Sunday, November 01, 2015

Berbuat Baik itu Menyenangkan


Pada Sabtu 31 Oktober 2015, di halte TransJakarta Monas. Nyonya Bawel dan tiga kawan turun dari Transjakarta dengan niat singgah di Festival Dongeng Internasional 2015 yang digelar di Museum Nasional/Museum Gajah. Hati kami senang, sepanjang perjalanan kami tertawa dan bertukar cerita. Ya, kami menikmati semacam “me time” sesetelah seminggu berperan sebagai istri dan ibu yang mengurus dan merawat rumah serta penghuninya, maka jalan-jalan bersama kawan-kawan adalah penyegaran yang menyasyikan.  Tanpa sengaja kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa, sehingga lahir judul tulisan ini: Berbuat Baik itu Menyenangkan.


Saat kami bergegas turun dan meningalkan Transjakarta, kami berpapasan dengan orang yang naik. Ketika Transjakarta yang tadi kami tumpangi pergi, tertinggal sepasang orang tua, laki dan perempuan. Si Ibu mondar mandir dengan cemas dan si Bapak  mengangkat kaki sebelah. Terlihat darah menetes dari. Sayup Nyonya Bawel mendengar si Ibu bicara, ke mana musti mencari plester?

Tiba-tiba Nyonya Bawel teringat  peralatan P3K yang Nyonya Bawel dapat dari Kementerian Kesehatan. Karena Nyonya Bawel  punya dua, maka satu Nyonya Bawel berikan ke Lathifah Edib, seorang kawan yang kini kost di Yogya. Nyonya Bawel pernah kost, sehingga Nyonya Bawel paham betul peralatan P3K adalah alat yang sangat dibutuhkan buat anak kost. Melihat bapak terluka dan ibu yang terlihat cemas,   Nyonya Bawel,  melepaskan tas punggung dan meletakan di sudut halte Transjakarta. Nyonya Bawel minta Dian dan Maya menjaga tas Nyonya Bawel. Nyonya Bawel  meminta peralatan P3K dari Lathifah.

Untung Nyonya Bawel pernah belajar menjadi anggota PMR dan belajar menangani luka terbuka dari almarhum Ayah Nyonya Bawel. Mulanya Nyonya Bawel hanya akan memberikan plester tapi ketika melihat luka terbuka dan darah yang mengalir (bukan lagi menetes) Nyonya Bawel meminta Lathifah untuk memberikan verban, betadine dan gunting. Si Bapak kini sudah duduk dan Nyonya Bawelpun sudah berlutut di hadapannya.

Si Bapak sudah membersihkan lukanya dengan tisue basah sehingga tidak lagi berpasir tapi darah masih mengalir. Nyonya Bawel meneteskan betadine dan membuat lipatan verban agak tebal untuk menutup luka, lalu Nyonya Bawel bebat agar darah berhenti mengalir. Ujung verban Nyonya Bawel gunting menjadi dua bagian sehingga menyerupai tali, lalu Nyonya Bawel mengingatnya. Luka si bapak kini tertutup dan darahpun berhenti.


Kami bukan Malaikat tapi bidadari


Si Ibu dan Bapak mengucapkan terima kasih yang kami terima dengan senyuman. Tiba-tiba si Ibu berkata, Mba-mba berhati malaikat ini dari mana mau kemana? Tanpa bermaksud tidak sopan, Nyonya Bawel dan Lathifah  spontan tertawa. Lathifah menjawab: “ Aduh ibu, kami bukan malaikat, kalau Ibu bilang kami Bidadari, saya setuju. Kami emang bidadari yang jatuh dari sorga”, Nyonya Bawel  tertawa ngakak karena teringat lagu Cowboy Junior, Untung Dian dan Maya tidak menjawab,  eaya.

Nyonya Bawel menjelaskan kami memang mau jalan-jalan, peralatan kesehatan memang biasa di bawa karena Nyonya Bawel,  ibu yang sering jalan-jalan. Apalagi kalau jalan-jalan dengan anak-anak, peralatan P3K selalu di bawa. Si bapak dan si Ibu berulang-ulang mengucapkan terima kasih. Bahkan Si Bapak masih meminta si Ibu untuk memberikan tisue basah agar Nyonya Bawel bisa membrsihkan tangan Nyonya Bawel. 

Nyonya Bawel berharap, semoga luka Bapak cepat sembuh. Nyonya Bawel katakan: Sampai di rumah tolong dibersihkan dan diobat lagi. Kamipun berpisah.  Tak terpikir sama sekali untuk berkenalan dan mencari tahu siapa Bapak dan Ibu itu. Apalagi foto bareng. Bahkan Dian dan Maya yang biasa hobi “candid”, Cuma bengong saja. Tapi kami segera melupakan karena sepanjang perjalanan kami tidak membicarakan. Memang itu lebih baik, tidak perlu membicarakan kebaikan yang kita lakukan, nanti malah jadi riya.

Malam hari sampai rumahpun, pertemuan dengan Bapak yang terluka sama sekali tidak teringat. Tapi ketika tadi pagi bangun dan ngobrol dengan suami saat sarapan, kisah itu teringat. Lalu Nyonya Bawel bercerita pada suami, bukan untuk pamer kebaikan tapi membahas perlu ada petugas dan peralatan P3K standar  di tiap halte transjakarta/area umum. Karena si Bapak terluka akibat tersandung pintu transjakarta. 

Nyonya Bawel jadi berusaha mengingat-ingat situasi halte transjakarta, emang tidak ada peralatan P3K. Tapi Nyonya Bawel kurang tahu ada atau tidak peralatan P3K di loket penjualan tiket. Dari situasi kecelakaan kecil yang menimpa si Bapak, Nyonya Bawel jadi terpikir pentingnya ada peralatan P3K di tempat umum seperti halte transjakarta itu karena sejauh mata memandang tidak terlihat warung/minimarket yang biasa menjual plester atau obat-obatan ringan. Semoga pihak transjakarta atau pihak terkait lainnya mau menyediakan peralatan P3K.


Semua orang bisa dan mampu berbuat baik. Tapi tidak semua orang memiliki kesempatan berbuat baik. Semoga masih ada kesempatan-kesempatan lain untuk terus berbuat baik karena berbuat baik itu menyenangkan.

4 comments:

Hidayah Sulistyowati said...

Wah, udah kayak petugas PMR/KSR, kemana-mana bawa peralatan kesehatan, hihiii

Tanti Amelia said...

Semoga si bapak sudah merasa nyaman, dan Nyonya Bawel mendapat seribu kebaikan yang mengalir tanpa henti.....

Lidya Fitrian said...

berbuat baik menyenangkan batin juga dapat pahala ya mak

Dian Anthie said...

dian kebetulan ikut juga dalam rombongan tapi dian enggak menyadari kondisi ini, salut buat Nyonya Bawel yang cepat tanggap, dan luka bapak tadi segera dapat diobati, satu pelajaran yang sangat berharga buat dian :)