lalu hasilnya dibacakan dan gongpun berbunyi. Positip TB. Saat itu Nyonya Bawel dan suami, menerima dengan sabar. Si Ganteng sudah sehat dan tidak tampak kalau sedang sakit. Obat yang diberikan dalam bentuk paket.

Untuk melihat dan memantau pasien, Puskesmas hanya memberikan obat untuk seminggu. Sehingga minggu berikutnya Nyonya Bawel harus kembali utnuk mengambil obat. Di rumah, Nyonya Bawel memperhatikan betul asupan makanan si Ganteng. Masalahnya Si Ganteng termasuk anak susah makan. Padahal salah satu yang disarankan, Si Ganteng harus menaikkan berat badan 5 kg. Pasien TB harus diet TKTP-Tinggi Kalori dan Tinggi Protein, itu artinya jumlah makanan dan lauknya harus banyak.

Setelah menjalani pengobatan rutin 4 bulan, Si Ganteng harus melakukan pemeriksaan ulang untuk melihat proses pengobatannya. Puji Tuhan membaik!. Yang tdainya harus minum obat setiap hari, maka bulan ke 5 dan ke 6 cukup seminggu 3 kali. Di bulan ke-5 Si Ganteng masuk Tim Paskibar sekolah untuk kompetisi tingkat Kabupaten. Latihan setiap hari sepulang sekolah. Jarak sekolah yang cukup jauh, mengharuskan Si Ganteng berangkat sebelum jam 6 pagi.

 Biasanya pulang sekolah jam 14.10 Si Ganteng pulang ke rumah Oma (Oma-Ibu Nyonya Bawel) untuk makan dan istirahat. Nanti jam 5 sore, jemput adiknya baru sama-sama pulang ke rumah. Biasanya keduanya akan tiba di rumah sesudah magrib, Tapi sejak latihan paskibra, Si Ganteng tidak ada waktu untuk pulang makan dan istirahat di rumah Oma. Setiap hari Si Ganteng sarapan dan bawa bekal ke seklah tapi kalau sejak jam 6 pagi hingga jam 5 sore, bekalpun nggak cukup. Memang Si Ganteng laporan sama Nyonya Bawel ada beli makan di kantin sekolah tapi Nyonya bawel tidak tahu apakah porsinya cukup untuk tubuhnya.

Selama proses latihan, setiap tiba di rumah Si Ganteng seperti orang yang kehabisan energi. Hanya sanggup mandi. Makan saja sudah tidak kuat, apalagi belajar. Beberapa kali Nyonya Bawel dan suami menemukan Si Ganteng sudah tertidur menelungkup di meja belajarnya. Jangan ditanya peningkatan frekwensi kebawelan Nyonya Bawel.


Si Ganteng usia tiga hari sama Papanya (Yg juga ganteng)
Hubungan Nyonya Bawel dengan Si Ganteng merenggang. Begitu juga hubungan Nyonya Bawel dengan suami. Si Ganteng itu extra Joss, suami Nyonya Bawel. Ibarat kata, Si Ganteng terluka maka suami Nyonya Bawel juga terluka. Kecemasan dan ketakutan suami Nyonya Bawel dilimphkan ke Nyonya Bawel. Kalau pulang kerja, Nyonya bawel sudah seperti tahanan. Di Tanya semua hal mendetil mengenai Si Ganteng. Bahkan saat istirahat, saat-saat Nyonya Bawel di duduk depan PC, di atas jam 10 malam. Suami Nyonya Bawel bisa keluar dari kamar Cuma untuk bertanya, Si Ganteng sudah di cek, demam nggak, Bagaimana tidurnya? Dll. Padahal suami Nyonya Bawel bisa saja masuk ke kamar Si Ganteng dan memeriksa sendiri.

Di sinilah persoalan yang sesungguhnya. Nyonya Bawel dan suami sama-sama cemas terhadap kondisi Si Ganteng tapi enggan mengungkapkan. Malah yang terungakap  kemarahan dan kebawelan. Nyonya Bawel dan suami jadi lebih bawel saat berhadapan dengan Si ganteng dan ngomel panjang lebar, membuat Si Ganteng semakin enggan berhadapan dengan rangtuanya.

Selesai perlombaan paskibra, Si Ganteng kembali ke jadwal semula. Pulang sekolah ke Oma, makan dan istirahat. Jam 5 sore, jemput adik dan pulang. Sanpai rumah mandi, nonton tv, makan, dan belajar. Si Ganteng kembali menjadi anak yang menyenangkan. Bahkan, Si Ganteng sehabi mandi mau menemani dan membantu Nyonya Bawel di dapur. Mulai dari kupas bawang sampai merajang sayur. Setiap masakah hamper matang dan menebar aroma, Si Ganteng bakal muncul dan berkata: “Nah enak-enak baunya bikin lapar. Ini rasanya enak saja atau enak banget?” Nanti disambungnya sendiri. Pasti enak banget karena ada cinta Mama di situ, ujarnya sambil memeluk dan mencium Nyonya Bawel. Hati ibu mana yang nggak meleleh mendengar rayuan anaknya?

Selesai pengobatan bulan ke-6, Si ganteng harus evaluasi lagi. Ini yang menyebabkan Nyonya Bawel susah hati. Berat badannya tidak naik bakan turun se kg. Dan yang deng-deng-deng, pengobatannya agagl. Itu berarti harus dari awal lagi, minum obat setiap hari untuk 3 bulan ke depan. Reaksi Nyonya Bawel dan suami adalah NGOMEL. Kesedihan, kecemasan dan ketakutan kami terakumulasi dalam bentuk kemarahan. Marah atas ke gagalan pengobatan ini, marah atas ketidak tegasan kami berhadapan dengan Si Ganteng. Marah karena nggak bisa marah sama Si Ganteng.

Nyonya Bawel dan suami berdiskusi mencari solusi untuk memberi pengertian kepada Si Ganteng, pentingnya kedisiplinan dalam menjalani pengobatan ini. Pengobatan baru berjalan seminggu, tubuh Si Ganteng member reaksi penolakan. Atau justru sedang menyesuaikan. Yang pasti  sejak pulang sekolah Si Ganteng muntah-muntah sepanjang malam, diikuti demam, rasa sakit di kepala, dada dan di perut. Si Ganteng terbaring dengan mengaduh di ranjang kamarnya. Lagi-lagi Nyonya Bawel menahan tangis. Menguatkan diri, mengusap kepalanya dan membujuk: Sabar Kak, ini proses yang harus dilalui. Karena sesudah ini, ada kemungkinan lidah kakak akan mati rasa sesaat. Nggak bisa merasakan. Ini yang sebetulnya membuat Mama dan Papa marah kalau kamu nggak makan atau terlalu lelah.

Jam dinding menunjukan pukul 09.30. malam. Nyonya Bawel membujuknya untuk makan bubur. Karena semua yang dimakan sudah dimuntahkan. Si Ganteng mau. Walau Cuma lima sendok plus segelas teh manis hangat, mampu membuat Si Ganteng merasa nyaman. Sesekali Si Ganteng masih mengaduh karena sakit kepala alias pusing. Nyonya Bawel menjaganya hingga pukul 03.00 pagi. Setelah memastikan SI Ganteng pulas tertidur, Nyonya Bawelpun tidur.

Yang ingin Nyonya Bawel sampaikan, betapa sekuat dan sehebat apapun seorang Ibu, Ia akan menjadi lemah dan tak berdaya, manakala si buah hatinya sakit. Selalu terucap, andaikan sakitnya bisa dipindah. Kenyataannya nggak bisa. Maka ketegasan menjadi penting. Terutama saat anak-anak dalam proses pengobatan. Yuk jaga dan rawat orang-orang kita cintai, dibilang bawel cuek saja. Daripada diamnya kita membuat orang-orang yang kita cintai justru tak lagi bisa bersuara. Satu lagi, biar sudah sebesar, setua atau sehebat apapun yang namanya anak, dia tetap anak kecil di mata Sang Ibu, begitu pula dengan Nyonya Bawel.

Si ganteng saat usia 5 bulan
Dan di Mata Nyonya Bawel, Si Ganteng tetap bayi seperti ini




Monday, November 09, 2015

HKN ke 51: INDONESIA CINTA SEHAT- GENERASI SEHAT, SIAP MEMBANGUN NEGERI


Hari Kesehatan Nasional ke 51, yang diperingati setiap Tanggal 12 November 2015, mengangkat tema:  INDONESIA CINTA SEHAT: GENERASI SEHAT, SIAP MEMBANGUN NEGERI. Peringatan Hari Kesehatan Nasonal adalah sebuah aktifitas yang penting dan berharga bagi pemerintah dan rakyat Indonesia untuk fokus dan tetap semangat membangun bangsa, khususnya di bidang kesehatan.

Di tengah hingar bingar dan pro kontra dari begitu banyak permasalahan bangsa,  kesehatan adalah salah satu bidang yang terus bergerak meningkatkan pelayanan agar lebih baik. Program BPJS dari Jaminan Kesehatan Nasional, adalah terobosan besar yang sudah memberi manfaat nyata. Memang belum sempurna tapi terus mengupaya perbaikan agar semua terlayani dan secara keseluruhan kwalitas kesehatan membaik.

Dengan kesehatan yang baik, masyarakat dapat meningkatkan produktifitas berkarya dan pada akhirnya kwalitas hidup masyarakatpun meningkat, seiring adanya perbaikan di bidang ekonomi. Kesehatan adalah salah satu aset utama dalam kehidupan. Gangguan kesehatan bisa berdampak besar pada semua sendi kehidupan. Karena itu perlu ada kesadaran dari semua pihak, untuk terus menerus mengingatkan pentingnya Pola Hidup Sehat dan Bersih, agar meminimalkan ganggua karena sakit penyakit. Prisnip mencegah daripada mengobati tetap menjadi prinsip yang harus dipegang dan dipraktekkan. Walau adanya BPJS memperingan beban masyarakat membayar layanan kesehatan dan obat.

Dalam sambutan tertulisnya Menteri Kesehatan RI, Ibu Nila Moeloek mengatakan, pada era pemerintahan 2014-2019, Presiden menggagas Gerakan Revolusi Mental dan menetapkan sembilan agenda prioritas yang disebut Nawa Cita. Pada dasarnya Revolusi Mental adalah mengubah cara pandang, pikiran, sikap prilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemoderanan sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Sembilan agenda prioritas tersebut digunakan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional. Yaitu terwujudnya Indonesia yang berdaulat ,  mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Melalui Nawa Cita butir 5, Kementrian Kesehatan berkomitmen mewujudan Kwalitas Hidup Manusia Indonesia melalu peningkatan kwalitas pendidikan, kesejahteraan dan kesehatan. Maka prioritas pembangunan kesehatan 2015-2019 dengan 3 Pilar, yaitu:
1.      Paradigma sehat dilakukan dengan strategi Pengarusutamaan kesehatan dalam bidang kesehatan, penguatan promotiv, preventif dan pemberdayaan masyarakat.
2.  Penguatan pelayanan kesehatan dilaikukan dengan strategi peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan dan pendekatan Continuum of care, intervensi berbasis resiko kesehatan.
3. JKN-Jaminan Kesehatan Nasional melalui Kartu Indonesia Sehat, dilakukan dengan startegi perluasan sasaran, benefit serta kendali mutu dan kendali biaya.
Upaya tersebut dengan fokus pada 4 program:
-      Percepatan penurunan kematian ibu dan kematian bayi
-      Perbaikan gizi khususnya stunting
-      Penurunan prevalensi  penyakit akibat infeksi
-    Pencegahan penyakit tidak menular melalui  perubahan prilaku keluarga dan masyarakat. Khususnya dalam pengenalan diri terhadap resiko penyakit.

Menkes Ibu Nila Moeleok juga menyinggung Program JKN yang merupakan salah satu program Kemenkes dalam mewujudkan Revolusi Mental melalui gotong royong pembiayaan kesehatan. JKN merupakan solusi untuk menjamin dan memastikan masyarakat kurang dan tidak mampu mendapatkan manfaat layanan kesehatan.

Pemerintah menyediakan iuran buat seluruh  masyarakat miskin, serta bertahap menggabunkan semua sistem pembiayaan kesehatan dari daerah agar memenuhi azas-azas portabilitas dalam payung JKN dan Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Nusantara Sehat, adalah salah satu prioritas kunci Kemenkes selama 5 tahun ke depan. Programnya di bidang penguatan pelayanan kesehatan primer, yang fokus pada upaya promotif, preventif dan berbasis tim. Target pelaksanaan program Nusantara Sehat adalah Puskesmas yang berlokasi di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) di 44 Kabupaten di Indonesia dan melibatkan setidaknya 600 tenaga kesehatan.

Kesulitan yang dihadapi selama ini oleh Puskesmas, khususnya yang berada di DTPK adalah kurangnya tenaga kesehatan sehingga mereka tidak mampu menjalankan fungsi puskesmas dengan optimal.  Melalui program Nusantara Sehat, Kemenkes berupaya untuk memperkuat puskesmas yang ada di daerah-daerah tersebut dengan menempatkan setidaknya 600 tenaga kesehatan tambahan ke 120 Puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia.

Meningkatkan pengetahuan masyarakat dan mendorong mereka untuk melakukan kegiatan promotif, preventif adalah salah satu tugas Kemenkes. Melalui berbagai strategi komunikasi dan kampanye aksi CERDIK (Cek kesehatan secara rutin,Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diest seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stress) adalah salah satu edukasi yang dilakukan diberbagai tatanan masyarakat.

Pencegahan penyakit tidak menular dengan Gerakan PHBS-Prilaku Hidup Bersih dan Sehat. Di mana masyarakat diminat aktif datang ke psoyandu, selalu memberikan aksi ekslusif, cuci tangan pakai sabun, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok dan menjaga lingkungan untuk mencegahnya timbulnya berbagai penyakit menular.

Menkes Ibu Nila Moeloek juga mengapresiasi beberapa pemerintahan Kabupaten/ Kota/ Propinsi yang telah menydeiakan 10 % dari anggaran pembangunannya untuk kesehatan, membuat peraturan daerah untuk Kawasan tanpa Asap Rokok, membangun kota ramah lansia, memberikan dana insentif bagi tenaga kesehatan dari dana APBD-nya. Juga membangun fasilitas layanan kesehatan, khususnya puskesmas di daerah-daerah tertentu, serta terus menerus meningkatkan kompetensi petugas kesehatan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.

Untuk itu dalam rangka mewujudkan Visi Pembangunan yang sejalan dengan Tema Hari Kesehatan Nasional  ke 51, Menkes meminta perhatian:
1.      Pembangunan kesehatan merupakan salah satu unsur penopang peningkatan indeks pembangunan manusia, di samping unsur pendidikan dan ekonomi. Untuk itu sebagai investasi, orientasi pembangunan kesehatan hatus lebih di dorong pada aspek-aspek promotif dan peventif tanpa melupakan aspek kuratif rehabilitatif melalui pendekatan keluarga.
2.      Pendekatan pembangunan kesehatan berbasis  Continuum of care, dari mulai ibu hami, bayi dan balita, anak sekolah dan remaja, pasangan usia subur dan lanjut usia.

3.      Diperlukan kerjasama baik lintas program maupun lintas sektor, akademisi, kepala daerah, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dll sebagai  bentuk tanggung jawab bersama akan masa depan bangsa, khususnya kwalitas sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan bangsa lain dengan akan di mulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN.

4.      Menumbuhkan semangat Revolusi Mental di kalangan kesehatan agar dapat  menumbuhkan budaya birokrasi yang prfesional dan transparan, partisipatif, akuntabel, dan memiliki kredibilitas  yang didasari etika serta integeritas pengabdian yang tinggi.




KATA BOX, PENYEMPURNA KESENANGAN PENGGILA GAME.





Hadir dipeluncuran KATA BOX, jujur penuh tanda tanya. Apaan sih? Tebak-tebak buah manggis, nggak ada gunanya. Karena semua tebakan salah! Bukan cuma Nyonya Bawel yang penasaran, nyaris semua yang hadir juga nggak tahu dan nggak bisa menebak. Kebanyakan kami menebak semacam modem, soalnya ada monitor, ada keyboard juga ada mouse tapi ada stick dan console untuk bermain.

 KATA BOX , temuan David Chen dan Alex Prasetio. Menurut penjelasan David Chen,  KATA BOX, sudah ada sejak 7 tahun lalu di Amerika. Memproduksi Hp dan tablet. Karena David Chen dan karyawan lain gemar bermain, lalu mereka memikirkan terobosan baru. Berdasarkan kegilaan bermain, lahirlah KATA BOX. Dan kini sudah tersebar di 7 negara. Di antaranya Amerika, Canada, Philipina, dan Hongkong

David Chen dan Alex Prsetio, GM KATA BOX

Kemajuan dunia digital dinikmati hampir semua sektor. Bukan cuma komunikasi tapi juga dunia hiburan. Kemajuan teknologi membuat para pemikir terus memikirkan terobosan-terobosan yang bisa membuat hidup lebih nyaman. KATA BOX lahir untuk menunjang hidup nyaman. Gaya hidup yang menyenangkan. Dan salah satu hal yang menyenangkan dalam hidup adalah bermain.Prinsip KATA BOX: Making easy life.

Mendengar KATA BOX adalah alat untuk memuaskan penggila game, langsung terbayang wajah suami dan anak sulung Nyonya Bawel. Mereka bakal bahagia banget kalau tahu ada sebuah alat yang bisa memfasilitasi kegemaran mereka.

David Chen yang berasal dari Philipina, menjelaskan KATA berasal dari bahasa Tagalog yang artinya “Believe”, mengambil logo ikan koi. Mengapa ikan koi karena unik dan diyakini ikan koi dipercaya sebagai pembawa rezeki. Tahun 2009, David menemukan satu perangkat yang berbasis OS Kitkat 4.4 dan dapat dipasang pada  perangkat android & TV yang sudah berbasis HDMI.

Nyonya Bawel serius mendengarkan penjelasan David Chen, soalnya berharap bisa bercerita dengan detil ke suami dan anak di rumah. Dan keseriusan Nyonya Bawel medengar penjelasan ini, juga berguna untuk menuliskan apa dan bagaimana si KATA BOX itu sendiri.





Ketika KATA BOX dihubungkan ke tv berbasis HDMI, lalu dengan jaringan wifi yang ada, tralalala: banyak keajaiban di sana. Si KATA BOX yang dibandrol dengan harga $69 atau sekitar Rp. 980.000 dan biaya bulanan sekitar Rp. 130.000  yang dibayarkan dengan pulsa lewat playstore, memberikan tawaran hiburan yang EDAN.

Dan yang hebohnya lagi, usai demo David Chen dengan KATA BOX, ada 5 hp yang dibagikan. Blogger dan awak media tentu sukacita menerimanya. Yang nggak dapat doorprize tetap gembira, karena kami pulang membawa satu set KATA BOX.



Sampai di rumah, dengan antusias Nyonya Bawel menjelaskan ke suami dan si sulung apa itu KATA BOX. Tapi penjelasan Nyonya Bawel kayaknya nggak terlalu didengarkan. Karena mereka berdua langsung membuka, membaca petunjuk dan mempraktekkannya. Nyonya Bawel sampai rumah sesudah magrib, suami dan anak-anak juga lelah, jadi nggak terlalu minat bermain, maka yang dilakukan adalah nonton. Ya, kami sekeluarga menikmati film yang kami mau karena dengan KATA BOX, kami bisa mencari dan memilih film yang kami inginkan. Kalau jenis game, suami dan si sulung sudah terbiasa dengan X box dan PS 3, pasti mereka tahu apa yang akan mereka gunakan dengan KATA BOX.



Stiknya cuma satu, itu berarti perlu beli satu lagi. Tapi stiknya nggak bisa sembarang stik tetap harus keluaran KATA BOX  karena stik yang lain belum compatible. Service center KATA BOX ada di roxi, tempat yang nggak sulit di capai. Berarti musti sisihkan uang dan agendakan belanja. Demi orang-orang tercinta, apa sih yang nggak Nyonya Bawel lakukan?

Sunday, November 01, 2015

Berbuat Baik itu Menyenangkan


Pada Sabtu 31 Oktober 2015, di halte TransJakarta Monas. Nyonya Bawel dan tiga kawan turun dari Transjakarta dengan niat singgah di Festival Dongeng Internasional 2015 yang digelar di Museum Nasional/Museum Gajah. Hati kami senang, sepanjang perjalanan kami tertawa dan bertukar cerita. Ya, kami menikmati semacam “me time” sesetelah seminggu berperan sebagai istri dan ibu yang mengurus dan merawat rumah serta penghuninya, maka jalan-jalan bersama kawan-kawan adalah penyegaran yang menyasyikan.  Tanpa sengaja kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa, sehingga lahir judul tulisan ini: Berbuat Baik itu Menyenangkan.


Saat kami bergegas turun dan meningalkan Transjakarta, kami berpapasan dengan orang yang naik. Ketika Transjakarta yang tadi kami tumpangi pergi, tertinggal sepasang orang tua, laki dan perempuan. Si Ibu mondar mandir dengan cemas dan si Bapak  mengangkat kaki sebelah. Terlihat darah menetes dari. Sayup Nyonya Bawel mendengar si Ibu bicara, ke mana musti mencari plester?

Tiba-tiba Nyonya Bawel teringat  peralatan P3K yang Nyonya Bawel dapat dari Kementerian Kesehatan. Karena Nyonya Bawel  punya dua, maka satu Nyonya Bawel berikan ke Lathifah Edib, seorang kawan yang kini kost di Yogya. Nyonya Bawel pernah kost, sehingga Nyonya Bawel paham betul peralatan P3K adalah alat yang sangat dibutuhkan buat anak kost. Melihat bapak terluka dan ibu yang terlihat cemas,   Nyonya Bawel,  melepaskan tas punggung dan meletakan di sudut halte Transjakarta. Nyonya Bawel minta Dian dan Maya menjaga tas Nyonya Bawel. Nyonya Bawel  meminta peralatan P3K dari Lathifah.

Untung Nyonya Bawel pernah belajar menjadi anggota PMR dan belajar menangani luka terbuka dari almarhum Ayah Nyonya Bawel. Mulanya Nyonya Bawel hanya akan memberikan plester tapi ketika melihat luka terbuka dan darah yang mengalir (bukan lagi menetes) Nyonya Bawel meminta Lathifah untuk memberikan verban, betadine dan gunting. Si Bapak kini sudah duduk dan Nyonya Bawelpun sudah berlutut di hadapannya.

Si Bapak sudah membersihkan lukanya dengan tisue basah sehingga tidak lagi berpasir tapi darah masih mengalir. Nyonya Bawel meneteskan betadine dan membuat lipatan verban agak tebal untuk menutup luka, lalu Nyonya Bawel bebat agar darah berhenti mengalir. Ujung verban Nyonya Bawel gunting menjadi dua bagian sehingga menyerupai tali, lalu Nyonya Bawel mengingatnya. Luka si bapak kini tertutup dan darahpun berhenti.


Kami bukan Malaikat tapi bidadari


Si Ibu dan Bapak mengucapkan terima kasih yang kami terima dengan senyuman. Tiba-tiba si Ibu berkata, Mba-mba berhati malaikat ini dari mana mau kemana? Tanpa bermaksud tidak sopan, Nyonya Bawel dan Lathifah  spontan tertawa. Lathifah menjawab: “ Aduh ibu, kami bukan malaikat, kalau Ibu bilang kami Bidadari, saya setuju. Kami emang bidadari yang jatuh dari sorga”, Nyonya Bawel  tertawa ngakak karena teringat lagu Cowboy Junior, Untung Dian dan Maya tidak menjawab,  eaya.

Nyonya Bawel menjelaskan kami memang mau jalan-jalan, peralatan kesehatan memang biasa di bawa karena Nyonya Bawel,  ibu yang sering jalan-jalan. Apalagi kalau jalan-jalan dengan anak-anak, peralatan P3K selalu di bawa. Si bapak dan si Ibu berulang-ulang mengucapkan terima kasih. Bahkan Si Bapak masih meminta si Ibu untuk memberikan tisue basah agar Nyonya Bawel bisa membrsihkan tangan Nyonya Bawel. 

Nyonya Bawel berharap, semoga luka Bapak cepat sembuh. Nyonya Bawel katakan: Sampai di rumah tolong dibersihkan dan diobat lagi. Kamipun berpisah.  Tak terpikir sama sekali untuk berkenalan dan mencari tahu siapa Bapak dan Ibu itu. Apalagi foto bareng. Bahkan Dian dan Maya yang biasa hobi “candid”, Cuma bengong saja. Tapi kami segera melupakan karena sepanjang perjalanan kami tidak membicarakan. Memang itu lebih baik, tidak perlu membicarakan kebaikan yang kita lakukan, nanti malah jadi riya.

Malam hari sampai rumahpun, pertemuan dengan Bapak yang terluka sama sekali tidak teringat. Tapi ketika tadi pagi bangun dan ngobrol dengan suami saat sarapan, kisah itu teringat. Lalu Nyonya Bawel bercerita pada suami, bukan untuk pamer kebaikan tapi membahas perlu ada petugas dan peralatan P3K standar  di tiap halte transjakarta/area umum. Karena si Bapak terluka akibat tersandung pintu transjakarta. 

Nyonya Bawel jadi berusaha mengingat-ingat situasi halte transjakarta, emang tidak ada peralatan P3K. Tapi Nyonya Bawel kurang tahu ada atau tidak peralatan P3K di loket penjualan tiket. Dari situasi kecelakaan kecil yang menimpa si Bapak, Nyonya Bawel jadi terpikir pentingnya ada peralatan P3K di tempat umum seperti halte transjakarta itu karena sejauh mata memandang tidak terlihat warung/minimarket yang biasa menjual plester atau obat-obatan ringan. Semoga pihak transjakarta atau pihak terkait lainnya mau menyediakan peralatan P3K.


Semua orang bisa dan mampu berbuat baik. Tapi tidak semua orang memiliki kesempatan berbuat baik. Semoga masih ada kesempatan-kesempatan lain untuk terus berbuat baik karena berbuat baik itu menyenangkan.